"Kau mau bertanya dari mana aku mengetahuinya?" Edward perlahan mengecup telapak tangan Nancy, "Aku melihatmu hari itu, saat kau meminta keadilan untuk adikmu. Kau menggores tanganmu, karena tak satupun yang peduli. Gadis 15 tahun meninggal karena serangan mafia, yang tak lain adalah anak petinggi negara. Maafkan aku, karena tak mendatangimu hari itu. Maafkan aku karena tak memelukmu, dan membantumu mencari kebenaran." Nancy mundur beberapa langkah. Matanya berkaca-kaca, hatinya seperti tersayat ribuan mata pisau. Setiap mengingat adiknya, Nancy begitu terpukul. Kesakitan akan kehilangan adiknya secara tak adil menyisakan luka yang mendalam di hatinya. Bertahun-tahun dia memendam luka itu. Dia menjadi liar dan licik seiring usahanya melupakan kenangan buruk tersebut. Tak pernah dia sangka

