10. Teror 2

1567 Words
Andre tersenyum sembari menggulir layar di ponselnya, yang menunjukkan fotonya bersama Anna. Hanya ada satu foto mereka berdua, dan lainnya candid. Anna berkata jika dirinya tidak suka difoto. Jadi Andre memilih mengambil foto gadis itu secara diam-diam. Pria dengan lesung pipi itu menghela napas lembut, lalu memperhatikan lagi foto-foto Anna yang seringnya menatap ke arah langit. Saat di biang lala, saat sedang duduk beristirahat, dan saat sedang berada di rumah makan. Kening Andre mengerut dengan mata memicing, untuk mengamati lebih jeli lagi ekspresi yang Anna tunjukkan. Bibir itu memang menyunggingkan senyum, tapi entah mengapa hanya ada di bibir. Senyum itu sama sekali tidak menjalar ke mata, yang malah menampakkan kepedihan, luka, dan ... sesuatu yang tidak bisa Andre baca. Andre benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Anna. Bahkan saat menanyakan pada Sinta, gadis itu pun enggan menjawab. "Kalau bantu buat deket sama Anna, aku masih bisa. Tapi, kalau cerita tentang kehidupan Anna, kayaknya aku nggak bisa. Biar Anna sendiri aja yang cerita." Itu jawaban yang Sinta beri saat Andre mencoba mengorek tentang masa lalu Anna. Pria itu kembali menggulir layar ponselnya. Namun tiba-tiba jari itu berhenti sejenak saat ada sesuatu yang terlihat janggal. Untuk memastikan, Andre memperbesar foto candid Anna saat sedang di restoran tadi. Andre mencoba menajamkan matanya, dan sepertinya dia tidak salah mengenali orang. Dalam foto itu ada seorang pria dengan rambut gondrong sebahu yang tampak seperti tengah memantau Anna. Awalnya Andre tidak menghiraukan foto itu. Ia berpikir mungkin saja hanya kebetulan. Pria itu tertangkap jepretan kameranya saat tengah menoleh ke arah meja mereka. Tapi saat sekali lagi sosok itu tertangkap kamera di foto lain. Andre tidak bisa mengabaikannya begitu ssja. Bersamaan dengan itu ponselnya berdenting, menandakan satu pesan masuk. Jangan pernah berpikir jika hidup kamu akan tenang mulai saat ini. Kebahagiaan yang kamu anggap ada itu akan menghilang, melebur bersama kesalahan yang selalu keluargamu sembunyikan. Andre mengembus napas kasar. Semua teror yang ia dapat memang belum pernah berakhir. Dan mungkin tidak akan berakhir entah sampai kapan. Tapi akhir-akhir ini Andre mulai bisa mengabaikan semuanya. Semuanya berkat kehadiran Anna. Yah, gadis itulah yang mampu membuat hidupnya kembali lebih tenang. Kali ini pun Andre mencoba untuk mengabaikan pesan tersebut. Berharap nanti orang itu akan bosan. Tapi satu pesan kembali masuk. Bisa jadi, yang kamu pikir sumber kebahagiaan itu adalah awal dari petaka yang tidak akan pernah kamu bayangkan. Andre mendesis kesal. Ia tahu, siapapun orang di seberang sana, yang kini tengah mengirimkan pesan-pesan itu hanya ingin mengacaukan pikirannya. Pria itu kembali berusaha mengabaikan pesan itu. Namun ia menoleh ke arah ponsel yang baru saja tergeletak di atas meja, saat satu pertanyaan melintas. Dari mana orang itu tahu nomor ponselnya? * Anna yang baru saja menutup jendela kamarnya memutuskan untuk berbaring. Ada rasa kesal sekaligus tidak enak karena Sinta ternyata membohonginya. Gadis itu tidak libur, dan alasan kafe tempatnya bekerja sedang direnovasi itu juga bohong. "Mbak Sintanya kerja, Mbak. Kemarin mendadak hubungin saya, katanya Mbak Anna ada urusan penting." Jawaban itu Anna dapat saat sedang mencari Sinta di rumahnya. Dan bukannya gadis itu yang Anna temukan, melainkan wanita yang biasa menjaga Dini, ibu Sinta. "Lo ngapain boong si, Sin." Anna menghela napas kasar. Ia tahu, Sinta melakukan semua ini demi dirinya. Sahabatnya pasti sengaja membohonginya agar rencananya dan Andre tidak gagal. Dering telepon menyentakkan Anna dari lamunan. Diraihnya benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidur itu lalu menggeser layar untuk menerima panggilan. "Halo," sapanya malas. Terdengar helaan napas lelah dari seberang, tapi Anna tidak mempedulikannya. "Jadi bener, dia Andre yang itu?" "Aku nggak ngerti maksud Abang." "Lo ngerti banget maksud gue, Na!" ujar Bima cepat membuat Anna hanya terdiam. "Na dengerin gue ...." "Abang yang dengerin aku," potong Anna cepat. Dan saat tidak ada sahutan apapun dari seberang, maka Anna melanjutkan kalimatnya. "Tolong jangan campuri urusanku." "Tapi, Na." "Please, Bang!" Bima tidak lagi membantah, namun terdengar helaan panjang dari seberang. Tanpa melihat ekspresi Bima pun Anna tahu jika pria itu kesal. Tapi gadis itu memilih untuk tidak peduli dan langsung memutus sambungan. * Pagi ini Andre kembali bangun dengan perasaan yang tidak keruan. Pesan itu terus datang mengusiknya. Dari foto-foto mengerikan, hingga pesan-pesan dengan kata-kata yang tidak enak dibaca. Ia berusaha untuk mengabaikan dengan cara mematikan ponsel, tapi tebakan tentang siapa orang yang menerornya terus mengusik ketenangannya. Sebelumnya memang ada yang pernah mengirim teror lewat pesan seperti ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya. Dan detik itu juga tidak ada lagi teror melalui pesan. Dan sejak semalam, pesan itu kembali hadir. Selang satu hari setelah ia memberikan nomor ponselnya pada Anna. Tidak, tidak, tidak mungkin Anna yang melakukan ini semua. Bahkan mereka baru saling mengenal. Lagipula, apa tujuan Anna melakukan hal konyol seperti ini? Pagi-pagi sekali Andre sudah pergi dari rumahnya untuk menuju restoran. Para karyawannya sempat terkejut melihat kedatangan pria itu, apalagi wajah yang Andre tunjukkan sungguh tidak bersahabat. Pria itu mendongak untuk memeriksa jam yang menempel di dinding kantor kecilnya. Masih menunjuk pukul tujuh pagi, dan itu artinya ia butuh menunggu satu jam lagi untuk bisa menemui Anna. Kantor notaris Mila memang buka jam delapan, dan biasanya Anna datang beberapa menit sebelumnya. Sebenarnya bisa saja Andre berbicara dengan Anna melalu telepon, tapi selain karena ponsel gadis itu yang tidak juga aktif sejak semalam, juga karena Andre merasa berbicara langsung lebih tepat. Agar tidak ada kesalahpahaman, dan kesan menuduh . Karena maksud dari dirinya yang menemui Anna memang untuk bertanya. Setelah waktu yang terasa berjalan lambat, akhirnya Andre memutusan untuk keluar saat yakin Anna sudah berada di kantornya. Pria itu mendongak ke arah lantai dua kantor Notaris Mila. Beruntung Anna tengah berada di sana, tengah membuka tirai jendela kaca yang membentang luas. * Anna berangkat senidiri pagi ini, karena Sinta sudah berangkat terlebih dulu dengan Raldi. Katanya mereka akan mampir ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu. Anna tidak berniat menanyakan ke mana sebenarnya Sinta pergi, karena memang itu bukan urusannya. Toh nanti Sinta juga akan menceritakan apa yang perlu ia tahu tanpa ia bertanya. Pukul delapan kurang sepuluh Anna sudah berada di kantor. Dewi hari ini berangkat siang karena harus mengambil berkas ke rumah Bu Mila. Sementara Edo, seperti biasa, ada tugas keluar. Gadis itu langsung menyiapkan pekerjaannya. Menyalakan pendingin ruangan, lalu membuka lebar tirai jendela yang membentang sepanjang kantor. Dan saat itulah ia melihat sosok Andre tengah berdiri di depan rumah makan. Anna pikir Andre hanya ingin menyapanya dari kejauhan, tapi pria itu malah memberi isyarat padanya untuk turun. Karena itulah Anna segera turun setelah memastikan jika jam kantor belum akan dimulai. Meski tidak ada bos yang mengawasinya, Anna tidak berani melanggar jam kerja yang sudah ditentukan. "Maaf Anna, saya ganggu waktu kamu," ujar Andre sedikit sungkan saat Anna akhirnya keluar dari kantor. "Nggak pa-pa. Kenapa, Mas? Ada yang penting?" Bukannya langsung menjawab, Andre malah terlihat ragu. "Mas Andre?" Anna mencoba mengambil alih fokus pria itu. Dan Andre menunjukkan senyum sungkan. "Maaf, Mas. Tapi aku hanya punya waktu lima menit," kata Anna dengan nada sungkan. "Emm, saya cuma mau tanya. Kamu, buang kemana nomor ponsel yang saya tulis di kertas kemarin?" Kening Anna berlipat mendengar pertanyaan itu. "Ada yang menganggu saya, dan itu terjadi sejak tadi malam." Mata Anna mengerjab. "Tentu saja saya nggak mau nyalahin kamu, tapi saya takut ada orang iseng yang menyalah gunakan nomor itu," ujar Andre cepat saat melihat ada ekspresi aneh yang Anna tunjukkan. Andre takut gadis ini akan tersinggung. Setelah diam beberapa detik, akhirnya gadis itu mengangguk, "Tunggu sebentar!" Andre menjawab dengan anggukan dan memilih menunggu Anna di depan kantor gadis itu. Berasamaan dengan kepergian Anna sebuah motor berhenti tepat di depan Andre. Ternyata Sinta yang turun dari kendaraan roda dua itu bersama dengan seorang pria. "Loh, ngapain, Mas? Nyariin Anna?' tanya Sinta sesaat setelah pria dengan motor yang mengantarnya tadi pergi. "Iya, ada perlu sedikit dengan Anna." Keduanya sontak menoleh saat pintu kaca didorong dari dalam dan memunculkan sosok Anna. "Kemarin aku buang ke tempat sampah, tapi kertasnya udah nggak ada," kata gadis itu dengan raut bingung. Andre mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Sinta yang tidak mengerti hanya memandang kedua manusia itu dengan tatapan bingung. "Maaf, ya Mas. Harusnya, aku hancurin dulu kertasnya." Ada raut bersalah yang Anna tunjukkan, dan itu malah membuat Andre merasa tidak enak hati. "Jangan menyalahkan diri kamu. Ini hanya masalah kecil," ujar Andre dengan senyum yang dipaksakan. "Ya udah kalau gitu saya permisi. Nggak usah dipikirin, ya," katanya lagi sebelum benar-benar pergi. "Ini ada apa, si, sebenarnya?" tanya Sinta penasaran setelah sosok Andre sudah menghilang. "Kertas yang kemarin gue buang ke tong sampah, yang ada tulisan nomornya mas Andre, lo liat nggak?" "Lo pikir gue tukang ngorek-ngorek sampah?" Anna berdecak mendengar kalimat itu. "Ada yang gangguin Mas Andre. Itu terjadi sejak dia ngasih nomornya ke gue." "Lo kali yang gangguin dia." Sinta tergelak, namun mengaduh saat Anna menoyor kepalanya. "Serius, Sin!" "Ihhss. lo kebiasaan, deh, Na." Sinta memanyunkan bibir, lalu terlihat berpikir. "Isi tempat sampahnya masih utuh?" Anna mengangguk yakin, "Kan dari kemarin Mbak Ika nggak dateng." Ika yang dimaksud adalah wanita yang dibayar Mila untuk membersihkan kantornya dua hari sekali. Dan hari jumat kemarin bukan jadwal wanita itu untuk membersihkan kantor. Itu artinya, hari ini sampah baru akan dibuang. "Oh iya gue baru inget!" celetuk Sinta tiba-tiba. "Bang Edo kan kemarin Sabtu ke kantor buat ngambil barang yang ketinggalan katanya." Mata Anna mengerjab. "Jangan-jangan ...." ©©©
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD