9. Masuk Kandang Singa

1361 Words
Setelah meninggalkan areal kostannya beberapa menit yang lalu. Mobil yang dikendari oleh Max sendiri segera melaju ketempat yang dijanjikan oleh Satria. “Hmm pak Max, Kenapa harus saya ya yang ikut ke acara tersebut?” Tanya Sekar berusaha mengisi kesunyian didalam mobil. “Kalau soal itu saya tidak tau pasti kenapa nona. Hanya pak Satria yang mengetahui alasannya.” Jawab Max sambil melirik kebelakang dari kaca didepannya. Sekar memanyunkan bibirnya dan kembali terdiam karena tak puas mendapatkan jawaban dari Max. Wanita itu hanya memperhatikkan lalu lintas ibu kota Jakarta yang cukup padat malam ini. Mobil yang dikendarai oleh max akhirnya tiba di salah satu hotel mewah di Jakarta. Mobil tersebut langsung mengarah ke red carpet yang telah disediakan. Dan dari situ nampaklah sesosok pria tinggi nan gagah sedang menunggu kedatangan mereka. Sekar yang menyadarinya dari dalam mobil terkesiman menatap betapa tampannya pria itu yang tak lain adalah Satria. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar tak karuan, Satria terlihat seperti seorang pangeran yang sedang menunggu seorang putri. Mobil berhenti tepat dihadapan Satria pria ini menunggu seseorang yang sebentar lagi akan keluar dari mobil alphard ini. “Nona, kita sudah sampai.” Max mengingatkan Sekar dan segera keluar guna membukakan pintu mobil untuk Sekar. Sedang Sekar sendiri menelan salivanya dengan susah payah, dirinya sedikit gugup. Ralat sangat gugup. Ia tak tau kalau ternyata acaranya semegah ini. Max membuka slading door mobilnya. Satria yang menatap kedepan pada sosok wanita yang sangat cantik berdiri tepat dihadapannya ini menegang sempurna. Matanya menatap lekat pada penampilan Sekar malam ini yang menurutnya sangat sempurna dan sangat cantik. Satria yang mengenakan tuxedo berwarna maroon sangat serasi dengan warna gaun roseglod yang dikenakan oleh Sekar. Sekar yang mendapati dirinya ditatap sedemikian rupa oleh Satria sedikit salah tingkah. Satria mengulurkan tangan kepada Sekar dan segera disambut oleh wanita itu. Max menundukkan kepalanya kepada Satria dan langsung pergi dari areal red carpet. Satria tidak melepaskan genggaman tangannya, pria tersebut masih asyik memperhatikkan penampilan Sekar. “Kau terlihat sedikit tinggi malam ini.” Ucap Satria dengan suara beratnya. Sedikit menunduk melihat kearah Sekar. “Eheemm,,, P-pakai heels 12cm.” Cicit Sekar pelan membuang tatapannya dari Satria. Pria tersebut tersenyum kecil. Satria membawa tangan Sekar untuk menggandeng lengannya dan tangan kananya ia masukkan kedalam saku celana. Percayalah jika orang-orang yang melihat mereka berdua pasti akan mengira Satria dan Sekar adalah pasangan yang sangat serasi. Yang pria sangat tampan dengan badan tinggi atletisnya dan yang wanita sangat anggun cantik paripurna. Satria segera membawa Sekar kedalam ballroom tempat diselenggarakannya acara peluncuran produk terbaru dari salah satu partner bisnisnya. “Jantung gue aman? Jantung gue aman? Huhh huhh tenang Sekar tenang.” Batin Sekar yang sedari tadi tidak bisa menutupi kegugupannya. Puluhan pasang mata Pria menatap kearah Sekar. Mereka terpesona dengan penampilan wanita yang berada disamping Satria saat ini. “Apa mereka tidak bisa melihat dia sedang bergandengan dengan siapa!” Batin Satria sewot saat mendapatkan mata para lelaki yang tertuju pada Sekar. “Ck!” Sartia menghentikkan langkahnya dan melepaskan gandengan tangan Sekar yang masih melekat dilengannya. Sekar terkesiap dengan perbuatan pria itu. Ia hanya mengerutkan alis dan menatap bingung kepada Satria. Satria membuka jas tuxedonya dan segera memakaikannya kepada Sekar. “Pakai ini. Aku tak suka banyak mata yang memandang kearahm!” Kata Satria dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengetat. Sekar memutar bola matanya malas mendapati tingkah aneh pria didepannya ini. “Dih! Yang ngasih gaunnya siapa yang ngamuk siapa!! ” Batin Sekar tak habis pikir. Satria meraih pinggang Sekar dan merapatkan tubuh mereka berdua, pria tersebut sedikit meremas pinggang Sekar kuat. Membuat Sekar terkesiap dan melototkan matanya. “Jangan pernah coba-coba untuk menjauh dari jangkauan ku!” Tegas Satria menatap kemata kiri dan kanan Sekar dan beralih menatap bibir sexy yang dipoles dengan warna mauve itu. Tangannya mengusap lembut bibir Sekar. Sekar yang mendapati perlakuan sedemikian inti hanya bisa menahan nafas dan sedikit kesusahan menelan salivanya. Mengerjapkan mata beberapa kali dan menganggukan kepalanya kaku sebagai jawabnnya. “Good girl.” Ucap Satria melanjutkan langkahnya untuk bertemu beberapa rekan-rekan bisnisnya yang turut hadir dalam acara peluncuran tersebut. “Selamat Sekar, Anda sudah memasuki kandang singa.” Batin Sekar lemas. ** Sudah berada diakhir penghujung serangkaian acara. Sekar yang sedari tadi setia menemani pria ini berramah tamah dengan rekan bisnisnya mulai merasa jengah dan bosan. Yang ia lakukan hanya tersenyum manis dan tertawa kecil persis seperti pajangan. Sedang Satria tak melepaskannya barang sedetik pun. Seakan-akan Sekar kabur dan pergi meninggalkannya. Seandainya kalau pun bisa pasti sudah Sekar lakukan tapi mengingat nasib perusahaanya sekarang berada ditangannya ia urungkan niat untuk kabur. Menerima dan pasrah adalah hal yang terbaik saat ini yang bisa Sekar lakukan. Menunjuk lengan Satria yang masih saja terlibat dalam obrolan seputar bisnis. Satria yang mendapatkan perlakuan tersebut segera menoleh kesumbernya. Sekar menatap Satiar melas. “Pak, Saya haus, laper juga!” Rengek Sekar kepada Satria sambil mengerjapkan mata. Sungguh sekarang Sekar benar-benar merasakan haus dan lapar. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi tapi Satria masih saja kesana kemari menemui rekan bisnisnya. Kakinya juga sudah merasa pegal akibat heels 12cm yang ia kenakan. “Sebentar.” Jawab Satria yang segera mengakhiri obrolannya dan mencari kursi dan meja kosong untuk Sekar duduki. “Tunggu disini., Jangan kemana-mana! Saya ambilkan sebentar makanan dan minuman untukmu.” Seru Satria yang langsung meninggalkan Sekar. “Ck! Mana bisa gue kabur dalam perut kosong. Yang ada keburu pingsan gue.” Gerutu Sekar saat Satria sudah berada jauh dari hadapannya. Sambil menunggu Satria, Sekar sedikit memijit-mijit betisnya yang mulai terasa pegal dan pandangannya memperhatikan orang-orang sekitar. Sampai pada saat seorang pria yang mengenali sosoknya datang mendekat. “Sekar! Kamu bareng siapa kesini?” Rayhan yang sedikit berteriak membuat Sekar langsung berdiri dari duduknya. “Ooh Pak Rayhan, Ada disini juga?” Jawab Sekar dengan wajah terkejutnya. Satria membawa minuman dan beberapa dessert yang dibantu oleh pramusaji mengernyitkan alisnya ketika melihat Sekar sedang terlibat dalam sebuah obrolan bersama seorang pria langsung saja mempercepat langkahnya dan meletakkan bawaanya diatas meja. Satria langsung saja meraih pinggang Sekar dari arah belakang gadis itu. Sekar yang terkejut langsung saja menoleh dan semakin terkejut karena Satria sekarang sudah berada disampingnya dan menatap tajam kearah Rayhan. Rayhan yang melihat adegan didepannya ini sedikit bingung lantaran pria yang berdiri disamping Sekar adalah bukan pria yang sembarangan. Siapa yang tak mengenal Ksatria Wicaksana Adiningrat sebagai pewaris kerajaan bisnis Tirtha Holding Corporation. “Kamu..” Menelan salivanya kasar. “Kamu bareng pak Satria?” Lanjut Rayhan menatap Satria dan Sekar bergantian. Sekar juga bingung bagaimana harus menjelaskan pertanyaan Rayhan. Saat ingin membuka mulutnya Satria langsung memotong ucapannya. “Ada masalah dengan siapa Sekar berada diacara ini?” Seru Satria yang seolah seperti orang yang ingin menerkam. “Bukan begitu maksud say-“ Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Perkataan Rayhan langsung dipotong oleh Sekar. “Saya disini menemani pak Satria selaku partner bisnis beliau, pak Rayhan.” Seru Sekar tersenyum kaku berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja menegang. Dibawah sana tangan Satria tak henti meremas pinggangnya kuat, yang berusaha Sekar lepaskan tangan tersebut dari pinggangnya. “Oh saya kira kamu pasangannya pak Satria.” Ujar Rayhan tersenyum lega menatap Sekar. “Kau tersenyum?” “Memangnya kenapa jika Sekar pasanganku? Ada masalah denganmu?” Berang Satria melihat pria didepannya ini tersenyum manis kepada Sekar. Rahang tegasnya mengeras tangannya yang bebas mengepal kuat. Entah kenapa dia tak suka ada laki-laki yang bersikap sok manis dihadapan Sekar. Rayhan yang mendapatkan tatapan permusuhan dari Satria memilih untuk pergi dari hadapan dua sejoli ini. Mungkin nanti dia bisa menghubungin Sekar secara pribadi. “Saya permisi dulu, Mari Sekar.” Ujar Rayhan menatap Satria dan bergantian menatap Sekar dengan seyuman. Sekar segera melepaskan dirinya dari jeratan Saria. “Anda ini kenapa sih pak!” Sentak Sekar. “Pak Rayhan itu nanyanya baik-baik. Bukan ngajak berantem!” Lanjut Sekar menatap Satria garang. Sedang yang ditatap hanya menaikan sebelah alisnya. “Kau menyukai pria itu?” Tanya Satria enteng. “Haaa,,” Sekar menganga mendengarkan pertanyaan dari Satria. Pria didepanya ini benar-benar aneh. Sekar berbalik badan meninggalkan Satria begitu saja. Rasa laparnya tiba-tiba hilang begitu saja akibat pria aneh yang sialnya berpengaruh terhadap masa depan kerjaannya nanti. “Dasar sinting!” Cicit Sekar yang terus saja berjalan menjauh dari Satria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD