Jazelyn and instinct healer

1051 Words
Jazelyn sampai dirumah Aleandra saat pukul 8 malam. "Ale, kau sudah pulang?" tanya Adrian yang tiba-tiba muncul dari sebuah kamar dengan pakaian santainya. "hm i iya" ujarnya gugup membuat kening Adrian mengkerut. sebenarnya tadi Aleandra sudah memberitahunya kalau Adrian sudah menyelesaikan tugasnya, makanya dia kembali kerumah perkumpulan mereka. bahkan Aleandra juga mengatakan dia akan tidur berdua dengan Adrian dirumah itu tentu saja dengan kamar yang berbeda. awalnya Jazelyn terkejut karena dia tidak pernah menginap satu atap dengan laki-laki asing, tapi karena sudah terlanjur bertukar jadi dia pun pasrah. "kau kenapa" tanya pria yang sebaya dengannya itu dengan heran. "hm tidak apa-apa kok, aku tidur Luan ya soalnya besok harus ke museum lagi" ujar Jazelyn mencoba bersikap seperti biasa. "memangnya kau sudah makan?" tanya Adrian. "belum hehe" jawabnya dengan cengiran polos. "yaudah ayo kita makan bersama tadi aku sudah beli makan malam kita" ujar Adrian mengajak Jazelyn kemeja makan yang dikelilingi 4 kursi. mereka berdua pun makan malam dengan suasana hening, membuat Adrian merasa heran karena biasanya gadis didepannya ini selalu membuka percakapan tentang kesehariannya karena ia memandang Adrian sebagai sahabatnya begitu juga dengan Shaka sakura. lain dengan perasaan terpendam Adrian pada Aleandra yaitu lebih dari seorang sahabat, tentu saja tidak ada yang tahu itu karena Adrian tidak seberani Shaka yang langsung mengungkapkan perasaan itu pada sakura, tentu saja dia berani karena mereka memiliki perasaan yang sama, sedangkan Aleandra tidak begitu. setelah makan malam selesai "besok kutemani ke museum ya" ujar Adrian dengan nada memelas. "hm baiklah" ujar Jazelyn lembut, membuat Adrian tersenyum sumringah. biasanya Aleandra sangat benci jika jalan hanya berdua dengan Adrian karena pria itu akan seperti kucing yang selalu menempel padanya kemanapun dia pergi. walaupun tak menolaknya Aleandra tetap akan memberi peringatan tegas untuknya, tapi tidak untuk malam ini, apakah mungkin Aleandra sudah mulai menyukainya lebih dari sebagai sahabat? pikir pria itu. keesokan paginya mereka berdua bersiap-siap pergi ke museum dengan motor sport milik Adrian. lagi-lagi Adrian dibuat bingung karena tak adanya penolakan dari gadis yang biasanya akan memarahinya dan menyuruhnya untuk memesan taksi saja, tapi sekarang gadis itu sudah dengan santai duduk dibelakang dengan tangan yang bertautan didepan perutnya. "hm Adrian bolehkan aku memegang pinggang mu?" tanya Jazelyn dengan gugup, karena takut jatuh jika tidak berpegangan. "boleh kok" ujar Adrian dengan senang hati, akhirnya Jazelyn meletakkan tangannya dimasng-masing Sisi pinggang Adrian. biasanya Aleandra memanggil nya dengan sebutan yan kadang kalau sudah kesal ayam, tapi melihat nama lengkapnya dipanggil seperti itu membuat dia lebih percaya diri lagi kalau Aleandra mulai menyukainya. sedangkan Jazelyn memang sudah terbiasa dibonceng pakai motor sport milik abangnya yaitu Jeremy. saat sekolah dulu Jeremy selalu mengantarnya dengan motor itu tapi dengan Jazelyn memakai celana olahraganya lalu ditoilet sekolah diganti dengan rok. Jazelyn berharap ia tidak melakukan kesalahan karena melihat wajah bingung Adrian berkali-kali. sesampainya di museum.... mereka masuk kedalam menatap sekitar yang masih sepi karena museum baru saja dibuka. Jazelyn berjalan disamping dinding yang terdapat banyak lukisan terpajang, menelitinya satu-satu. tapi ada yang membuatnya harinya geli yaitu Adrian yang mengikuti setiap langkahnya dan juga berhenti jika Jazelyn berhenti untuk meneliti lukisan tersebut. "Adrian kau kenapa" tanya Jazelyn dengan tertawa geli, beda jika Aleandra yang akan memarahinya karena mengikutinya terus menerus. "gak papa kok" jawab Adrian cengengesan. "lalu kenapa mengikutiku terus" tanya Jazelyn dengan senyuman gelinya yang membuat Adrian takjub dengan wajah gadis itu yang semakin cantik. "aku takut kesasar" tentu saja itu hanya bualan Adrian semata. tapi Jazelyn mengangguk percaya saja. setelah memeriksa dan melihat-lihat barang-barang kuno lainnya dengan sedikit obrolan tentang museum itu pada akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. saat berjalan menuju meja kosong, tanpa disengaja seorang pelayan yang membawa nampan minuman menabraknya membuat baju pria itu basah dan kotor. "eh maaf tuan saya tidak sengaja" ujar pelayan itu panik sambil menunduk. Adrian dan Jazelyn masih dengan wajah terkejut menatap kepala pelayan yang menunduk. "hm iya" ujar Adrian singkat karena kesal sambil berusaha menyingkirkan kotoran jus yang tertumpah dibajunya. pelayan itu langsung membersihkan pecahan gelas dengan cepat tapi karena terlalu gugup dengan banyak pasang mata yang melihatnya membuat tangannya terkena serpihan kaca, Jazelyn langsung membantu pelayan itu dengan telaten tanpa terkena serpihan kaca. "terimakasih nona" ujar pelayan itu sambil memegang nampan berisi pecahan kaca. sebelum pelayan itu pergi, Jazelyn menyelipkan plester yang selalu dibawanya ke kantong pelayan itu karena tangannya sibuk memegang nampan. pelayan itu berterimakasih sekali pada Jazelyn. setelah insiden itu mereka pun makan siang , Adrian takjub dengan kebaikan gadis didepannya karena biasanya dia takkan sepeduli seperti tadi. saat sedang menunggu pesanan datang, Jazelyn menarik kursinya menjadi bersebelahan dengan Adrian dan langsung mengambil tisu yang tersedia untuk mengelap baju Adrian walaupun tak langsung kering tapi setidaknya kotoran dari jus buah itu bisa disingkirkannya, tentu saja debaran dijantung Adrian semakin cepat saat gadis itu menyentuhnya. "Adrian, tadi nampan itu juga ada teh hangatnya bukan?" tanya Jazelyn mendapatkan anggukan dari Adrian yang sedang menatapnya memuja. "kalau begitu kita pulang saja ya setelah makan biar mengobati badanmu mungkin saja terkena teh hangat tadi membuatnya merah dan bisa saja kau akan mengalami nyeri" ujar Jazelyn dengan perhatian lembut diwajahnya, Adrian yang terperangah hanya mengangguk menurut tanpa diketahuinya gadis didepannya seorang yang melewati kursus kedokteran selama 2 tahun lebih. setelah makan siang mereka pulang, gadis itu langsung menyuruh Adrian duduk disofa sedangkan dia mencari es batu dikulkas, lalu membungkusnya pada kain kecil. "Adrian buka bajumu" perintah Jazelyn sambil duduk dan meletakkan mangkok yang berisi es batu yang terbungkus kain kecil. pria itu merasa seperti melayang walaupun kata-kata gadis itu berniat untuk mengobatinya tapi lain dengan hati Adrian yang sudah berbunga bunga melihat perhatian tersebut, karena jarang sekali Aleandra bersikap peduli kadang malah menyakitinya saja. Adrian membuka bajunya menampilkan otot- otot perutnya, tapi Jazelyn biasa saja karena tugasnya dirumah sakit memang sering memeriksa tubuh pasien dengan stetoskop miliknya. dengan telaten Jazelyn menyapukan es batu yang terbungkus kain itu dibadan Adrian. pria itu menatap gadis itu dengan nafas memburu karena nafsu yang mulai muncul dihatinya. saat Jazelyn ingin menarik tangannya karena memang sudah selesai, tapi tangan Adrian tiba-tiba menahannya. lalu mendekatkan wajah mereka dan saat ingin menciumnya, gadis itu langsung panik dan refleks menjatuhkan es batu itu ke kaki Adrian. jadilah momen romantis yang akan tercipta dibatalkan oleh kecerobohan Jazelyn. saat ingin membereskan es batu kepala mereka bersentuhan dengan lumayan keras karena mereka sama-sama menunduk untuk membereskan es batu tersebut, jadilah mereka tertawa melihat tingkah masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD