Dia Akan Bertahan

1509 Words
Erika, mamanya Ruben menyalahkan Melanie atas apa yang terjadi dengan putranya, ia bahkan mengusir gadis itu dari rumah sakit saat keadaan Ruben masih kritis. Melanie berlari keluar dengan airmata yang mengintip di ujung matanya. "Tom, lo di sini aja biar gue yang temenin Melanie!" seru Rico, ia memberi isyarat agar tomi menelponya nanti. Lalu ia pun berlari keluar mengejar sahabatnya. Ia melihat Melanie keluar dari lobi, ia pun mempercepat langkahnya agar bisa meraih gadis itu. "Mel, tunggu!" serunya seraya menarik lengan Melanie. Membuat langkahnya terhenti. "Omongan Tante Erika nggak usah lo pikirin. Mungkin dia lagi panik aja!" katanya mencoba menghibur. "Tapi apa yang dia katakan benar, Ben seperti itu karena aku!" "Itu nggak benar!" seru Rico, "Dengarin gue Mel, lo itu sangat berarti buat Ruben. Lo yang jadi semangat baru buat dia. Lo jangan pernah berfikir untuk meninggalkannya!" "Tapi, Ric." "Sadar atau nggak Ben itu cinta sama lo!" tegasnya lagi. "Rico!" desis Melanie. "Itu kenyataannya, gue tahu itu, Tomi juga tahu itu. Lo satu-satunya yang bisa membuat Ben bahagia. Lo lihat sendiri kan, betapa dia nggak rela ada yang nyakitin lo. Dia juga rela kehilangan apa pun kecuali loe!" "Tapi aku nggak mau kepedulian Ben kepadaku akan dimanfaatkan orang lain!" "Selama lo nggak ninggalin dia, dia akan bertahan. Jadi lo juga harus bertahan!" pinta Rico. "Tapi keluarganya nggak menyukaiku, mereka bahkan membenciku!" "Mereka bahkan nggak tahu apa-apa tentang Ruben!" potong Rico, "Mel, gue mohon sama lo. Lo jangan pernah tinggalin Ruben ya. Gue yakin kok suatu saat nanti Ben akan menyadari perasaannya ke lo!" "Ric. Aku nggak pernah mempermasalahkan itu, meskipun Ben nggak mencintaiku seperti seorang kekasih asalkan dia yang meminta aku bertahan. Aku akan bertahan! Kamu tahu kan aku nggak punya siapa pun di dunia ini kecuali kalian bertiga!" "Terutama Ruben, lo cinta sama dia kan? Aduh Melanie, kenapa sih lo nggak bilang aja ke Ruben. Ben aku cinta padamu, bisakah kamu berhenti jadi playboy. Ah ... apa susahnya sih bilang begitu!" keluh Rico dengan wajah imut, "Kamu ini apa-apaan!" seru Melanie mencubit perut Rico. "Auw, sakit!" Hal itu membuat pipi Melanie merona tapi ia tersenyum, setidaknya dia sudah tidak menangis lagi. "Nah ... gitu dong jangan mewek mulu, jelek tahu. Gue anterin pulang ya!" tawarnya. "Aku bisa pulang sendiri!" tolaknya. "Gue anterin lo pulang, ntar kalau terjadi apa-apa sama lo gue yang dibunuh sama Ruben, mau lo?" Rico mencegat taxi, karena panik Ruben ambruk di parkiran tadi siang ia meninggalkan mobilnya di sekolah, begitupun Tomi yang juga meninggalkan motornya. Mereka membawa Ben ke rumah sakit dengan mobil Ruben. Dan kuncinya ada pada Tomi. Dennis masuk ke ruangan Ben dirawat, di sana Tomi sedari tadi juga ikut menunggui bersama Erika, mamanya Ruben. "Ma, kata dokter Ben sudah nggak apa-apa. Kita tinggal menunggu dia siuman saja!" kata Dennis memberi tahu. "Syukurlah. Semoga adikmu cepat sadar!" jawabnya. Dennis membisikkan sesuatu ke telinga mamanya. Sepertinya serius sekali dan tentu Tomi hanya bisa menebak. "Tom, tolong temani Mama jagain Ruben, soalnya Papa sedang keluar negeri lagi!" katanya minta tolong. "Beres Kak, Tomi bakal di sini sampai Ben sadar!" Dennis pun pergi dengan terburu-buru. Ia hendak menemui seseorang. Hari ini ia memang punya janji dengan Artika, tapi orang yang sekarang ia hendak temui bukanlah Artika, calon istrinya. Tapi orang lain, tadi ia sudah menelpon orang itu. *** Fiki sudah berada di tempat pertemuan, ia bersama Dito dan Remon. "Fik, emang bener yang nyuruh kita tuh kakaknya si Ruben?" tanya Dito. Saat Dennis menemui Fiki tempo hari Fiki memang seorang diri. "Iya," jawab Fiki. "Kenapa dia mau celakain adiknya?" tanya Remon. "Yang mau hajar si Ruben itu gue, dia cuma nyuruh kita ngerjain Melanie di depan Ruben!" "Wah, kalau gitu dia bakal marah dong!" "Ngamuk. Harusnya kalian nggak perlu keroyok Ben setelah duel, lo pegangin aja kan bisa!" kesalnya. "Ya, kita mana kepikiran sampai ke situ, lagian gue emang udah lama pingin hajar dia. Lo tahu kan Fahira nolak gue karena dia!" seru Remon. "Terus kenapa kita nggak kabur ajah!" usul Dito, "Gundulmu!" umpatnya menoyor kepala Dito, "Lo tahu siapa dia kan? Lo mau ngumpet di lobang semut pun, dia bakal temuin lo. Yang ada lo mati!" "Sekarang pun kita bisa mati," sahutnya, Terlihat sorotan lampu mobil mendekati mereka, dan ternyata bukan satu mobil tapi dua. Kedua mobil itu berhenti dan isinya keluar. Dennis berjalan melangkah mendekati mereka. Di belakangnya ada beberapa orang berbadan besar, sepertinya mereka para bodyguard. Wah gawat, mereka bertiga sudah mulai panik bakal dihajar sama orang-orang itu. Dennis menghampiri Fiki dan langsung meninjunya dengan kencang hingga terpental. Hantamannya cukup kuat seperti seorang petinju. Dito dan Remon hanya diam. Mereka tak berani berbuat apa-apa, ketika Dennis hendak memukulnya lagi Fiki menjulurkan tangannya untuk menghentikannya. "Wow-wow ... tunggu. Ada apa ini?" tanyanya berbasa-basi sambil menyeka darah yang keluar dari bibirnya yang pecah akibat pukulan Dennis. "Kamu tahu betul untuk apa itu!" "Kak Dennis, apa yang terjadi dengan Ruben itu nggak ada kaitannya dengan perjanjian kita. Itu urusan pribadi kami!" "Aku tidak peduli, aku tidak suka itu. Aku menyuruhmu mengerjai Melanie di depan adikku, bukan membuat adikku hampir mati!" marahnya. "Untuk yang itu gue udah lakuin,jadi...!" "Tidak, itu belum cukup. Lakukan yang lebih dari itu, jika kamu sudah punya hasilnya baru aku akan membayarmu!" "Tapi ...," "Dan satu hal lagi, jika kamu sentuh adikku lagi, aku tidak akan membayarmu sepeserpun. Bahkan akan kukirim kamu ke neraka!" katanya lalu pergi. "b******k!" makinya setelah Dennis masuk ke mobilnya, "Semua ini karena kalian!" "Kok kita lagi!" protes Dito. Dennis sengaja mencari tahu siapa yang bermusuhan dengan Ben di sekolah, agar tidak ada yang mencurigakan. Dan kebetulan Fiki sedang ada masalah, ibunya sedang sakit parah dan harus dioperasi, ia membutuhkan uang untuk membantu ayahnya membayar biaya operasi itu. Kebetulan juga ia memang bermusuhan dengan Ruben. Artika sedang sibuk mencari gaun yang cocok untuk pergi dinner dengan Dennis. Mamanya masuk sambil tersenyum. "Aduh anak Mama, kok berantakan gini kamarnya?" "Dennis mengajakku dinner Ma, tolong pilihkan baju yang cocok ya!" "Memakai baju apa pun kamu tetap terlihat cantik, pakai saja yang ini!" mamanya menawarkan gaun warna kuning. "Itu terlalu mencolok untuk dinner, Ma!" "Ya sudah yang ini saja!" mamanya menaruh gaun kuning itu dan mengambil gaun merah maroon. Sepertinya itu cocok. Tika mengambilnya. "Sepertinya Dennis akan suka!" katanya lalu memakainya. *** Rico duduk di dapur sambil meminum segelas kopi sambil menunggu Melanie mandi, sepertinya gadis itu sudah sedikit tenang. Malanie keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah Rico berada. Ia duduk di depannya. "Gue bikinin s**u jahe, biar sedikit hangat!" katanya menunjuk secangkir s**u jahe di depan Melanie. "Thanks!" kata Melanie lalu meminumnya. "Lo mau cerita ke gue soal detail insiden di lapangan basket?" Melanie menggeleng. "Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Tapi bagaimana lo bisa ke sana?" "Ryo yang membawaku ke sana!" "Ryo!" kaget Rico. Melanie hanya melirik. "Rupanya tuh anak mau main-main ya, belum kapok? Ok!" tukas Rico, dari ekspresinya sepertinya ia akan melakukan pembalasan. "Apa sudah ada kabar dari Tomi?" tanya Melanie. "Tadi Tomi telepon gue, katanya keadaan Ruben udah membaik cuma dia belum sadar!" Itu memang berita baik tapi tetap saja tak membuat Melanie lega. Dennis menjemput Artika dan mereka langsung ke tempat tujuan. Ternyata mereka tak dinner berdua saja. Mereka malah datang ke tempat ulang tahun pernikahan rekan kerja Dennis. Di tengah acara juga di adakan dansa. Dennis pun mengajak Tika berdansa. "Kamu nggak bilang kalau ini ulang tahun pernikahan temanmu?" "Tadinya aku hanya akan mengajakmu dinner berdua, tapi aku ingat kalau ternyata ada acara di tempat temanku!" "Hotel ini milik mereka?" "Ya, milikku juga. Kami berbisnis." Mereka berpandangan lama, bergerak mengikuti irama musik. Tika memang merasa nyaman saat bersama Ruben tapi saat bersama Dennis ia merasakan yang lebih dari itu. Ia sadar mungkin ia hanya kagum dengan kebaikan Ruben. Lagipula Ruben itu lebih cocok menjadi adiknya. "Boleh aku katakan sesuatu?" "Katakanlah!" "Aku sempat dekat dengan seseorang!" "Aku juga pernah dekat dengan seseorang." "Dennis, maksudku ... belakangan aku mengenal seseorang yang seharusnya nggak aku kenal." "Aku tidak mengerti?" mereka masih berdansa. "Dia masih muda, tapi kebaikannya sempat membuatku tergoda!" aku Tika. Dennis berhenti bergerak, memandang calon istrinya. Tika menghela nafas, untuk mengumpulkan keberanian mengatakan semua itu. Ia berharap semoga saja Dennis tidak marah dan membatalkan pertuangan mereka. Dennis masih menunggu Tika melanjutkan kalimatnya. "Maafkan aku. Tapi aku harus mengatakannya, kami ... kami bertemu beberapa kali, dan kami sempat akrab. Dennis aku ...," Dennis menyetop kalimat Tika dengan telapak tangannya, "Kita bicarakan di tempat lain!" katanya lalu berjalan lebih dulu. Tika tak bisa membaca ekspresi pria itu, apakah Dennis marah dengan kejujurannya? Tapi jika ia tak memberi tahu hal itu, ia akan merasa bersalah karena sempat berfikir untuk mendua. Tika mengikuti Dennis dari belakang. Mereka berjalan ke arah lift dan masuk ke dalam. Dennis memencet nomor 32. Itu sebuah kamar. Lift bergerak naik perlahan, keduanya diam tak berbicara. Dennis memandangnya dalam selama di dalam lift, pandangan yang membuat Tika jadi kikuk dan malah tak berani untuk mengatakan hal itu rasanya. Sepertinya Dennis akan marah kalau tahu hal itu. *** Ben membuka matanya, ia melihat sekeliling ruangan. Dari cat tembok yang serba putih ia tahu dirinya berada di rumah sakit. Tempat yang tak ia sukai. Detik kemudian ia tercekat, "Melanie!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD