Rino POV.
Akhirnya bisa lepas dari urusan dengan Alisha lalu aku langsung tancap gas ke rumah Melly untuk malam mingguan. Suntuk rasanya. Bukan suntuk yang gimana gimana sih, suntuk memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan pada mamaku kalo nanti tanya. Aku pikir mungkin dengan pergi dugem dengan Melly, sejenak membuat aku bisa melupakan urusanku dengan mama. Eh malah mama telpon tepat aku bersama Melly di mobil.
“Siapa sih yang telpon?” tanyanya langsung kepo.
Soalnya aku hanya menatap sekilas ke layar handphoneku lalu aku abaikan.
“Mama” jawabku singkat supaya dia gak tanya tanya.
“Ngapain lagi mamamu?. Perasaan minggu kemarin udah telpon kamu terus suruh kamu pulang” katanya lagi.
Ya terus kenapa?. Mamaku, memangnya salah kalo suruh aku pulang, sekalipun menyuruhku pulang ke rumah kemarin, malah buat aku pusing.
“Yang, kamu kok diam?. Ngapain lagi mamamu cari kamu?” kejarnya selalu kalo aku belum memberikan jawaban yang dia mau.
Mau bohong sekalipun tetap mesti aku jawab.
“Aku gak tau” jawabku sekenanya.
“Itu sih telpon terus. Angkat deh mendingan, aku penasaran suruh kamu apa lagi” perintahnya.
Aku menghela nafas dulu dan tau yang dia katakan benar. Mama tidak akan berhenti telpon kalo belum aku angkat. Selalu begitu. Dan aku memang akan selalu mengangkatnya karena takut juga sesuatu terjadi pada orang tuaku. Namanya aku anak satu satunya dan lelaki.
“Loudspeaker” perintahnya.
“Ngapain sih, pakai loudspeaker?. Nanti kamu bawel ikutan ngomong ke mama. Malah ribut lagi aku sama mama” jawabku.
Memang selalu begitu sekalipun mama tanggapi sapaan Melly, tapi ujungnya protes padaku karena masih aja berhubungan dengan Melly. Gak enaknya punya hubungan pacaran tidak di restui orang tua ya seperti ini. Dan Melly tau soal ini. Aku bohong kalo papa mamaku tidak setuju dengan hubungan kami pun rasanya tidak mungkin. Lama lama pasti Melly tau. Gak masalah juga kali ya kalo Melly tau apa yang akan mama bicarakan denganku?. Aku juga malas ribut dengan Melly nantinya. Jadi aku setuju loudspeaker sesuai yang dia mau.
“Diam kamunya, jangan bersuara” pintaku pada Melly sebelum menjawab panggilan mama yang kesekian kalinya.
“Rin, lagi di mana sih?, susah banget mama telpon” protes mama langsung.
Kebiasaan kalo ada sesuatu yang urgent pasti langsung ngomong aja. Beda kalo telpon sekedar tanya kabarku atau tanya kapan aku pulang ke rumah.
“Di jalan mah” jawabku sambil melirik Melly yang bertahan diam menyimak tentunya.
“Oh kamu baru pulang ketemu Alisha ya?” tanya mama.
Sontak Melly menatapku dengan sepasang matanya yang melotot sampai aku beri isyarat untuk tetap diam lewat tatapan mataku. Bodo amat juga kalo Melly akhirnya menekuk wajahnya dan melengos dengan mode kesal. Paling ngambek. Udah biasa aku tuh.
“Iya mah” jawabku.
“Terus?” tanya mama lagi.
“Ya gak ada terus, apa yang mama harapkan dari pertemuan yang baru sekali dan cuma sebentar” jawabku.
Di luar dugaan mama malah tertawa.
“Iya juga ya. Tapi jujur sama mama, Alisha cantik kan?” tanya mama.
Gantian aku tertawa.
“Mama serius Rin, mama aja suka. Masa kamu gak suka?” kata mama lagi.
Lagi lagi aku tertawa dan langsung teringat dengan sosok cewek yang mama bilang cantik. Ya memang cantik sih. Hmm..lebih tepatnya cantik yang sederhana untuk ukuran putri orang kaya. Tidak kelihatan menonjol sekali secara penampilan, malah terkesan santai, walaupun aku tau apa yang dia pakai semuanya barang branded. Tapi tetap tidak kelihatan mencolok. Kuat sekali aura old moneynya. Ngertikan maksudku yang tidak perlu show off, tapi aura mahalnya tetap kelihatan. Hal ini yang kadang buat aku tertawa melihat selebritis yang berusaha menaikkan kelas social mereka atau supaya dapat validasi orang kaya, ternyata malah kelihatan norak dengan pakai apa pun barang branded dengan logo atau merk yang ukurannya besar besar. Ngapain?. Kalo orang kaya beneran, tidak perlu begitu. Karena orang kaya beneran, pakai barang kelas satu bukan kejar validasi orang kaya, tapi udah jadi gaya hidup sehari hari. Juga soal kenyamanan. Logikanya nih ya, kalo mampu beli yang mahal tanpa mikir kenapa beli yang murah?. Malah seperti buang uang kalo akhirnya tidak di pakai atau tidak suka. Dan benar orang bilang. Gaya hidup seseorang memang tergantung uang yang dia punya.
“Rin mama tanya juga” protes mama karena aku malah sibuk mikir hal lain.
“Iya mah cantik…” jawabku.
Tawa mama langsung terdengar. Jadi kebayang lagi olehku sosok Alisha yang mama bilang cantik. Aku kan sempat mengawasi dan memperhatikannya saat dia berlalu pergi dengan temannya. Tingginya standart perempuanlah, tapi tidak pendek juga. Ada deh kira kira 160 something. Memang tidak setinggi Melly. Tapi kalo untuk wajahnya harus aku akui, Melly kalah sih. Soalnya Melly suka sekali dandan full make up untuk kelihatan cantik. Ya memang jadi cantik sih, tapi…
Setelah melihat Alisha, memang benar orang bilang, semakin kelihatan tanpa make up, malah semakin cantik, karena kalo udah cantik, pas serius Makai make up dengan bantuan make up artis, pasti lebih cantik lagi. Tapi aku tidak terlalu ingat detail banget bentuk mata, alis, atau hidungnya. Pokoknya memang enak di lihat. Aku malah ingat bentuk bibirnya yang kecil tapi penuh macam bibir anak bayi. Kenapa malah aku ingat?. Yakan dia ngomel terus jadi aku ingat terus pergerakan bibirnya saat dia bicara dengan mode jutek.
“Gak salahkan pilihan mama sama papa?” tanya mama lagi.
Aku lirik Melly dulu yang kembali menatapku dengan wajah cemberut.
“Anggap aja begitu” jawabku.
“Wah, kayanya kamu mulai suka ya. Senang banget mama dengarnya. Makasih ya sayang karena kamu mau ikutin saran mama untuk ketemu dulu dengan Alisha, tenang aja, papa dan mama sabar kok nunggu kalian berdua merasa cocok dulu” kata mama.
“Siap mah. Udah ya, aku lagi di jalan nih” pamitku merasa punya kesempatan.
“Okey, hati hati ya sayang” jawab mama.
Lalu aku menghela nafas lega setelah mama mengakhiri panggilan.
“Jadi kamu tadi ketemu sama tuh cewek?. Pantas aku gak boleh ikut” ternyata aku belum benar benar bisa bernafas lega.
“Ya mau ngapain juga kamu ikut, ketemuan sebentar doang. Lagian dia bawa temannya dan gak benar benar minat ketemu aku apalagi mau nikah sama aku” jawabku jujurkan ya??.
“Tapi kamu bilang dia cantik tuh” kata Melly lagi.
Biasa ini mah, perempuan di mana mana gak mau kalah cantiknya dari perempuan lain.
“Yakan cewek, masa aku bilang ganteng” gurauku.
“RINO!!!” jeritnya kesal.
Aku lawan dengan tertawa karena sudah sering Melly cemburu gak jelas model begini. Harusnya siap cemburu kalo punya laki speck kaya akum ah.
“Udah ah, gak usah ngambek” jawabku lalu mencium pipinya.
Masih aja bertahan cemberut. Gak mempan rayuanku kali ini.
“Udah dong Yang. Aku ngomong begitu sama mama buat senangin mama doang dan supaya mama berhenti kejar aku urusan ini. Tadikan aku bilang belum tentu tuh cewek mau nikah sama aku” kataku lagi.
“Bisa aja kamunya yang mau” balasnya.
