Alfian menundukkan wajahnya saat merasakan sela-sela jarinya terisi dengan lembut. Wajah cantik Anneta menyambutnya, anggukan kecil dari gadis itu seolah memberinya sebuah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apa yang sudah terlewati adalah pelajaran berharga. Tidak perlu disesali karena memang semua sudah menjadi ketentuan Tuhan. Alfian menarik napas lembut, mengisi paru-parunya yang terasa sesak sejak tiba di tempat ini. Di mana cinta pertamanya telah tidur dengan tenang di peristirahatan terakhirnya. "Nai ... aku datang lagi. Akhirnya, aku bisa membawa yang kamu inginkan ke sini," kata Anneta yang sudah lebih dulu bersimpuh di depan gundukan itu. Kepalanya mendongak, lalu tanggannya bergerak untuk menarik Alfian agar melakukan hal yang sama. "Nai, aku nggak kenal kamu, tapi

