Pasangan dan mertua memiliki peran penting masing-masing yang tidak bisa dijadikan suatu pilihan. Imbangi waktumu karena menyenangkan mertua perlu, menghargai suami juga penting.
-My Kayang-
"Eh Sayang kamu kenapa? Masya Allah sampe berdarah gini hati-hati dong, Prill." Eci tampak panik, ia meraih kotak tisu.
"Kamu duduk dulu yuk nanti Mama obatin lukanya yah." Eci tampak sibuk mencari-cari kotak P3K.
"Sayang lain kali hati-hati yah." Setelah membersihkan lukanya, Eci membalut jari Prilly dengan perban.
"Iya, Ma. Prilly minta maaf, Ma. Prilly belum siap punya anak. Emm ... Mama gak marah, 'kan?"
"Emang kenapa, Sayang? kok kamu belum siap? Ada masalah dengan Ali?" tanya Eci yang entah sudah ke berapa kalinya.
"Gak tau, Ma. Prilly belum siap aja. Lagian Prilly nikah sama Kak Ali kan nikah muda sekarang aja Prilly masih 23 tahun. Gak pa-pa ya, Ma. Nanti aja," pinta Prilly sedikit memohon. Ia sadar pasti ibu mertunya akan kecewa.
"Apa Kak Ali merasakan kecewa yang sama seperti yang Mama rasakan sekarang ini?" batin Prilly bertanya-tanya.
"Sayang, kok jadi melamun? Mama gak pa-pa kok yang penting kamu sehat. Yuk kita lanjut masaknya. Kamu masih kuat, 'kan?"
"Iya, Ma. Masih kuat kok."
Semua hidangan telah mereka siapkan di meja makan yang kini telah tersaji.
"Ma, Prilly samperin Kak Ali dulu, ya. tapi Kak Ali ada di sebelah mana yah?" Prilly meminta ijin sembari bertanya.
"Ali kayaknya lagi tidur di atas deh, Prill, coba kamu cek ke atas." Prilly mengangguk paham.
"Ya udah Prilly ke atas, Ma."
Terlihat Prilly memasuki kamar Ali, kamar yang Ali pakai dulu jauh sebelum menikah dengan Prilly. Rupanya benar Ali sedang menikmati pulau mimpi bersama kapuknya.
"Kak, bangun." Prilly menyentuh pelan pipi Ali dan menepuknya. Sangat pelan pula.
"Kayang," panggil Prilly tak menyerah.
Merasa tidurnya terganggu, Ali melenguh setengah sadar, ia menyipitkan matanya saat melihat tangan istrinya yang masih betah di pipi Ali.
"Kak, Prilly sama Mama udah masak banyak loh. Prilly juga udah siapin yang spesial untuk Kak Ali," ucap Prilly dengan riangnya. Tanpa sadar ia masih mengelus lembut pipi Ali.
"Oh iya? Wihh jadi gak sabar nih." Ali meraih lengan Prilly dan mengecupnya.
"Iya, Kak. Ya udah ayo turun sekarang, udah ditunggu tuh sama Mama," ajak Prilly yang sudah tak sabar.
"Sayang tangan kiri kamu kenapa?" tanya Ali ketika melihat jari Prilly terbaluti perban.
"Emh ... gak pa-pa kok, Kak." Sontak Prilly langsung menyembunyikan jarinya karena ia tak mau mendengar omelan dari Ali yang pasti akan memarahi atas kecerobohannya.
"Sini Kakak lihat," pinta Ali menatap Prilly serius.
"Gak usah, Kak. Aku udah gak pa-pa kok." Prilly menolak keinginan Ali sehalus mungkin.
"Kalau gak pa-pa gak mungkin ada perbannya!" desid Ali dengan memasang wajah dinginnya.
"Sini Kakak pengin lihat sebentar, Prilly!"
Prilly terus menggeleng.
"Sini!" Akhirnya Ali bertindak dengan menarik paksa lengan Prilly sampai sudah di depan objek matanya.
"Awh!" ringis Prilly karena Ali menariknya cepat hingga menyenggol sedikit lukanya.
"Kenapa bisa kayak gini?" tanya Ali penuh penekanan.
"Ta-di lagi masak kena pisau, Kak, tapi udah diobatin Mama kok." Prilly takut Ali akan marah jika dirinya ceroboh dan tak bisa hati-hati.
Ali bisa melihat jelas jika Prilly masih merasakan kesakitan pada lukanya.
Ali menarik lembut lengan Prilly dan meniup pelan jarinya yang terkena luka.
"Masih sakit?"
"Sedikit."
"Mangkanya kalau lagi masak. Lihatnya pisau jangan mikirin Kakak terus. Tau kok Kakak ganteng. Dan kamu tau milik siapa? Milik kamu, Prilly." Ali menjepit kedua pipi Prilly dengan satu tangannya. Alhasil menampilkan ekspresi Prilly memggemaskan di sana. "Jangan khawatir ada yang mengambil yah," tambah Ali dengan percaya dirinya.
"Kakak ihh, pipi Prilly masih sakit." Prilly menyingkirkan tangan Ali dan menggigit kecil di bagian jari-jari Ali.
"Kakak lupa, Barbie." Ali mengecup pipi Prilly dengan gemas
"Prilly bukan Barbie, Kayang," protes Prilly atas panggilan yang Ali berikan.
"Sampai kamu nenek-nenek kamu tetap barbie milik Kakak, Sayang."
"Cowok kok suka Barbie? Kak Ali sehat nggak sih?" kesal Prilly.
"Kalau gak sehat Kakak ada di rumah sakit, Barbie."
"Kakak!!" Prilly memekik hebat karena dengan tiba-tiba Ali membopong tumbuhnya ala bridal style.
"Sudah diam, kita turun katanya kamu udah masakin spesial untuk Kakak."
"Kak makasih, yaa," ucap Prilly mengukir senyuman, ia mengalungkan erat lengannya di leher Ali.
"Buat?" tanya Ali tak mengerti.
"Ya pokoknya makasih." Prilly mengedipkan matanya.
Jika sudah seperti ini, Ali harus kuat menahan hasrat yang telah menyerang. Ingin rasanya ia memakan istrinya itu.
Begitu sampai di meja makan, Ali mendudukkan Prilly di kursi dengan sangat hati-hati.
"Siang, Ma," sapa Ali
"Siang, Li. Ayo, makan."
"Kak, Prilly aja yang ambilin, yaa." Prilly meraih piring kosong yang sudah Ali pegang.
Ali hanya tersenyum bangga. Prilly selalu menunjukkkan rasa perhatiannya tanpa diminta. Siapa yang tidak cinta mati terhadap wanita itu.
"Nih, Kak. Semoga Kakak suka menu yang aku kombinasi sama Mama, ya." Prilly memberikan piring yang sudah terdapat nasi dan lauknya.
"Makasih, Sayang."
"Prill, Mama suapin yaa." Perkataan Eci mampu membuat dua insan itu terkaget.
"Emm gak usah deh, Ma. Prilly bisa sendiri kok," tolak Prilly halus.
"Gak pa-pa, Sayang. Sekali aja," bujuknya.
"Hm, iya deh Prilly mau tapi sekali aja ya, Ma. Gak enak dilihatin Kak Ali." Prilly melirik ke arah Ali.
Sedangkan Ali seperti pura-pura tidak melihat ia mulai bad mood jika perhatian ibunya hanya diberikan untuk Prilly saja.
"Gak pa-pa, Sayang. Gak usah malu-malu. Mumpung di sini. Nanti nyampe rumah nyesel." Akhirnya Ali ikut menimpal.
"Tuh, Sayang. Ali ngijinin kok." Prilly tersenyum tipis. Ia cukup peka dengan tatapan datar yang Ali berikan padanya.
"Mulai deh males kalo udah gini gue deh yang dicuekin lagi, gue sih seneng-seneng aja kalo Mama akrab sama Prilly, tapi bukan berarti gue jadi dilupain gini dong. Seakan Mama lupa gitu kalo di sini masih ada gue," batin Ali yang melihat mereka berdua sedang asik saling menyuapi makanan.
"Apaan sih, Li! Gitu aja lo cemburu. Keduanya kan orang yang lo sayang, gak usah pake acara cemburu-cemburuan. Lagian kenapa bisa hubungan gue sama Mama secanggung ini?" Ia melahapkan suapannya yang entah tertunda sejak kapan, karena sedari tadi Ali hanya mengaduk makanannya.
"Uhuk! uhuk!" Itu suara Ali yang tersedak oleh makananya atau hanya pura-pura itu hanyalah Ali yang tahu.
"Kak Ali kenapa, Kak?" tanya Prilly cemas.
Ali hanya menggeleng tanpa bicara.
"Minum dulu, Kak." Prilly memberi air putih untuk Ali
Tanpa kata terima kasih, Ali menerima bantuannya.
Setelah makan siang bersama, Ali dan Prilly memutuskan untuk pulang dari rumah Eci.
"Ma, Ali sama Prilly pulang dulu ya." Ali mencium tangan ibunya diikuti juga dengan Prilly.
"Iya, Li. Nanti lain kali main lagi ya ke sini. Prill jangan bosen, ya," kata Eci memberi pesan.
"Oke, Ma. Nanti kapan-kapan kita main lagi ke sini." Prilly menjawab dengan riangnya.
"Kamu harus hati-hati yah Prill jangan sampe Mama ngelihat lagi ada luka di wajah kamu. Li, kamu juga harus bisa jaga isrti kamu dengan baik yah," pesannya mengingatkan.
"Iya, Ma. Ali pasti jagain kok," ucap Ali meyakinkan.
"Ma tenang aja Kak Ali gak mungkin ngebiarin aku kalo sampe kenapa-napa. Iya, 'kan Kak?" tanya Prilly
"Iya, Sayang." Ali terseyum manis, tidak lagi memasang wajah datarnya. Karena ia yakin pasti akan menyakiti Prilly.
"Ya udah, Ma. Kita pamit yah, asalamualaikum," ucap Prilly sedangkan Ali sudah lebih dulu berlalu karna harus memasukan barang bawaan yang telah diberikan ibunya untuk mereka berdua ke dalam bagasi.
"Iya, Sayang. Waalaikumsalam. Hati-hati!" ucapnya sedikit berteriak di pengakhiran ucapannya.
Di dalam mobil saling diam, mereka bergulat dengan pikirannya masing-masing.
"Kak," panggil Prilly memulai obrolan.
"Hem," dehemnya karena Ali fokus menyetir mobil.
"Kak Ali marah yah sama aku gara-gara aku sama Mama Eci deket banget," ucap Prilly tak enak.
"Hey, nggak. Sayang Kakak gak marah sama kamu, tapi-"
"Tapi apa, Kak?" tanya Prilly tak sabaran.
"Kakak sedikit merasa tersisihkan saja bila di tengah-tengah kalian," jelasnya sukses membuat air mata Prilly jatuh.
"Ya udah maafin aku yah, Kak. Aku gak bermaksud merebut perhatian Mama kok, maaf kalo Kakak marah gara-gara aku terlalu asik sama Mama, aku cuma rindu sosok ibu, Kak." Ali merasakan Prilly yang sudah menangis, karena ia dengar dari suaranya yang bergetar. Kini Ali meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"Hey, Sayang jangan sedih, Kakak gak melarang kamu buat deket sama Mama kok. Silakan kalo kamu mau anggep Mama seperti ibu kandung sendiri gak pa-pa kok. Kakak seneng kalo kamu deket sama Mama." Ali menghapusi air mata Prilly.
"Tapi Kak Ali marah sama aku." Air matanya tak henti-hentinya untuk ke luar.
"Nggak, Sayang. Kakak gak marah lagian kalo Kakak marah bukan marahnya sama kamu tapi sama Mama kayaknya Mama beneran udah lupa sma Kakak, Prill. Sudah kamu jangan sedih yah," bujuk Ali.
"Kak Ali jangan marah sama Mama juga. Mama gak lupa sama Kakak. Mama cuma fokus memerhatikan aku, Kak. Maaf kesannya aku rebut perhatian Mama." Kini Prilly menyalahkan dirinya.
"Syutt. Udah, Sayang Kakak gak marah sama siapa-siapa kok. Udah jangan nangis nanti cantiknya hilang tau," goda Ali
"Ihh, Kak Ali mah gitu kalo emang udah dasarnya cantik ya walaupun nangis tetap cantik lah kayak aku, hehe." Prilly paling tidak mau jika Ali meledeknya tidak cantik.
"Iya, tapi kan kalo kamu senyum lebih cantik, Barbie." Ali kembali melajukan mobilnya.
"Oh iya, Prill. Kakak mau tanya sesuatu sama kamu."
"Tanyakan saja, Kak."
"Emm, tadi kenapa kamu gak jujur soal luka di pipimu?" Sesekali Ali melirik ke arah Prilly disela-sela menyetir.
"Kamu tau, 'kan, Kakak paling tidak suka kamu berbohong," lanjut Ali.
"Ma-af, Kak. Aku cuma gak mau nantinya Mama sampai marahin Kak Ali."
"Ya gak pa-pa kalo Mama marahin Kakak yang penting bukan marah sama kamu."
"Kenapa gak sekalian kamu aduin kelakuan kasar Kakak sama kamu? Biar Kakak dapat hukuman yang pantas dari Mama. Dan itu cukup menebus kesalahan Kakak sama kamu, Sayang."
Prilly tak mengerti jalan pikiran Ali. Harusnya Ali senang jika Prilly menutupi aibnya.
"Istri yang baik gak mungkin membeberkan kesalahan suaminya ke siapa pun, walaupun itu orang tua kita sendiri, karena itu termasuk aib, Kak. Dan aku pengin jadi istri yang baik untuk Kakak." Ali cukup paham atas jawaban yang Prilly berikan.
"Makasih ya, kamu rela berbohong untuk Kakak." Ali mengusap lembut pipi Prilly dari samping.
"Tetap saja kamu salah, sudah berbohong. Kakak gak suka! Dan kamu harus Kakak hukum!"
Degh!
Dada Prilly sesak. Ia tak mengerti hukuman apa yang Ali maksud.
"Kakak tetap mau hukum Prilly, ya?"
"Karena kamu bersalah."
"Ya udah sebutkan hukuman apa yang harus aku jalani." Prilly memilin baju bagian bawahnya.
"Kamu mau tau hukumannya apa?"
Prilly menatap Ali tak mengerti.
"Mau tau nggak?" Prilly tak kunjung menjawab.
"I-ya, Kak."
"Hukumannya kamu harus mengikuti Kakak ke mana pun Kakak pergi."
"Memangnya Kak Ali mau pergi ke mana?" Ali tersenyum simpul melihat tatapan polos yang Prilly tunjukkan.
"Akan Kakak beri tahu, kalau nanti sudah sampai."
Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan, Ali membukakan pintu mobilnya untuk Prilly.
"Ini di mana sih, Kak? kok tempatnya sepi terus serem gini yah," protes Prilly begitu melihat keliling sekitar.
"Syuttt, Kamu sedang Kakak hukum Prilly! Jangan banyak protes."
"Oh, iya. Maaf Kak. Aku kan lupa."
"Sekarang Kakak minta kamu tutup mata pake ini." Ali mengeluarkan kain penutup mata dari saku jaketnya.
"Kenapa harus tutup mata? Kakak mau sasarin Prilly di tempat ini ya? Terus nanti Kakak pulang dan ninggalin Prilly sendiri di sini. Prilly takut, Kak. Kakak hukum Prilly di rumah aja." Prilly mengerucutkan bibirnya sembari memohon.
"Udah sini Kakak tutup sekarang. Kakak gak akan macam-macam."
"Ayo, jalan." Ali menuntun Prilly menuju suatu tempat.
"Sekarang kamu buka mata kamu."
"Pokoknya kalo hukumannya berat, Prilly gak mau kenal Kak Ali lagi! Hiks."
"Jangan banyak omong. Cepat buka! Sebelum Kakak benar-benar tinggalin kamu sendiri di sini!" ancam Ali sukses membuat Prilly semakin menangis.
"Kakak tetap di sini Prilly mohon...." Prilly membuka penutup matanya dan....
Alangkah terkejutnya Prilly begitu melihat ke arah sekitar. Di mana dirinya berdiri di suatu taman yang begitu indah. Mata Prilly kembali memanas setelah pandangannya menyapu pada rerumputan hijau bertuliskan I ❤ U PRL.
"Kak Ali ini...." Mulut Prilly berhenti bicara seakan tiba-tiba dirinya bisu. Ia menggeleng tak percaya. Tak tahu harus berkata apa.
"Suka?" Ali tertawa memasang wajah tanpa dosa. Tega-teganya ia menakut-nakuti Prilly soal hukuman, kalau hukumannya indah seperti ini.
"Ini serius, Kak?" Tangisan Prilly berubah menjadi tangisan bahagia. Ali merasakan jelas perubahan dalam raut wajah Prilly.
Mengapa bisa seromantis itu? Pikir Prilly dalam angan-angannya.