22-Lelaki yang Mudah Jatuh Cinta

1035 Words
Pagi ini, Griz bangun lebih pagi. Dia bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk ke kantor. "Pagi...." Griz melambaikan tangan melihat lelaki yang baru turun dari tangga. Langkah Arvin terhenti. Dia menatap depan, melihat seorang wanita dengan rok span berwarna merah dan kemeja berwarna putih. Rambut Griz yang panjang diikat kuda dengan beberapa anak rambut dibiarkan menjuntai di sisi kanan dan kiri. Arvin tersenyum samar, saat melihat bibir terpoles lipstik merah itu tersenyum ke arahnya. "Tumben pagi?" ujar Arvin sambil melewati Griz. Griz seketika berbalik dan mengejar. "Daripada nanti lo marah-marah." "Gue nggak marah." "Tapi menurut gue lo bakal marah." Arvin menoleh dan mendapati Griz yang mendengus. Dia mengangkat bahu kemudian berjalan menuju garasi. Saat melihat mobil keluar dari pagar, Griz segera mendekat. Dia membuka pintu dan melihat Arvin yang telah memakai sabuk pengaman. "Kita nggak pamit dulu?" "Mama belum bangun," jawab Arvin sambil menoleh. "Oh, ya udah...." Griz duduk di bangku penumpang lalu meletakkan tas di dashboard. Saat itulah perhatiannya tertuju ke kuku jemarinya yang tidak terawat. Biasanya kuku itu selalu dihiasi nail art. "Huh...." "Ada masalah?" Griz duduk bersandar dan menatap Arvin yang pagi ini tidak menata rambutnya dengan rapi. Rambut hitam itu hanya disisir tanpa jel dan ada beberapa anak rambut yang tidak sesuai dari tatanan. "Buru-buru?" tanyanya sambil membenarkan letak rambut Arvin. Tindakan itu cukup mengejutkan Arvin. Dia menoleh sekilas dan melihat Griz yang menatap sambil mengusap rambutnya. "Ehm...." Arvin berdeham. "Lo buru-buru?" tanya Griz kala tidak mendapat jawaban. "Padahal sekarang masih pagi." Arvin mengembuskan napas pelan. Dia tidak bisa konsentrasi mengemudi jika tangan Griz masih berada di puncak kepalanya. "Ck!" Arvin segera menjauhkan tangan itu lalu mengemudi dengan kedua tangan mencengkeram. "Ish!" Griz mendengus karena Arvin bertindak kasar. "Gue itu bantuin. Bukannya bilang makasih malah marah-marah." "Ya udah makasih!" "Kedengerannya nggak ikhlas." Griz tersenyum menggoda. "Lo gampang banget ya marah?" Arvin mengembuskan napas sekali lagi. Dia membuka kaca jendela dan menikmati angin yang berembus. Entah kenapa mobilnya pagi ini terasa begitu panas. "Percuma dong AC dinyalain kalau jendelanya lo buka." "Jangan bawel! Ini mobil gue." Griz menggerakkan tangan ke Arvin seolah ingin menonjok. Dia lantas bergerak sedikit memunggungi. Diam-diam Arvin melirik Griz. Dia terlihat lega karena wanita itu memunggunginya. Dia menutup jendela dan mengemudi dengan sedikit santai. "Gue nggak betah." "Sama. Gue juga nggak betah." Tidak disangka, Griz merespons. Arvin menahan tawa. Meski sebal, sebenarnya dia tidak bisa marah ke wanita itu. Griz selalu menjadi sosok yang menyenangkan di matanya. Gaya Griz memang unik, wanita itu tidak menjaga image agar terlihat anggun. Wanita itu apa adanya dengan matanya yang selalu terlihat hidup. Arvin menoleh sekali lagi dan tersenyum. Harus gue akui, gue tertarik sama lo, Griz. *** Pukul delapan, Ravin sudah duduk di ruangannya. Secangkir kopi yang masih mengepul dengan setangkup roti dengan selai nanas menemaninya. Di hadapan Ravin sudah terdapat tumpukan berkas yang harus dia selesaikan dalam hari ini. "Permisi Pak Ravin." Ketenangan Ravin seketika sirna. Dia duduk tegak dan menatap ke Azkia yang pagi ini memakai setelan yang cukup mencolok. "Saya sampai silau." Azkia tersenyum mendengar candaan bosnya yang sangat jarang itu. Dia mendekat kemudian menyerahkan berkas di depannya. "Nanti Pak Roish ingin makan malam dengan Bapak." Tangan Ravin yang memegang pulpen mendadak kaku. Dia meletakkan benda itu begitu saja kemudian menutup map dengan kasar. "Saya sibuk." "Pak Roish akan menunggu sampai Pak Ravin datang." Ravin hanya mengangkat bahu. Dia menggerakkan tangan meminta Azkia keluar, kemudian kembali duduk bersandar. Untuk apa papanya meminta makan malam bersama? Pasti yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari bisnis. "Huh...." Ravin mengambil secangkir kopi saat dadanya terasa sesak. Dia menyesap kopi itu dan merasakan rasa pahit yang begitu familiar dengan lidahnya. Setelah itu Ravin mengambil setangkup roti dan memakannya. Sambil menikmati sarapannya, Ravin mengambil ponsel. Dia melihat story beberapa kolega bisnisnya yang kebanyakan tentang meeting. Hingga di deretan paling bawah, dia melihat story milik Griz. Yah, Ravin terpaksa menyimpan nomor Griz untuk berjaga-jaga. Ayolah, siapa yang tidak curiga saat Griz di apartemennya bahkan membawa kartu ATM-nya? Meski sebenarnya hal itu tidak cukup berarti bagi Ravin. Ravin melihat Griz sedang duduk membelakangi monitor. Wanita itu mengacungkan jempol dengan satu mata terpejam. "Kerja di mana dia?" *** Drttt.... Wanita yang sebelumnya sedang membuat proposal iklan itu melirik ke ponsel. Pandangannya kemudian kembali ke monitor. Griz sedang berkonsentrasi dan dia tidak ingin ada yang menganggu. Drtt.... Getar ponsel itu kembali terdengar. Ravin. Dari notifikasi pemberitahuan, Griz sempat melihat nama Ravin yang muncul. Refleks dia mengambil ponsel sedangkan satu tangannya mengetik sebuah kalimat terakhir untuk proposalnya. "Tumben banget dari Ravin," gumam Griz sambil membuka pesan itu. Ravin: Kerja di mana? Ravin: Balikin kartu ATM gue! Griz mengernyit membaca pesan pertama. Dia mendekatkan ponsel ke wajah, melihat jika Ravin sedang mengomentari story yang dia buat saat baru sampai kantor. "Ah! Diam-diam lo simpen nomor gue?" "Siapa, Griz?" Griz berjingkat. Dia menatap depan, melihat Eka yang melongok ke arahnya. "Bukan siapa-siapa," jawabnya sambil bergerak mundur. Griz kembali menatap ponsel dan membaca pesan itu sekali lagi. Griz: Penasaran gue kerja di mana? Griz: Nanti ATM lo gue balikin. Griz: Nanti malem makan bareng? "Pasti dia nggak bakal bales." Griz meletakkan ponsel dan kembali menatap monitor. Dia membaca ulang kalimat yang telah dia susun. Lantas dia kembali melanjutkan. Drtt.... Getar ponsel itu membuat perhatian Griz langsung teralih. Dia segera mengambil ponsel dan melihat pesan masuk dari Ravin. Lagi. Ravin: Gue tunggu di kantor! "Wait!" Griz tanpa sadar menjerit. "Apa?" Beberapa karyawan lain menatap Griz dengan pandangan ingin tahu. Griz seketika berdiri dan menundukkan kepala. Setelah itu dia kembali duduk. "Ini beneran dia, kan? Kok aneh?" "Nanti jangan langsung pulang, ya! Kita makan-makan!" Tiba-tiba terdengar suara Arvin. "Makan-makan? Ditraktir, kan?" tanya Eka bersemangat. Arvin mengangguk yang langsung ditanggapi senyuman senang oleh karyawannya. Kecuali, satu orang yang sibuk memegang ponsel. "Griz, denger, kan?" tanyanya sambil mendekat. Griz sontak menoleh. Dia mengangguk dengan wajah bimbang. "Ada acara apa, ya?" Tak.... Arvin menjentikkan jari. Dia mundur dua langkah kemudian mengedarkan pandang. "Pendapatan kita melampaui target. Jadi, saya ingin kasih hadiah ke kalian." "Kamu ikut ya, Griz!" ujar Eka. Tidak ada respons dari Griz. Rasanya dia ingin terhindar dari makan malam kantor dan pergi bersama Ravin. Egois? Ah, sepertinya tidak. Itu kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD