Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Keduanya tidak sama sekali bertukar pesan. Davino merasa canggung atas situasi kemarin, entah mengapa ia harus merasakannya. Sedangkan Lian merasa sebal karena kakak semata wayangnya itu banyak mengabaikannya akhir-akhir ini. Bahkan Davino masih sempat bertukar kabar dengan kedua orang tuanya. Kenapa dia tidak memberi kabar kepada Lian?
Drrt.. Drrt..
Suara getar dari ponsel Lian terdengar kencang. Ia yang sedang bersantai di balkon kamarnya beranjak mengambil ponselnya yang berada di nakas. Sebuah panggilan video dengan nama kontak My Another King dengan simbol Mahkota Raja dan tanda hati bertengger disana.
Angkat gak ya?
Ia pun memijit tombol hijau di ponselnya.
Suasana masih hening meski keduanya telah tersambung. Wajah Davino terlihat datar. Padahal jarinya sudah mengusap lembut pipi Lian di layar ponselnya. Sedangkan Lian hanya menatap datar ke arah manik mata Davino.
“Li..”
“Kak..”
Mereka berseru bersama.
“Kakak duluan aja.”
“Emh.. Maafin Kakak ya, Li. Kakak banyak pekerjaan sampai sering cuekin kamu.”
Mata Lian sudah memanas siap untuk menangis namun ditahannya.
“Maaf ya, Kakak gak pulang beberapa tahun ini. Kakak pikir kamu akan susulin Kakak kesini paling enggak waktu liburan. Kakak harus urus perusahaan disini, Li.”
“Kakak udah gak sayang sama Lian ya!”
“Sayang kok, sayang banget!”
“Kenapa Lian gak pernah di kasih kabar?!”
“Bukan Kakak gak mau, tapi emang kerjaan Kakak banyak Li. Makanya, kamu kesini ya, biar kamu tau kayak apa pekerjaan Kakak. Ini gak bisa ditinggal gitu aja.”
“Kakak bahkan gak balas pesan terakhir aku.”
“Maaf, Sayang. Kakak kangen banget sama Lian.”
“Lian juga..”
Suasana jadi hening sesaat diantara keduanya.
“Gimana sekolah kamu, Li? Apa menyenangkan? Masih sama Laurel dan Tania?” Suara Davino memecah keheningan diantara mereka.
“Iya kak, Aku masih di sekolah yang sama. Emh.. Kakak betah disana ya?”
“Kakak gak punya pilihan, Li. Kakak juga ingin pulang.”
“Pulang Kak, kita tengok Papa Dave sama Mama Rana. Mereka pasti kangen Kakak. Aku yakin kalo misal itu masalah kerjaan. Pasti bisa kakak tinggal, kan? Papa akan kasih keringanan. Lagipula ada asisten Papa juga, kan?”
Davino menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang dia pikirkan.
“Kak?”
“Disana sudah malam ya, Li?” Davino mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
“Baru jam 9.”
“Kamu gak tidur?”
“Kayak bayi aja tidur jam segini.” Lian mencebik tidak suka atas ide Davino.
“Hahaha, Emang kamu masih bayi tau!”
“Ih, Kakak kayak Papa. Gini-gini aku bisa bikin bayi, Kak!”
“LIAN!” Suara Davino terdengar lantang.
Lian terkejut dengan reaksi Davino dan segera memandangi kakaknya itu dengan malas.
“Apa sih, Kak! Ngagetin aja deh.”
“Jangan macem-macem ya!”
“Emh! Fotokopian Papa emang! Bisa-bisanya kata-katanya sama.”
“Kakak gak bercanda ya Berlian Hati Adnan!”
“Ih, Kak. Aku juga gak bercanda tau.” Goda Lian dengan memasang muka mencebik.
“Kamu selalu deh, kalo dibilangin bisa gak usah jawab gak? Kakak masih kesel ya kamu joget-joget di Mall gitu. Ngapain coba joget-joget di mall gitu? Kamu kan bisa beli alatnya itu. dirumah aja! Kakak gak suka ya kamu gitu, Berlian. Pamer badan kamu di depan orang-orang?”
Lian hanya menjawab dengan kerutan dahi, tidak suka atas tuduhan Kakaknya.
“Pake baju ketat-ketat gitu. Kamu gak tau laki-laki buaya diluar sana gimana?”
Lian hanya mengedikkan bahunya dengan ekspresi mencebik. Ia pikir kakaknya tidak akan membahasnya.
“Gak ada lagi ya kayak gitu, awas ya kamu ulangi lagi! Janji sama Kakak jangan gitu lagi!”
Lian memilih untuk tidak menjawabnya dan menunjukkan pelototan mata tanda protes.
“Kenapa? Gak suka? Bisa pusing Kakak lama-lama kalo kamu susah dibilangin gini.”
Lian hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain masih dengan ekspresi tak sukanya.
“Jawab Kakak dong, Li!”
“Kakak, Bawel! Lian kan juga pengen main, Kak.”
“Tuh, jawabnya gitu lagi!”
“Apa sih, Kak?! Tadi suruh jawab!”
“Maksud Kakak..”
Tut!
Lian memutuskan sambungannya secara sepihak. Kepalanya berdenyut. Ia menjauhkan ponselnya yang telah di ubah dalam mode diam. Lian mendekati laptopnya untuk mulai memutar lagu agar suntuk di hatinya hilang. Ia merebahkan kepalanya dan menatap sebuah foto masa kecilnya dengan Davino.
“Dasar cerewet, egois!” ucap Lian ke arah foto itu. Beberapa saat kemudian Lian malah tersenyum. Perasaannya menghangat karena akhirnya setelah sekian lama Davino mau menghubunginya.
-***-
Disekolah, keesokan harinya, Berlian berjalan menuju kelasnya seorang diri.
“Berlian!”
“Ya?” Lian mengerutkan keningnya dan mengingat siapa yang memanggilnya.
Seorang laki-laki seumuran dengan Lian berwajah mirip Noah Centineo mendekat dengan senyuman manisnya.
“Hai, Emh, Aku dari kelas sebelas. Aku melihatmu beberapa kali. Apa kau anak baru, ah.. maksudku dari kelas sembila
n.” Ucapnya dengan bahasa inggris yang fasih.
“Ya, Aku dari kelas sembilan. Ada yang bisa aku bantu?”
“Oh, ya kamu tertarik bergabung dengan kami untuk grup tari? Maaf, aku melihatmu kemarin di mall dan temanku yang mengenalmu menyebutkan namamu.”
“Sebenarnya kemarin aku bertiga dengan teman-temanku. Aku tertarik dengan tawaran mu, tapi maaf mungkin aku tidak bisa bergabung jika sendirian. Sepertinya aku tidak akan diizinkan oleh Papaku.”
“Papamu.. sungguh.. ya, unik. Oke kalau begitu. Akan ku kabari jika kedua temanmu bisa ikut bergabung. Sepertinya aku belum berkenalan. Namaku Leonel Gustaf. Panggil saja Leon. Senang berkenalan denganmu.”
“Ya, aku juga senang berkenalan denganmu. Sebelumnya terima kasih atas tawaranmu.”
“Ya, dan… oh, boleh aku minta nomormu untuk menghubungimu soal ini?”
“Emmmh… Tentu.” Mereka saling menyebutkan nomor dan kemudian keduanya berpamitan untuk kembali ke kelas masing-masing.
Belum sampai kakinya melangkah ke kelasnya, terlihat dua orang sahabatnya menghadang dengan senyuman mengembang.
“Hayo! Ada apa lo sama Kak Onel!” Goda Laurel.
“Ondel-ondel maksud lo?”
“Yaah.. Ganteng gitu masa’ ondel-ondel?” protes Laurel.
“Kalian berdua daripada ngintipin gue tadi, kenapa gak pada nyamperin gue sih? Heran deh.”
“Masa kita pada ganggu lo yang lagi pedekate, ya gak Tan?”
Tania hanya mengangguk saja dengan senyuman jahilnya. Sedangkan Lian sudah mencubit gemas Pipi Laurel yang memang sangat usil.
“Aduh! Sakit tau, Lian! Hatinya pak Adnan! Iiiih!” Laurel balas ingin memukul tangan Lian tapi ia kalah cepat dengan gerakan tangan Lian. Lian terkekeh.
“Kalian udah pada jajan? Balik ke kelas aja yuk. Males banget di luar,” ajak Lian.
“Yuk.”
“Eh tadi ngapain si Leonel ngobrol sama lo?” tanya Tania penasaran.
“Nawarin dance, karena kemarin ngeliat kita di Mall. Jadi dia tertarik buat ngajak gue gabung dance.”
“Terus?” tanya Laurel penasaran.
“Ya gue jawab, kalo gak sama lo pada, gue gak mau. Lo tau sendiri Pak Adnan ribet banget sama gue.”
“Gue jadi inget banget waktu Papa lo nemuin lo lagi dance, goyang-goyang. Wajahnya udah merah banget. Gue pikir lo bakal di marahin. Eh, disuruh dance lagi!” Laurel dan Tania terbahak mengingat kejadian itu.
“Asli, gue juga udah kacau banget pas itu.” Lian hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Terus, lo jadinya gimana? Udah baikan sama babang tampan?” goda Laurel.
“Udah doooong!!! Semalem dia telpon gue duluaann!” senyuman berkembang di wajah Lian.
“Hemmm.. Seneng banget lo!” ucap Laurel.
“Diakan bukan abang kandung lo, Li. Kayaknya lo juga ada sister or brother complex gitu gak sih? Atau lo emang suka Abang lo?” selidik Tania.
“Emh, Kayaknya gue lebih ke arah sister or brother complex deh. Secara gua gak pernah pisah sama dia.”
“No.. No.. ini udah mau tahun ke empat lo pisah sama abang lo, Li. Gue rasa juga udah agak lama juga lo gak berhubungan sama dia. Lo yakin itu bukan perasaan cinta?” ucap Tania.
“Ih, Apaan sih lo? Emang lo tau perasaan cinta itu gimana? Aneh-aneh deh. Lagian gue dari kecil udah sama abang gue. Kata Mama malah dulu Abang gue itu sering banget cium-cium gue di perut Mama dari sebelum lahir.”
“So sweet banget! Bisa tukeran Abang aja nggak?” tanya Laurel.
“Gak! Enak aja!”
“Pacaran sama Kak Davino boleh?” tanya Laurel lagi.
Lian menjitak kepala sahabatnya itu.
“Aw! LIAN!” hardik Laurel yang disambut dengan tawa renyah Lian dan Tania.
-***-