Sudah 10menit berlalu, baik Satria maupun Sekar tak kunjung membuka suara. Satria hanya menatap wajah wanita didepannya sedang Sekar menatap bingung karena orang yang mengundangnya kemari tak kunjung berbicara.
“Kenapa sih ni orang.. aneh banget asli! Gue disuruh datang cuman liat-liatan begini?” Sekar menggerutu didalam hatinya.
Sekar berkali-kali membuang pandangannya kearah lain, karena sedikit salah tingkah ditatap sedemikian dalam oleh sosok pria yang ya sangat tampan ini.
“Eheemm..” Sekar berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit mencekam. Sambil mempersiapkan mental untuk berbicara kepada Satria.
“Hmm maaf pak Satria, ada apa yaa mengundang saya kesini? Apa kita akan membahas proposal tempo hari pak?” Akhirnya Sekar membuka suaranya. Kalau kedatangannya kesini hanya untuk saling bersitatap sungguh ini sangat sangat membuang waktu.
Satria tak merespon ucapan Sekar. Pria tersebut masih saja menatap Sekar dalam. Diperhatikkannya mata, hidung bahkan bibir Sekar yang beberapa kali terlihat olehnya wanita itu sedang menggigit bibir. Ia ingin memastikan kalau pandangannya tak salah. Wanita ini sungguh mirip dengan Lily bak pinang dibelah dua. Hanya sedikit pendek saja.
“Kamu, sudah sarapan?” Satria membuka suara setelah sekian menit.
“Haaa..?” Sekar mengerjap beberapa kali. Sungguh Sekar kesal dibuatnya. Sudah jauh-jauh datang kesini, dan berpuluh-puluh menit tanpa ada yang berbicara. Terus sekarang laki-laki didepannya ini hanya ingin menanyakannya soal dirinya sudah sarapan atau belum.
“Saya rasa pertanyaan saya cukup jelas. Kecuali kamu budek.”Jawab Satria enteng dan tak melepaskan pandangannya dari Sekar.
“WHAAATT!! APA SIH MAUNYA!! SABAR SEKAR SABARR!!” Batin Sekar kesal.
Membuang nafasnya kasar sembari membuang pandangannya ke arah lain, dan menatap mata pria yang dari tadi tak lepas memandangnya.
Sedikit tersenyum.
“Sudah, pak Satria. Kebetulan saya sudah sarapan tadi dikantor.” Sekar berusaha tak terpancing emosi, setenang mungkin menjawab apa yang diucapkkan Satria.
Satria hanya menganggukan kepalanya. Membuat wanita yang disebrangnya mengerutkan alis dan membuatnya semakin merasa berang.
“Udah gitu doang? Wahh bener-bener ni lakik!” Batin Sekar bersungut-sungut.
“Pak, ini sudah 30menit lebih. Dan Bapak cuman mau menanyakan saya sudah sarapan atau belum?” Akhirnya Sekar tak tahan untuk mengatakkan keresahannya.
“Memangnya kamu mau ditanyain hal lain?” Satria balik bertanya. Bukan Satria tak menyadari bahwa wanita didepannya ini sedang menahan kesal. Satria sengaja mengulur waktu, melihat sejauh mana Sekar bisa bertahan.
“Bu-bukan begitu maksud saya pak. Begini, bapak mengundang saya untuk datang kemari karena ingin membahas meeting kita tempo hari bukan?” Sekar mencoba menjelaskan pada Satira kalau pertemuan ini terjadi karena mereka ingin membahas tentang meeting beberapa waktu yang lalu.
“Saya gak bilang begitu.” Jawab Satria enteng.
Sekar memejamkan matanya dalam. Berusaha menahan emosinya yang terasa sudah sampai ke ubun-ubun. Ditatapnya pria didepannya ini.
“Sebenarnya pria ini maunya apa sih! Yatuhan.” Batin Sekar.
“Lusa saya diundang kesebuah acara yang di adakan oleh partner bisnis saya...” Satria membuka suara.
“Terus apa urusannya sama gue!” Jawab Sekar dalam hati. Meskipun rasanya sangat ingin menjawab perkataan lelaki ini secara langsung tapi Sekar masih memiliki kesadar penuh. Karena mau bagaimana pun lelaki didepannya ini adalah orang penting dalam pekerjaannya.
“Saya mau ngajak kamu untuk jadi partner saya menghadiri acara tersebut.” Ucap Satria melanjutkan pernyataanya. Matanya tak lepas menatap Sekar. Ia penasaran bagaimana respon gadis didepannya ini.
“Kamu, bersedia?” Tanya Satria lagi karena Sekar tak kunjung meresponnya.
Benar-benar hari yang sangat mengejutkan dan melelahkan buat Sekar. Datang pagi-pagi kesini hanya untuk perkara yang tidak ada kaitannya dengan masalah proposal meeting tempo hari. Dan sekarang pria yang didepannya ini ingin mengajaknya untuk menghadiri acara yang dia sendiri gak tau acara apa.
Sekar mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih berusaha mencerna dengan situasi yang ada.
“Hitung-hitung kamu bisa mencari calon investor lain selain saya.” Sambung Satria yang berhasil membuat Sekar tersadar.
“Wah gue mencium bau-bau tak sedap nih.” Batin Sekar. Dia sedikit resah. Apa maksudnya pria ini yang mengatakan mencari investor selain dirinya? Apa proposalnya benar-benar ditolak?.
“Apa ini ada hubungannya dengan kerjasama kita, Pak? Maksud saya, saya wajib untuk ikut serta dengan bapak ke acara tersebut?”.
“Ya tentu. Semua tergantung kamu.” Sebenarnya satria tak ingin benar-benar membawa Sekar keacara tersebut. Tapi jika sedikit saja bisa memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari tau gadis ini lebih dalam kenapa tidak.
“Mungkin lebih baik bapak bisa mengajak pak Dimas selaku CEO Artha Company, saya hany..”
“Yang saya mau kamu Sekar!” Satria memotong pembicaraan Sekar dengan intonasi yang terdengar tegas tidak seperti sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Sekar.
“Kamu, bisa pikirkan baik-baik.”
“Semua keputusannya tergantung gimana kamu.”
“Sekarang keluar dari ruangan saya!” Suara Satria naik satu oktaf. Membuat Sekar terkejut bukan main, pasalnya pria ini dari tadi baik-baik saja kenapa sekarang membentaknya.
Mengerjapkan matanya beberapa kali. Tanpa menjawab Satria, Sekar langsung pergi begitu saja dari ruangan Satria. Ketika kakinya sudah berada di luar ruangan Satria, Sekar tak melihat keberadaanya Max disana. Dengan perasaan yang mendongkol Sekar berjalan menuju arah lift berada dengan suara hentakan heels stiletonya yang menggema mengisi seluruh penjuru ruangan dilantai itu dan juga terdengar oleh Satria.
“Dasar laki-laki sinting!”
“Cakep-cakep tapi aneh!!!” Gerutu Sekar sembari pergi meninggalkan THC Tower.
——
Sekar mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Kejadian tadi pagi sungguh benar-benar menghancurkan moodnya seharian ini. Kalau bukan karena ia butuh investor seperti Satria, sungguh mungkin Satria sudah mendapatkan amukkannya. Memijit kepalanya yang sedikit sakit, ditambah lagi dengan atasannya yang sudah mempertanyakan bagaimana perkembangan kerjasama mereka dengan pihak Tirta Holding Corporation.
Maya datang dengan segelas latte ditanganya yang akan ia berikan kepada Sekar.
“Nih gue bikinin Latte khusus buat, Loe.”
“Thanks!”
Sekar menerima pemberian Maya.
“Gimana tadi di THC? Lancar?” Sambung Maya.
Sekar mengela nafasnya kasar. Sungguh dia tak ingin mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
“Please, Jangan tanyain gue tentang hal itu dulu ya. Gue pusing banget!” Jawab Sekar memberi pengertian kepada Maya.
Belum hilang rasa kesalnya lagi-lagi Sekar harus menerima kenyataan bahwa nomor asing yang baru saja mengiriminya sebuah pesan w******p yang makin menambah membuatnya ingin berteriak.
+62 811-678-901
“Saya harap kamu memilih keputusan yang tepat.”
Tanpa perlu ditanya lagi Sekar tau siapa orang yang baru saja mengirim pesan.
“Satria kampret!” Teriak Sekar dalam hati.