31-Rumah yang Tidak Asing

1018 Words
Seporsi Jjampong dan Mapo Tofu tersaji di atas meja bar. Dua orang yang duduk berhadapan itu mulai menyantap makanan pesanan mereka. Griz menggerakkan tangan di depan bibir saat merasakan kuah Jjampong itu sangat pedas, lebih pedas dari bayangannya. "Waktu ke Korea gue suka makan Jjampong, apalagi kalau lagi turun salju," ujar Griz disela kegiatan makannnya. Ravin tidak merespons. Dia menyantap Mapo Tofu dengan sedikit nasi. Dia sangat suka dengan kuah kentalnya dan cocok jika dimakan dengan nasi. Griz melihat Ravin terkesan tidak mendengarkannya. Dia mendengus lantas menyantap udang berukuran agak kecil. Setelah itu dia bertopang dagu sambil membayangkan liburan terakhirnya sebelum papanya bangkrut. "Kalau makan nggak boleh susah," ujar Ravin tiba-tiba. "Ha?" Ravin menggerakkan dagu ke tangan Griz. Si pemilik tangan langsung menoleh. Seketika Griz menurunkan tangannya. "Emang kenapa, sih?" "Papa gue sering bilang gitu," ujar Ravin. "Katanya nggak menghargai makanan." "Ck!" Griz terlihat tidak percaya Ravin percaya dengan hal yang seperti itu. "Terus lo percaya apa lagi?" "Nggak mau ngasih tahu." Griz mendengus. Dia melanjutkan memakan Jjampong lalu melirik Mapo Tofu milik Ravin. "Boleh nyicip?" Ravin seketika menarik piringnya dan menjauhkannya. "Gue nggak minta punya lo." "Lo boleh minta!" jawab Griz sambil mendorong semangkuk Jjampongnya. "Mau?" "Enggak!" Ravin lebih memilih menyantap tofu daripada aneka seafood tapi terlalu pedas. "Makan punya sendiri-sendiri." Griz tampak keberatan. Dulu, dia juga sama seperti Ravin. Bahkan dia hanya mencicipi makanan tanpa menghabiskannya. Diam-diam Ravin melirik Griz yang tidak bersuara. Rasanya sedikit aneh, karena mendadak suasana sedikit canggung. "Terus?" "Terus?" tanya Griz tidak mengerti. "Waktu ke Korea." "Aah...." Griz mengangguk pelan. "Gue suka makan Jjampong, menurut gue rasanya agak beda sama yang gue makan sekarang." Ravin hanya mengangguk. Dia tahu, rasa makanan berbeda. Rasa Mapo Tofu yang dia makan juga berbeda saat dia beli waktu itu. Kali ini rasanya kurang nendang. Jelas, orang yang membuatnya saja berbeda meski bahan masakannya sama. Ravin percaya, racikan setiap orang menghadirkan rasa yang berbeda. "Gue juga suka makan Galbitang," ujar Griz. "Gue sempet sakit dan coba makan itu rasanya bikin gue hangat." Pikiran Griz berkelana saat liburan ke berbagai negera bersama teman-temannya. Sayangnya, dia tidak mendapat rasa hangat dari kebersamaan. Karena dia tahu, temannya hanya memanfaatkannya. "Waktu down kemarin, gue kebayang Galbitang." "Kenapa nggak bilang?" tanya Ravin sambil menatap Griz sepenuhnya. Griz menggeleng pelan. Dia menyendok sup Jjampong, merasakan senasi pedas itu membakar lidahnya. Setelah itu dia mendongak sambil memaksakan senyuman. Perhatian Ravin masih tertuju ke Griz. Dia merasa, wanita itu akan menangis. Namun, berusaha ditutup-tutupi. "Mama gue nggak pernah masakin gue. Bahkan waktu gue sakit juga nggak dimasakin," ujar Griz. "Makanya, sup ayam sama Galbitang itu langsung nancep di otak gue waktu gue sakit. Rasanya gue cuma mau makan itu dan anggap itu masakan mama." Ravin melihat Griz yang memakan makanannya dengan gerakan cepat. Wanita itu beberapa kali menggerakkan kedua tangan di depan wajah lalu melanjutkan kegiatan makannya. Namun, ada satu yang menarik air mata Griz perlahan turun. "Sial! Pedes banget!" Griz memaki sambil mengusap sudut mata. "Pedes!" "Itu bukan kepedesan," ujar Ravin sambil tersenyum kecil. Dia mengambil tisu dan mengulurkan ke Griz. "Gue juga sama kayak lo." Griz menerima tisu dari Ravin lalu menghapus air matanya. Setelah itu barulah dia fokus dengan lelaki di depannya. "Apanya yang sama?" Ravin melirik sepiring Mapo Tofu yang telah ludes dia lahap. "Makanan terakhir yang dibikin mama gue." "Ha?" Griz refleks menatap Mapo Tofu yang tadi disantap Ravin. Setelah itu dia menatap Ravin penasaran. Dia tidak pernah tahu keluarga Ravin. Di artikel lebih sering membahas Ravin dan papanya, sedangkan anggota keluarga lain tidak ada. "Terus?" "Gue cuma mau cerita itu," jawab Ravin sambil berdiri. Dia mengambil cokelat panas dan menegaknya hingga tandas. Setelah itu dia mengangkat piring kotor dan membawanya ke tempat pencucian. Ravin menarik napas panjang, merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal. Dia menggeleng, mencoba mengalihkan perasaan itu. Ini di luar kendali, karena tidak biasanya dia bercerita tentang mamanya kepada orang lain. Mungkin karena dia menyantap Mapo Tofu, makanan terakhir yang dibuat mamanya hingga dia menjadi sensitif. Sedangkan Griz diam-diam masih memperhatikan Ravin. Dia masih belum percaya lelaki itu barusan bercerita. Sudut bibir Griz tertarik ke atas, merasa jika Ravin perlahan mulai percaya kepadanya. *** Ravin mengemudikan mobil sesuai dengan arahan Griz. Dia mengedarkan pandang, melihat komplek perumahan serderhana. Mobil terus melaju hingga sampai di pertigaan. "Terus ke mana?" "Belok kanan," ujar Griz sambil menggerakkan tangan. "Ini bukan perumahannya." "Lah terus kenapa ke sini?" Griz tersenyum samar. Dia sengaja mengulur-ulur waktu. "Keluar dari komplek terus kita belok kanan." "Huh...." Ravin mengembuskan napas panjang karena dikerjai. "Kalau sampai ngerjain lagi, gue turunin!" "Iya tenang aja!" jawab Griz sambil mencengkeram tali tasnya. Dia menatap ke depan, melihat jalanan masih cukup jauh. Ravin melirik jalan yang sedang dia lewati. Setelah itu melirik Griz yang masih terdiam. "Terus ke arah mana?" "Belok kanan lagi, nanti ada perumahan nggak jauh dari petigaan." Ravin mempercepat laju mobilnya. Hingga dia berbelok dan melihat sebuah tulisan berwacat hijau. Tanpa sadar tangan Ravin mencengkeram kemudi. "Perumahan itu?" "Ya itu!" Griz menunjuk tulisan yang terlihat. Perlahan, mobil berbelok ke arah perumahan serderhana. Ravin melihat di tengah jalan ditumbuhi pohon palem yang masih tidak terlalu tinggi. Di dekat pertigaan terdapat papan bertulisan tanda blok perumahan. "Belok kanan. Rumah di samping tiang listrik itu!" Griz menunjuk rumah Artari. Ravin mengemudikan mobil ke rumah yang dimaksud. Hingga mobilnya tepat berhenti di depan rumah yang didominasi warna putih. Dia menatap ke rumah itu, melihat sebuah pintu yang terbuka setengah. "Makasih udah nganterin," jawab Griz sambil membuka sabuk pengaman. Dia menoleh ke Ravin, tapi lelaki itu menatap keluar. Tiba-tiba Griz memiliki ide jail. Dia mendekat dan mencium pipi Ravin. Tindakan Griz cukup menarik perhatian. Lelaki itu menoleh dan mendapati Griz yang tersenyum puas. "Lo tinggal di situ?" tanyanya sambil menunjuk rumah putih di sebelah kanannya. "Hmm. Rumah temen bokap gue," jawab Griz. "Lo mau mampir? Jangan dulu, lo masih jahat ke gue. Kalau lo udah perhatian pasti gue kenalin." Griz menepuk pipi Ravin kemudian turun dari mobil. Ravin menatap ke rumah putih itu lagi. Tiba-tiba Griz berdiri menghalangi pandangannya. Wanita itu melambaikan tangan dari depan jendela. Ravin hanya menggerakkan tangan kemudian melajukan mobil. Namun, matanya masih ingin menatap rumah putih itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD