Ravin membuka pintu berwarna perak lalu mengernyit. Matahari begitu terik. Seluruh sisi lantai teratas terlihat panas karena sinar itu. Kemudian dia menunduk, melihat Griz yang bertelanjang kaki. "Lo sendiri yang nggak mau pakai sepatu."
"Ya terus?" Griz masih belum melihat apa yang ada di depannya.
Ravin melepas rangkulannya lalu menggenggam tangan Griz. Dia melangkah lebih dulu dan mengajak wanita itu menuju tengah.
"Aduh!" Griz berjingkat merasakan telapak kakinya menyentuh benda panas. Dia melepas genggaman Ravin lalu bergerak mundur. Setelah itu dia mengedarkan pandang dan baru menyadari sedang berada di lantai teratas.
"Lo sendiri yang nggak mau pakai sandal," ujar Ravin.
"Ya gue nggak tahu lo ajak ke sini."
"Salah sendiri nggak nurut."
Griz mengembuskan napas. Perhatiannya lalu tertuju ke sandal putih milik Ravin. Setelah itu dia tersenyum penuh muslihat. "Ya udah gendong."
"Ogah!" balas Ravin cepat. Dia mendekat lalu melepas sandalnya. "Sana teriak!"
Pandangan Griz tertuju ke sepasang sandal di depan kakinya. Dia lalu menatap depan dan melihat lantai yang tampak panas. Bahkan hawa panas itu sampai terasa di kulit Griz. Namun, seperti itu tempat yang tepat untuk mengeluarkan unek-uneknya.
"Ya udah kalau nggak mau." Ravin hendak memakai sandalnya, tapi Griz seger merebut.
"Gue pakai." Griz memakai sandal kebesaran itu kemudian berjalan keluar. Angin kencang langsung menyambut. Terik matahari mulai membakar kulit. Namun, Griz tidak terlalu memedulikan itu.
Griz menatap depan, melihat gedung-gedung bertingkat di depannya. Dia menarik napas panjang lalu memejamkan mata. "Aaa!" Ternyata dia hanya mampu berteriak pelan.
"Kurang kenceng!" ejek Ravin. "Payah!"
"Huh...." Griz menarik napas panjang kemudian mengeluarkan teriakannya. "Aaaaa!"
Ravin menahan tawa melihat wanita yang berteriak di siang bolong itu. Dia yakin, orang lain tidak ada yang mau berpanas-panasan dan berteriak seperti itu. Hanya orang yang mengalami masalah berat. Kemudian Ravin tersadar. "Dia lagi ngalami masa berat?"
Dada Griz bergemuruh. Dia ingin berteriak tapi tidak cukup tenaga. "Ah, sial! Semuanya nggak ada yang peduliin gue!"
Ravin menatap Griz yang berdiri dengan kepala tertunduk. Bahu wanita itu bergetar dan tangannya terkepal erat. Ravin maju selangkah, tapi kembali mundur karena lantai terasa menyengat.
"Semuanya ninggalin gue! Emang dari awal hidup gue nggak pernah diharapkan!" Griz berjongkok sambil melipat kedua lutut. "Pernah nggak sekali kalian khawatirin gue dan ungkapin semuanya? Nggak pernah kan? Sial!" Griz mengacak rambut frustrasi.
Dari kejauhan, Ravin melihat kejadian itu. Dia iba melihat Griz, meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Balik, Griz!" teriaknya karena wanita itu sekarang terdiam. Dia melangkah, tapi lagi-lagi mundur karena tidak bisa menahan rasa panas.
***
Sinar matahari terasa membakar tubuh Griz, terutama bagian punggung dan tengkuk. Kepala Griz perlahan pusing, tapi dia tidak kunjung beranjak. Dia tidak memiliki cukup tenaga setelah mengungkapkan segala keluh kesahnya.
Tiba-tiba, Griz merasa matahari tidak begitu terik. Dia melihat ada bayangan setengah lingkaran di hadapannya.
"Bangun...."
Griz mendongak, melihat Ravin berdiri di sampingnya sambil membawa payung berwarna marun. Apa Ravin peduli?
Ravin menunduk melihat Griz yang tidak kunjung merespons. Dia melihat wanita itu berkaca-kaca sambil menatapnya. "Bangun," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Perhatian Griz tertuju ke tangan besar di depannya. Ini pertama kalinya ada yang mengulurkan tangan di saat dia mengalami kesulitan.
"Nggak mau?"
"Jangan nolongin gue kalau ada maunya."
"Percuma gue bawa payung buat lo."
"Gue nggak minta lo buat ngelakuin itu," jawab Griz. "Lo boleh pergi."
Ravin membuang muka. "Gue nggak tahu lo ada masalah apa, tapi setiap masalah ada jalan keluarnya. Cari solusi, bukan menyiksa diri."
"Gue nggak butuh nasihat."
"Terserah lo mau dengerin gue atau enggak," jawab Ravin sambil kembali menatap Griz.
Griz menoleh dan mendapati tangan itu berada di depannya. "Lo bakal pergi?"
"Tentu. Ngapain gue bujuk orang yang keras kepala?"
Pelukan di lutut Griz perlahan melonggar. Dia menatap tangan kekar itu lalu menggerakkan tangan. Dia menjabat tangan itu kemudian Ravin menarik tangannya hingga dia bisa berdiri.
Ravin tersenyum samar karena Griz berhasil dibujuk. Dia hendak berbalik, tapi Griz langsung memegang pundaknya. Ravin terdiam, melihat wajah Griz bercucuran keringat tapi wajahnya pucat. Rafleks, tangan Ravin melingkar ke pinggang Griz dan mengajak wanita itu keluar dari lantai teratas.
Griz melirik Ravin yang berjalan di sampingnya tanpa banyak bertanya. Orang-orang lain pasti akan mempertanyakan, hal yang kadang membuat orang yang sedang mengalami masalah tidak nyaman. Namun, Ravin justru melakukan hal sebaliknya. Griz membutuhkan orang yang seperti itu.
"Lihat depan," ujar Ravin saat ekor matanya menangkap Griz yang tengah memperhatikannya.
Pandangan Griz terarah ke depan. Sekarang dia melewati lorong dan berjalan menuju lift. Kemudian dia kembali menatap Ravin. "Lo nggak tanya?"
Ravin menoleh sekilas. "Gue nggak akan tanya. Kecuali lo sendiri yang bilang."
"Gue butuh orang yang kayak gitu." Griz menepuk lengan Ravin lalu fokus menatap depan. Dia menelan ludah, merasakan tenggorokannya yang tercekat. Setelah itu dia mulai merasa tubuhnya mendadak dingin karena AC ruangan. Griz mengusap keringat yang terasa dingin itu.
"Pusing?" tanya Ravin melihat Griz yang tampak panik.
"Sedikit."
"Jangan pingsan." Ravin mengeratkan rangkulannya dan membimbing masuk lift. Sambil menunggu benda itu membawanya ke lantai tujuan, dia menggerakkan kepala Griz agar bersandar di lengannya.
***
Artari baru selesai menyiram tanaman, rutinitasnya di sore hari. Dia berjalan menuju dapur dan mengambil air mineral. Semakin tua, melakukan aktivitas yang hanya sedikit tapi rasanya melelahkan. Artari benar-benar merasakan hal itu.
Tring....
Perhatian Artari teralih setelah mendengar dering telepon. Dia berjalan menuju ruang tengah dan mengangkat telepon berwarna putih itu. "Halo."
"Artari!" Suara berat itu langsung terdengar.
Artari terdiam, mencoba mengingat si pemilik suara. Tubuhnya seketika menegang, setelah berhasil mengenal suara itu. "Farizan?"
"Ya ini aku," jawab Farizan. "Griz beneran tinggal sama kamu, kan?"
"Ya. Tapi sekarang dia nggak ada di rumah."
Hening beberapa saat.
"Transfer sisanya," ujar Farizan. "Setelah itu terserah kamu."
Artari menghela napas berat. "Kalian tinggal di mana? Kita ketemu."
"Transfer dan tepati janjimu!"
"Farizan!" Artari setengah berteriak.
Tut... Tut... Tut.... Sambungan diputus begitu saja.
Artari meletakkan gagang telepon itu sambil menggela napas berat.