Hari ini Amanda jalan-jalan bersama sang suami mengelilingi daerah sekitar rumahnya naik andong. Memang itu permintaan Amanda, entah kenapa jika naik mobil dia selalu merasa pusing.
"Kamu ini wanita aneh, di suruh naik mobil malah memilih andong. Biasanya para wanita akan bangga jika naik mobil, apalagi jika mobil itu mewah," ujar Irsyad.
"Enak apanya? Aku justru merasa pusing. Yah, mungkin karena jarang naik mobil apa gimana ya..." Amanda terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
Irsyad juga ikut tertawa, sebab bersama Amanda merasakan kebebasan dan juga kenyamanan yang tak bisa dibandingkan dengan apapun.
Saat melihat taman umum yang banyak dihiasi bunga, Amanda langsung meminta turun.
Mereka berdua sangat harmonis dan romantis, Irsyad tak segan-segan memotret istri keduanya yang cantik jelita itu di ponselnya.
"Mas, nanti ponsel kamu bisa meledak," gurau Amanda.
"Mana mungkin, justru dia akan merasa bangga karena sudah dijadikan tempat menyimpan foto wanita yang cantik," balas Irsyad dengan senyuman khas nya.
"Mas, ayo kita melihat yang sebelah sana!" pinta Amanda dengan cerianya.
Irsyad langsung setuju, mereka menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Duduk berduaan di bawah pohon terasa syahdu, Amanda kemudian melirik ke arah yang sepasang suami istri yang bermain dengan kedua anak yang masih kecil-kecil.
"Mas, Lihatlah! Mereka tampak begitu bahagia," ucap Amanda.
"Kita juga bahagia," balas Irsyad.
"Maksudku mereka yang memiliki dua anak masih lucu-lucu itu," sela Amanda.
"Oh, jadi istriku ini pengen ya? Nanti setelah pulang kita buat ya?" goda Irsyad.
"Ih, Mas Irsyad ini!" tukas Amanda malu.
Irsyad segera mengelus perut Amanda lembut.
"Aku juga tidak sabar segera memiliki anak. Aku sangat berharap nanti sebelum anak kita lahir aku sudah menyelesaikan semuanya sehingga aku tidak perlu lagi bekerja ke luar kota," gumam Irsyad.
Amanda hanya tersenyum dan mengamini, yang dia tahu hanyalah suaminya sedang ingin mengumpulkan modal untuk usaha sendiri.
Berbeda dengan Irsyad yang memiliki banyak masalah, pemuda itu masih memikirkan cara agar bisa segera cerai dengan Dinda. Akan tetapi sampai saat ini Irsyad belum memiliki celah. Karena dari pihak keluarga sudah sangat sulit sekali.
"Sayang, tidak terasa kita sudah duduk di sini berjam-jam," ucap Irsyad.
"Iya, saking nyamannya aku hampir ketiduran," jawab Amanda terbangun dari pangkuan suaminya.
"Kamu mah enak, kedua pahaku sampai kram," balas Irsyad tertawa.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" sela Amanda merasa bersalah.
"Mana tega aku merusak kenyamanan istriku, jangankan satu jam. Selamanya aku juga rela kok sebagai tempat sandaran istriku yang cantik ini," goda Irsyad.
"Maaf ya," pinta Amanda.
"Aku tidak menerima permintaan maaf hanya dengan ucapan!" ucap Irsyad.
"Lalu?" tanya Amanda penasaran.
"Cium.."
"Ih, ini tempat umum. Memalukan sekali!" sergah Amanda.
Irsyad tertawa, pemuda itu selalu menikmati wajah istrinya ketika malu dan berubah seperti tomat matang.
Sore harinya mereka mampir ke mall, belanja pakaian dan juga kebutuhan lain.
Saat mengantri di kasir, Irsyad meminta izin untuk pergi sebentar.
Setelah selesai, Amanda merasa heran sebab suaminya itu tidak kunjung muncul juga. Padahal dia sudah selesai membayar.
"Apa Mas Irsyad menunggu di mobil ya?" batin Amanda.
Wanita cantik itupun langsung berjalan seorang diri keluar dari Mall, dia segera menuju parkiran. Akan tetapi sang suami tidak ada di mobil.
Karena cemas, Amanda meraih ponselnya yang berada di dalam tas kemudian menelpon sang suami.
Akan tetapi nomor suaminya sibuk terus.
"Mas Irsyad lagi telponan dengan siapa ya? Masa sejak tadi belum selesai juga. Ah, palingan sedang membahas pekerjaan. Tapi kenapa harus menjauh dariku,"
Selintas ada perasaan curiga, tapi cinta sudah menutup logikanya. Amanda berusaha berpikiran positif.
Tak lama kemudian Irsyad muncul, membuat Amanda merasa lega.
"Kamu dari mana saja sih, Mas? Kok lama sekali," tanya Amanda penasaran.
"Oh, tadi kebelet ke toilet. Antrian lumayan panjang," jawab Irsyad.
"Kok aku telepon sibuk terus?"
"Iya, itu bos aku. Menjelaskan ada proyek baru lagi. Tapi aku masih belum menyelesaikan pekerjaan yang lama. Jadi aku menghubungi klien untuk menjelaskan agar mau sabar sebentar," balas Irsyad.
"Oalah, ya sudah ayo kita pulang!"
Amanda sangat mempercayai suaminya, karena Irsyad begitu mencintai dan perhatian padanya. Jadi Amanda tidak pernah punya pikiran kalau suaminya akan selingkuh.
*****************************
Amanda memutuskan ikut arisan ibuk-ibuk biar memiliki teman. Dia butuh beradaptasi biar nanti terbiasa dan tidak merasa di tempat asing.
Tapi namanya perkumpulan para ibu-ibu, tentu saja akan selalu menjadi pusat pergosipan. Amanda hanya menyimak tanpa ikut berkomentar, karena dia memang belum tahu apa-apa.
"Eh, Bu Nuria kok nggak ikutan?"
"Tidak, dia tadi nitip uangnya ke aku. Matanya sembab gitu, aku dengar sih semalam dia bertengkar dengan suaminya yang ketahuan selingkuh. Kasihan dia ya."
"Sekarang para pelakor bertebaran, jadi kita sebagai istri harus pinter-pinter merawat diri dan menjaga suami. Kalau tidak bisa dicomot wanita nakal deh."
"Dan lebih parahnya justru sekarang para pelakorlah yang sering melabrak istri sah."
"Ya ampun, miris banget ya. Semoga tidak terjadi dengan kita."
"Bu Amanda, suami sering kerja di luar kota kan? Apa tidak ernah merasa cemas?"
Amanda terkejut tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu. Dengan senyuman manis Amanda menggeleng pelan.
"Saya percaya suamiku," jawab Amanda lembut.
"Bu Amanda cantik dan baik hati, mana mungkin suaminya akan selingkuh," celetuk ibu yang lain.
"Tapi tetap harus hati-hati, karena pelakor akan melakukan segala cara untuk mendapatkan sasarannya. Apalagi suami Bu Amanda tampan dan sukses."
"Eh, sudah-sudah! Jangan mengompori Bu Amanda. Lagian mereka masih pengantin baru, pasti sedang dalam masa romantis-romantisnya."
Ucapan Ibu tuan rumah menghentikan pembicaraan soal pelakor. Mereka kemudian mulai makan dan membahas obrolan yang lain.
"Bu Amanda, selain arisan di sini kita juga mengadakan senam bersama setiap Minggu pagi. Bu Amanda sebaiknya ikut sekalian, dari pada bengong di rumah," tawar ibu tuan rumah.
"Iya, Bu. Aku ikut saja," jawab Amanda langsung setuju.
"Kalau begitu nanti bisa aku pesankan seragam yang sesuai dengan ukuran Bu Amanda."
"Terima kasih banyak, Bu. Nanti uangnya aku bayar sekalian," jawab Amanda senang.
"Oh iya, kue buatan Bu Amanda kemarin nak sekali loh."
"Iya, anakku sampai ketagihan," balas ibu-ibu yang lain antusias.
"Bagaimana kalau arisan berikutnya di tempat Bu Amanda saja? Aku pengen sekali mencicipi kue buatan Bu Amanda yang lain," saran tuan rumah.
"Iya, bagaimana Bu Amanda?"
Mendapat tatapan penuh harap dari banyak orang Amanda langsung mengangguk tanda setuju.
"Iya, nanti akan aku buatkan kue yang macam-macam," jawab Amanda.
"Wah, Kalau begitu nanti pas buat apa aku boleh ikut membantu? Sekian mau belajar juga. Siapa tahu suami tambah sayang kalau aku bisa membuatkan dia kue enak. Kan lumayan nanti jatah belanja jadi nambah?" pinta tuan rumah.
"Iya, Ibu."
Setelah puas mengobrol, akhirnya acara arisan tersebut selesai. Semua ibu-ibu yang ikut bubar ke rumah masih-masih.
Begitu juga dengan Amanda, sesampainya dia di rumah sang suami sudah menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Ya ampun, Mas Irsyad bikin aku kaget saja!" pekik Amanda mengelus d**a.
"Habisnya lama sekali, memangnya mengobrol apaan sih?" tanya Irsyad penasaran.
"Biasa kamu ibu-ibu, selalu banyak hal yang bisa dijadikan bahan obrolan."
"Tapi tidak menggosipkan suami sendiri kan?" goda Irsyad.
"Mana mungkin," sela Amanda tertawa
"Tapi aku senang melihat istriku langsung akrab dengan para tetangga," ujar Irsyad puas.
"Minggu depan acara arisan di rumah kita, mereka meminta aku membuat kue sendiri," curhat Amanda.
"Kamu memang wanita sempurna, selain cantik juga pandai memasak," puji Irsyad hendak mengecup bibir sang istri. Akan tetapi Amanda segera menghindar.
"Eh, nanti kalau Bibik lewat," sergah Amanda.
"Kalau begitu ayo kita ke kamar saja!" ajak Irsyad bersemangat.
"Ini masih siang!" protes Amanda.
Tapi Irsyad tidak peduli, entah itu siang, sore atau tengah malam sekalipun jika sudah merasa ingin yang tetap menerjang saja. Apalagi Amanda seperti Medan magnet yang setiap saat selalu menarik dan membangkitkan gairahnya.