BB. SEASON 2: PREGNANT

1326 Words
Waktu berjalan begitu cepat bagaikan air sungai mengalir begitu deras. Pernikahan yang diawali dengan ketidaksukaan, lambat laun menjadi sedikit lebih baik dari sebelum. Meskipun hanya sedikit, itu lebih baik daripada tidak sama sekali bukan? Pertemuan tidak terduga yang Jean alami masa itu terus berputar dikepalanya. Dijadikan pelecehan oleh pria hidung belang, dijadikan wanita pilihan untuk pemuas nafsu, sampai saat dimana hal yang benar-benar tidak terduga datang yang dia alami. Terlebih mengetahui Dominic Archer menyelamatkan nya dari lubang hitam. Meskipun awalnya mengira jika Jean masuk ke dalam kandang singa, tapi mengetahui jika dirinya sudah masuk kedalam pesona Dominic apalah arti masuk kedalam kandang manapun. Jean dulu selalu menolak mengakui jika dirinya sudah jatuh cinta dengan Dominic, tapi Jean menyadari jika semakin lama dia menahan perasaan itu, semakin besar ia tahu jika mencintai seorang Dominic Archer begitu besar. Bahkan menghabiskan malam panas bersama pria itu. Mengingat malam panas bersama Dominic membuat semburat merah diwajah Jean begitu terlihat. Bohong jika Jean mengatakan jika dia tidak menikmati malam panasnya dengan Dominic, dia sangat menikmatinya. Setiap sentuhan Dominic dikulitnya selalu berhasil menggetarkan dalam tubuhnya. Dominic pun selalu sukses membuat darahnya mendidih saat penyatuan nya yang luar biasa. Memikirkan hal itu pun membuat Jean seperti tersengat listrik. Dia segera menggelengkan kepalanya cepat, mengenyahkan pikiran kotor yang selalu menghampirinya saat memikirkan Dominic. Jantung Jean pun berdetak lebih cepat saat sekelibat sikap manis yang ditunjukan Dominic padanya. 'Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi aku mencintai pria itu. Pria yang sudah memperkenalkan dunia baru padanya.' batin Jean. Senyum diwajahnya Jean tidak luntur meski dalam keadaan terjebak macet selama dua puluh menit. Hari ini Jean sedang bersiap-siap untuk pergi kerumah sakit untuk memeriksakan diri. Mengingat itu senyum yang sedari tadi dia tunjukan seketika hilang. Masih ada rasa takut jika dirinya benar sedang hamil. Takut akan reaksi Dominic, takut akan kemarahan Dominic, dan takut jika Dominic tidak menginginkan anaknya dan mencoba untuk melenyapkan anaknya. Jika Jean benar hamil, Jean berjanji akan menjaga anaknya meski Dominic tidak menginginkan anak itu. Dengan kata lain Jean harus merelakan Dominic demi anaknya, meski itu adalah hal yang sangat tidak diinginkan oleh Jean. Saat ini, Jean sedang menunggu antrian giliran untuk masuk kedalam ruangan dokter, meskipun Jean istri dari Dominic Archer, dan dokter tempatnya dia periksa adalah teman dekat Dominic, tapi Jean tidak mau di anak emaskan. Jean tidak mau jika yang lain menunggu antri sedangkan dirinya tidak, bukankah itu sangat tidak adil. "Mrs, Archer." Seorang perawat memanggil nama belakang Jean yang kini sudah tersemat nama Archer semenjak dirinya menikah. Jean pun mengikuti arahan perawat untuk masuk kedalam ruangan, tempat dokter Vian menunggu. "Mrs, Archer, lama tidak bertemu. Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Vian menyapa Jean dengan sopan. "Hmm.. Begini Dok, saya ingin bertanya, apa jika saya lupa meminum obat itu, apa kemungkinan besar saya hamil?" Tanya Jean hati-hati, Jean belum ingin mengatakan yang sebenarnya. "Sangat, delapan puluh delapan persen anda bisa hamil jika lupa satu hari saja." Jawab dokter Vian. Jantung Jean seketika berpacu dengan cepat. Apa yang harus dilakukan Jean jika dirinya benar-benar hamil. Dia tidak mau kehilangan bayi itu ataupun Dominic. Dia mencintai dua-duanya, Jean tidak mau ada yang di korbankan akibat kelalaiannya yang melupakan meminum obat pencegah hamil itu. "Saya beberapa hari lupa tidak meminum obat itu. Apakah saya hamil Dok. Apa yang harus saya lakukan." Tanya Jean dengan tangan bergetar. Jean benar-benar takut. Wajah dokter Vian tampak biasa saja. Tapi saat mendengar itu, tangannya seketika berhenti menulis. "Kita cek lebih dulu." Dokter Vian menyuruh Jean untuk berbaring, sedangkan dokter itu menyiapkan keperluan untuk pemeriksaan Jean. "Santai saja." Dokter Vian menyuruh Jean untuk rilex. Dokter Vian memeriksa Jean dengan cara meletakan alat ke perut Jean dan melihat monitor. Jantung Jean meronta seakan ingin meledek menunggu dokter Vian membuka suara. "Saya sangat menyesal mengatakan ini kepada anda- " Dokter Vian menjeda ucapannya. Deg Jantung Jean kini berhenti berdetak untuk beberapa detik. Dokter Vian mengatakan maaf, berarti Jean kini sedang mengandung? Tangannya bergetar hebat, sebutir air mata pun menetes begitu saja tanpa dapat dicegah. Kini Jean tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apa dia harus pergi dari sisi Dominic demi mempertahankan anaknya? Atau dia akan tetap bersama Dominic meski akan terjadi hal yang Jean sendiripun tidak ketahui. "Terimakasih untuk hari ini Dok." Jean bangkit dari tempat tidur. Tapi sebelum Jean turun dari tempat tidur itu, dokter Vian menahan tangan Jean. Jean melepas tangan dokter Vian dengan sedikit keras. Entahlah, suasana hatinya benar-benar sedang tidak enak. Tapi Jean tahu jika yang dilakukannya tidak sopan. Dia pun segera meminta maaf kepada dokter Vian. "Maaf Dok." Kata Jean dengan suara bergetar menahan tangisnya. Dokter Vian pun tahu jika Jean sedang menahan tangisnya. "Maaf." Kata dokter Vian kepada Jean. Jean mencoba tersenyum, karena memang ini semua bukan salah dokter Vian, karena ini murni kesalahan Jean. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama, karena kini Jean menangis dengan diam tanpa mengeluarkan suara. Hanya bibirnya saja yang bergetar karena mencoba menahan agar tidak mengeluarkan suaranya. Dokter Vian pun menjadi panik melihat Jean yang menangis. "Maaf Ms Archer, apakah saya melakukan kesalahan?" Tanya dokter Vian panik. Jean hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kehamilannya bukan karena kesalahan dokter Vian, tapi karena kesalahan nya. Jean yakin Dominic akan marah besar kepadanya. "Saya izin pamit Dok." Jean menundukan kepalanya, menyembunyikan wajah nya yang sedang menangis. "Tunggu, saya belum selesai berbicara." Dokter Vian kembali menahan Jean dengan memegang lengannya. Tapi kali ini Jean tidak memberontak. "Maaf." Dokter Vian tersadar jika dia kembali memegang Jean. "Sebaiknya anda duduk dulu, karena jika anda menangis, orang diluar akan berpikir saya melakukan melakukan hal buruk kepada anda." Dokter Vian pun menarik Jean untuk duduk kembali, karena sekarang keadaan Jean sangat berantakan. Dan Dokter Vian yakin jika orang luar yang melihat Jean seperti ini akan berpikir buruk tentangnya. "Saya baik-baik saja dok." Itu yang diucapkan Jean. Sebenernya untuk menyemangati dirinya sendiri dan berharap jika ini benar-benar akan baik-baik saja, meskipun nyatanya berbanding terbalik dengan yang dia inginkan. "Saya belum selesai mengatakan semua nya." Dokter Vian kembali ingin mengatakan yang tadi sempat terpotong karena Jean menangis. Jean hanya diam, dia tidak terlalu fokus kepada dokter Vian. Pikirannya entah melayang kemana-mana. "Saya tadi mengatakan jika saya meminta maaf kalau filing anda salah. Karena anda sebenarnya tidak sedang hamil." Dokter Vian akhirnya bisa mengatakan semua. Jean pun mengangkat wajahnya untuk melihat dokter Vian dan memastikan apakah dia sudah tuli atau dia berhalusinasi jika yang dikatakan dokter Vian semata- mata hanya keinginannya, jadi otaknya mendengar apa yang ingin dia dengar. "Terimakasih Dok." Jean kembali menundukan wajahnya. Kini Dokter Vian benar-benar dibuat bingung dengan reaksi Jean. Jadi sebenarnya Jean ini menginginkan kehamilan atau tidak. "Anda baik-baik saja?" Tanya dokter Vian memastikan Jean. "Saya baik-baik saja." Jawab Jean lemas. "Anda bisa meminum obat pencegah hamil itu kembali, dan jangan sampai lupa kembali. Karena jika anda lupa kembali, anda akan benar-benar hamil." Dokter Vian memberitahu. Jean mengernyitkan dahinya, mencerna setiap ucapan dokter Vian kepadanya. "Apa maksud dokter?" Tanya Jean bingung. Dokter Vian menepuk dahinya cukup keras hingga terdengar suara cukup keras. "Dok, anda baik-baik saja?" Tanya Jean melihat dokter Vian yang menepuk dahinya cukup keras. "Jadi anda sedari tadi tidak mendengarkan saya berbicara?" Tanya dokter Vian dengan wajah melas karena dia sudah bicara dengan panjang lebar, tapi tidak didengarkan. Dengan polos Jean menggelengkan kepalanya. Dokter Vian kembali menepuk jidatnya yang sudah merah akibat tepukannya sendiri. "Tadi saya mengatakan jika anda tidak hamil, saya minta maaf karena dugaan anda salah tentang anda hamil." Dokter Vian kembali mengatakan apa yang tadi diucapkannya. "Jadi saya tidak hamil dok?" Tanya Jean sekali lagi untuk memastikan. "Yaps, anda sedang tidak mengandung." Jawab dokter Vian. Jean tidak mengatakan apapun lagi. Dia memilih untuk pamit pergi. *** Didalam perjalanan Jean memikirkan semua yang diucapkan dokter Vian padanya. Entah kenapa dia lebih sedih mengetahui fakta jika dirinya tidak hamil. Entahlah, Jean pun bingung sendiri. Tapi jika Jean boleh memilih, ia ingin mengandung anak Dominic dan juga mempertahankan hubungannya dengan Dominic. Membentuk keluarga kecil penuh kebahagiaan bersama. Salahkah Jean jika dia mengharapkan itu semua? Yang bisa menjawab hanya, waktu, takdir dan Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD