Chapter 1_Reinkarnasi Davia Menjadi Catrine

1040 Words
P.O.V <AUTHOR> Seorang gadis melangkahkan kaki keluar dari gedung tinggi besar dan berjalan lunglai dengan perasaan campur aduk sembari memikirkan sesuatu yang membuat hatinya takut akan kecemasan masa depannya "hufhhh, bagaimana ini..." keluh gadis itu dalam hati. Davia gadis yang saat ini sedang di rundung kecemasan akan masa depannya karna ia harus memikirkan berbagai cara untuk memperoleh uang dengan cepat sehingga ia bisa melanjutkan kuliahnya kembali. Davia adalah mahasiswa dari universitas terbesar di kota yang ia tinggali yaitu Universitas Indragara terletak di kota Indragara. Selain menjadi mahasiswa, Davia juga bekerja part time demi membiayai kebutuhan keluarga dan kuliahnya, Davia adalah anak perempuan satu-satunya, ia anak nomor 2 dari 3 bersaudara dan 2 saudara lainnya adalah laki-laki. Ia terlahir dari keluarga yang miskin dan serba kekurangan, kedua saudaranya pun tidak ada yang bekerja karena Kakak pertamanya yang masih jadi beban keluarga tidak pernah mencari kerja bahkan kerjaannya hanya menyusahkan Davia dengan menjadikan Davia sebagai ATM berjalan miliknya, sedangkan adiknya masih duduk di bangku SMP yang hanya tau belajar dan sekolah. *** P.O.V <Davia> Aku trus menyusuri jalan sampai keluar gerbang kampus tempat ku kuliah, rasanya ingin cepat pulang kerumah dan memikirkan jalan keluar untuk masalah hidupku yang begitu rumit dan penuh kecemasan akan uang, andai aku jadi orang yang serba berkecukupan mungkin hidupku tidak aku habiskan hanya dengan kerja kuliah kerja kuliah... akhhh, rasanya capek sekali hidup seperti ini aku ingin menikah saja dengan orang kaya kalau tau begini akhirnya hiks hikss... Aku telah sampai di toko tempatku bekerja sebagai kasir part time walaupun gajihnya tidak seberapa tapi ini sangat membantu sekali untuk mencukupi biaya kuliah dan sekolah adek ku. Aku memasuki tempat itu dan menyapa kawan kerja ku untuk bertukar tugas "Halo kak, bagaimana hari ini apa toko kita ramai ??" Ucapku sambil menyunggingkan senyum termanisku "Ah, Davia kau rupanya, kau sudah datang ?" Ucapnya sambil membalas senyumanku. Senyuman manisnya sungguh menawan dan tidak pernah bosan untuk dipandang membuatku ingin terus menatapnya. "Kak Kevin sudah membereskan semuanya kan, sekarang tinggal giliranku yg berjaga" ucapku sambil mengenakan rompi untuk bertugas sebagai kasir, yahh rekan kerja ku adalah Kevin Argin dia adalah rekan kerja sekaligus pemilik toko ini, dia orang yg sangat baik dan juga mempesona. Tidak jarang setiap ia berjaga selalu banyak gadis-gadis cantik yang bahkan hanya berpura-pura membeli sesuatu di tokonya dengan maksud meminta nomor handphone dan mengajaknya berkencan, itu membuatku jadi semakin trus bermimpi untuk menjadi pacarnya. Yahhh pasti jauh harapan, karna aku kalah jauh dari gadis-gadis yang selalu mengelilinginya. Aku hanya gadis yang mempunyai paras biasa saja dan badanku juga bisa di bilang ga ada yang menarik, rata seperti papan seluncur . *** Akhh capek sekali, sudah jam 8 malam waktunya membereskan toko karna sebentar lagi tutup, "kreeeeokkkk..." aku menoleh ke asal suara pintu toko terbuka, "Kak Kevin..." aku menyunggingkan senyuman manisku kearahnya "Davia mari saya bantu apa saja yang belum kamu bereskan ?" Tanya Kak Kevin kepadaku sembari membantuku merapihkan minuman di rak kulkas. *** Akhirnya sampai di rumah juga, aku ingin cepat ke kamar dan tidur rasanya badanku ini remuk semua, hiuftt sungguh aku melalui hari yang sangat melelahkan... "Aku pulang..." ucapku sambil membuka pintu, tidak ada yang menyahut ucapanku. Yah baguslah sepertinya tidak ada masalah di rumah hari ini yang menambah bebanku... *** P.O.V <AUTHOR> Davia melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuh mungilnya yang kelelahan di kasur sembari menatap dinding langit-langit kamarnya "akhh, lelah sekali hari ini. Tapi aku masih ingin membaca novel favoritku." Ucapnya sendiri sembari mengambil novel yang berada di tumpukan meja belajarnya. "Mari kita lihat chapter mana yang mau ku ulang membacanya siapa tau bisA membawa suasana hatiku lebih baik" Davia trus membaca dan membalikkan lembar demi lembar novel favoritnya, selang berapa lama tubuh mungilnya yang kelelahan itu terlelap dengan novel yang masih ia baca. *** Di suatu tempat lain, matahari mulai menyinari bumi pertanda pagi mulai tiba, tubuh mungil ideal itu menggeliat dan mulai mengerjapkan matanya. Dilihatnya sekeliling tempatnya berada namun ia tak mendapati satupun benda yang familiar baginya, semua terasa asing bagi Davia, karna semuanya berbeda jauh dari barang-barang di kamarnya, disini ia melihat barang-barang mewah dan elegan. Kasur yang empuk, lemari yang berjejer entah berapa pintu dan apa isi di dalamnya, dan meja rias yang penuh dengan alat make up mewah. Ia lalu melangkah ke meja rias tersebut dan melihat sosok di pantulan cermin, betapa kagetnya ia menemukan wajahnya bukanlah wajah milik davia. Lalu milik siapakah wajah itu. "Akhh..." Davia berteriak karna terkejut mendapati bukan wajahnya yang ada di cermin tersebut. "Siapa pemilik wajah ini, mungkinkah aku bertukar jiwa dengan seseorang atau ini hanya mimpi, yahh mungkin ini hanya mimpi..." ucap Davia menenangkan diri dalam hati. Selang berap menit Davia berteriak suara ketokan pintupun membuyarkan lamunan Davia. "Tok..tok..tok... Non Catrine" terdengar suara wanita paruh baya memanggil di balik daun pintu. "Hah... Cartine ??! Bukankah Catrine adalah nama pemeran antagonis di novel favoritku, apa jangan-jangan aku... akh, tidak-tidak. Aku tidak boleh berfikiran kesitu mungkin hanya kebetulan" ucap davia pelan lalu membuka pintu kamar dan terlihatnya sosok wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu kamar sembari memasang wajah cemas seperti menunggu majikannya keluar berharap tidak terjadi apa-apa. "Non Catrine tidak apa-apa kan, bibik tadi denger suara teriakan non Catrine pas bibik di dapur" tanya nya khawatir. "Ehm, saya tidak apa-apa bik" ucap Davia dengan menyunggingkan senyumnya. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit kepala luar biasa menjalar di kepala sampai kelehernya "isshhh... akhh... sakit" Davia mencengkeram rambutnya, "Ya ampun Non, ayok saya bantu Non naik ke tempat tidur untuk istirahat" ucapnya sambil memapah tubuh Catrine menuju kasurnya. "Makasih bik" ucap Davia. Wanita paruh baya yang di panggil bibik itupun sontak terkejut dan terheran-heran melihat ucapan terimakasih dari mulut Catrine, yah walaupun jiwanya adalah Davia tetapi raganya milik Catrine. Catrine adalah gadis angkuh, sombong, manja dan mempunyai sifat yang buruk sampai-sampai pembantunya pun sudah hafal kelakuan buruk nya jika sedang marah dan suka memperlakukan orang lain seenaknya. Davia ingin memastikan apakah benar ia terjebak di novel yg ia baca dan bereinkarnasi di tubuh Catrine ?? "Bik Darsih..." Davia memcoba memanggil dengan nada canggung wanita paruh baya itu dengan nama pembantu Catrine yang ada di novel. "Iya non, ada yang perlu saya bantu lagi ??" Ucapnya menimpali panggilan Catrine atau Davia. "Akhh, Reinkarnasi !!! Mungkinkah ???" Ungkap Davia di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD