Pagi mencuci, sore hari menyetrika. Begitulah pekerjaan yang aku kerjakan setiap harinya. Aku kerjakan tanpa mengeluh. Walau terkadang harus sering sekali mengelus d**a dengan tubuh yang remuk redam.
"Zalia!"
Lagi-lagi sebuah teriakan mengagetkanku. Aku yang sedang menyetrika pakaian menyahut. Dari suaranya saja aku sudah tahu, itu adalah suara Ibu mertuaku. Orang sekitar biasa memanggilnya Bu Nani.
Aku heran Ibu dan anak itu hobby sekali memanggilku dengan berteriak. Apa pita suara mereka tak sakit? Tak ada tata krama, sekarang aku mengerti kenapa saat memilih pasangan harus melihat; bibit, bebet dan bobot. Agar tak zonk seperti diriku.
"Assalamualaikum," sindirku saat ibu terdengar memasuki rumah. Ibu langsung mendengkus menatapku tak suka saat baru saja memasuki rumah.
Awal-awal menikah ibu selalu berlaku lembut padaku, ia juga tampak begitu penyayang. Tapi setelah orang tuaku, tak mengabulkan keinginan Mas Yudha, untuk meminjam uang pada orang tuaku. Sejak itu ibu bersikap cuek dan ketus padaku.
Siapa juga yang mau meminjamkan uang pada seorang lelaki pemalas. Apa lagi uang yang ia pinjam jumlahnya sangat besar. Katanya untuk membeli sebuah rumah agar aku bisa hidup nyaman. Tapi belakangan niat buruknya kebaca, ia ingin mengubah sertifikat rumah itu atas nama dirinya. Tentu saja orang tuaku menolak. Almarhum bapakku bukanlah orang yang bodoh dan mudah untuk di tipudaya.
"Kamu sama orang tua gak ada sopan-sopannya! Nih sekalian!" omel Ibu.
Ia melempar pakaian yang dibuntel dengan selimut ke sebelahku. Tanpa membukanya saja aku sudah tahu, apa isi dari kain buntelan ini.
Aku menelan ludahku susah payah. Pekerjaan yang ada saja sudah membuat pinggang dan tubuhku remuk. Ini malah Ibu tambah lagi. Sungguh tega mereka padaku.
"Kenapa lihat-lihat, Ibu? Kerjakan itu! Kamu kan juga sedang menyetrika, jadi sekalian!" perintahnya tegas layaknya nyonya rumah pada babunya.
Padahal di rumahnya masih ada Rika. Adik bungsu Mas Yudha. Tapi ia selalu membawa pakaiannya ke rumahku untuk disetrika. Membuat pekerjaanku semakin bertambah banyak saja.
"Aku gak janji, Bu. Pekerjaanku masih banyak. Ibu suruh saja Rika untuk mengerjakannya!" tolakku langsung. Mengabaikan buntelan yang ia bawa itu.
"Kamu berani membantah Ibu sekarang, Zalia? Kamu ini sebagai menantu tidak berguna sekali. Cuma sebatas menyetrika pakaian mertua saja tidak mau!" hardiknya kasar.
Hati ini kembali meringis menahan d**a yang sakit. Jika hanya berupa baju Ibu dan Bapak saja, mungkin aku masih diam. Ini hampir semua baju penghuni rumah yang Ibu bawa untuk aku setrikakan. Termasuk baju Rika dan Mbak Intan—kakak Iparku yang sudah menikah beserta anak dan suaminya.
Bisa dibayangkan berapa banyaknya, sedangkan menyetrika baju para pelangganku saja aku sudah kecapekan. Rasanya ingin sekali aku menangis mengingat perlakuan mereka semua padaku selama ini.
Semakin didiami, mereka mereka semakin kelewatan. Kali ini aku tak mau lagi. Aku tak sudi.
"Maaf, Bu. Bukannya Zalia ingin membantah Ibu. Tapi Ibu bisa lihat sendiri, kan. Pekerjaan Zalia masih menumpuk. Zalia ini manusia, Bu. Bukan robot!"
Tanganku masih bergerak menggosok satu persatu pakaian pelangganku hingga licin. Ibu tampak terkejut, karena selama ini aku tidak pernah berkata tegas, apalagi menolak dengan segala yang ia perintahkan. Walau terkadang apa yang ia suruh adalah sesuatu yang tak masuk di akal. Tapi kali ini aku sudah letih.
Aku letih menuruti semua kemauan mereka. Aku letih untuk terus bersabar.
"Terserah kamu mau kerjakan nanti atau nanti malam, Zalia. Yang Ibu tahu, setrikaan Ibu itu selesai! Awas kalau tidak selesai!" ancam Ibu tak peduli dengan ucapanku barusan.
Ia berlalu pergi meninggalkanku dengan setumpuk pakaian mereka yang harus aku kerjakan. Aku hanya bisa berdecak kesal dengan tingkah laku mertuaku ini. Baik anak maupun emak sama-sama cuma bisa menyakiti saja.
Aku menendang buntalan kain itu hingga menggelinding ke dekat tembok bagian ujung. Biar saja, pakaian itu berjamur di sana. Mereka pikir aku ini babu mereka!
***
Mentari pagi menyapa dengan ceria. Kicau burung bersahutan membangunkan tubuh yang terasa remuk-redam. Pukul sepuluh malam aku baru selesai berjibaku menyelesaikan setrikaanku yang setinggi gunung Himalaya.
Jika bukan karena perut yang menjerit untuk selalu diisi, mungkin aku tak akan mau mengerjakan pekerjaan ini. Dengan gerakan malas aku bangkit dari tidurku. Melirik sejenak pada lelaki yang bergelar suami ini. Mas Yudha tidur di ujung, bersebelahan dengan Alia yang di tengah. Entah dari mana ia seharian kemaren? Pulang-pulang langsung tidur dan tak bangun juga pagi ini. Jika ada lomba pura-pura mati, aku yakin Mas Yudhalah pemenangnya.
Aku bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, membersihkan diri sebelum berjibaku kembali menyelesaikan pekerjaan yang tiada habisnya.
Ahh ... andai dulu aku tak tergoda janji manis suamiku. Mungkin dulu kuliahku selesai dan memegang ijazah sarjana. Bekerja layaknya wanita kantoran, bukan menjadi babu cuci seperti ini. Inilah yaang dikatakan pepatah, menangis di ujung kematian tak ada gunanya. Waktu yang telah lewat tak dapat diputar, nasib baik telah lepas di genggaman.
Setelah mandi, aku ke warung sebentar membeli bahan untuk dimasak. Tak banyak yang mampu aku beli, hanya menu makanan yang jauh dari kata sederhana yang aku buat. Setelah berkutat di dapur. Akhirnya nasi hangat yang masih mengepul, tempe goreng setipis triplek, sambal terasi yang tak pedas dan sayur lodeh berenang sudah terhidang di atas meja.
"Bunda!" panggil putriku. Ia berdiri di ambang pintu dengan celana yang basah. Lantai juga basah dengan air pesing yang menggenang. Alia memang tidak kupakaikan diapers. Selain g
tidak sehat di badan, juga tidak sehat di kantongku.
"Ayo kita mandi sayang," ajakku. Aku membawa Alia ke kamar mandi. Meninggalkannya sebentar untuk mengelap dan mengepel bekas ompolnya yang berceceran di lantai. Setelah itu baru memandikan putriku hingga bersih.
Setelah bersih dan wangi. Kupakaikan pakaian bersih dan mengajaknya ke meja makan. Menyuapi putriku hingga kenyang. Agar saat aku bekerja di belakang nanti, ia tidak rewel dan tidak menggangguku.
Alia makan dengan lahap. Putriku ini memang tidak rewel dalam hal makanan, ia akan makan apa saja yang aku masak asalkan tidak pedas. Terkadang hatiku terenyuh membayangkan masa depannya nanti.
Mampukah aku menyekolahkannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin anakku hidup layak nantinya, tidak seperti aku yang harus membersihkan pakaian kotor orang lain hanya untuk sesuap nasi. Jika berharap dengan Mas Yudha, jauh dari pandangan.
Lelaki seperti dirinya tak patut jadi kepala rumah tangga. Tak ada tanggung jawabnya.
Brak!
"Allahu Akbar!" Aku tersentak dari lamunanku saat pintu kamar itu terbuka dengan kerasnya.