2. Insiden

1567 Words
"Si Andre keliatan beda banget ya, Na. Gue bener-bener nggak ngenalin tadi." Yang diajak bicara hanya mengangguk. Mata Anna fokus pada rumah makan di depan sana. Tidak ada yang spesial sebelum ia tahu jika pemiliknya adalah Andre. Atau saat SMA dulu sering dipanggil Kak Andrean oleh juniornya. Andre memang kakak kelas Anna dan Sinta saat masih duduk di bangku SMA dulu. Dan Anna, adalah satu dari sekian banyak dari penggemar Andre. Bukan karena pria itu anak pemilik sekolah tempat ia menimba ilmu. Bukan juga karena wajah Andre yang seringnya memang menarik perhatian. Tapi pernah terjadi satu momen yang langsung membuat Anna jatuh hati pada pemuda itu. "Dulu kan keliatan songong sama urakan gitu. Udah gitu, badannya krempeng kayak suka ngobat. Nah, ini, beneran gue pangling liatnya," oceh Sinta, belum menyadari jika yang diajak bicara malah sedang fokus ke arah lain. "Dulu gue heran pas anak-anak, dan terutama lo muja-muja dia banget. Secara di mata gue nggak ada menarik-menariknya si tu cowok. Tapi sekarang." Sinta tersenyum sendiri kala membayangkan wajah tampan Andre, apalagi lesung pipi yang tercetak saat pria itu tersenyum. Anna yang sadar sikap berlebihan Sinta hanya berdecak, menoyor kepala gadis itu gemas. "Inget, Raldi, Sin. Jangan khilaf melulu kalau liat cogan." Sinta malah terkikik tanpa dosa. "Mumpung masih sebatas pacar, Na. Nggak papa lah refreshing mata." Anna menggelengkan kepala, lalu membuka laptop untuk memulai pekerjaannya. Sinta pun melakukan hal yang sama. "Jadi, apa rencana lo?" Anna yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu hanya menatap Sinta datar. "Lo nggak ada rencana buat ngedeketin dia?" "Ih, apaan, si. Enggaklah." "Alesan kejomloan lo selama ini karena dia kan, Na? Ngaku, deh." "Bukan," jawab Anna dengan nada malas. "Terus?" "Lo tahu alasan gue, dan nggak usah nanya lagi. Kerjaan gue banyak!" ketus Anna yang dibalas cibiran oleh sahabatnya. Anna pikir obrolan mereka sudah selesai, ternyata belum. "Tapi lo masih suka dia kan, Na?" Anna berdecak kesal karena konsentasinya harus terpecah. "Nggak tahu, Sinta." Gadis yang duduk di sampingnya tampak berpikir. Mengabaikan sejenak pekerjaan yang sudah menunggu di atas meja. "Tapi kalau liat lo yang salah tingkah kayak tadi, si, jelas banget kalau sebenarnya lo masih suka sama dia." Anna memilih tidak menjawab, karena memang tidak tahu apa yang kini ia rasakan. Banyak hal yang terjadi pada hidupnya semenjak kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dan karena hal itu pula Anna tidak sempat mengurus yang lain. Sebenarnya Sinta juga sama. Namun ia masih memiliki ibu meski kondisinya tidak normal akibat kecelakaan. Mungkin itu yang membuat mereka berbeda. Sinta masih memiliki seseorang untuk memberinya semangat dalam menjalani hidup. Setiap detik yang Sinta lalui jelas didedikasikan untuk apa. Sementara Anna .... "Emang tadi gue keliatan konyol banget, ya?" "Menurut situ?" Sinta terkekeh saat membayangkan kembali sikap Anna tadi. "Udah muka kayak kepiting rebus. Salting banget lagi." "Masak, si, Sin? Ya ampun gue malu-maluin banget pasti." Sinta tergelak, "Nggak salah lagi. Tapi tenang, nanti gue bantuin." "Bantuin apaan?" "Memperbaiki nama lo di depan Andre." Mata Anna sontak melebar waspada. "Jangan macem-macem, Sinta. Gue nggak butuh bantuan lo." Sinta terkikik dan itu membuat Anna bergidik ngeri. Tidak bisa membayangkan hal konyol apa yang kiranya kini sedang Sinta rencanakan. "Awas ya, Sin, kalau lo sampe malu-maluin gue." "Enggak