11. Keputusan Verstex

1721 Words
Najwa datang ke rumah sakit Loco untuk mengecek kandungan. Lana menemaninya, setengah jam wanita itu menunggu Loco mendatanginya. Tapi seakan tidak pernah ada, tak ada tanda-tanda Loco akan menemuinya. “Aku tidak mau diperiksa, kecuali oleh Loco.” Najwa menolak ketus saat beberapa dokter kandungan ingin memeriksanya. Tadi pagi Najwa mengeluh kesakitan kepada Lana, meskipun hanya akting agar diizinkan ke rumah sakit. “Ayolah Nyonya. Tadinya Anda bilang perut Anda sakit? Jika tidak segera ditangani, bahaya untuk kandungan Anda. Pak Loco tidak datang, sepertinya beliau sibuk.” Najwa terlihat tidak perduli. Wanita itu tidak mau diperiksa ataupun dirawat kecuali oleh Loco. Apapun alasannya lelaki itu harus datang. Najwa menepis setiap dokter yang hendak memeriksanya, kadang mengusir mereka. Najwa tidak perduli Lana dan beberapa tenaga medis terlihat mencemaskannya, takut kandungan Najwa kenapa-napa. “Kamu bukan prioritas Loco, jangan menyusahkan orang-orang seperti itu.” Suara bariton membuat Najwa terdiam. Najwa takut melirik ambang pintu, mertuanya ada di sana. Najwa menyesal telah bersikap semena-mena. Aaric mendekati ranjang yang dibaringi oleh Najwa, wanita itu tertunduk ketakutan. “Kata Lana tadi pagi kamu mengeluh kesakitan? Kenapa sekarang bisa marah-marah? Kamu menipu kami?” Kalimat tajam Aaric membuat Najwa tidak berani berkutik. Aaric mengambil kursi dan duduk di tepi ranjang. “Mengurus wanita hamil sepertimu adalah bidangku. Jadi biarkan aku yang menanganimu, kamu tidak akan menolak tawaran dari mertuamu ‘kan?” Najwa hanya menganggukan kepala karena tidak berani menolak. Wanita itu takut jika ketahuan berbohong. Aaric melakukan setiap prosedur, ditanyainya Najwa. “Perut bagian mana yang sakit?” Najwa kebingungan, pasalnya yang tadi dia cuma pura-pura. Wanita itu menepuk perut bagian kirinya, melihatnya Aaric tertawa. “Kamu gangguan pencernaan?” Najwa terdiam malu. Aaric yang sejak awal tahu kebohongan Najwa menegapkan tubuh dengan seringaian. “Pulanglah, jika kamu aslinya memang baik-baik saja. Jangan ganggu Loco, di rumah ada Lana yang merawat dan menjagamu. Itu saja sudah cukup ‘kan? Tenang saja, Loco terlalu sibuk di sini untuk selingkuh, tapi dia juga terlalu sibuk bekerja hingga tidak bisa selalu ada untukmu.” *** Loco memang kadang pulang, tiga hari sekali atau lima hari sekali. Itupun cuma di malam hari, hanya sebentar dan tergesa berangkat paginya. Apalagi Loco bahkan Lana ‘pun tidak menyadari Najwa depresi, jarang makan dan tidak meminum vitaminnya. Setelah dua minggu nyaris ditelantarkan suaminya, Najwa memutuskan untuk menahan semuanya sendiri. Jika perutnya sakit, Najwa tidak akan mengeluhkannya kepada Lana atau menghubungi Loco seperti sebelum-sebelumnya. Najwa akan menahannya, berdiam diri di kamar mandi agar Lana tidak mengetahuinya. Najwa di rumah sakit ‘pun tidak akan ditemui oleh Loco. Najwa tidak suka Aaric atau dokter-dokter lain akan datang untuknya, padahal suaminya bisa melakukannya, tapi Loco lebih memprioritaskan pasien lain yang berasal dari kalangan atas. “Makananmu tidak habis, Nyonya?” Lana bertanya saat Najwa menepikan piringnya. “Aku sudah makan tadi, makanya yang ini nggak habis.” Najwa mengembangkan senyum palsunya. Lana memercayainya begitu saja. Tubuh Najwa bangkit sambi berpegangan di kursi kayu. Kedua pahanya bergetar menahan sakit luar biasa di perut bawahnya. “Nyonya kenapa?” Lana bertanya bingung. Najwa seperti menyeret kaki untuk berjalan. “Capek, mau istirahat.” Kepala Najwa pusing. Mungkin dampak dari kurangnya gizi selama dua minggu ini. Najwa tidak memiliki selera untuk menghabiskan sesuatu, hanya air dan beberapa suapan nasi yang mengganjal perutnya. Di dalam kamar, Najwa menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tubuhnya benar-benar kram, area sensitifnya nyeri. Mata Najwa membulat panik saat darah membasahi pahanya, mengalir mengotori lantai. Najwa berusaha menampik pemikiran buruk. Tidak mungkin dia keguguran. Najwa pernah membaca artikel, pendarahan saat hamil bukan berarti keguguran. Najwa merangkak ke kamar mandi untuk membersihkan kakinya, takutnya Lana masuk dan panik. Najwa duduk di atas toilet yang terbuka, membiarkan semua darah mengalir keluar dari selangkangannya. Tatapan Najwa buram, oleh air mata dan rasa perih yang begitu luar biasa. Setengah jam Najwa duduk di atas jamban, darah yang ditampung di dalam lubang bersimbah banyak. Beberapa gumpalan daging terlihat mengambang di atas air. Najwa mengabaikannya, wanita itu yakin dia baik-baik saja. Ditekannya tombol flush toilet, suara air membersihkan semua darah dan gumpalan merah hingga bersih. Najwa mengambil gayung untuk membersihkan selangkangannya yang amis. Seharusnya Najwa memberitahukannya kepada Lana dan pergi ke rumah sakit, atau menghubungi Loco. Masih percaya kalau dirinya baik-baik saja, Najwa memilih tidur dan mengistirahatkan diri. Najwa mendapatkan mimpi buruknya keesokan harinya. Setelah salat Subuh, tangan Najwa terus meraba-raba di perut, mencari tonjolan dan semacamnya. Tapi seakan tak ada isinya, perut Najwa seperti datar. Najwa tidak lagi merasakan gejala-gejala kehamilan. Seperti pusing, mual, lelah, dan muntah. Najwa kembali menjadi wanita pada umumnya, dalam keadaan itu Najwa menjalaninya dan mendiamkannya lebih dari seminggu. Tidak memberitahukannya kepada siapapun, maupun Lana dan termasuk Loco, bahkan ketika lelaki itu pulang, meraba perutnya dan mencium keningnya. Di minggu kedua tanpa mual, pusing dan muntah, Najwa berdiri di depan cermin. Disingkapnya kaus yang menutupi perutnya, diusapnya dan memberikan beberapa tepukan ringan di sana. Bayi itu sudah hilang. Perutnya kosong. Setelah dua minggu berlalu, akhirnya Najwa menerima kenyataan. Wanita itu tidak menangis, hanya berdiri di depan cermin, wajahnya terlihat kecewa. Bagaimana Najwa memberitahukan semua ini kepada Loco? Kalau anak mereka sudah tiada sedari dua minggu yang lalu. Tentu saja Loco akan menyalahkannya, jika tidak Loco, pasti Aaric yang akan menuduhnya bersalah. Kenapa diam saja saat sakit, kenapa menahan semuanya sendiri? Karena kecerobohannya, darah-daging Loco mati, menjadi gumpalan darah, yang telah hilang di saluran toilet. Najwa keluar dari kamarnya, mengabaikan panggilan Lana saat wanita itu melewatinya. “Nyonya mau kemana?” Lana mengejar karena tidak diperdulikan. Najwa menatapnya dingin, suaranya terdengar ketus. “Ke rumah Bagas.” Lana mengangguk-anguk dan mempersilahkan tanpa menemani. Karena Bagas akan menjaga Najwa, dilihat dari betapa perhatiannya lelaki yang disukai Lana itu kepada Nyonya-nya. Di rumah Bagas, Najwa menceritakan semuanya. Tentang perutnya yang telah kosong dan kegundahan hatinya ‘bagaimana caranya Najwa memberitahu Loco’? Di depan Bagas, akhirnya Najwa menangis. Wanita itu tidak bisa menahan tangisannya. Air mata Bagas ikut menetes, dipeluknya Najwa yang tidak memiliki tenaga untuk menolak karena pelukan Bagas begitu erat. “Aku nggak sanggup bilang ke Loco, Gas.” Najwa menggelengkan kepala. Wanita itu menggesekkan kepala ke d**a bidang Bagas. “Bawa aku pergi. Aku takut disalahkan saat dia tahu anaknya mati karena kecerobohanku.” Bagas mengangguk-angguk, diurainya pelukan dari tubuh Najwa. “Baiklah,” tangan Bagas menghapus air mata Najwa. “Kamu mau pulang? Ke rumah orang tuamu? Atau kemana?” Najwa terdiam karena berpikir. “Aku takut Loco menyusulku ….” Najwa menunduk. “Dia pasti menyusulku.” Najwa mencekram lengan kokoh Bagas, “bawa aku ke pengadilan agama, Gas. Aku udah nggak tahan … aku mau berpisah dari Loco dan membawa lari perutku, tanpa dia tahu kalau perutku sudah tidak ada isinya. Berpisah adalah satu-satunya jalan, agar dia tidak tahu, perutku tidak akan lagi membesar, karena secara tidak sengaja sebagai ibu aku sudah 'membunuh' anakku sendiri.” “Kamu yakin, Naj?” Sekalipun mencintai wanita itu, Bagas takut Najwa salah memilih. Najwa mengangguk, kedua tangannya mencekram perutnya yang sudah tidak memiliki isi. Bagas menghela napas lalu mengangguk. “Kita pergi sekarang? Lalu setelah itu kamu mau kemana?” “Aku akan menyewa kontrakan, jauh dari sini. Dan mengajar untuk mencukupi kebutuhan hidupku. Setelah mendapat gugatan cerai, Loco pasti langsung mencariku jadi aku mohon bantuanmu untuk menyembunyikanku, Gas. ” Bagas selalu bersedia. Sekalipun tidak mendapat imbalannya, Bagas tetap menyanggupi. Biarpun, apapun yang dia lakukan tidak akan membuka hati Najwa untuk balik mencintainya. *** “Tanda tangani saja.” Aaris tersenyum tipis. Loco tergugu di bangkunya, tidak percaya dengan apa yang dia baca. Najwa mengirim surat gugatan cerai padanya. “Tidak bisa,” Loco menggeleng tegas, kedua pelupuk matanya panas. “Aku tidak akan melepas Najwa, apalagi dia tengah mengandung anakku—” Loco bangkit dan baru saja hendak bergegas pergi. Sudah tiga hari Loco di Arab Saudi, datang bersama ayahnya ke acara penting yang ada di sana. “Kenapa kamu tidak mau melepas Najwa, padahal dia rela melepasmu?” Aaris bertanya bingung. Loco menoleh sinis. “Anda tahu apa Tuan Aaris?” “Yang kutahu, istrimu tidak mencintaimu. Seperti ibumu, yang tidak mencintaiku.” “Najwa mencintaiku—” “Dulu.” Aaris menegaskan, “tidak sekarang. Dia sudah lelah, muak dan benci padamu, Loco. Jadi biarkan dia pergi, jika kamu memang lelaki yang tahu diri.” Loco tidak menjawab. Tangannya mengerat di atas meja. “Tanda tangani ini, Loco.” Aaris meraih surat gugatan cerai tersebut. “Bebaskan istrimu darimu. Seperti aku, yang membebaskan ibumu dari pengekangan.” Aaris tersenyum tipis. Loco tidak bergerak. Di atas bangkunya lelaki itu mengontrol diri, untuk tidak menangis, mengamuk atau semacamnya. “Lana bilang, istrimu menggugurkan anak kalian.” Berita yang Aaris katakan membuat Loco mendongak tajam. “Tak ada lagi yang mengikat kalian, jika wanita itu sudah mengirimkan surat gugatan cerai ini.” Air mata Loco lolos, terdengar geli di telinga Aaris saat lelaki itu menangis. Loco terisak dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya yang panas. “Tidak mungkin Najwa melakukannya—” Loco menggeleng tidak percaya. “Aku kenal dia. Aku mencintainya, dia mencintaiku, kami mencintai buah hati kami.” “Bisa saja, karena dia terlalu muak padamu. Dia muak karena bahkan kehadiran seorang anak tidak membuat Loco-nya berubah.” Melihat Loco yang sibuk menangis, Aaris mengambil posisi duduk di salahsatu sofa single. Aaris yang menandatangani surat cerai itu, meniru tanda tangan Loco. Loco tidak menghentikannya. Karena kalimat Aaris ada benarnya. *** Di pengadilan pertama Najwa menunggu, ditemani oleh kakak perempuannya dan Bagas. Tapi Loco tidak pernah datang. Najwa bahkan sudah menyewa pengacara agar bisa lepas dari lelaki itu, tapi yang digugat tidak menampakkan diri. Tindakan Loco yang tidak datang di persidangan pertama, membuat hakim menjatuhkan keputusan verstek. Keputusan persidangan yang ditentukan oleh majelis hakim karena tidak hadirnya Loco padahal sudah diundang ke persidangan secara resmi. Palu hakim berbunyi, sekalipun penggugat tidak sempat bertatap muka dengan yang digugat, Loco dan Najwa resmi bercerai. Najwa keluar dari ruang persidangan dengan wajah kecewa. Di lorong sepi, ditariknya keluar handuk kecil yang ada di perutnya, dibuangnya ke lantai. Najwa berjongkok dan menangis, berharap tidak ada yang lewat dan memergokinya. Bagas dan kakak perempuannya berlari menyusul Najwa. Sebelum Bagas mendekat, Najwa menjerit. “Pergi! PERGI! Biarkan aku sendiri!” Mendengar tangisan kencang Najwa, Bagas emosi. Rasanya ingin menghajar Loco, andai lelaki itu ada di sini. Loco yang tidak hadir di persidangan pertama membuktikan, bagaimana lelaki itu tidak perduli pada istri bahkan anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD