Violet menuruni setiap anak tangga dengan berjalan gontai terkesan malas. Wajahnya menunduk menatap setiap langkah kakinya, bukan bertujuan agar turun dengan berhati-hati, hanya saja tidak mendapatkan obyek lain yang menarik selain langkah kakinya. Langkahnya menyeretnya untuk duduk di karpet turki berbulu. Baginya duduk di karpet dengan wajah yang ia topang di atas meja lebih menarik dari pada duduk di egg chair seharga ratusan juga yang kini berada tidak jauh darinya itu. Kebosananlah yang membawanya keluar dari tempat persembunyiannya selama tiga hari belakangan ini. Andai ia merupakan gadis yang suka mengurung diri di kamar dengan bertoples-toples makanan dan juga setumpuk DVD drama korea, mungkin ia tidak akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar, apalagi mengingat kondisi hati dan

