"Em?"
Saat aku tiba di meja kami, aku melihat Emily duduk di tempat yang aku duduki tadi tepatnya berhadapan dengan mas Roy.
Dia tersenyum padaku saat aku memanggilnya dan segera berdiri dan memelukku.
"Hai ka, apa kabar?" tanyanya.
"I am good," jawabku seraya membalas pelukannya dan mengelus punggungnya yang sedikit terbuka karena pakaiannya. Ciri khas Emily adalah berpakaian seksi.
Aku melihat sekilas ke arah mas Roy dan wajahnya sangat tidak nyaman dan sedikit mengetat. Ada apa?
Apa dia baru saja berselisih dengan Emily?
"Sama siapa?" tanyaku. Aku pindah ke samping mas Roy yang kebetulan ada kursi kosong disana.
"Sendirian. Tadi aku lihat ka Roy duduk sendirian jadi aku samperin mau nanya kenapa sendirian. Ternyata kakak lagi ke toilet."
Aku mengangguk dan sebenarnya merasa terganggu karena kehadirannya di meja kami.
Ini makan malam romantis kami berdua dan kenapa dia tidak pengertian untuk segera pindah setelah aku datang? Kan nggak mungkin aku usir.
"Udah pesan?" tanyaku.
Restoran yang kami kunjungi ini tidaklah restoran kelas atas yang mengharuskan reservasi duluan. Ini restoran kelas menengah ke bawah tapi banyak juga kelas atas kemari karena cita rasanya memang tidak di ragukan lagi.
"Belum. Boleh gabung?"
Aku mengangguk. Sudah aku bilang, tidak mungkin aku usir walau sebenarnya aku terganggu akan keberadaannya. Aku tipe orang yang sangat memikirkan perasaan orang lain bahkan kadang sifatku ini membuat aku sakit sendiri karena rasanya aku menelantarkan diri sendiri demi orang lain.
You gaes ada yang seperti itu?
Kenyamanan diri sendiri nomor sekian.
Tapi ada yang aneh dan aku mulai memutar otakku, kenapa wajah mas Roy seperti tidak senang?
Bukankah dia dan Emily dekat karena kerja sama antar perusahaan?
Lalu tiba-tiba aku mengingat pesan yang masuk ke ponselnya tadi pagi yang bilang jam dua di tempat biasa.
Apakah benar ada meeting atau ada kaitannya dengan cheatingnya mas Roy dan Lizzy?
Apakah mungkin Emily memergoki mereka berdua dan sekarang keberadaan Emily adalah ancaman bagi mas Roy?
Hah!
Kadang aku capek dengan otak penulis yang aku miliki ini. Aku sering sekali berspekulasi dan menciptakan sebuah plot yang berantakan dan pada akhirnya membuat aku pusing sendiri.
Saat makan malam berlangsung, aku mengabaikan dan pura pura tidak melihat ketidaknyamanan suamiku yang sesekali melirik Emily tidak senang. sementara Emily, dia sangat santai dan menyantap pesanannya bahkan mencoba mencicipi pesananku tanpa rasa jijik.
"Cobain punyaku, Kak. Enak bangat!"
Aku tersenyum sambil menggeleng.
Satu hal yang aku mau sekarang, semoga jarum jam cepat berputar dan acara dinner romantis yang gagal ini segera berakhir.
***
Bad day.
Hari kesialan yang tersial.
Hari ini aku menemukan suamiku yang benar-benar selingkuh di belakangku membuat pikiranku kacau setelah tau siapa selingkuhannya. Dan sekarang, saat aku ingin berduaan dengan suamiku ada Emily yang nyempil karena tidak ada mobil katanya.
Dia datang naik taksi saking pengennya makan disini dan pada akhirnya kencan kami harus berjalan tidak menyenangkan dan terpaksa di akhiri dengan segera.
Mas Roy dalam diamnya mengemudikan mobil dan membiarkan aku dan Emily bercerita banyak sepanjang jalan kami mengantarnya pulang.
"Ka, mba Rani katanya udah mau nikah, loh!"
Rani adalah pemilik perusahaan tempat Emily bekerja dan aku mengenalnya.
"Calonnya dokter. Kata teman-teman sih mereka jatuh cinta satu sama lain karena sering bertemu. Mba Rani katanya rutin cek up ke dokter itu."
"Oh yah?"
Aku pura-pura tidak tahu saja dan menganggap ini pertama kali aku mendengarnya.
Emily dan orang-orang di perusahaan Rani mungkin tidak banyak yang tahu kasus Rani yang menyebabkan dia harus konsultasi ke psikolog.
Emily bekerja disana setelah suatu kejadian menimpa Rani.
"Ganteng tahu, Kak. Aku juga pengen punya pasangan ganteng kayak dokter itu. Kayak ka Roy juga nggak apa-apa."
Uhuk uhuk
Suamiku tersedak ludah sendiri begitu mendengar kalimat random Emily yang menurutku biasa aja di ucapkan oleh seorang perempuan.
Aku juga pernah begitu, bercita-cita menikah dengan pria ganteng. Dan ternyata, cita-citaku itu terkabul.
"Emangnya Em belum punya pacar?"
"Punya."
"Ganteng?"
"Ho oh, iya kan, ka Roy?"
Suamiku terbatuk lagi lalu berdehem singkat.
"Mana aku tahu. Aku nggak pernah lihat kamu lagi kencan,"
"Hehehe, iya yah. Pokoknya ganteng kayak ka Roy. Aku cinta bangat sama dia sampe-sampe aku rela kasih apa aja biar dia cepat-cepat nikahin aku. Anak juga gak apa apa."
Ciiiiiit
Mobil mendadak di rem membuat kami bertiga di dalam mobil terlempar ke depan dan kepalaku hampir saja membentur dashboard.
"Emily! Apa-apaan kamu itu. Nggak boleh, Em. Nikah dulu baru punya anak. Jangan kebalikan. Kamu yah."
Aku membentak Emily. Ringan bangat mulutnya bicara.
Aku kesal.
Apa harga diri perempuan sekarang ini seharga kacang goreng? Masa hanya karena ingin di nikahi rela dihamili duluan?
Aku memijat keningku yang tiba-tiba berdenyut rasanya.
Seandainya mamaku mendengar Emily bicara seperti itu pasti dia akan berceramah selama tujuh hari tujuh malam. Akan menunjuk pasangan yang hamil duluan baru nikah dan karma yang mereka dapatkan apa. Walaupun tidak semua pasangan hamidun dapat karma yah. Ada juga yang happy happy saja dn semuaa berjalan mulus tanpa hambatan.
"Kamu beneran punya pacar atau kamu cuma nge-crush sama dia?"
Dunia perempuan tidak jauh dari perasaan dan halu. Aku saja yang sudah menikah ketika menonton drama korea, aku kadang menghalu ingin punya suami seperti Ji chang wook atau Siwon atau bahkan mas Hujan a.k.a oppa Rain yang lagi hot hot nya di kalangan para penggemar drakor.
Berandai-andai jika menikah dengan mereka akan seperti apa bentukan anak yang akan keluar dari rahimku hasil pencampuran gen kami. Matanya sipit, kulitnya putih bersih kayak appanya.
Emily masih muda, sekitar dua puluh empat tahun dan termasuk golongan generasi Z yang berdarah panas. Suka melakukan apa pun yang dia mau tanpa memikirkan masa depan.
Jika dia sampai rusak begitu hanya karena jatuh cinta pada seseorang, aku yang akan merasa bersalah karena tidak bisa memegang janji pada kakaknya.
Ya, Emily adalah adik dari sahabatku semasa kuliah, Nafa.
Dia sudah berpulang tiga tahun lalu tepat dua minggu setelah pernikahanku.
Aku yang baru kembali dari bulan madu langsung berlari ke rumah sakit begitu mendengar dia dalam keadaan kritis setelah menabrak pembatas jalan saat dia hendak pulang ke rumah.
Dia menggenggam tanganku dan meminta agar aku menjaga Emily seperti dia menjaganya karena dia tidak bisa percaya pada Ayah dan ibu tiri mereka.
Waktu itu Emily masih kuliah dan dia di sponsori oleh Nafa.
Setelah kepergian Nafa, aku yang melanjutkan membiayai Emily di bantu dengan tabungan Nafa semasa hidupnya dan merekomendasikannya ke mba Rani agar di terima bekerja paruh waktu di perushaannya.
Aku berdehem sebentar lalu aku memutar tubuhku menghadap Emily yang sedang menatap suamiku.
"Em, Aku tidak melarang kamu berpacaran but, jangan pernah lakukan seperti yang kamu katakan tadi hanya karena kamu cinta bangat sama dia. I know Nafa is not with us anymore but aku yakin di atas sana, dia juga tidak ingin kamu salah langkah. Make her proud of you, got it?"
Aku memutar tubuhku kembali dan duduk dengan posisi yang benar.
"Ayo, Mas," ujarku dan suamiku segera menjalankan mobil setelah melihat sekilas ke belakang untuk memastikan keadaan Emily.
Hening
Perjalanan kami terasa panjang karena kami bertiga memilih untuk menutup mulut masing-masing.
Aku sedang berperang di pikiranku.
Apa aku kurang memperhatikan Emily akhir-akhir ini? Apa aku terlalu sibuk dengan buku dan tokoku?
Ini salahku, seharusnya aku mengajaknya tinggal bersama kami saja di rumah agar aku bisa mengawasinya lebih ketat. Tapi, aku tidak rela jika kemesraan kami di rumah nanti jadi terhalang karena harus menjaga sikap.
Tidak terasa, kami sampai di sebuah apartemen kecil.
"Mas?" tanyaku.
Maksudku, untuk apa kita disini?
"Emily tinggal disini," jawabnya seraya melepas seat belt dan memutar tubuhnya ke belakang.
"Emily, sudah sampai."
Aku mengerutkan kening. Sejak kapan Emily tinggal disini? Bukankah Nafa dan Emily dulu tinggal di rumah peninggalan mama mereka?
"Emily tinggal disini?"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Emily tertidur nyenyak.
"Tadi sebelum dia tidur, dia bilang dia tinggal di apartemen Lunar. Makanya aku bawa kesini," ujar mas Roy sebelum aku bertanya bagaimana dia tahu tempat tinggal Emily.
Apa aku tadi terlalu fokus pada ingatan masa lalu sehingga aku tidak dengar Emily bicara?
Kepalaku pusing lagi.
Aaaaaakrggghh
S!aaaaall
Aku mengumpat dalam hati. Hanya karena pria tak tau diri di sampingku aku menjadi kacau hari ini. Hariku berjalan buruk. Suasana hatiku kacau sepanjang hari.
Ingin rasanya aku berteriak di depan wajahnya instead of di dalam hati, tapi aku harus bersabar sampai aku mendapatkan bukti untuk mengkick out dia dari hidupku.
Aku menoleh pun dengan mas Roy setelah mendengar Emily melenguh.
"Sudah sampai ya?" tanyanya seraya meneliti gedung tempat tinggalnya.
Kalau bukan karena mengingat siapa dia dan menjaga arti persahabatanku dengan Nafa, sudah dari tadi aku berteriak di telinganya agar dia bangun dan bilang padanya kalau dia sudah menghancurkan me time kami malam ini.
"Thanks ya ka Uli udah antar aku sampai unit. Nggak mampir dulu? Sekalian aku tunjukin poto pacarku," ujarnya seraya tersenyum.
Aku menggeleng.
"Rumah yang lama kenapa? Kok tinggal di apartemen sekarang?"
"Aku sewain, Ka. Terlalu besar untukku sendirian. Lagian, tinggal disana membuat aku teringat terus dengan ka Nafa."
Aku mengangguk. Meski dia aku anggap adikku, aku tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya karena dia sudah dewasa. Aku menganggap diriku kakaknya karena pertemananku dengan Nafa. Dan kapasitasku sebagai kakak hanya memastikan dia hidup dengan baik dengan pilihan yang dia ambil.
"Ya udah, masuk gih. Ingat yang aku bilang tadi. Jaga dirimu baik-baik dan buatlah dirimu menjadi kebanggan Nafa, oke!"
"Ya, itu pasti, Ka. Aku juga punya janji yang belum aku lunasi ke kak Nafa. I am working on it. Just a little bit time i need."