bakal. Tenang aja beib," jawab Sinta cuek. Namun itu malah membuat Anna makin ngeri. "Pokoknya kalau sampai ada yang aneh-aneh. Tersangkanya lo ya, Sin." "Hemm." Sinta hanya menggumam karena sudah mulai fokus pada berkas di depannya. "Beneran lho, Sin." "Apaan si, Na. Gue belum ngapa-ngapain juga." Ada senyum geli yang Sinta berusaha sembunyikan. Dan Anna semakin yakin jika Sinta mempunyai sebuah rencana di balik itu. "Udah tuh kerjain perjanjian jual belinya. Kan mau tanda tangan besok sama Pak Haikal." Anna yang masih curiga hanya memperhatikan wajah serius Sinta dari samping. Entah dibuat-buat, atau memang sahabatnya itu benar-benat sudah tenggelam dalam keseriusan. Yang pasti Anna hanya bisa berdoa, semoga saja dibalik ketenangan yang Sinta buat, tidak ada rencana konyol yang akan membuatnya malu. * Waktu sudah melewati pukul lima sore. Seharusnya kantor itu sudah kosong karena memang jam pulang kantor sudah berlalu sejak beberapa menit yang lalu. Namun suara keyboard yang diketik dengan jari masih terdengar. Laptop yang menyala masih menunjukkan barisan dokumen penting. Dan gadis dengan rambut lurus itu masih fokus menatap layarnya. Anna merenggangkan ototnya sejenak, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang memang harus selesai hari ini. Ia sendiri karena memang Sinta sudah pulang lebih dulu. Dewi tidak lagi kembali ke kantor semenjak pergi dengan ibu bos tadi untuk urusan penanda tanganan akta pendirian sebuah PT. Sementara satu karyawan lainnya, Edo, memang jarang di kantor karena tugasnya adalah mengantar dan mengambil berkas di luar. Sinta sempat ngotot untuk membantunya tadi. Namun Anna menolak karena orang yang merawat ibu Sinta hanya bekerja smpai jam setengah enam. "Beneran nggak papa lo sendiri?" ujar Sinta tadi, sebelum sahabatnya itu benar-benar pergi dari kantor. "Beneran Sinta. Udah, deh, lo buruan balik. Kasian Tante Dini." "Lo jangan pura-pura berani, deh, Na. Lo kan penakut." Anna hanya bisa terkekeh mendengar hal itu, lalu mengibaskan tangan untuk mengusir Sinta. Dan akhirnya memang ia berada di kantor yanng sepi ini sendiri. Memang benar yang dikatakan Sinta, dia ini memang penakut, apalagi jika suasana gelap. Karena itu Anna sudah menyalakan semua lampu dan membiarkan tirai jendela tetap terbuka. Lagi pula, dari tempatnya duduk terlihat beberapa securiti yang berjaga. Jadi, dia tidak merasa sndirian. Yang sekarang perlu ia lakukan hanya fokus, agar pekerjaannya cepat selesai dan dia bisa pulang sebelum langit kian menggelap. Tepat pukul tujuh akhirnya Anna benar-benar berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah mengirimkan file pekerjaannya pada ibu bos. Dan tinggal menunggu bonus lembur saat gajian nanti. Satu hal yang membuat ia betah kerja di kantor ini adalah karena bos mereka yang sangat loyal. Tidak pernah membentak walaupun pekerjaan yang mereka lakukan ada kesalahan. Dan juga, Bu Mila, bos mereka tidak bersikap bossy. "Lembur Mbak Anna?" Salah satu security bertanya saat Anna terlihat melangkah ke arah parkiran. Gadis itu mengembus napas lega saat berhasil lolos dari kegelapan kantor yang tadi membuatnya nyaris kesulitan bernapas. "Iya ini, Pak. Banyak kerjaan. Mari, Pak." Anna pun segera melangkah ke arah sepeda motor yang setia menemaninya ke manapun. Benda berharga pertama yang berhasil ia beli dari keringatnya sendiri walaupun dalam bentuk second. "Yah, kenapa nih motor," guman Anna saat merasa ada yang tidak beres. Dan benar saja, ban motor belakangnya kempis tidak menyisakan