Ben vs Fiki

1793 Words
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ben. Melanie masih diam. Mereka bicara di kantin bersama Rico dan Tomi pula. Melanie tak ingin memberi tahu Ben tentang Dennis yang kembali mengintimidasi dirinya. Tapi sepertinya Ben tahu tentang hal itu. "Mel, lo jujur aja sama kita!" seru Rico. "Nggak ada apa-apa kok. Mungkin kualitas suaraku saja yang menurun!" elaknya. "Nggak mungkin!" seru Ruben, "Gue tahu. Ini ada hubungannya sama keluarga gue!" tambahnya. "Ben. Kurasa ini nggak perlu dibahas lagi. Lagian aku masih bisa mencari pekerjaan baru kan!" "Mel, apa Kak Dennis datengin lo?" tanya Ben lagi. "Nggak!" jawabnya bohong. "Lo berbohong lagi kan? Tempo hari lo juga bohong. Lo tahu gue nggak suka itu!" seru Ben. Melanie diam. Ia bingung harus menjawab apa. "Mel, lo tahu kita bakal lindungin lo. Jadi lo nggak perlu takut," tambah Tomi, "Aku beneran nggak apa-apa, kok. Kalian kenapa sih?" katanya mencoba terlihat baik-baik saja, "Udah ... nggak perlu terlalu dipusingin. Nanti aku bisa cari kerjaan baru," Ben tetap curiga, ia berniat akan bicara dengan kakaknya sepulang sekolah nanti. Meeting baru saja selesai, semua orang pergi meninggalkan ruangan, tapi Dennis masih duduk di kursinya. Ia membereskan berkas-berkasnya, menumpuknya menjadi satu. Ia mengambil handphonenya dan memencet sebuah nomor, lalu menaruh hpnya di telinganya. Menunggu ada jawaban. "Hallo!" kata orang di seberang sana, itu Artika. "Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Dennis. "Ba-baik!" kenapa sekarang dirinya malah jadi gugup? "Ehm ... Kamu ada waktu malam ini?" "Tentu saja, kenapa?" "Kujemput jam 7 ya!" katanya. "Kita mau ke mana?" "Hanya Dinner, tapi mungkin di tempat yang spesial!" "Oh ... aku jadi penasaran," Tika mencoba bersikap biasa. "Kamu harus menahannya sampai nanti," ada tawa kecil di antara mereka. Mereka memang jarang ketemu. Tapi hampir tiap malam Dennis menelponnya sebelum tidur. *** Jam pelajaran ketiga masih berlangsung, Melanie berjalan ke toilet. Tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik lengannya, membuat tubuhnya berputar ke belakang. Ia cukup terkejut mengetahui siapa orang itu. "Ryo!" desis Melanie. Itu Ryo dan ketiga temannya, apa yang akan mereka lakukan? "Kalian mau apa? Lepaskan aku!" rontanya. Tapi cengkeraman Ryo cukup kuat hingga ia tak bisa melepaskan diri. Tanpa bicara kedua teman Ryo ikut memegang dan menyeretnya dari sana. Melanie mencoba meronta. "Lepaskan. Lepaskan aku!" teriaknya. Ryo membungkam mulutnya dengan tangan. Mereka membawa Melanie ke lapangan basket. Itu adalah sebuah lapangan tertutup yang berada di salah satu gedung sekolah. Di sana hanya ada satu pintu masuk dan beberapa jendela yang menjulang tinggi di dinding sehingga tak mungkin bisa kabur. Ryo dan kedua temannya membawa Melanie masuk ke sana. Di sana sudah ada Fiki dan beberapa anggota klub basket. Melanie melihat semua orang yang ada di ruangan itu. Ini tidak baik. Mereka pasti merencanakan sesuatu. "Urusan gue cuma bawa dia ke sini, selebihnya gue nggak mau ikut campur!" seru Ryo lalu mendorong Melanie ke arah Fiki lalu pergi dari sana. Melanie hendak lari tapi dengan cepat Fiki menahan tangannya. "Mau ke mana lo, di sini aja!" seru Fiki. "Lepaskan aku. Lepaskan!" "Nggak perlu takut, gue nggak bakal nyakitin lo kalau lo nurut!" "Kamu mau apa?" "Gue ... ehm ... sedikit seneng-seneng!" jawabnya lalu melempar Melanie ke arah teman-temannya. Dan mereka menyambutnya dengan cukup antusias, Melanie mencoba meronta dan melepaskan diri, ia juga menjerit minta tolong. "Lepaskan. Tolong ... tolong ... arghh ...nggak, lepaskan!" serunya dalam tangis. Fiki hanya tersenyum kecut melihat ulah teman-temannya yang mengerjai Melanie. Ben baru saja selesai mengerjakan soal ulangan harian, karena otaknya yang jenius ia tak membutuhkan waktu lama untuk bisa menakhlukan soal-soal itu. Tapi sedari tadi perasaannya tidak enak, dan tertuju ke Melanie. Ada apa gerangan? Sebuah bunyi bib terdengar dari handphonenya. Ia melihatnya, sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama. "Datanglah seorang diri ke lapangan basket kalau lo mau Melanie utuh!" Itu isi pesannya, Ben tercekat. Melanie. Siapa yang mengirim pesan itu? Kenapa orang itu menyinggung soal Melanie? Apakah itu hanya teror atau orang ini memang menyandra Melanie? Lapangan basket. Itu pasti Fiki. Fiki! Ben langsung berdiri, tapi ia tak mau membuat semua orang curiga, ia membawa kertas ujiannya ke meja guru dan langsung keluar. Ia pun langsung berlari ke lapangan basket yang letaknya cukup jauh dari ruang kelasnya. Di depan pintu masuk ada dua orang anak yang menjaganya. Ben menghampiri, sebelum sampai dua anak itu sudah tahu apa yang harus dilakukan, mereka membuka pintu dan membiarkan Ben masuk. Keduanya ikut masuk, menutup pintu dari dalam dan menguncinya agar tak ada yang ikut campur. Ben memasuki lapangan dengan perlahan. Ia melihat Melanie terduduk di sebuah kursi di tengah lapangan. Kedua tangannya dipegang kuat oleh dua orang di sisinya, rambutnya sedikit berantakan, airmatanya membanjiri pipi. Dan apa yang ada di ujung bibirnya? Sepercik darah, sedikit lebam karena tamparan. Baju seragam yang ia kenakan koyak di beberapa sisi. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Perbuatan mereka sungguh sangat biadab! Isakan lembut terdengar dari tenggorokkannya, Ben sangat tercekat melihatnya seperti itu. Ia mengepalkan tinjunya dengan geram. "Lepaskan dia!" gerutunya. Fiki berdiri tak jauh dari Melanie, ia tersenyum simpul melihat ekspresi Ruben. "Melepaskannya! Tentu. Tapi setelah gue puas bermain!" jawabnya. "Apa mau lo?" "Mau gue! Mau gue ...," Fiki melirik Melanie, ia meraih wajah Melanie dengan tangannya. Memungut dagunya. "Gue mau main sama lo dan ... cewe lo! Oh ... dia bukan cewe lo ya? Teman atau ... istri?" Fiki melepaskan Melanie dan melangkah mendekati Ruben. Mereka berdiri hanya berjarak satu meter, "Lo pernah cium dia?" bisik Fiki, tapi dengan nada yang agak keras. Ben membelalak mendengar pertanyaan itu. "Dari ekspresi lo, kaya'nya sering ya!" lanjutnya. Ben hendak melangkah tapi beberapa teman Fiki juga bergerak, Fiki menjulurkan tangan untuk menghentikan mereka. Membuat Ben berhenti pula. "Begini, gue mau tantang lo main basket, one on one. Kalau lo menang lo boleh bawa dia pergi, tapi kalau gue menang ... gue boleh dong cium dia!" seru Fiki melirik Melanie sejenak dengan menyimpan senyum nakal, Ben tambah melotot. "Berbagilah sedikit, Ben. Jangan semua cewe mau lo embat sendiri!" celetus Fiki. Ben berfikir sejenak, ia tak mungkin menang melawan mereka semua dalam fight. Tiga dari tim inti mereka adalah jagoan taek wondo, Rival berat Ruben dalam ekskul itu. Salah satunya Fiki. Mereka memang rival berat dalam taek wondo. Itu sebabnya mereka tak pernah akur, selain itu mereka juga rival dalam trak kan? Melawan mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang hanya akan membunuh dirinya sendiri. Jika itu terjadi ia tidak akan mampu melepaskan Melanie, bukan! Ben melirik Melanie, tatapan gadis itu memohon pertolongannya. "Baiklah!" jawab Ben. Fiki memberi isyarat kepada teman-temannya untuk menyingkir ke tepi. Mereka pun membawa Melanie ke tepi. Sekarang di tengah lapangan hanya ada Fiki dan Ruben. Mereka akan berduel, Ben memang tidak yakin bisa mengalahkan Fiki. Anak itu adalah yang terbaik dalam klub basket, bahkan ia menyabet gelar MVP 3 tahun berturut-turut. Tapi Ben akan berusaha menang untuk Melanie. Fiki memegang bola, ia men-dribble bola basket beberapa kali lalu melemparnya ke arah Ruben. Ben menangkapnya dengan cukup sigap. "Tangkapan yang bagus, semoga lemparan lo juga bagus!" cibir Fiki. Mereka mulai bermain, Ben memang berhasil mencetak poin lebih dulu, tapi Fiki menyusul dengan lebih cepat. Dalam waktu 10 menit, waktu yang sudah disepakati untuk duel mereka, Fiki berhasil mengalahkan Ben dengan skor yang jauh di atas Ben. "Lihat kan, gue pemenangnya!" bangga Fiki. "Itu artinya, gue harus dapet hadiahnya, bukan!" lanjutnya. Ben menoleh Melanie yang sedang menggelengkan kepalanya pelan untuk meminta Ben menghentikan apa yang akan dilakukan Fiki padanya. Melanie tampak berusaha melepaskan diri dari cengkraman kedua anak itu. Ben hanya berdiri diam melihat Fiki berjalan ke arah Melanie yang sedang menangis dan meronta pelan. Fiki berhenti di samping Melanie. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang nakal. "Lo lihat, Ben udah ngijinin gue buat cium lo, jadi lo nggak perlu nolak lagi!" bisiknya. Ia meraih wajah Melanie dengan tangan kirinya, tangan kanannya menyilakan rambutnya ke belakang. Perlahan ia mulai menarik Melanie kepadanya, sementara dirinya membungkuk mencoba meraih gadis itu. Ben hanya diam terpaku, tapi tangannya sedari tadi mengepal dan siap meninju Fiki. Saat Fiki sudah terlalu dekat dengan wajah Melanie, Ben sudah tidak tahan lagi, ia melangkah maju untuk menghentikan perbuatan rivalnya itu. Tapi salah seorang meninju perutnya dengan kencang membuatnya sedikit membungkuk, pukulan kedua ia dapat di punggung, membuatnya jatuh berlutut. Orang itu langsung melintir tangan kanan dan menginjak salah satu kakinya. Tangan kirinya yang masih bebas hendak melawan tapi seorang lagi langsung menangkapnya dan menahannya di belakang pula. Membuat Ben tidak berkutik, ia berusaha melepaskan diri. Tapi cengkeraman dua orang itu sungguh sangat kuat. Dengan posisinya yang sudah terkunci ia tak mungkin melepaskan diri. Fiki sempat melirik Ben untuk melihat ekspresinya sebelum benar-benar mencium Melanie. "Fiki!" gerutu Ben mencoba meronta. Ia tak bisa melihat itu, melihat Melanie dicium b******n itu. Ia pun memejamkan matanya. Itu sungguh sangat aneh, kenapa rasanya sakit sekali melihat hal itu? Lebih sakit dari saat ia mengetahui bahwa Tika sudah bersama pria lain. Perasaan macam apa ini sebenarnya? Ben mendengar rintihan yang keluar dari tenggorokan Melanie, rasanya perih sekali. Ia berjanji pada dirinya sendiri ia pasti akan membunuh Fiki. Isakan Melanie semakin keras terdengar setelah apa yang terjadi. Fiki kembali menghampiri Ben yang berada dalam posisi berlutut. Fiki jongkok di depannya. Ben mengangkat wajahnya menatap Fiki, amarah jelas terlihat di matanya. "Ruben, sampai kapan pun lo itu nggak akan pernah bisa ngalahin gue. Karena lo itu cuman seorang pecundang, pe-cun-dang!" cibir Fiki dengan tawa, tawa itu diikuti oleh yang lainnya. "Anjing! Lo b******k Fiki. Gue bukan pecundang!" balasnya. "b******k! Gue? Haaa ... siapa yang macarin semua cewe di sekolah ini, gue? Itu lo kan, jadi lo yang b******k!" maki Fiki, "Dan kalau lo bukan pecundang, lo buktiin dong!" tantangnya lagi. Ben menatapnya penuh amarah. "Apa lagi yang lo mau?" "Kita duel lagi, adu kekuatan. Taruhannya masih sama, Melanie. Kalau lo menang gue jamin lo berdua keluar dari tempat ini dengan selamat, dan gue nggak bakal ganggu kalian lagi. Tapi kalau lo kalah ... dia ... dia gue telanjangin!" seru Fiki. Ben melotot mendengar tantangan itu. Kali ini taruhan yang Fiki tawarkan sungguh sangat sadis. "Jangan berfikir Ben, lo nggak punya waktu buat mikir. Kalau lo molak, gue pastiin lo bakal mati di ruangan ini. Dan Melanie, gue bakal bawa dia ke alun-alun sekolah dan telanjangin dia di sana, setelah itu gue nggak bisa menjamin apa yang akan terjadi!" tambahnya lagi. Fiki berbicara setengah berbisik. Semoga saja Melanie tak mendengar hal itu, harap Ben. Ben melirik Melanie yang masih terisak dan tersandra di sana. Maafkan gue, Mel! Dadanya terasa sakit dan sesak sekali dengan keadaan itu, ia berjanji pada Melanie untuk tak membiarkan seorang pun menyakitinya. Tapi apa yang telah ia lakukan? Ia malah tak bisa berbuat apa-apa saat harga diri gadis itu dihina. Di depan matanya sendiri. *** Apa yang akan terjadi dengan Melanie? Apakah Ben mampu mengalahkan Fiki dalam duel kedua mereka? Pantengin terus ya... jangan lupa pencet lovenya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD