25

1722 Words

"Kinta tunggu disini sebentar ya, Nak. Bunda mau ke toilet sebentar. Udah enggak tahan lagi." "Iya, Bunda." Anak perempuan itu mengangguk, lalu memilih berdiri tegak mengamati orang yang berlalu lalang memasuki minimarket yang barusan ia kunjungi dengan Bunda Panti. Jarang sekali memang Bunda Panti mengajaknya mengunjungi minimarket ini, karena harga di pasar sana lebih murah dan terjangkau. Kinta mengelap keringat yang berjatuhan di pelipisnya, cuaca yang begitu terik sedikit membuatnya kepanasan. Namun, tangannya tetap setia menggengam sesuatu dari balik kaos yang ia kenakan. "Coklatnya leleh enggak ya?" tanya Kinta polos. Senyum dibibirnya terbit manakala melihat coklat itu masih dengan kondisi yang sangat prima. Tidak meleleh karena matahari seperti yang ia pikirkan. Tangan mungil

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD