Selama tiga hari di Lombok, akhirnya aku pulang, keadaanku jauh lebih baik sekarang, karena antusias menyambut Pak Bara. Ia menjemputku di bandara. Entah kenapa ia langsung memelukku setelah aku masuk kedalam mobil. “Anak-anak mana, Pak?” tanyaku mengamati jok belakang yang kosong, biasanya diisi oleh anak-anak. Pak Bara melepas pegangan tangannya. “Mereka saya titipkan pada Mama dan Sarah agar tidak menganggu waktu kita berdua.” Jawabannya membuatku mengerutkan kening, dulu saat kencan saja ia membawa serta dua anaknya, mungkin sikapnya sekarang lambat laun berubah. Pak Bara membawaku pada kedai es krim, ia menraktirku satu cup es krim besar, aku dengan senang hati menghabiskan satu cup es krim, sedangkan ia hanya memakan wafle dengan toping es krim diatasnya. “Pak, mau gak? Ini r

