“Ngapain lo ke sini?” “Jc. Kita perlu bicara. Tidak enak kalau kamu terus-terusan marah padaku tanpa sebab,” bujuk Kaysha. Sekalipun sahabatnya itu ketus, bahkan sejak tadi sahabatnya itu menolak Kaysha pegang tangannya. Tapi Kaysha tak akan menyerah. Kaysha tidak ingin sahabatnya berlarut-larut membencinya. “Jc. Aku mau kamu datang ke pesta kecil pertunanganku.” Jc berbalik badan setelah sejak tadi betah menatap keluar jendela pandangi kendaraan yang melintas di bawah. Bukan tatapan bahagia yang dilontarkan sahabatnya itu, melainkan tatapan penuh benci dengan kedua matanya yang tajam seolah kobaran api siap membakar sahabatnya itu. “Jadi kamu beneran mau bertunangan?” Sebentar, Kaysha kembali mencerna kata ‘Jadi’ yang Jc tanyakan. Apa kini si mafia gila itu kembali berulah pada Jc?

