“Kenapa kamu menyalahkanku, seakan semua ini salahku?”
Loco melempar pertanyaan heran.
“Leo, kurasa ini bukan salahku. Peranku dalam kehidupan kalian, hanyalah seorang dokter. Jika Icha-mu kenapa-napa dan dia keguguran, bukannya itu salahmu? Icha bergantungan kepadaku karena berpikir kamu yang terlalu sibuk bekerja tidak memperdulikannya. Aku tidak mau, Najwa menjadi seperti Icha, menganggap suaminya seperti itu.”
“Coba pikirkan lagi, tanyakan pada dirimu sendiri. Ini salahmu, Leo.”
“Kamu tidak bisa menyalahkanku.” Loco berbalik pergi dan berjalan menuju dek. Najwa sudah menunggunya di sana. Loco berhasil naik sebelum kapal berangkat.
“Kamu membuatku kesal, Loco.” Leo menghapus air matanya saat melihat kapal itu menjauh, lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menghubungi Aaric Edge, ayah dari lelaki yang menyalahkannya.
“Kamu sudah menemukan Loco?” Aaric bertanya geram.
“Sudah, Mister.” Leo tersenyum puas. Entah kenapa Loco membuatnya kesal.
“Kemana saja anak itu? Dia benar-benar membuatku susah dan mempermalukanku.”
“Dia berlibur bersama istrinya. Semua ini sepertinya ulah Najwa.”
“Apa maksudmu? Kenapa dengan menantuku itu?”
“Sepertinya Najwa memberikan pengaruh buruk untuk Loco.” Leo tersenyum sinis, sekalipun satu mata merahnya mengalirkan buliran bening.
“Jelaskan intinya, aku tidak mengerti.”
“Najwa memaksa Loco untuk meninggalkan semua pekerjaannya hanya untuk berlibur di Bali. Saat aku menasehati Loco, Loco malah tidak merasa bersalah. Dia bilang, apa yang dia lakukan, hanya ingin membahagiakan istrinya.”
“Apa-apaan itu?” Aaric tertawa kesal. “Jawaban itu, sangat bukan Loco. Anakku tidak seperti itu. Ada apa dengannya? Kamu tidak mungkin berbohong ‘kan?”
“Untuk apa saya berbohong. Loco benar-benar berubah. Dia menjadi lelaki yang begitu tidak bertanggung jawab.”
“Seharusnya aku memang tidak menyetujui pernikahan mereka, kukira Najwa akan memberi pengaruh baik untuk Loco, malah sebaliknya.” Aaric menghela napas, tangan kekar lelaki itu mengepal dan menghantam-hantam meja. Pengalihan untuk melampiaskan emosi.
“Aku akan meminta Najwa memulangkan Loco atau … akan kupaksa mereka untuk bercerai.” Aaric menutup sambungan.
***
“Ada telepon dari Ayah mertua ….” Najwa menunjukkan layar ponselnya setelah mengambilnya dari atas nakas di sebelah ranjang. Loco memberikan gerak refleks menjauh, sebelum Najwa menerimanya Loco langsung mematung. “Jangan diangkat.”
Najwa menatapnya bingung, “kenapa?”
“Pokoknya jangan diangkat.” Loco merampas ponsel Najwa dari genggamannya lalu memasukkannya ke dalam laci. “Kita lanjutkan saja, abaikan mereka.” Najwa mengangguk, sekalipun khawatir dia lebih memilih mendengarkan suaminya.
Ponsel Najwa memekik lagi. Loco mengacak rambutnya kesal, dibukanya laci lalu dipelototinya layar. Aaric Edge lagi. Berhenti menghubungi Loco, kini lelaki itu meneror Najwa. Loco mematikan daya lalu melempar ponsel itu ke lantai. Najwa ingin mengomeli Loco yang membanting barangnya sembarangan, tapi melihat kekesalan di wajah suaminya Najwa ciut dan berusaha memaklumi.
Najwa bungkam oleh cumbuan suaminya, kedua tangannya digenggam erat, tidak membiarkan Najwa turun dari ranjang dan memungut ponselnya yang tergeletak.
Keesokan harinya Najwa memungut ponselnya saat Loco terlelap di atas ranjang. Wanita itu menghubungi Aaric Edge, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Setelah setengah menit, Aaric langsung mengangkatnya. Di pagi buta ini, lelaki itu terdengar marah. “Kamu berani menantangku, hah?”
Najwa tergugu. “A-apa maksud Anda?”
“Berani-beraninya kamu memberi pengaruh buruk untuk anakku, menghasutnya, merubahnya menjadi seperti itu.” Aaric berdesis kesal.
“Saya tidak m-mengerti—”
“Pulangkan dia atau bercerailah dari anakku.”
Najwa terdiam. Aaric yang geram mengulangi perintahnya berkali-kali, “pulangkan anakku ke Jakarta atau kupaksa kalian bercerai. Tanggungjawabnya bukan hanya kamu saja, gelar dokternya, rumah sakit yang kupercayakan padaku, semua pasiennya, mereka lebih penting darimu yang hanya seorang istri.” Saat Aaric menghujamnya dengan kalimat menyakitkan itu, air mata Najwa lolos.
“Kamu hanya ingin dimanja ‘kan? Kamu hanya ingin ditemani ‘kan? Kamu bisa mencari lelaki lain untuk itu, semua lelaki bisa menghamilimu. Tapi tidak semua orang bisa menggantikan posisi Loco dan tidak semua anakku bisa mengurus rumah sakit itu seperti Loco.”
“Jadi sadar diri ‘lah. Jika kamu tidak bisa menerima Loco apa adanya—bukan hanya tubuh dan hatinya, tapi semua hidupnya, tanggung jawab dan pekerjaannya, lebih baik kamu tinggalkan, daripada kamu merubahnya menjadi lelaki tidak berguna yang tidak memiliki tanggung jawab.”
Aaric enggan mendengar jawaban Najwa, yang hanya alasan dan kilahan diiringi tangis memohon iba. Lelaki itu langsung mematikan sambungan. Najwa menghela napas dan berusaha mengontrol tangis. Diletakkannya kembali ponsel ke tempat semula, tergeletak di lantai, agar Loco tidak mencurigainya.
***
“Kita pulang saja, bagaimana …?”
Baru sehari mereka di Lombok, Najwa sudah menawarkan untuk pulang. Loco yang baru selesai membersihkan diri mengernyitkan dahi, lelaki itu berlalu untuk mengambil pakaian di dalam koper. Sambil berjongkok dan menggeledah kopernya, Loco melempar tanya. “Kenapa? Bukannya sesuai rencana, kita akan liburan dua minggu di sini, baru setelah itu pulang?”
Najwa menggeleng, “kita langsung pulang saja. Aku sudah puas.” Senyum palsu mengembang di bibir wanitanya. Loco menghembuskan napas, lalu mengangguk. Sekalipun Loco sudah betah di luar Jakarta, tak ada kata tidak untuk Najwa, Loco sudah terbiasa menuruti semua permintaannya.
“Baiklah, sekarang juga kita berkemas. Tidak ada lagi tempat yang mau kamu kunjungi?”
Lombok adalah tempat terindah kedua setelah Bali menurut Najwa. Banyak wisata yang ingin Najwa kunjungi, tapi daripada dipaksa berpisah oleh Aaric, Najwa memilih membohongi diri sendiri. Kepalanya menggeleng dan membantu Loco berkemas. Mobil mereka sudah siap, Loco paling suka rutinitas barunya mengantar Najwa kemanapun wanita itu mau. Rasanya, Loco ingin membuang profesinya sebagai dokter dan menjadi sopir untuk istrinya. Tapi jika itu yang Loco lakukan, mereka tidak makan. Loco akan menikmati perannya ini lagi di lain-lain hari.
Mulai sekarang, Loco tidak akan terlalu menyibukkan diri di rumah sakit. Loco sadar siapa yang harus diutamakan, bukan rumah sakit dan bukan pasien. Tapi Najwa dan rumahnya.
Najwa menjadi pendiam selama perjalanan, Loco menyadarinya. Padahal Najwa sangat cerewet sebelumnya. “Kamu kenapa?” Loco bertanya, diliriknya Najwa yang menggeleng.
“Tidak enak badan?”
“Sepertinya.” Najwa pura-pura tersenyum. Wanita itu memikirkan ulang kalimat Aaric. Mertuanya seakan benar. Siapapun bisa menjadi suami Najwa, siapapun bisa meniduri Najwa, tapi tidak semua orang bisa menggantikan posisi Loco, mengambil gelarnya, menangani tanggung jawabnya dan memimpin apa yang telah dia pimpin selama bertahun-tahun. Jadi daripada Najwa, pekerjaan memang lebih utama untuk Loco. Seharusnya Najwa memakluminya … memang pantas jika Najwa dinomorduakan? Najwa ditelantarkan tidak akan berdampak untuk banyak orang, tapi jika Loco menelantarkan rumah sakit dan pekerjaannya, banyak orang yang rugi, banyak korban dan banyak yang kecewa.
Untuk pertamakalinya Najwa menyesal bertemu dengan Loco dan menikah dengannya. Padahal bertahun-tahun mereka menikah, apapun sikap Loco, Najwa tidak pernah berpikir seperti itu.
“Kamu benar-benar tidak enak badan?” Loco mengulangi pertanyaannya.
Najwa hanya memberikan anggukan.
Loco memberhentikan mobilnya. Lelaki itu mencium pipi Najwa, membuat Najwa terkejut karena Loco tiba-tiba mendekat dan memerangkapnya dalam pelukan. Najwa memeluknya lebih erat, untuk meredam amarahnya nyaris mencakar punggung suaminya. Loco menelusupkan kepala ke ceruk lehernya, menyatukan pipi panasnya dengan leher Najwa yang basah oleh peluh.
“Sopirmu ini mengantuk, sayang?” Loco terkekeh, “bisakah kamu memberikannya istirahat, Nyonya?” Loco mengangkat kepalanya, Najwa mengangguk dari atas. Loco memeluknya lebih erat, kedua lengan dan kakinya benar-benar memerangkap Najwa agar tidak bisa kabur sekalipun Najwa tidak berniat kabur.
Loco menciumi sela leher Najwa, kepalanya menggesek, siap-siap untuk tidur. “Setengah jam saja, ya? Kupinjam tubuhmu sebagai ganti kasur.” Loco merapatkan kedua matanya, memberikan peluang untuk Najwa mengagumi kelopak mata indahnya dan bulu matanya yang lentik.
Najwa mencium dahinya saat Loco terlelap. Memastikan Loco benar-benar terlelap, Najwa menangis, air matanya banjir begitu saja. Isakan kecil keluar dari bibirnya, lalu tangisnya meledak, berusaha diredamnya di balik telapak tangan agar Loco tidak terbangun.