"Lain kali, kalau mau nolongin itu jangan setengah-setengah, Pak, biar orang yang ditolongin nggak kayak saya," lenguh Nesya, menyentuh lehernya yang pegal. "Nunggunya kelamaan."
"Banyak omong kamu, tuh!" delik Kavin, "yang penting sekarang udah saya tolongin."
"Iya, iyaa." Nesya menciut.
Heran. Di hari ulang tahunnya saja pria itu masih galak. Kapan ia bisa benar-benar baik? Bahkan senyum yang Bosnya edarkan pada siapa pun--selama yang ia lihat--itu bukan ketulusan, tapi image yang ingin Kavin tonjolkan. Nesya dapat melihatnya dengan jelas, karena ia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja bukan untuk pandangan orang, melainkan rasa tak enakannya pada orang lain yang tak pernah bisa ia abaikan. maka dari itu mudah bagi Nesya untuk membedakan mana sesuatu yang memaksakan, dan mana yang datang dari hati.
"Kavin!" panggil seseorang, membuat pemilik nama menoleh ke arah suara.
Belum sempat Kavin menyadari siapa yang datang menghampiri, orang itu sudah lebih dulu memberinya pelukan. "Happy birthday!" terdengar suara yang begitu pelan menyentuh telinganya.
"Alana?!" lenguh Kavin. Walau belum melihat wajahnya, tapi ia bisa mengenalinya dengan suara yang ia dengar.
"Oke, okee, sorry." Alana mengelus lembut pipi Kavin, "btw aku haus, nggak mau nemenin tamu spesial nih?"
Ya, Alana tahu jelas kalau Kavin tidak menyukai hari ulang tahunnya sendiri. Ia benci ketika seseorang mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya, oleh karena itu ia tak pernah memberitahukan siapapun mengenai informasi pribadinya. Siapa yang berani memaksa? ia Bosnya. Kalaupun sangat mengharuskan, ia memakai tanggal yang bukan sebenarnya, di dalam setiap kegiatan selalu dengan data yang berbeda-beda, sebab itu Kavin seringkali diucapkan selamat di hari yang bukan hari ulang tahunnya, sesuai dengan data yang mereka terima. Sampai-sampai Kavin benar-benar melupakan kapan hari sebenarnya ia dilahirkan. Memang itu tujuannya. Tapi tidak dengan orang terdekatnya, mereka selalu mengingatkannya kembali dengan hal yang ingin sekali Kavin hilangkan.
Bukan tanpa sebab, hari ulang tahunnya merupakan hari di mana kecelakaan maut itu merenggut nyawa kedua orang tuanya 18 tahun yang lalu. Maka dari itu, setiap kali orang mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya, ia merasa orang-orang sedang mengejek kematian kedua orang tuanya. Perasaan yang ketetapannya tidak pernah bisa Kavin pungkiri.
Kavin tidak pernah mau melewati hari ini. Kalau saja ia dapat mengubah hari, di mana hari ia dilahirkan dieleminasi dari kalender di seluruh dunia. Tapi itu mustahil. Ya, ia memang berkuasa, tapi tidak seberkuasa Tuhan yang dapat melakukan apa pun tanpa terkecuali. Ia masih manusia, yang dianggap sempurna namun sebenarnya mempunyai setumpuk kelemahan yang tidak banyak orang mengetahuinya. Batas kekuasaannya hanya sampai pada menyembunyikan ketidakbisaannya.
"Kalau gitu, saya permisi!" pamit Nesya, "eh," langkahnya terhenti, Kavin memegang lengannya, tidak memberinya ijin untuk pergi.
"Acaranya sudah mau dimulai."
"Iya, saya tahu. Makanya saya mau pulang."
"Pulang?" Kavin melipat kedua tangannya di d**a, "kamu itu sekertaris saya, selama saya belum pulang, haram hukumnya untuk kamu pulang."
"Saya bukan anak Tk lagi, jadi kalau udah waktunya pulang, saya akan pulang," sahut Nesya, mengingatkan Kavin atas kalimat yang telah ia ucapkan tempo hari.
"Ini perintah!"
"Huh?"
"Rasyid!" panggil Kavin, membuat pemilik nama yang sejak tadi mengekorinya segera menghadap. "Renovasi anak ini."
"Re-renovasi?" ulang Rasyid, kurang paham. "Make over, maksud Bapak?"
"Make over terlalu elegan untuk gadis yang terlalu acak-acakan seperti dia!" sahut Kavin lalu kemudian memilih pergi bersama Alana.
"Mari ikut saya," Rasyid menunjukkan jalan untuk Nesya.
