"Shiit" geram Nicholas frustasi. Nicholas harus bergegas menidurkan adiknya yang menegang karena otaknya yang m***m membayangkan Serena. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore dan waktunya bagi karyawan untuk pulang kerja. Nich melihat Serena yang berdiri di samping meja kerja dan memegang tas kerjanya. Serena mengeluarkan ponselnya dan ia terlihat senang ketika membaca pesan masuk. Serena memasukan kembali ponselnya ke dalam tas kerjanya dan bergegas pergi. Nich berniat pulang kerja bersama Serena dan mulai berusaha mendekatinya lagi. Tidak dipungkiri jika perasaan Nich terhadap Serena tidak pernah berubah. Tapi dikarenakan adiknya tak kunjung tidur, Nich mengurungkan niatnya.
***
Serena berjalan di lobi kantor dan seketika langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Serena" panggil Karin sedikit berlari menghampiri Serena.
" Eh Karin, bukannya hari ini kamu pulang bareng sama Marco?" tanya Serena.
"Iya sich tapi tadi Marco di panggil pak bos ke ruangannya" jawab Karin sambil mengatur nafasnya yang agak tersengal.
"Emang ada urusan apa Marco di panggil ke ruangan pak bos?" tanya Serena.
"Lah kamu gak tahu kenapa Marco di panggil ?" Aku pikir kamu tahu kan kamu sekretarisnya pak bos". ucap Karin.
"Entahlah" ucap Serena singkat sambil mengangkat kedua bahunya. Serena mengambil ponsel yang bergetar dari dalam tasnya. Ia membaca pesan masuk sambil tersenyum dan dengan cepat ia mengetik balasannya.
"Ciee-ciee yang mau ketemuan sama calon kekasih". Goda Karin.
"Kok kamu tahu?". Ucap Serena malu.
"Iyalah tahu keliatan dari muka kamu yang senyam senyum itu. Eh ngomong-ngomong apa kamu yakin sama Rey padahal kamu kan belum pernah ketemu sama dia" tanya Karin.
"Rey orangnya baik dan perhatian sama aku. Tiap hari dia selalu ngirimin aku pesan dan kata-kata mutiara gitu" ucap Serena senang. "Aku harap dia akan jadi kekasih idaman aku Karin dan juga kalo dilihat dari foto profil nya kelihatan kok kalo orangnya bukan cuma ganteng tapi juga baik". Cerita Serena panjang lebar.
"Mudah-mudahan Rey itu sesuai dengan kriteria cowok yang kamu inginkan ya. Kalo kamu udah jadian sama Rey nanti kita bisa double date okey" ucap Karin semangat.
" Okey, yuk kita pulang. Aku mau siap-siap soalnya nanti malam Rey mau jemput aku di kosan" ajak Serena.
"Ayook" ucap Karin.
***
Dari dalam ruangan yang besar terlihat seorang pria yang memperhatikan dua gadis yang sedang menunggu di halte bus. Nampak Serena dan Karin pulang bersama dengan senyum yang lebar seperti anak kecil yang senang mendapatkan permen.
" Ada perlu apa lu panggil gue bro?" tanya Marco sambil mengambil minuman diatas meja Nicholas dan langsung meminumnya. Yang ditanya masih fokus menatap wanita yang dicintainya sejak dulu sedang menunggu bus. Marco mendekati Nicholas yang sedang melamun di dekat kaca yang menghadap langsung ke parkiran kendaraan dan juga dekat dengan halte bus.Terlihat Serena dan Karin masuk ke dalam bus yang berhenti dan mereka masuk kemudian bus itupun pergi. Nicholas mendesah frustasi. Setiap melihat Serena hatinya selalu bergetar. Perasaan itu masih ada dan Nicholas ingin Serena membalas cintanya.
" Lu suka sama Serena" tebak Marco.
" Emang keliatan kalo gue suka sama Serena" tanya Nicholas balik. Nicholas melipatkan kedua tangannya di atas dadanya dan menghadap ke arah Marco.
" Iya keliatan lah kan gak mungkin juga lu suka sama cewek gue" ucap Marco sambil meneguk minumannya.
" Oo teman Serena itu cewek lu namanya Karin bagian resepsionis ya.?" tanya Nicholas
" Iya, Karin cewek gue dan mereka berdua itu satu kosan. Kalo lu gak manggil gue tadi, gue pasti udah pulang bareng sama Karin. Mana hari ini malam sabtu rencananya gue sama Karin mau jalan-jalan dulu ke mall cuci mata. Eh lu nya manggil" Kesal Marco.
Nicholas dan Marco teman sejak kecil. Mereka satu sekolah sejak taman kanak-kanak. Mereka selalu berdua seperti saudara pada umumnya. Tapi sejak tamat SMA, Marco memutuskan menerima beasiswa di Jepang untuk melanjutkan studinya. Keluarga Marco bukan dari kalangan atas seperti Nicholas. Marco tinggal bersama ibu dan adik-adiknya di apartemen biasa. Ayahnya telah lama meninggal. Ibunya bekerja sebagai karyawan swasta yang hanya mampu menyekolahkan Marco hingga SMA karena gaji sang Ibu yang pas-pasan belum lagi untuk biaya sekolah dua adik laki-lakinya. Untungnya Marco lumayan pintar dan mendapatkan beasiswa ke Jepang. Sekarang Marco bekerja di perusahaan Nicholas sejak dua tahun yang lalu dan menjabat sebagai kepala humas di kantornya. Nicholas menghubungi Marco agar bekerja di kantornya. Nicholas dan Marco memang bersahabat walaupun jabatan mereka antara CEO dan kepala humas. Di luar jam kantor mereka terlihat santai seperti kawan karib tapi di jam kantor mereka terlihat lebih profesional memerankan jabatannya.
" Eh lu bisa bantu gue" tanya Nicholas.
" bantu apa" tanya Marco penasaran.
" Gue minta tolong lu bilang sama cewek lu cari info tentang Serena. Apa aja kegiatan Serena kalo tidak sedang bekerja atau seputar kehidupan pribadi Serena dan juga keluarganya. Apa yang disukai atau tidak disukainya. Jangan sampai sedikitpun terlewatkan tentang Serena" ucap Nicholas.
" Gila lu, sampe segitunya. lu pikir cewek gue detektif. Kalo lu suka lu sendiri aja yang tanya langsung ke Serena." ucap Marco kesal.
" Bantuin gue kali ini pliis" ucap Nicholas memelas.
" Huffft, kelihatannya lu suka banget sama Serena. oke lah kalo begitu ntar gue bilang sama Karin.
" Thanks bro" ucap Nicholas senang sambil meninju lengan sahabatnya itu.