“Terserahlah kalo kamu gak percaya. Aku udah bilang jujur loh” nah ini jurus atau ucapan laki b******n yang aku copy paste.
Soalnya sejujurnya aku belum tau ke depannya akan seperti apa, dalam artian apa aku bisa menolak permintaan papa mamaku?. Aku kan gak bisa meramal. Lagian ngapain pusing pusing memikirkan apa yang akan terjadi nanti, kalo yang sekarang aja belum tentu aku bisa lewati dengan baik. Contohnya masalah ini. Aku aja belum tau jalan keluarnya gimana.
“Iya udah aku percaya, awas aja kalo kamu bohong” jawabnya menyerah juga untuk ngambek.
“Iya…” jawabku.
Bagusnya tidak menodong janjiku. Agak berat soal ini.
“Tapi kamu mesti setuju ya kemana pun aku ajak kamu, mala mini sama besok ya?. Iya gak Yang?. Aku kesel banget nih, kamu harus buat aku happy” rengeknya kali ini.
“As your wish” jawabku.
Baru deh tertawa senang lalu mencium pipiku. Aman lagi posisiku hari ini. Posisiku ke mama dank e Melly. Agak cape sih sebenarnya menyenangkan orang, tapi mau gimana lagi?. Nikmatin aja dulu yang ada di depan mata dengan menurut apa yang Melly mau. Di ajak aku ke club yang ramai sekali orang pun aku nurut. Toh tetap bisa duduk dan sedikit minum supaya suntukku agak mengendur. Cukup aku biarkan Melly bergerak kemana pun yang dia mau, sementara aku duduk menunggunya di sofa, sampai dia merengek minta pulang setelah setengah mabuk. Ya aku bawa pulang dong setelah membayar tagihan kami. Ramai ramai soalnya dan Melly selalu suruh aku bayar. Tidak masalah sih. Bukan suruh aku beli jet pribadi ini. Belum sanggup aku. Kalo papaku mungkin sanggup.
“Aku ke kamar mandi dulu ya, sekalian ganti baju” pamitnya begitu sampai apart aku.
Gak lupakan kalo dia berniat menginap, jadi sudah bawa baju ganti di tas yang dia taruh di bagasi mobilku dan aku bawakan sepulang dari club.
“Take your time” jawabku jadi punya kesempatan mencari segelas air putih untuk sedikit menetralkan tenggorakanku dari minuman yang aku minum sebelumnya lalu aku bergerak ke kamarku.
Hadeh….kenapa mestu pakai baju tidur mirip lingerie sih?. Atau malah lingerie?. Yak arena menerawang gitu daster pendek tali satu sepanjang pahanya begitu keluar kamar mandi. Laki mana yang tidak menegang, aku pun menegang, karena aku lelaki normal. Tapi sebelumnya sih pasti aku langsung sikat semauku, kali ini malah aku hilang minat. Sekalipun dia mulai mencium bibirku lalu turun ke leherku.
“Ayo Yang. Aku udah selesai palang merah” rengeknya.
Aku sendiri tidak pernah tau gimana cara Melly mencegah dirinya tidak hamil, pokoknya selalu datang bulan. Sebelumnya aku tidak pusing juga kalo ternyata dia hamil, karena kami memang tidur bersama walaupun tidak sering banget juga. Pokoknya setiap ketemu pasti ujungnya begitu.
“Next ya. Aku gak mood” jawabku melepaskan diri juga dari ciumannya.
Dia menatapku dulu.
“Serius?” tanyanya dulu.
Aku mengangguk.
“Jangan salahin aku, salahin mama tuh yang buat aku suntuk dan cewek yang aku temuin hari ini. Jadi malas akunya” jawabnya.
Malah tertawa.
“Bukan karena aku kan?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Besok besok bisa, kan kapan pun kamu mau kita ketemu, ya tinggal ketemu aja” jawabku.
“Okey” jawabnya sambil tersenyum.
“Sana ke tempat tidur, aku ganti baju dulu” perintahku.
“Jangan lama lama” jawabnya.
“Iya, ganti baju doang” jawabku lalu aku bergerak ke kamar mandi lalu ganti baju.
Melly tentu bergerak ke tempat tidur dan langsung tidur saat aku bergabung dengannya di tempat tidur. Kok ya aku malah memikirkan Alisha?. Di sampingku ada Melly loh yang akhirnya memelukku dalam kondisi tertidur. Sampai buat aku suntuk lagi lalu memilih tidur.
Besoknya masih juga harus menghadapi drama Melly yang merengek pergi jalan jalan ke mall.
“Malas ah makan pesan online, gak hangat Yang. Ke mall aja, ada yang mau aku beli juga” rengeknya yang sebenarnya aku tau akan berujung ke mana.
Mager sih aku sebenarnya tapi cara untuk lepas dari Melly ya dengan menuruti apa yang dia mau.
“Kamu sih pasti karena semalam kita gak ngapa ngapain nih, makanya kamu gak mau nurutin aku. Laki memang di mana aja sama. Mesti…”
“Ayo, bukan aku gak mau. Baru bangun langsung kamu ajak keluar. Sabar dong” potongku malas dengar alasannya kalo aku menolak keinginannya untuk belanja atau beli sesuatu.
Padahal gak mesti kami having s*x dulu, lalu aku bersedia traktir atau membayar apa yang dia mau beli. Kadang Melly tidak bisa melihat ke arah lain, soal alasan bersedia mentraktirnya terus. Padahal itu caraku menyenangkan hatinya juga. Seperti lupa kalo di awal pendekatan kami, dan belum menjalin hubungan sampai tidur bareng seperti ini, aku tetap traktir kok. Gak tega juga kalo orang yang kita sayang menginginkan sesuatu terus tidak aku belikan. Terus akunya mampu belikan. Walaupun bukan sepenuhnya pakai uangku.
“Beneran Yang?? “ tanyanya kembali happy.
Aku mengangguk.
“Awas dulu kamunya, aku mandi dulu” kataku karena dia sudah mengeluarkan jurus rayuan dengan peluk peluk aku di tempat tidur sampai aku susah bergerak.
“Aku juga mau mandi” jawabnya.
Akhirnya kami mandi bersama. Beneran mandi bersama ya tanpa melakukan hal lain. Perutku juga lapar.
Menjelang malam baru aku kembali ke Apart aku setelah mengantarkan Melly pulang, tentu setelah dia selesai belanja. Baru juga berniat mandi, telpon mama masuk lagi. Kali ini aku jawab tanpa perlu lama. Mau tau aja mama ngapain cari aku lagi.
“Rin, Alisha mau tuh ketemu kamu lagi” kata mama.
“Oya?” tanyaku.
“Masa mama bohong. Kamu gak dengar mama happy banget dia mau ketemu kamu lagi?” jawab mama.
Aku tertawa saja.
“Tapi mesti kamu yang mulai ngajak dia ketemunya” kata mama menjeda tawaku.
Hadeh…
“Kamu ajak ya. Wajar dong kalo lelaki yang ngajak bertemu duluan. Gimana pun Alisha perempuan, kodratnya memang nunggu lelaki yang datang” kata mama lagi.
“Okey” jawabku sekenanya.
Bersoraklah mama dan aku ikutan tertawa.
“Mama kirim ya alamat apartemannya. Belajar gentleman jadi anak lelaki, kamu jemput ya Alisha” kata mama lagi.
Mendadak aku tertawa tanpa suara. Seru juga nih kayanya kalo aku tiba tiba datang ke apartemannya tanpa bilang bilang. Kebayang aja gimana juteknya dia karena kaget. Iya gak sih?.
“Tapi tunggu aku senggang ya mah” kataku malah bilang begitu.
“Iya, yang penting kamu setuju menemui Alisha lagi. Oke sayang?” kata mama lagi.
“Okey” jawabku.
Akhirnya beneran aku datangi di hari Jumat saat rutinitas kantor tidak terlalu padat. Supaya aku tidak harus ribet dengan drama Melly. Jadi selepas makan siang aku sudah datang ke apart Alisha.
“ELO!!!” jeritnya saat membuka pintu dan menemukan aku.
“Kenapa?” tanyaku menjawab.
“Ngapain lo?” jawabnya lalu langsung tolak pinggang di depanku dengan tatapan jutek yang selalu mengganggu pikiranku belakangan ini.
Seru nih kayanya…jadi aku mendadak senyam senyum sendiri membayangkan gimana segala bentuk kejutekan yang akan di tunjukan Alisha. Sekarang aja aura juteknya sudah kuat banget.