“Eum ... Na ....” Revalia meremas kedua tangannya di atas pangkuan, masih tetap membalas tatapan Janatra yang setia menyunggingkan senyum. “Ya?” Janatra menyahut pelan. “Gimana kalo ... kita ....” Mendadak Revali jadi gagu, seolah ada sesuatu yang menyumbat saluran tenggorokannya dengan sebongkah batu. Perempuan itu pun berdeham pelan seraya membasahi bibir bawahnya, berharap apa yang dia pikirkan bisa tersampaikan kepada sang lawan bicara tanpa harus mempemalukan diri. “Kita ... jalani pernikahan ini dengan normal?” lanjutnya dengan kecepatan lima kata per detik. Setelah pertanyaan itu terucap, refleks, Revalia mnggigit lidahnya sendiri. Dua tangannya saling meremas kuat di atas pangkuan hingga mengeluarkan keringat dingin. Janatra, yang diajak bicara ... medadak beku. Penawaran yang d

