“Kok ibu rasanya lebih sreg sama Daffa ya, Bah?” Ambar membawakan pisang goreng dan teh poci tawar untuk suaminya. Ia meletakkan nampan itu di atas meja. “Yang memilih itu Zanna, ya terserah dia saja tho, Bu.” Jawab Salim santai. “Iya, tapi Daffa itu lebih kita kenal, Bah. Dia anak yang apik sama orangtuanya lho, Bah. Penurut, penyayang. Kalau ibu kesana, Daffa itu selalu bantuin Mbakyu. Dia berpendidikan tapi telaten ngopeni rumah, pas banget sama Zanna pokoknya.” Jelas Ambar kekeh. “Jodoh itu sudah ada yang ngatur, Bu. Berdoa sajalah, semoga Zanna dapat yang terbaik. Terus semoga Sekar cepat pulang. Abah sudah kangen.” Abah membuka llipatan koran di depannya, ia mulai membaca-baca sekilas. Sudah lama ia tidak membaca koran, ia lebih banyak membaca buku kuliahan dan juga mengoreksi pap

