“Kenapa kamu disini?” tanya Pak Bara dingin saat aku mendudukkan tubuhku didekat kusi tunggu disebelahnya. Aku memejamkan mata, meremas sweater yang kugunakan. “Saya mau menjenguk Mbak Mala.” Meskipun ia bertingkah semacam mungkin, aku masih memiliki hati nurani untuk menjenguknya, aku dapat memaafkan semua kesalahannya tanpa ada dendam sekalipun. “Sebentar lagi kamu bersiap-siap digiring kepolisi untuk melakukan serangkaian pertanyaan tentang kejadian tersebut.” Aku melotot, dadaku tiba-tiba ditusuk nyeri. “Bapak... Melaporkan saya ke polisi? Menjebloskan saya ke penjara?” “Bukan saya, tapi Mala.” Kepalaku hanya mengangguk lemah, pasti polisi pun tidak akan percaya bahwa serentetan kejadian tersebut bukan ulahku, aku hanya bisa berdoa saja pada Allah. “Saya izin salat dhuha.”