"Dia pikir aku gedung usang, pakek direnovasi segala?!" rutuk Nesya yang masih menatap tajam punggung pria yang berlalu meninggalkannya itu. Lagi pula siapa yang mau mengikuti perintah dengan cara kasar seperti ini? mimpi.
"Eh, mau ke mana?" tahan Rasyid.
"Pulang lah, ke mana lagi."
"Only your dream!" balas Rasyid yang kini telah membuat Nesya dikelilingi satu timnya, membuat Nesya tak akan bisa kabur dari tangan penuh bakat miliknya.
Hanya memerlukan waktu 30 menit untuk membuat Nesya bersiap. Baju lusuh yang telah dipenuhi setan emosian kini sudah berganti dengan dress dengan bahan jatuh berwarna peach dengan bling-bling di beberapa bagian. Rambut terurainya disepol dengan ditambah beberapa jepitan dengan ruas bunga. Hanya satu yang tak berubah, sepatu high heels nya. Heels miliknya memiliki batas wajar, tidak seperti yang Rasyid hendak pakaikan padanya, heels dengan tinggi 15 cm, mana ada? lebih baik mencegah dari pada ia harus mengikuti permintaannya dan ia malah terjatuh di acara nanti. Itu akan sangat memalukan.
Sebenarnya Nesya melarikan diri dari monster yang mengaku stylist itu, masalahnya pria berjiwa wanita itu memaksanya untuk mau mengikuti segala pilihannya. Lagi pula mana ada seorang stylist yang pemaksa seperti manusia tadi? yang benar-benar tahu diri Nesya adalah Nesya sendiri. Meski stylist itu mengaku tahu apa yang dibutuhkannya, taoi Nesya lebih tahu batas dari kebisaannya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bos pemaksa, bawahannya pun ikut pemaksa. Mungkin benar, Nesya telah salah memasuki dunia pekerjaan yang bukan diperuntukkan padanya.
Nesya telah terbebas dari sekumpulan manusia yang telah ramai-ramai merombaknya, kini ia telah sampai di tengah-tengah acara yang sedang berlangsung. "Masa, sih, cuma temen?!" gumam Nesya, tak sengaja melihat kebersamaan Kavin dan Alana yang begitu akrab--dari kejauhan. Rasanya, itu mustahil kalau hanya sekadar rekan dalam satu pekerjaan.
"Karena sama-sama belum punya pasangan, jadinya mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga hati yang lainnya," tutur Aby, menjawab rasa penasaran Nesya.
"Kalau gitu, kenapa mereka nggak jadian aja? yang satu galak, yang satu arogan. Pasangan yang cocok."
Mendengar hal itu sontak membuat Aby terkekeh, baru kali ini ia menemui sosok yang hanya melihat kekurangan dari keponakannya. Sebab yang ia tahu selama ini, pesona Kavin selalu mematahkan kesan buruk orang lain padanya. "Yang kelihatan cocok, belum tentu nyaman, karena kenyamananan itu bukan dicari tapi dirasakan."
"Eumm," Nesya mengangguk paham.
"Tapi, setahu saya Alana memang sangat menyukai Kavin."
"Eh," Nesya terhenyak, ia baru menyadari kalau dari tadi ia berbicara dengan seseorang yang tidak seharusnya mendengar penuturannya sejak tadi. "Jadi, mereka saling suka tapi saling diam?" rasa penasaran membuat Nesya tanggung untuk menyudahi obrolan yang sedang berlangsung. Kapan lagi ia akan menemui saat-saat seperti ini, kan?
"Mustahil! anak itu selalu mengutarakan apa yang dirasakannya," balas Aby, "kamu tahu? perempuan bisa berteman dengan orang yang dia sukai. Tapi lelaki, mereka hanya bisa berteman dengan orang yang tidak disukainya. Itu artinya, mungkin memang bukan Alana orang yang Kavin cari."
"Kita sudah berada di puncak acara, acara yang sudah kita semua tunggu sejak tadi.." mendengar penuturan dari pembawa acara, membuat Aby segera berjalan ke arah panggung.
"Kamu berjaga di sini, kalau Kavin berusaha kabur, kamu harus bisa menahannya!" tutur Aby pada Nesya sebelum akhirnya naik ke atas panggung karena namanya telah disebutkan.
"Udah dandan cantik gini, disuruh jadi Satpam?" desah Nesya, tak bisa membayangkan dengan apa yang akan menimpanya setelah ini. Badannya tidak lebih besar dari Bosnya, lalu bagaimana caranya ia bisa menahan pria itu, nanti? "Ahh," sebuah ide melintas di kepalanya. Nesya tak sendiri. Di ujung sana, beberapa orang itu masih belum menyerah untuk mencari keberadaannya. Nesya bisa menggunakan mereka sebagai tameng.
***
"Saya, Ray Abiputra, telah memimpin Ardana Group's selama lebih dari 10 tahun. Hari ini menyatakan bahwa Kavin Ardana, keponakan saya sendiri adalah pemilik sebenarnya dari perusahaan yang saya pimpin ini. Dan tepat pada hari ini juga, Kavin akan menggantikan saya sebagai CEO dari Ardana Groups."
Tepuk tangan para tamu undangan pun saling bersahutan, seakan pengumuman ini adalah hal yang juga mereka sangat tunggu-tunggu. Ini memang sudah rahasia umum. Semua orang bahkan sudah tahu kalau hal ini akan segera terjadi. Selama ini Ray Abipuyra tidak pernah menyembunyikan kebenarannya.
"Kavin!" Aby mempersilakan Kavin agar naik ke panggung, sebagai tanda serah terima jabatan.
"Tapi selain itu, di hari ini ada hal yang tidak pernah semua orang tahu selain hanya saya sendiri dan beberapa orang terdekat dari Kavin saja."
"Om?" Kavin merasakan ada hal yang tidak ia ketahui.
"Kavin, selamat ulang tahun, Nak."
Sontak semua orang yang ada di ruangan menaruh tanya, sebab yang mereka tahu berbeda satu sama lain. Suasana yang tadinya hening, seketika penuh dengan suara masing-masing orang yang saling mempertanyakan.
"Tolong, beri waktu untuk saya bisa menjelaskan," tutur Aby, membuat banyak suara dengan perlahan kembali meredup.
"Om, jangan melampaui batas," peringat Kavin.
"Tidak, bukan Om. Tapi kamu! ini waktunya untuk kamu melampaui batas yang kamu buat, Kavin."
"Saya memilih hari ini untuk pengangkatan Kavin karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hari yang tidak pernah Kavin sukai, mulai hari ini adalah hari yang akan berharga untuk dia ingat," tutur Aby, "benar begitu?" lemparnya kemudian pada Kavin.
"Selama ini saya selalu mengikuti mau Om, tapi tidak dengan yang satu ini."
Kavin hendak turun dari panggung, namun seseorang menghalangi jalannya. Nesya naik ke atas panggung.
"Minggir!" titah Kavin.
Nesya menggelengkan kepalanya.
"Saya bilang minggir, ya ming-gir.." Kavin tak bergerak, di tangga tempat naik-turun panggung sudah terdapat beberapa orang yang tadi siang mengurusnya dengan penuh paksaan.
"Bapak nggak jadi turun?" bahas Nesya, ia tahu jelas masalah Kavin, padahal sebenarnya yang mereka tunggu saat ini adalah Nesya, tapi setelah melihat hal ini, Nesya jadi tahu kalau Kavin juga bermasalah dengan makhluk itu.
"Happy birthday!" Alana muncul, membawa kue dengan 8 lilin yang sudah menyala di atasnya, jumlah yang sesuai dengan satuan umur Kavin, 8, 28 tahun. "Ayo tiup, apa perlu aku ajarin?" kekeh Alana, melihat ketidaksenangan Kavin dari wajahnya.
Tak punya pilihan lain. Kavin pun hanya perlu mengikuti apa maunya, atau ia akan lebih lama berada di sini.
"Sebentar!" tahan Nesya, membuat Kavin mulut Kavin yang hampir mengembung kwmbali mengatup. "Buat permohonan."
"Buat apa? toh semua nggak akan jadi nyata kalau nggak ada usaha."
"Usaha itu ada di urutan kedua setelah do'a," tutur Nesya, dengan satu tangannya yang terulur menyentuh kedua mata Kavin, menghalangi kemampuan penglihatannya. "Sudah?"
Kavin mengangguk.
Nesya hendak menarik kembali lengannya, namun ternyata Kavin menahannya. Ia memilih untuk meniup lilin dalam keadaan tak bisa melihat apa pun. Satu per satu api dari sumbu lilin sudah mulai padam, diiringi tepuk tangan meriah dari semua orang yang menyaksikan. Tapi Kavin, ia tak kunjung melepaskan pegangannya pada tangan Nesya, posisinya masih belum berubah, padahal Nesya sudah sedikit merasakan pegal.
"Sampai kapan Bapak mau pegang tangan saya?"
Bersambung . . .
Jangan lupa klik love dan tinggalkan komentarnya juga yaa.. sebagai tanda kalau kalian mendukung cerita ini :)