angin sedikit pun. "Kenapa motornya, Mbak?" tanya salah satu security saat melihat Anna berlutut di samping motornya. "Bocor, Pak. Bengkel udah tutup ya jam segini?" "Walaupun belum tutup juga jauh, Mbak tempatnya." "Yah, gimana, dong, Pak?" rengek Anna nyaris menangis. "Bentar, Mbak. Saya cari bantuan dulu, ya." Anna hanya mengangguk dan berharap ada yang bisa menolongnya. Tidak lama security tadi datang kembali. "Kasian Mbaknya ini, Mas." Anna masih memperhatikan ban motornya yang terlihat mengenaskan, tanpa menyadari jika kini ada seorang pria yang sedang berdiri di sampingnya. Melongok ke arah ban motornya yang kempis. "Bocor, ya?" Anna sudah siap membuka mulut, tapi urung saat melihat siapa kini pria yang berada begitu dekat dengannya. "Bentar, saya coba telepon teman saya yang punya bengkel." Anna hanya bisa menelan ludahnya yang terasa kering tanpa mengatakan apapun. Bahkan percakapan yang Andre lakukan melalui telepon seperti angin lalu yang tidak tertangkap pendengarannya. Mata Anna terfokus pada gerak gerik pria itu yang terlihat menawan dalam setiap pergerakannya. Sinta benar, Andre memang sudah jauh berbeda. Dulu badan pria ini kurus dan kering. Seperti orang yang ketergantungan obat. Sementara sekarang, badannya tampak segar dan terlihat berisi. Senyuman dengan lesung pipi yang dulu sudah terlihat manis itu, makin terlihat mempesona sekarang. Anna nyaris tidak berkedip andai ssja Andre tidak menoleh ke arahnya. Dengan gelagapan gadisn itu melempar pandang ke segala arah. "Temen ssya bisa bawa motornya. Tapi paling dikerjainnya besok. Gimana, nggak papa?" Anna hanya bisa mengerjabkan matanya. Merasa bodoh karena suaranya seperti hilang entah ke mana. "Terpecaya kok. Dia temen saya soalnya. Dan saya yang punya rumah makan depan. Kita tadi udah sempet ketemu, kan?" Andre mencoba meyakinkan gadis di depannya. Ia maklum jika gadis ini mencurigainya. Mereka bahkan belum saling mengenal. Anna nyaris meleleh saat senyuman itu terlihat begitu nyata. Dan tertuju untuknya. "Gimana?" Akhirnya Anna mengangguk, "Iya, nggak papa." Sekali lagi, senyuman itu tercetak dan membuat jantung Anna makin berderap tidak tahu malu di dalam sana. Tidak lama kemudian sebuah mobil pick up datang dan membawa motornya. Anna hanya menganggguk-angguk saat diberi surat tanda terima sebagai bukti untuk pengambilan motor. Detik itu juga Anna belum memikirkan nasibnya selanjutnya. Sampai mobil itu pergi membawa motornya dan Andre berjalan menjauh setelah mengatakan satu kalimat yang tidak Anna dengar dengan jelas. Gadis itu baru memyadari sesuatu. Ia mengerjabkan matanya dengan kening berkerut. Motornya dibawa pergi. Dan sekarang? Andai saja ponselnya tidak kehabisan daya, dia tidak akan bingung bagaimana caranya pulang. Meski ongkos ojek online tentu saja akan menguras kantongnya. Tapi itu akan lebih baik dibanding dengan berdiri di pinggir jalan seperti ini. Anna mendongak, menatap gelap yang menyelimuti kantornya. Apa dia harus masuk dulu untuk mengisi daya? Lalu, saat bayangan makluk-makluk tak kasat mata kini tengah menghuni tempat itu, Anna hanya bisa menggeleng sembari bergidik ngeri. Gadis itu nyaris kembali menangis kalau saja tidak muncul sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Memunculkan sosok Andre dengan senyum paling menawan yang pernah ia lihat. "Ayo naik! Saya antar pulang!" Apalagi saat kalimat itu meluncur. Di matanya, Andre bak dewa penolong yang Tuhan kirim untuknya. ----"""----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD