Sehabis makan siang Nathan berada di kamar Michael bersama pemilik kamar juga wanita yang selalu mencintainya tanpa melihat keburukkan dalam dirinya. Nathan memandangi dua sosok yang sekarang dan sampai kapanpun menjadi sangat berarti untuknya.
"Maaf ...," lirih Nathan sambil mengusap sayang kepala Clarissa. Kilasan memori yang ingin sekali Nathan lupakan kini terlintas begitu saja saat dirinya tengah asik memandangi wajah damai istri dan anaknya yang tengah tertidur.
Nathan menghembuskan napasnya, ia sangat menyesal dulu memperlakukan Clarissa juga Michael dengan buruk. Apa lagi dua hari sebelum kematiannya Nathan sempat menyiksa mereka karena perkataan Agatha.
"Lionel kau tahu anakmu itu terjatuh saat pengambilan nilai olahraga, dia juga bersikap nakal pada anak lain." Begitu katanya dulu dan dengan akalnya yang setengah dia percaya saja lalu kemudian menghampiri Michael yyang kala itu tengah bercengkrama dengan Clarissa.
Memukulnya tanpa aba-aba hingga tubuh sang anak mengalami beberapa luka, padahal luka yang ia ciptakkan sebelumnya belum juga menghilang, begitu juga Clarissa yang mencoba melindungi tubuh anak berumur 10 tahun itu.
Nathan menghembuskan napasnya sekali lagi sedikit kasar. "Betapa idiotnya aku dulu sampai mempercayai ucapannya."
Lelaki itu beranjak ikut membaringkan tubuhnya dan melakukan hal sama seperti Clarissa yaitu, memeluk Michael yang berada diantara dia dan dirinya. Menutup mata perlahan-lahan hingga ikut menyusul ke alam mimpi bersama Clarissa juga sang anak.
Siang ini ketiga orang tersebut beristirahat dengan pikiran dan perasaan yang berbeda. Salah satu dari mereka menyimpan amarah yang sangat besar pada dua orang diantara mereka.
***
Nathan membuka matanya secara perlahan, pria itu langsung bangkit ketika tak menemukan dua orang yang tadi tertidur di sampingnya. Nathan kira dia bermimpi indah tadi melihat anak dan istrinya yang masih hidup dan baik-baik saja tapi, pikiran itu segera dia tepis saat menyadari sedang dimana dia sekarang.
Kaki jenjangnya melangkah turun dari ranjang berukuran king size tersebut menuju pintu keluar dan mencari keberadaan dua orang yang berharga baginya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebuah perdebatan di area taman sebelum melewati ruang tengah. Nathan langsung berlari ketika sang istri ditampar oleh wanita gila seperti Agatha.
Di tengah jalan Nathan menghentikan larinya saat melihat adegan yang tak terduga. Michael melempar mobil mainannya yang cukup membuat kening Agatha memerah. Hal yang tak pernah Nathan lihat saat umur Michael 5 tahun di kehidupannya dulu, anaknya adalah seorang yang pasif cenderung tidak peduli pada sekitar sekalipun itu Clarissa. Nathan ingat betul waktu dimana dia sering memukuli Clarissa akibat tuduhan tanpa bukti yang Agatha berikan dan respon Michael tidak seperti sekarang, dulu dia diam dan hanya memperhatikan, kemudian pergi saat Clarissa memintanya.
"Ada apa ini?" tanya Nathan setelah kembali melangkah dan berada di hadapan tiga orang tersebut. Dapat dia lihat tubuh Clarissa yang menegang sambil memeluk Michael saat dia datang.
Agatha sendiri langsung bergelayut manja padanya dan membuat dia risih akan tingkah perempuan ini dengan cepat Nathan melepaskan rangkulan Agatha di pergelangan tangannya dengan kasar, jika saja Agatha tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik mungkin wanita itu sudah terjatuh ke tanah dengan keadaan yang memalukan.
"Nathan?" Agatha bertanya dengan wajah heran ketika Nathan menolak sentuhannya. Sementara Nathan menatap tajam Agatha lalu memanggil bawahannya dengan cepat yang berada di sekitaran taman. Beruntung Nathan selalu menaruh penjaga di setiap sisi rumahnya tanpa terlewat.
"Bawa wanita ini ke ruang bawah dan jangan sampai Alex mengetahuinya!" Titah sang kepala keluarga sekaligus atasan yang tidak bisa mereka bantah sekalipun merasa bingung. Orang yang biasanya terbuka pada kepala keamanan itu kini malah menyuruh mereka menutup mulut.
Mereka mengangguk sebagai jawaban lalu pergi sambil menyeret Agatha yang terus meronta-ronta ingin di lepaskan juga teriakan perempuan itu yang mempertanyakan tingkah Nathan padanya. Pergerakan pertama yang harus Natha lakukan adalah menjauh dari Agatha dan memberi balasan setimpal pada perempuan itu. Soal Alex dan alasan mengapa keduanya mengkhianati dia itu akan Nathan pikirkan nanti yang terpenting dia harus bergerak cepat untuk menghukum manusia yang memanfaatkan rasa cintanya untuk kepentingan pribadi.
Nathan tidak sadar bahwa apa yang Agatha lakukan padanya sama dengan dia yang memperlakukan Clarissa dulu. Untuk mencapai tujuannya Nathan memanfaat rasa cinta Clarissa padanya dan membuang wanita itu saat semua sudah tercapai meski hal diluar rencana terjadi, pembunuhan Michael yang tidak ada dalam pemikirannya.
"Pipimu memerah–"
"Ibu ayo ikut denganku," ajak Michael yang menarik tangan Clarissa sekaligus memotong ucapan Nathan.
"Baiklah tapi, sebelum itu kita bereskan mainanmu dan jangan melakukan hal seperti tadi." Ucap Clarissa, dia takut Nathan akan memarahi Michael karena anaknya yang tidak membereskan mainannya apa lagi Michael baru saja membuat Agatha, wanita kesayangan suaminya itu terluka.
Namun, ada satu hal yang membuat Clarissa merasa aneh. Sikap dan cara bicara Nathan begitu kasar kepada Agatha semenjak jatuh dari tangga, lelaki itu juga tidak memarahinya seperti biasa.
Michael mengangguk mendengar ucapan Clarissa, bocah itu langsung menuruti keinginan sang ibu. Keduanya membereskan mainan yang berserakan, mengabaikan Nathan yang tengah beridam diri dengan pikirannya yang bercabang.
"Aku akan ikut membantu," ujar Nathan setelah berdebat dengan pikirannya. Bukankah dia ingin lebih dekat dengan Clarissa juga Michael? Jadi tidak salah 'kan jika dirinya membantu ibu dan anak tersebut.
"Eh, tidak usah nanti kau akan–"
"Aku tidak bertanya, tapi menawarkan diri." Potong Nathan dengan cepat lalu segera bergerak untuk membantu membereskan mainan-mainan yang berada di taman ini.
***
Malam harinya mereka kembali makan bersama bedanya kali ini bukan di kamar Michael melainkan di meja makan dengan sedikit perdebatan antara dirinya juga Michael. Anak itu bersikeras tidak ingin makan di meja makan, dia ingin tetap aman di kamarnya bersama Clarissa tanpa adanya dirinya.
Beruntung Michael mendengarkan Clarissa jadi makan malam kini terlaksanakan. Nathan merasa bahwa sebenarnya dari dulu pun Michael tak ingin bersamanya, jika di kehidupan kali ini anaknya ingin menjauh bukankah di kehidupan dulu anaknya juga begitu?
Nathan merasa pemikirannya tentang Michael salah dan anak itu memang tidak menyukainya, mungkin dulu bocah itu memendamnya karena tidak bisa bicara oleh karena itu dia hanya diam dan menangis. Ngomong-ngomong soal bisa bicara, Nathan merasa masih sedikit heran dengan kejadian ini, jadi dari pada menambah beban pikiran lebih baik Nathan bertanya.
"Oh yah, sejak kapan El sudah bisa bicara?" tanya Nathan di tengah acara makan malam.
"Ha? Bukannya kau sudah tahu bahwa El sudah bisa berbicara saat umurnya satu tahun?" Clarissa balik bertanya. Untuk kesekian kalinya wanita itu merasa aneh akan tingkah Nathan satu hari ini.
Sedangkan Nathan merasa bingung, ia memandang Michael yang asik dengan makannya. Michael anak itu bisa bicara saat umurnya baru menginjak satu tahun? Seharusnya dia tidak bisa bicara sampai umurnya sepuluh tahun, kan?! Bingung Nathan dalam hatinya. Nathan rasa dia telah melewatkan sesuatu yang penting.