I Hate Him

916 Words
"Jadi lelaki itu adalah...." Ucapan bunda Arumi terjeda ketika sebuah suara salam terdengar dari arah pintu masuk. Mereka pun serentak menoleh ke sumber suara dan pada detik itu juga Illyana diam membeku melihat siapa yang datang. "Waalaikumsalam, Ayo Shad sarapan bareng sini." ucap pak Hasan menyambut salam dari lelaki yang baru saja datang itu, sedangkan yang lainnya masih terpaku ditempatnya. Suasana saat itu menjadi canggung. Apalagi untuk Illyana. Dia seketika menghidupkan mode heningnya. Bahkan dia menjadi tidak mood untuk menyantap sarapannya. Entah kenapa rasanya menyebalkan sekali di posisi seperti itu. "Kamu apa kabar Illya?"Tanya lelaki itu berbasa-basi. "Baik." Jawab Illyana dengan nada datarnya. Bahkan hanya sekedar basa basipun Illyana sudah tak tertarik untuk mendengarkannya. "Syukurlah kalau begitu. Lalu selanjutnya kamu akan bekerja dimana?" Tanya lelaki itu lagi sok akrab. "Not your bussiness, I'm not interested talking with you so just shut up!" Ujar Illyana to the point. Dia membuat semuanya terkejut dengan perkataan ketus Illyana tadi. "Illya kamu gak boleh gitu ah. Naushad kan tanya baik-baik sama kamu. Jawabnya jangan ketus gitu dong." Ujar Bunda Arumi menasihati. Tapi dia tak peduli dengan hal itu. dia hanya melakukan apa yang hatinya inginkan. Ya, lelaki itu bernama Naushad Zulchairi. Dia adalah putra angkat dari keluarga Illyana. Dia menjadi keluarga dari Illyana ketika usianya delapan tahun dan tentu saja saat itu Illyana masih berumur sekitar empat tahunan. Dulu mereka begitu akrab layaknya saudara kandung. Naushad senantiasa menjaga Illyana kala mereka bertemu. Tapi beranjak dewasa mereka jarang bertemu karena Naushad belajar di pesantren. Hal itulah yang membuat Illyana menjadi semakin kesepian. Dulu Illyana selalu tersenyum dan bersikap hangat kepada Naushad tapi sekarang dia begitu dingin kepada lelaki itu. bahkan menatapnya pun dia tak mau. Sekeras apapun usaha Naushad untuk mendekatkan diri lagi kepada Illyana seperti dulu, perempuan itu tetap kekeuh pada pendiriannya. "Loh Illya, kamu mau kemana? Habiskan dulu sarapanmu nak." Ujar bunda Arumi ketika Illyana berdiri dari tempatnya ia duduk tadi. dia rasa tak ada alasan lagi untuk berlama-lama disana. "Aku sudah kenyang bun. Aku mau ke kamar dulu." Ujar Illya yang langsung dicegah oleh lelaki itu. "Lanjutkan sarapanmu Illya. Biar aku saja yang pergi. Seharusnya aku tak mengacaukan acara sarapan ini." Ujar Naushad yang juga ikut beranjak dari tempatnya. Suasanya pun menjadi tidak kondusif. Pak hasan dan Bunda Arumi menjadi bingung dibuatnya. Mereka tak mau salah bertindak sehingga menyebabkan salah paham untuk keduanya. "Illya, Naushad. Tolong duduk dulu dengan tenang. Jangan ada yang beranjak dari tempat ini tanpa seizinku."Ujar pak Hasan dengan tegasnya. Beliau memang terkenal tidak banyak bicara dan disegani oleh siapapun itu. Illya dan Naushad pun termasuk orang yang sangat segan dengan pak Hasan. Jika Pak Hasan sudah berkata seperti itu berarti perintahnya mutlak dan tak boleh dibantah oleh siapapun. Akhirnya kedua orang itupun kembali duduk di tempat mereka masing-masing. "Illya, Ayah harap kamu tidak bersikap seperti itu pada Naushad. Bagaimanapun kalian itu sudah menjadi keluarga sejak kecil dan yang lebih penting lagi dia adalah lelaki yang ingin Ayah nikahkan padamu." Ujar pak Hasan yang sontak membuat Illyana membelalakan matanya tak percaya. Dia berharap apa yang ia dengar tadi tidaklah benar. "Apa Yah? Aku gak salah dengar kan? Dia yang ingin Ayah nikahkan denganku?" Tanya Illyana mencoba mengklarifikasi lagi apa yang telah ia dengar tadi dan Pak Hasan menjawabnya dengan anggukan mantap. Hal itupun membuat Illyana menggelengkan kepalanya tak percaya dengan semua ini. mulai dari pernikahan mendadak sampai lelaki yang akan dinikahkan dengannya. ia benar-benar tak habis pikir dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. "Illya, Kami hanya percaya pada Naushad. Dia lelaki yang bertanggungjawab, kami sudah mengenalnya dengan baik dan kami yakin dia tak akan menyakitimu sedikitpun. Naushad sudah setuju mengenai hal ini jadi Bunda harap kamu bisa memikirkan hal ini nak." Jelas bunda Arumi pada putrinya dengan nada lembut. "Mungkin kalau lelaki itu bukan Dia aku akan mempertimbangkan dan memikirkan pernikahan ini. tapi ketika melihat dia yang ingin dinikahkan denganku, tak perlu berpikirpun aku akan menolaknya. Aku tidak mau menikah dengan parasit sepertinya. C'mon Yah, Bun, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari dia. kolega Ayah atau kolega bunda juga boleh. Lelaki yang memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, bermartabat dan memiliki nama baik yang pantas untukku, bukan parasit sepertinya." Ujar Illyana lagi sembari menatap tajam kearah Naushad. Perempuan itu seakan ingin menekankan bagaimana dia membenci lelaki itu dengan melontarkan kata-kata yang menusuk hatinya. "Astaghfirullahaladzim Illya. Siapa yang mengajarimu seperti itu? Ayah gak pernah mengajarimu untuk merendahkan sesama manusia seperti itu. Kamu keterlaluan Illya." Ujar pak Hasan dengan nada tingginya. Illya hanya berdecih mendengarnya. dia sudah sering mendengar orangtuanya membela lelaki itu dibanding dirinya sendiri dan itulah yang semakin membuat Illya membenci lelaki di hadapannya itu. "Iya Illya, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. kamu tahu betapa kasarnya ucapanmu tadi. kami tidak pernah mendidikmu menjadi kasar seperti itu nak." Kini giliran bunda Arumi memberi nasihat kepada putrinya dengan nada yang lebih pelan daripada sang suami. "Tidak apa Yah, Bun. Aku yakin Illya tidak bermaksud untuk merendahkanku. Dia hanya mengatakan kebenarannya saja. Menurutku Illya berhak untuk menentukan dengan siapa dia ingin menikah." Ujar Naushad mencoba membuat suasana kembali kondusif. Dia tak ingin terjadi keributan karena dirinya. mendengar perkataan Naushad yang seakan membela dirinya pun membuat Illyana berdecih pelan. Dia tak butuh dibela oleh lelaki itu. "Kesimpulannya aku gak mau nikah sama dia.So, please stop talking about it again. I'm done." Usai mengatakan itu Illyana pun beranjak dari tempat duduknya dan naik kembali ke kamarnya. Dia sudah tak peduli lagi jika Ayahnya akan murka padanya, bahkan dia yang berhak murka kali ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD