Di rumahnya yang baru, Astuti sadar kalo bertetanggaan dengan para jomblo di mess pria di samping rumahnya, bakal bikin dirinya digodain. Itu wajar. Normal.
Tapi beberapa hari terakhir ini koq dia jadi ngerasa aneh. Kalo awalnya dia takut dirinya bakal digodain sekarang kondisi malah mulai berbalik. Dirinyalah yang sekarang malah senang digodain dan ngerasa ada yang hilang kalo pengalaman digodain itu nggak – atau jarang – terjadi atas dirinya.
Kenapa begitu jelas ada penyebabnya. Menurut Astuti, cowok-cowok itu pada keren-keren. Mereka gak ada yang jelek dan kadang ke-gap keliatan nggak pake baju lalu lalang sehingga keliatan pada six-pack semua. Mereka pun macam-macam. Ada yang putih, sawo matang, hitam. Ada juga yang banyak bulu dimana-mana sehingga bikin mata Astuti jadi ijo. Mulutnya pun jadi nge-ces ngeliatnya.
Dan di lain pihak mereka, para jomblo itu, keliatan banget demen dengan kehadiran tetangga baru. Astuti sang janda muda nan cantik dan bahenol.
*
Peristiwa Rianti ngedipin mata udah lama ilang dari benak Jayat. Yahya dan Yayad juga udah nggak nanya-nanya lagi. Mereka sadar bahwa apa yang terjadi tempo hari nggak pantas diartikan bahwa Rianti ada perhatian terhadap Jayat. Itu jauh. Jauh dari kenyataan. OK, katakan Jayat itu lumayan good looking. Tapi zaman now, kalo duit cekak tetap aja cewek banyak yang nolak. Pertimbangannya sederhana, cewek sadar kalo cinta aja nggak cukup. Harus ada penunjang seperti kendaraan, tempat tinggal, kerjaan yang layak, dan masa depan yang lumayan yang kalo diringkas satu kata maka itu adalah: DUIT..
Sayangnya semua itu nggak ada di Jayat. Motor butut adalah satu-satunya aset yang dia punya. Motor Yahya sebetulnya lebih keren tapi itu kan nggak pernah dikasih pinjem ke Jayat. Soal rumah, Jayat tak punya. Mobil, apa lagi. Karena itu dengan semua keterbatasannya, emang sulit buat Jayat membuat wanita sekelas Rianti berpaling.
Bagi Jayat itu sih gapapa juga. Toh, kalo pun misalnya perhatiannya nggak seperti bertepuk sebelah tangan, ada bagusnya. Karena kalo sampe Rianti jadi tertarik pada dirinya, itu akan jadi neraka karena pasti Ucok akan marah besar padanya. Bukan hanya dirinya dipecat, bisa jadi dia pun ngalamin kecelakaan karena Ucok itu pesilat yang pernah jadi finalis di PORDA / Pekan Olahraga Daerah.
*
Hari ke empat di Korea.
Dengan bujukan dari Rianti, Ucok yang merasa bodinya agak fit, hari itu mau diajak berjalan-jalan keliling kota Seoul. Adalah Rianti juga yang kemarin sukses ngebujuk supaya mereka memakai jasa pemandu alias guide yang baru saja dikenal Rianti karena kemarin sudah menolong dirinya dari bahaya tersasar. Dengan alasan kepraktisan dan tak mau ribet, Ha-Jun dipilih dan rate-nya disepakati sekian Won per hari. Saat nunggu Ha-Jun di lobby, Rianti bertemu lagi dengan business woman di apartemen yang kemarin dia temui. Ternyata dia orang Indonesia yang lama tinggal di sana. Ini membuat mereka bertiga langsung akrab apalagi orang itu, Syenni, asal Singkawang juga sehingga beberapa kali dia bicara dalam bahasa yang sama dengan Rianti. Mereka – Rianti dengan Syenni – tukaran nomor ponsel dan janji akan ketemu lagi di lain kesempatan.
Begitu Ha-Jun datang, mereka pun berpisah. Rianti senang karena akhirnya bisa jalan-jalan di Seoul. Ucok benar-benar tak mau ngerusak kebahagiaan isterinya. Dia sebetulnya belum sehat-sehat betul tapi sekuat tenaga dia sembunyikan kekurangsehatan itu dengan banyak senyum, tertawa, atau balas ngejoke selama di jalan dalam mobil yang dibawa Ha-Jun.
Mereka meninjau lokasi belanja super besar, Lotte. Sehabis belanja beberapa pakaian mereka bertiga makan siang bersama di restoran lokasi elite Gangnam yang dibuat ngetop oleh Psy dengan Gangnam Style-nya. Dan itu jadi musibah baru buat Ucok. Setelah kemarin sakit gara-gara salah – atau kebanyakan minum obat kuat yang asal beli – hari ini Ucok terkena musibah lagi. Dia kena efek nonton draktor. Gara-gara terpengaruh nonton drakor ia coba-coba membeli makanan khas di sana. Entah namanya apa. Ucok yang katrok main sikat makanan lokal di sana yang ternyata tak sesuai dengan perutnya yang lebih familiar dengan sangsak, gado-gado, atau Indomie rebus. Akibatnya kondisinya yang kurang fit jadi makin parah. Ujung-ujungnya mereka lantas sepakat untuk mempercepat kepulangan ke apartemen.
Dan itu keputusan bijaksana. Begitu sampai di apartemen, Ucok murus-murus dan muntah di toilet. Ini bikin memdirinya terkapar tak berdaya. Sebuah obat langsung diminum Ucok dan itu membuat badannya mengantuk. Kantuk itu makin berat dan membuat dirinya tak tahan sampai kemudian ia berbaring di ranjang dan langsung menggeletakan badan.
Meninggalkan Rianti bersama Ha-Jun, di ruangan kamar yang sama.
*
Rintisan usaha jualan pulsa udah mulai jalan dan Astuti udah mulai dapat hasil. Tapi penghasilan dari jualan nasi uduk ternyata lebih asik. Ini ngebuat Astuti semangat. Usahanya udah jalan seminggu dan selama ini kalo beli berbagai kebutuhan maka sehari sebelumnya, sore hari, dia akan pergi ke pasar induk sambil ditemanin Polan. Biar pun masih remaja, Polan emang udah mulai bisa diharapkan bantu-bantu.
Ini bukan perkara enteng buat dia karena sebelumnya waktu masih dengan Ucok, belum pernah ngalamin kerjaan seberat itu. Dan karena hal itu juga, di hari kesekian ini Polan tepar. Terkapar sakit di ranjang sehingga mau gak mau Astuti harus pergi belanja sendiri.
Sebetulnya Astuti maunya nggak jualan. Tapi pikiran itu dia usir karena pikirnya bagaimana mungkin dia mau batalin padahal usaha baru aja dimulai. Bisnis yang baru jalan, yang baru aja dapet pelanggan-pelanggan baru nggak boleh segampang itu dibatalin. Takutnya mereka para pelanggan bakal pindah ke lain hati. Kan berabe. Kasian para pelanggan karena mereka bisa pergi kalo Astuti nggak konsisten dengan jualannya. Karena itu biarpun cuaca sore itu hujan, Astuti akan tetap lanjut. Tantangan yang ada harus dihadepin. Mau naik motor jelas akan ngerepotin. Gak ada jalan lain Astuti pergi sendiri ke pasar induk dengan naik taksi daring. Pikirnya, biar nanti dari sana dia pulang dengan angkot.
Dan sekarang udah sore. Langit di atas masih mendung tebal alias hujan masih akan sewaktu-waktu turun. Astuti terseok-seok bawa barang belanjaan yang berat ke halte. Ini bikin repot karena ada barang belanjaan berupa telor yang harus dijaga hati-hati. Keringat udah mulai ngucur dari tadi. Tangan dengan kakinya juga pegal karena barang belanjaan yang berat dimana dia sampai bawa enam kantong plastik besar untuk bawa semua. Begitu udah sampe halte, dia baru sadar kalo atapnya banyak yang bolong karena karat di sana-sini. Ini mah alamat berteduh di situ malah jadi kehujanan. Ini bikin dirinya agak panik gimana cara ngatasinnya.
*