Sepuluh

1357 Words
Sebuah suara terdengar nyaring di telinga Davino yang tengah terduduk menunggu kedatangan keluarganya. “KAAAAKKK!!!” Teriak Lian dan Sam bersamaan. “Ya, Tuhan!” Davino memekik kaget di peluk oleh kedua adiknya yang sudah berteriak histeris dari jauh. Davino mengecup pucuk kepala keduanya. Embun dan Gavin menghampiri anak-anaknya dengan senyuman. Davino melepaskan rangkulan kedua adiknya. Berganti memeluk Mamanya dan mencium pipi kanan dan Kiri Embun. setelah itu ia memeluk Papanya. “Apa kabar, Sayang?” tanya Embun. “Baik, Ma. Gimana perjalanannya?” “Melelahkan sekali, Dav.” ucap Embun sambil memasang raut muka sedih. “Kita pulang sekarang, Dav. Kami capek sekali. Nanti aja ngobrolnya di rumah,” ucap Gavin. “Oke, ayo balik,” ucap Davino sambil menggenggam tangan Lian dan merangkul pundak Sam. Mereka masuk ke mobil land cruiser dan menata koper-koper di belakang mobil. Saat mobil mulai menyusuri jalanan kota New York, Lian sesekali tersenyum melihat pemandangan diluar. Kota ini sangat padat sekali bagi Lian. “Gimana, Kak? Nyesel gak lo, gak pernah kesini? Jangan norak ya nanti!” celetuk Sam. “Sombong banget lo Sam,” ucap Lian dengan raut wajah meledek. “Gimana dong? Lo kurang gaul banget, Kak!” “Gimana mau gaul? Baru aja jalan ke Mall udah diseret pulang!” protes Lian. “Papa gak maksa kamu pulang lho. Papa sanggup nemenin kamu sampe Mallnya tutup. Orang kamu yang gak jelas minta pulang,” ucap Gavin dengan tangan masih sibuk membaca email di tabletnya. “Ya kali, Pa. Masa jalan-jalan dianter orang tua. Kayak Lian mau daftar sekolah aja,” Lian kembali Protes. Semuanya terkekeh mendengar jawaban Lian. “Bahaya tau Li, jalan-jalan sendirian. Mending ditemenin Papa lah,” ucap Davino. “Bentar deh, emang lo pikir gue jalan-jalan dimana sih, Kak. Ini di Mall lho. Banyak orang.” “Ya, sama aja. Orang kamu joget-joget kayak gitu. Kakak tuh udah pengen nyekek orang yang liatin kamu sama muka mesumnya itu. Jangan pake baju kurang bahan dong, Li!” “Pake Gamis maen pump it-nya, Kak?” nada Lian terdengar sebal. Semuanya jadi tergelak mendengar pertanyaan Lian. “Ya gak usah maenlah!” “Huuu!” Lian protes sambil memukulkan tangannya ke pundak Kakaknya itu. Davino hanya tersenyum melihat ekspresi Lian. Rasanya lama sekali tidak mendapat cubitan atau pukulan tangan Lian. “Gak solutif banget deh, orang masalahnya kurang gaul, malah disuruh gak boleh maen. Heran sih aku!” Percekcokan itu terus terjadi hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di depan gedung kondominium mereka. Davino dan Sam membawa koper-koper yang ada di bagasi. Mereka segera menaiki lift. Untuk menuju unit mereka. Masuk di ruangan itu, Embun dan Gavin pamit untuk masuk ke dalam kamar mereka begitu juga dengan Sam. Mereka semua seperti sudah tahu betul dimana letak ruangan tidur mereka. Sedangkan Lian masih terduduk di bar stool sambil meminum air mineral. “Kak, kamarku dimana?” Davino merentangkan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menyeret koper Lian. Mereka berdua pergi ke pintu dengan gantungan 'Welcome Queen' di tengah pintu. Davino membuka pintu itu dan disambut dengan kamar berlatar pemandangan kota Manhattan. Lian terkejut dan menutup mulutnya. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu dan mendekati jendela. Davino mendekati adiknya dan merengkuh adiknya dari belakang. “Suka?” Davino mengatakannya di dekat telinga Lian. “Banget! Thank’s Kak.” Lian menolehkan wajahnya dan mendapati wajah Davino begitu dekat dengan wajahnya. Hembusan nafas Lian terasa di Pipi Davino. Entah dorongan darimana Lian mengecup pipi kakaknya dengan memejamkan mata. Davino menolehkan wajahnya dan mata mereka saling menatap. Hidung mereka nyaris bersinggungan. Rasanya jantung Lian akan melompat karena kerasnya debaran jantung miliknya. Davino memutus tatapan itu dan menegakkan badannya. “Istirahat ya, Li. Pasti capek banget kan?” ucap Davino dengan suara parau. Lian hanya mengangguk sambil tetap memandangi luar jendelanya. “Kamar Kakak pintunya di samping kiri kamar kamu. Kali aja kamu butuh sesuatu.” Davino mengusap pundak adiknya. Ia segera beranjak dari kamar itu dan menutup pintu kamar adik perempuannya itu. Bodoh! Gue tadi ngapain nyium Kak Davino! Argh! Gadis itu merutuk dalam hati sambil memukul-mukul dahinya dengan kepalan tangan. -***- Suasana malam itu terasa ceria di kondominium yang ditempati Davino. Jarang sekali penghuninya ada dalam formasi lengkap. Embun yang telah memasak nasi, kini tengah mengeluarkan semua makanan yang bisa dimasukkan dalam freezer untuk menjadi makanan beku dan bisa di makan sampai beberapa minggu kedepan. Sedangkan Lian tengah memanaskan rendang yang dibawa dari Indonesia. Davino mempersiapkan peralatan makan. Ia ingin mengambil piring yang terletak di kabinet dapur, tapi dilihatnya Lian masih memanaskan makanan di kompor. Davino mendekatkan tubuhnya pada Lian. “Permisi ya, Li.” Davino menaruh satu tangannya di puncak kepala Lian agar tidak terantuk pintu kabinet, sedangkan tangannya yang lain membuka pintu kabinet. Lian terkejut, jantungnya berdebar dengan kencang. Jarak mereka membuat Lian bisa membau parfum yang digunakan Davino. Begitupun Davino, aroma wangi dari rambut Lian tercium olehnya. Ia segera mengambil piring yang ia butuhkan dan menutup kabinet. Davino beranjak ke meja makan dan menata peralatan makan itu. Tidak lama makanan sudah tersedia di meja makan. Ada rendang, sambal goreng ati, tahu, dan sambal. Mereka segera menyantap makanan itu dengan lahap. “Lama banget Davin gak makan kayak gini, Ma. Makasih ya, Ma.” “Enak gak, Sayang? Adek kamu nih yang masak sambal goreng atinya. Sekarang dia lagi seneng banget belajar masak,” ucap Embun dengan sumringah. “Oh, ya? Ini enak banget Li!” puji Davino. “Kak Lian sekolah kuliner aja deh. Bisnis Mama sudah dipegang Tante Freya juga kan? Ekspansi kita. Biar bisa beli mansion di California,” celetuk Sam. “Aduh-aduuhh.. Beli mansion! Udah gede aja nih adek-adek aku, Ma. Makan bahasnya bisnis. Ngeri!” ejek Davino. “Iya dong, Kak. Gue hobi belanja. Kalo gue gak hobi cari duit. Gimana dong? tau kali gue kalo duit kudu di cari bukan dipetik,” sahut Sam yang bersemangat menyendokkan makanannya ke mulut. “Hahaha, pinter adek gue. Lo hobi belanja apaan emangnya Sam?” Davino menatap adiknya yang kini makin tampan dan lemaknya berganti dengan otot-otot yang mulai terbentuk. “Baju, sepatu, apa aja lah. Pokoknya yang hypebeast.” “Astaga! Makin narsis sih anak ini, Ma.” “Turunan Papamu. Ya gitu,” ucap Embun sambil menyendokkan makanan ke mulutnya. Semuanya terkekeh mendengar celetukan Embun. “Eh, Dav. Tantemu beberapa bulan lalu ke Butik Mama. Gak mampir kesini?” tanya Gavin. Davino hanya menggeleng, ia tidak ingin menceritakan betapa hebohnya dia bertemu dengan Tantenya kala itu. “Oh.. Waktu itu Papa mau bilang sama kamu. Lupa terus. Papa mau minta kamu nengokin Tantemu sih. Lagi galau banget soalnya. Tapi karena waktu itu Zach bilang dia sama Freya, Papa jadi mikir nanti-nanti aja nyuruh kamu liat dia. Sampe lupa deh.” “Terus gimana kasusnya, pa? Udah kelar?” “Udah, untungnya Brandon hak asuhnya sama Tante kamu. Mereka bakal tinggal di New York juga kayaknya. Menetap. Gak tau sampe kapan. Mungkin sekitar satu minggu lagi kesini. Ini makanya Papa dan Mama disini. Sekalian mau bantu dia pindahan.” “Papa sebenernya juga gak suka sih, dia terkesan melarikan diri gini. Apalagi Papa dan Mama gak bisa ikutan jaga Brandon. Ck! Papa titip Tante dan sepupu kamu ya?” lanjut Gavin. Davino hanya mengangguk saja. “Pa?” Davino ragu untuk menyampaikan maksud hatinya. “Hm?” Gavin menatap laki-laki yang sudah dianggap putra bungsunya sambil tetap mengunyah makanannya. “Kalo Tante Freya mau nikah lagi? Apa Papa ijinin?” Gavin menghentikan kunyahannya. Ia tampak berpikir keras dilihat dari lipatan dahinya. “Tantemu sudah dewasa, Dav. Dia pasti tau yang terbaik buat dia. Selama itu nggak mengganggu hubungannya sama Brandon, ya Papa setuju. Karena Papa sayang sekali sama Brandon. Papa gak mau dia diasuh tangan yang salah. Lagipula selama itu gak menyalahi aturan apapun. Kebahagian Tante Freya, kebahagiaan Papa juga. Itu juga berlaku buat kalian semua.” Semuanya tersenyum ke arah Gavin dan dibalas dengan senyum tipis oleh Gavin. Gavin sebenarnya merasakan perasaan campur aduk dalam hatinya mendengar ucapan Davino. Masa lalu Freya yang mengalami trauma akan lelaki dan kini di sakiti oleh laki-laki hingga bercerai. Gavin tidak yakin, adiknya itu akan begitu mudah terbuka untuk menerima laki-laki lain. -***-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD