Chapter 4 - first love

2264 Words
“Apanya yang nggak mungkin, Sat…? Aku rasa cuma itu satu-satunya cara agar Rhea terhindar dari bujuk rayu kedua laki-laki tidak bermoral itu! Cuma kamu, Sat! Yang bisa nolongin aku! Cuma kamu!” Abisatya jadi semakin bingung dengan permintaan saudara kembarnya sebelum dia pergi menghilang entah kemana, agar dia menikahi Rhea—mantan istrinya. Karena bagaimana bisa dia menikahi Rhea? Sementara ada Davina di sisinya yang selalu berharap banyak padanya, meskipun Abisatya tidak begitu mencintai perempuan itu. Namun, dia merasa harus menjaga perasaan perempuan itu. Lalu apa Davina bisa menerima semua ini? Meskipun diakuinya, kalau Rhea adalah cinta pertama Abisatya ♥♥♥ “Kamu tahu, Bi! Aku lagi naksir cewek baru di sekolah kita!” ujar Abisatya penuh semangat saat mereka pulang sekolah. Saat itu beberapa teman cewek yang melintas di depan mereka, baik yang seangkatan maupun adik kelas, selalu tidak pernah melewatkan untuk menyapa kedua anak kembar ini yang mempunyai ketampanan yang sama dan menjadi idola di sekolah. “Siapa …? Teman sekelasmu?” tanya Abiwara—sang saudara kembar sambil berjalan menuju ke parkiran motor, untuk mengambil motor mereka. “Bukan! Eiiitss! Tunggu! Jangan ambil motor dulu! Tu cewek biasanya lewat koridor ini, dia anak kelas 1!” Abisatya menarik siku saudara kembarnya dan menyuruh cowok itu untuk duduk di bangku yang ada di koridor, menunggu cewek incaran Abisatya yang akan lewat di koridor tersebut. “Anak kelas 1? Emang anak kelas 1 ada murid baru?” “Makanya, kamu itu piknik di sekolah, jangan angkrem aja di kelas! Masa kamu nggak hapal, sih muka-muka anak kelas 1? Yang satu ini aku baru tahu dan waktu aku cari tahu soal dia, ternyata dia murid baru!” “Mana sempat aku melototin anak kelas 1, Bro!” Abiwara berusaha membela diri. “Iyaa, iyaa! Secara anak IPA! Jadi harus fokus belajar! Nggak kayak aku yang anak IPS!” sela Abisatya sambil merangkul bahu laki-laki itu. “Kamu tahu siapa namanya?” Abiwara menggeleng pelan sambil menatap seorang cewek yang baru keluar dari kelas 1 bareng teman-teman sekelasnya. Senyum di wajahnya yang cantik dengan bandana yang melingkar di rambutnya yang panjang, hitam dan lebat, membuat parasnya semakin terlihat mempesona dan cantik. Abiwara sering ketemu sama cewek ini beberapa kali di perpustakaan, bahkan mereka memiliki kesukaan yang sama pada buku yang mereka baca. “Rhea ….” sela Abiwara tanpa sadar sambil terus menatap gadis itu yang berjalan ke arah mereka. Abisatya kaget dan sedikit bingung. “Iyaa, Rhea! Namanya Rhea! Kok, kamu tahu?” tanyanya heran. Saat itu Rhea masih terus berjalan ke arah mereka, sementara Abisatya duduk membelakangi gadis itu. “Itu! Dia lagi jalan ke sini.” Abisatya segera menoleh ke belakang, Rhea sudah semakin dekat berjalan ke arah mereka bareng teman-temannya. “Apa bener dia?” tanya Abiwara sambil melirik ke saudara kembarnya yang masih menatap gadis itu tanpa berkedip sambil menyeringai lebar, lalu mengangguk cepat. “Iyaa, itu bener dia, Bi! Cakep, ‘kan? Bagaimana menurutmu?”  “Iyaa, dia cantik! Bahkan teramat cantik!” sahut Abiwara yang sudah mengagumi Rhea sejak awal mereka ketemu. Kedua anak kembar itu pun hanya bisa terdiam sambil menatap gadis itu tanpa berkedip, saat Rhea berdiri di depan mereka. “Heiii, Kak Abi? Belum pulang? Lho? Kalian berdua ini kembar ternyata?” sapa Rhea sambil menyeringai lebar dan menatap ke Abiwara dan Abisatya secara bergantian. “Emang, kamu baru tahu, Rhe? Kalau Kak Abi dan Kak Satya ini kembar?” sela Yasmine—sahabat Rhea—yang menemani gadis itu sedari tadi. Kedua saudara kembar itu hanya tersenyum sambil berdiri di depan kedua gadis ini. “Iyaa, bener! Sumpah! Aku baru tahu, kalau mereka ini kembar. Aku jadi bingung, siapa yang sering aku temui di perpustakaan, ya? Lalu, siapa yang sering aku lihat suka main basket?” Abiwara dan Abisatya saling menatap satu sama lain sambil terkekeh, Yasmine pun ikut ketawa. “Cluenya, gini, Rhe!” sela gadis itu di akhir tawanya. “Kak Abiwara itu anak kelas 3 IPA, sedangkan Kak Abisatya anak kelas 3 IPS! Nah, sekarang, siapa di antara mereka berdua yang menurutmu sering  nongkrong di perpus?” “Aku rasa, Kak Abi yang suka ke perpus dan Kak Abisatya yang suka main basket! Bener, ‘kan?” Kedua cowok itu pun mengangguk cepat sambil menyeringai lebar. Senyum mereka berdua benar-benar sama persis, tidak ada seorang pun yang bisa membedakan mereka berdua. “Panggil aku Satya saja! Kalau dia Abi!” ujar Abisatya, “jadi Abi ini sudah sering ketemu sama kamu, Rhe?” Gadis itu mengangguk cepat dengan ekspresi wajahnya yang polos. Abisatya lalu menoleh ke Abiwara yang meringis kecil sambil menatap saudara kembarnya dengan perasaan bersalah, karena tanpa mereka sadari, mereka berdua memiliki perasaan yang sama, sama-sama menyukai gadis yang sama. ♥♥♥ “Kak Abi! Kamu di sini ternyata!” bisik Rhea lirih saat menemukan cowok itu yang lagi nyari-nyari buku di perpustakaan sekolah. Menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sekolah, merupakan keasyikan tersendiri buat Abiwara. Laki-laki itu memang lebih suka berada di antara rak-rak buku dan mencium aroma buku lama sambil mencari-cari judul buku yang belum dibacanya, daripada nongkrong di kantin atau main basket seperti saudara kembarnya.   “Haii, Rhe! Ada apa?” “Kak Abi, mau nggak ntar sore nemenin aku hunting buku? Kebetulan ntar sore Madawa mau launching buku di toko buku Andalas! Kamu mau ‘kan nemenin aku?” pinta Rhea antusias dan keras, hingga suaranya terdengar kemana-mana. “Heiii! Kalau mau ngobrol bukan di sini tempatnya!” teriak penjaga perpustakaan sambil berdiri dan melotot ke mereka berdua yang masih berdiri di antara rak-rak buku yang terbuat dari besi. “Iyaa, maaf … Bu!” sahut Rhea sambil tertawa cekikikan. Abiwara pun tertawa kecil sambil memilah-milah lagi buku mana yang mau dia pinjam. “Kamu, siih ngomongnya keras banget!” “Tapi mau, ‘kan? Ntar sore, nemenin aku ke toko buku?” ulang Rhea lagi lirih. Gadis itu tampak begitu berharap, Abiwara mau menemaninya. “Nanti sore, ya? Okee deh! Kita ketemu di toko buku aja, ‘kan? Soalnya aku nggak tahu rumah kamu.” Rhea pun mengangguk cepat. “Iyaa, kita ketemu di toko buku aja! Kalau gitu, sampai nanti sore, yaa. Bye!” Gadis itu segera berlalu meninggalkan Abiwara, sementara laki-laki itu bergegas menghubungi Abisatya melalui ponsel yang disimpannya di saku celana belakang. Saat itu, Abisatya lagi nongkrong di kantin bareng temen-temennya satu gank. Benda pipih warna hitam yang berbentuk persegi panjang tampak bergetar di atas meja, dilihatnya nama Abiwara yang memanggil. Bergegas disambarnya ponsel itu. “Ya, hallo!”    [“Sat, kamu di mana?”] bisik Abiwara lirih, takut terdengar oleh orang-orang yang masih nongkrong di perpustakaan. “Aku lagi di kantin, kenapa?” tanya Abisatya di ujung sana sambil menyesap es jeruk kesukaannya. [“Ntar sore, kamu mau ‘kan nemenin Rhea ke toko buku?”] Abisatya kaget. “Ke toko buku? Yaa ampun, Bi! Kamu ‘kan tahu kalau aku nggak suka ke toko buku!” balasnya kesal.   [“Kamu mau deket sama Rhea, ‘kan? Jadi kamu harus mulai belajar menyenangi kesukaannya, dia itu suka buku. Dan nanti sore, Madawa, salah satu penulis novel favourite-nya itu akan launching di toko buku Andalas. Jadi kamu harus nemenin dia!”] Abiwara berusaha meyakinankan saudara kembarnya agar mau menemani Rhea ke toko buku. “Aaah, aku tahu ini! Ini pasti, dia minta kamu ‘kan yang nemenin dia? Trus, kamu nyuruh aku yang nemenin dia. Iya, ‘kan?” sela Abisatya curiga. [“Udah, soal itu nggak usah dibahas. Sekarang yang penting, kamu mau nggak nemenin dia? Jawabannya cuma iya atau nggak!”] Sesaat Abisatya termenung memikirkan tawaran saudara kembarnya. Diakuinya kalau dia memang mencintai Rhea. Tapi berpura-pura menyukai buku atau lebih tepatnya berpura-pura menjadi Abiwara, rasanya suatu hal yang sangat sulit harus dia lakukan. Laki-laki itu jadi bimbang. [“Bagaimana jawabannya? Iya atau nggak?” tanya Abiwara penasaran. “Kamu ini … kelamaan jawabnya! Iya atau nggak?”] desaknya lagi. “Yaa! Iyaa, iyaa! Nggak, nggak!” sahut Abisatya sambil meringis kecil dan garuk-garuk kepala, padahal kepalanya lagi tidak gatal. [“Jawaban apa itu? Nggak ada jawaban iya iya, nggak nggak! Yang ada itu, iya atau nggak! Udah itu aja! Ribet amat!”] balas Abiwara kesal. “Yaa abis, kamu tahu ‘kan kalau aku nggak suka buku, sekarang kamu nyuruh aku nemenin Rhea ke toko buku. Lihat launching buku penulis favouritenya lagi! Mana aku tahu? Aku harus bilang apa, kalau dia tanya macam-macam soal buku? Gimana coba? Kan kamu yang suka buku! ” “Itu udah aku pikirkan, Bro! Tenang! Aku sudah punya jawaban pertanyaan kamu! Kita pakai walkie talkie!” ujar Abiwara lirih. “Walkie talkie? Mainan yang kita mainin dulu waktu kecil? Tapi itu ‘kan gede banget, Bi!” “Tenang, sekarang jamannya udah beda! Nggak kayak kita kecil dulu, sekarang ada yang ukuran kecil! Soal itu nanti kita bahas pas pulang sekolah, okee? Yang penting, kamu mau, ‘kan?” desak Abiwara lagi penuh antusias. “Iya deh! Tapi bener, yaa! Kamu kudu bantuin aku!”  ♥♥♥♥ “Bi! Test, test! Kamu dengar suaraku, ‘kan?” tanya Abisatya sambil mencoba klip on yang ada di saku kemeja kotak-kotaknya, sementara headset penerima suara Abiwara, diselipkan di telinga yang tertutup rambut yang sedikit gondrong. Sore ini, dia sudah bersiap untuk beralih menyamar menjadi Abiwara dan menemui Rhea, gadis yang dipujanya. “Bi! Jawab dong!” [“Iyaa, iyaa, aku dengar, Sat! Aku dengar suaramu, kamu nggak usah khawatir, aku bersamamu, Sayang!”] goda Abiwara di ujung sana sambil tertawa tergelak. “Sayang? Iiiuuhh, tapi ngomong-ngomong mana nih, Rhea? Kamu bilang ‘kan kalau aku, maksudku kalau kamu nunggu di café yang ada di depan toko buku?” [“Iyaa, aku bilang gitu. Sabar aja, paling dia lagi di jalan, katanya sih udah OTW! Sabar, Bro!”] Tepat pada saat itu Rhea sudah terlihat di kejauhan dan melambaikan tangan padanya yang dikira Abiwara. Abisatya pun balas melambaikan tangan sambil menyeringai lebar, seraya berkata ke saudara kembarnya melalui klip on. “Bi, dia udah datang! Dia jalan ke sini, aku kok jadi deg-deg-an, yaa?” [“Santai, rileks, Bro! Tenang dan ingat-ingat pesanku tadi!”] “Iyaa, aku ingat, buku Madawa yang dilaunching hari ini itu judulnya Bintang dan Angkasa! Iya, ‘kan?” sela Abisatya cepat. [“Yess! Tepat! Good luck, Bro!”] “Haiii, udah lama, yaa nunggu di sini?” sapa Rhea begitu berdiri di depannya. Abisatya pun mengulas senyum manis sambil berdiri dan berpura-pura kalem, bergaya seperti Abiwara, saudara kembarnya. “Yaa, lumayan menghabiskan satu gelas es cendol!” sahutnya sambil menyeringai lebar dan mengangkat gelas yang hampir kosong ke atas. Gadis itu pun meringis kecil dan merasa bersalah. “Aduuh, sorry, banget. Ya, udah kalau gitu, kita masuk yuuk! Kayaknya acaranya mau mulai tuh, ayook!” Abisatya pun mengangguk dan mengekor di belakang Rhea yang tampak begitu antusias dan bersemangat menghadiri acara launching buku penulis favouritenya. Sepanjang acara, cowok itu hanya bisa terdiam, mencoba mengikuti dan menyimak acara tersebut yang dihadiri oleh banyak anak muda yang rata-rata sama seperti Rhea, para fans sang novelis atau para penggiat literasi. Kalau boleh milih, ingin rasanya Abisatya segera angkat kaki dari sana dan nongkrong di warung deket sekolah atau main basket bareng team basketnya, daripada duduk berlama-lama seperti ini di sebuah ruangan yang dingin dan mendengarkan orang yang bercerita tentang pengalaman ataupun ilmu-ilmu yang didapatnya. Yang kayak gini ini bukan Abisatya banget.  Tapi semua itu harus dia tahan, demi sang dewi pujaan hati yang kali ini duduk di sebelahnya sambil sesekali berbisik padanya dan membahas apa yang diucapkan oleh Madawa. Abisatya hanya bisa menyeringai kecil dan gelisah, sedari tadi jantungnya berdetak begitu cepat, berharap acara ini segera berakhir. Gadis itu sendiri terlihat begitu antusias dan bersemangat mengikuti setiap acara yang digeber selama dua jam ini. Untung cuma dua jam, kalau lebih dari itu, bisa-bisa Abisatya frustasi berat dan benar-benar cabut dari sana! “Kamu ingat apa yang dibilang sama Angkasa ke Bintang waktu akhirnya mereka bertemu kembali?” tanya Rhea saat mereka menikmati segelas ice cream di sebuah resto, setelah selesai acara launching buku, sementara cowok itu tampak asyik menikmati beef burger kesukaannya. Berdiam diri selama dua jam di ruangan dingin seperti tadi, benar-benar membuat perutnya keroncongan. Abisatya benar-benar butuh asupan energy. Abisatya pun kaget. “Hmm … Angkasa dan Bintang?” Gadis itu mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang polos dan sedikit bingung, saat cowok itu juga terlihat bingung dan kikuk sambil sesekali berdehem untuk memberikan kode ke Abiwara yang bersiap di ujung sana. “Tenang, tenang, Bro. Bilang sama dia, kalau Angkasa itu bilang ‘Bintang itu tempatnya seharusnya ada di Angkasa, sama seperti Bintang yang ada di hati Angkasa.’ Gitu jawabannya!” sela Abiwara yang tiba-tiba suaranya terdengar lagi di telinga Abisatya melalui headset. “Hmm …” Abisatya kembali berdehem mencoba menguasai keadaan sambil tersenyum ke Rhea. “Angkasa dan Bintang, yaa? Hmm … waktu itu Angkasa bilang kalau Bintang itu tempatnya seharusnya ada di Angkasa, sama seperti Bintang yang ada di hati Angkasa. That’s right?” tanyanya sambil menikmati burger-nya kembali. “Yup! Aku suka sekali bagian itu! Madawa itu unik, yaa! Dia itu memang suka sekali menggunakan nama-nama alam semesta sebagai nama di dalam tokohnya. Kamu ingat nggak novelnya yang berjudul Venus versus Mars?” Abisatya mendelik kaget lagi dan sedikit tersedak saat menyesap cola, hidungnya terasa sakit, aroma cola menguar keluar melalui hidungnya. “Venus versus Mars? Buku apalagi itu? Busset! Kenapa Abi nggak cerita soal yang satu ini?” batinnya panik. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD