Mayang Pingsan

1620 Words
##Bab 8 Mayang Melemah POV Ardan ? Aku terharu sekaligus terkejut usai mendengarkan cerita Mayang, tidak kusangka ibuku melakukan hal seperti itu. Ya Tuhan, selama ini aku telah salah menuduh istriku yang tidak-tidak. Jadi teringat ketika bermalam di rumah ibu. Flashback ketika Ardan bermalam di rumah ibunya. “Jangan memanjakan istrimu dengan memberikan uang terus menerus, ia tidak bekerja apa-apa di rumah,” ucap ibu ketika aku berada di depan televisi yang berukuran 32 inchi. Sudah kesekian kalinya aku bermalam tanpa izin Mayang. Namun, untuk malam ini, ibu terus menerus mencuci otakku. “Bu, menurut Ibu, Mayang itu istri yang seperti apa?” tanyaku padanya sambil memutar channel televisi ketika iklan sedang berlangsung. Pertanyaanku memang hanya sekadar iseng, karena channel televisi yang sedang kutonton sedang iklan saja kupertanyakan pada ibu. “Menurut Ibu, Mayang itu terlalu mengandalkan kamu, dikasih baby sitter mau, tidak diperbolehkan masak ia manut, kalau Ibu menjadi Mayang, pasti nolak apa yang kamu lakukan. Merawat anak dengan tangan sendiri, masakin suami dengan tangan sendiri, itu menjadi kepuasan seorang istri sekaligus ibu,” tuturnya membuatku menoleh ke arahnya. Kedua alisku menyatu, mencerna ucapan ibu, ada benarnya, tapi Mayang memang tipe wanita yang tidak pernah protes dengan apapun keputusanku. “Memang begitu, Bu? Oh ya, Bu, aku kepingin Mayang hamil lagi, menurut Ibu bagaimana?” tanyaku seketika membuat ibu terperanjat. Posisi duduknya berubah menjadi berdiri, dan kedua tangannya diletakkan pada pinggangnya. “Ardan, kamu jangan mikir anak terus, biaya Caesar tiap tahun ke tahun tuh naik, tak usahlah punya anak lagi! Kalau Rayyan tuh tidak apa-apa, Sita lahirnya normal, terserah mau punya anak berapa juga!” tekan ibu. Ia begitu marahnya setelah mendengar aku ingin memiliki anak lagi. Persalinan Caesar menjadi alasan utamanya, biaya rumah sakit yang membuat ibu menyuruhku untuk pikir dua kali jika program kehamilan. “Uang bisa dicari, Bu, kan anak pembawa rezeki,” celetukku di hadapannya. “Uang memang bisa dicari, tapi nyesek Ardan, keluar uang hanya untuk lahiran. Lagian istrimu payah banget, lahiran normal aja nggak bisa. Tuhan tuh mengirimkan wanita untuk melahirkan normal. Apa jangan-jangan istrimu itu dosanya banyak, sampai-sampai ia tidak kuat menahan sakit untuk persalinan normal,” terang ibu membuatku mengerinyitkan dahi. “Memang ada pengaruhnya, Bu. Dosa dengan proses melahirkan?” tanyaku penasaran. “Sakit itu peluntur dosa, berati kalau sakit yang diderita double kan dosanya besar. Kan Caesar sakitnya double, udah mules juga, disobek juga. Dosanya besar banget pastinya tuh Mayang,” sahut ibu dengan memberikan statement yang kurang jelas. Aku menghela napas sambil tertawa kecil di hadapannya. Kuanggap percakapan ibu tadi suatu candaannya. Sepanjang perjalanan ke rumah Rika, aku terus mengingat kejadian sebelum Mayang menceritakan semuanya. Mungkin ini yang membuatnya tertekan dan sering menangis ketika ia menyusui Arya. Ada ancaman yang ibu lontarkan, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya demi hubunganku dan ibu pastinya. Manusia tidak berhak menolak takdir yang telah Tuhan tentukan, manusia diharuskan menerima takdir dengan ikhlas. Namun, yang dilakukan ibu adalah menyalahkan takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk Mayang. Itu yang membuat hati wanita yang telah melahirkan anakku seketika hancur berkeping-keping. Tidak hanya itu, ibu pun memeras Mayang tanpa sepengetahuan aku. Padahal, ia telah mendapatkan nafkah dariku. Uang yang kuberikan terbilang lebih dari cukup untuknya. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk meminta hak istriku. Usai bicara pada Mayang, sepertinya aku harus tanyakan hal ini pada Rika, untuk apa uang sebanyak itu? Namun, kulihat ada ibu yang sedang tertawa di teras rumahnya Rika. Aku punya ide, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, lebih baik aku menghampirinya dengan bersembunyi atau pelan-pelan mengintai ibuku sendiri. “Mas, kamu hati-hati, jangan buat keributan di rumah orang,” bisik Mayang sebelum aku melangkahkan kaki ini. “Sayang, pokoknya, kamu harus tetap berada di sini, jangan ke mana-mana,” pesanku pada Mayang. Aku langkahkan kaki ini, beranjak dengan hentakan kaki perlahan. Ada kewaspadaan juga di dalam d**a. Khawatir ibu lihat mobilku yang sengaja kuparkir agak jaug dari lokasinya. Setelah hampir sampai di depan rumah, aku bersembunyi di samping teras. Untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. Tak lupa kusilent ponsel yang kupegang, agar ketika ada telepon masuk, tidak membuyarkan penyelidikanku ini, dan tak lupa menyalakan fiture rekamannya. Dengan d**a yang amat bergetar sangat kencang, aku pun menghela napas untuk mendengarkan kenyataan meskipun pahit. “Nih, uang bagian untukmu, Rika!” ujar ibu sambil menyerahkan sejumlah uang pada Rika. “Akhirnya, setelah 2 tahun aku jadi tukang tagih, dapet bagian juga,” ucap Rika sembari terkekeh-kekeh. Aku sontak mengelus d**a ini, dadaku rasa bergemuruh, ingin sekali merampas uang yang kini ia kecup. Kemudian mereka berdua saling tertawa riang. Tidak lama kemudian, ibu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Baju daster yang ia gunakan lebih memudahkan untuk merogohnya. “Iya, gila dua tahun aku ngibulin menantu sendiri, abisnya punya menantu dari keluarga orang kaya raya, tapi pelitnya naudzubillah,” sindir ibu membuatku semakin sesak. Astaga, yang kaya raya kan orang tuanya Mayang, aku pun malu jika harus meminta-minta pada orang tuanya. Kemudian, wanita yang melahirkanku itu memberikan ponselnya pada Rika. Setelah itu ia tunjuk ke arah layar. “Apa ini? Wih, saldo rekening Bu Diah banyak banget,” ledek Rika. Wanita yang kupikir adalah teman dari Mayang, ternyata ia teman karib ibuku. “Saldoku ini, hasil morotin anak dan menantu,” celetuknya sambil terkekeh. Mereka berdua tertawa dengan bahagianya. Padahal, ada anak menantu yang terluka. “Kalau gitu, jatahku ditambah ya, masa Cuma dapat segini? Berapa ini jumlahnya?” sindir Rika sambil mengipas uang itu di hadapan ibu. Astaga, ibu .... Aku ingin teriak saja rasanya. Ada kesal bercampur sesal telah menganggapnya surga yang akan kulewati nanti. Kenapa ia tega berlaku seperti ini terhadapku? Apa aku ini bukan anak kandung ibu? Dengan d**a yang begitu sesak, mulut yang tak mampu berkata-kata lagi terhadap pernyataan yang keluar dari mulut ibu, akhirnya aku matikan rekaman suara yang telah kugenggam. Ibu takkan bisa mengelak dan berbohong lagi padaku. Ia harus diingatkan agar tidak melakukan ini lagi pada Mayang. Aku langkahkan kaki ini selangkah demi langkah. Kemudian muncul di hadapan mereka berdua yang sedang tertawa di atas penderitaan kami. “Puas kalian tertawa?” teriakku ketika baru saja tiba di hadapan mereka. Wajah nyinyirnya tiba-tiba berubah menjadi sunyi, kini mereka hanya membeku, tak ada suara tawa canda yang terdengar di telinga ini. “Ardan, sejak kapan kamu di sini?” tanya ibu. Kemudian, Rika mundur perlahan sembari meraih uang yang ibu berikan. Ibu yang memakai daster kembang rose itu mencoba menghampiriku dengan perlahan-lahan. Tangannya mulai bergelayut di lengan puteranya yang memang sudah dibiayai hingga lulus sekolah. Jika teringat pengorbanan dan jerih payahnya menghidupiku, rasanya tidak tega untuk marah kepadanya. Namun, jika teringat cerita yang dipaparkan oleh Mayang, maka hati ini teriris. Aku menatapnya lirih, air mataku pun tak terbendung lagi. Sakit melihat sosok seorang ibu yang kubanggakan ternyata tidak lebih sebagai penjahat berdarah dingin, yang tega melihat wanita lain terluka. “Bu, aku minta penjelasan Ibu sekarang juga,” tekanku. Air mata ini menjadi saksi betapa kecewanya aku pada ibu. “Nak, kamu pasti salah paham, jangan menuduh Ibu yang melahirkanmu ini macam-macam, surga anak laki-laki ada di telapak kaki ibunya,” sahutnya dengan berbagai cara meluluhkan hatiku. Aku menoleh ke arah wajahnya yang sudah mulai keriput. Kemudian, kulepaskan genggaman tangan ini dari sandarannya. “Bu, aku sudah tahu semuanya, kenapa Ibu masih menutupi ini? Sudahlah Bu, jangan sandiwara lagi!” cetusku dengan nada tinggi. Rika yang menyaksikan pertengkaran ibu dan anak pun berusaha masuk ke dalam rumahnya. “Mau ke mana, kamu?” sentakku. Ia pun menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik badan. “Maaf, saya tidak mau ikut campur, saya hanya disuruh ibumu,” celetuk Rika. “Kamu sudah terlibat dalam membantu ibuku, mau aku polisikan kasus ini!” tekanku menggertaknya. Ibu pun tersentak mendengar ucapanku. “Ardan, apa-apaan kamu, ingin memenjarakan ibumu sendiri! Durhaka kamu, Ardan!” elak ibu. “Kalau ibu tidak menjelaskan secara detail apa yang ibu lakukan, maka akan kupidanakan kalian!” ancamku. “Kamu berani dengan Ibu? Tidak kasihan dengan orang tua yang berusaha membesarkanmu sendirian? Ardan, kamu tuh salah paham, otakmu telah diracuni oleh Mayang,” rayunya. Tidak kusangka, ia masih menyalahkan Mayang dalam hal ini. “Bu, aku kecewa padamu!” tekanku sekali lagi. Tidak lama kemudian, kudengar suara orang berlarian ke arah depan. Lalu Rika memanggil salah seorang warga yang lewat di depan rumah. “Mbak Mirna, ada apa?” tanya Rika sambil menoleh ke arah keramaian. Kulihat memang ramai sekali, sampai-sampai mobilku tertutup oleh kerumunan orang. “Itu, Mbak Rika, ada wanita pingsan,” jawabnya. Tiba-tiba aku terpikirkan Mayang, ia berada di sana. Apa jangan-jangan, wanita itu Mayang? “Mbak, apa wanita itu kurus dan berambut panjang? Memakan baju kuning?” tanyaku menyelidik. Khawatir Mayang yang sedang menungguku di sana. “Iya, Mas. Kurang familiar juga sih wajahnya,” jawab wanita itu. Jantungku semakin berdegup kencang. Obrolan kami pun tak dilanjutkan. Aku benar-benar fokus pada wanita yang berada di kerumunan. Kulangkahkan kaki ini dengan cepat dan sedikit berlari. Lalu aku berusaha menyeruak dari kerumunan orang. Alangkah terkejutnya, ternyata itu memang Mayang. “Astaga, ini istri saya! Istri saya kenapa?” teriakku sambil berusaha menggendong Mayang. Kemudian salah seorang saksi memberikan keterangan padaku sambil membantu mengangkat bobot tubuh wanita yang sudah kurus, hanya berbalut kulit saja. “Wanita ini tadi saya lihat pingsan, setelah melihat darah yang keluar dari hidungnya, Mas!” sahut wanita yang kebetulan melihat Mayang ketika menungguku. Aku rebahkan tubuhnya ke dalam mobil dan mengucapkan terima kasih pada yang menolongnya. “Terima kasih banyak atas pertolongannya,” ucapku sambil menutup pintu mobil, lalu aku buka pintu mobil depan dengan cepatnya, tapi tiba-tiba ibu meminta untuk ikut denganku. “Ardan, Ibu ikut!” teriaknya. Namun, aku tak menghiraukan sosok ibu yang telah melukai hati istriku. Gubrak .... Pintu mobil aku banting dan bergegas ke rumah sakit, membawa Mayang, istriku. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD