Badai ditengah musim semi

2438 Words
Setiba Haikal didalam ruangan Chacha. Cowok itu tampak terkejut. Tak ada satu pun orang didalam sana. Tempat tidur yang sempat digunakan Chacha terlihat rapi, dan baru saja dibersihkan. Mantan kekasihnya itu telah pergi, tanpa meninggalkan kabar, atau tanda, dimana Haikal bisa menemukannya kembali. Langit seketika bagai runtuh diatas kepala. Membawa kehancuran beserta kecewa. Lagi-lagi Chacha mengkhianati. Pergi seorang diri tanpa mau menunggunya lagi. Cowok itu menatap nanar pada tempat dimana dirinya bersama Chacha hampir terlena oleh suasana. Menumbuhkan berbagai perasaan bercampur aduk, antara cinta dan kecewa. Haikal mengepalkan kedua tangannya kuat. Menyalurkan seluruh rasa kesal, yang membawanya pada rasa dendam. Membuat keyakinan akan cinta semu sang mantan sangatlah kuat. “Kal, apa kamu baik-baik saja.” Lirih Risa, diusapnya dengan lembut lengan cowok itu. “Kita cari Chacha dibawah, siapa tau dia masih disana.” Usulnya menenangkan. “Tidak perlu, kita pulang saja.” Ungkapnya terlanjur kecewa. Rasanya seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Bersama Risa, Haikal menarik tangan gadis itu, membawanya pergi dari rumah sakit tersebut. Sepanjang perjalanan pulang mengantar Risa kembali kerumah. Haikal sedikit pun tak bersuara. Didalam mobil berwarna hitam, yang terus melaju diatas aspal. Cowok itu seolah larut dalam perasaannya sendiri. Menikmati setiap perih yang meremas jantung hati. Hampir setengah jam berpacu dengan kemacetan dan padatnya kendaraan di jalanan, mobil hitam itu berhenti sempurna didepan rumah Risa. Sambil melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, Risa berkata. “Kamu masuk dulu kan?” ucap gadis itu menawarkan. “Tidak usah.” Jawab Haikal datar. Risa menghela nafas kecewa. Merasa diabaikan oleh kekasih barunya. “Ya sudah.” Tukasnya, setelah itu menutup pintu mobil tersebut dengan keras. BRAAK!!! Tanpa pikir panjang lagi, Haikal kembali melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia akan menemukan gadis yang berusaha menghindarinya. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, akhirnya Haikal sampai didepan rumah Chacha tepat tengah hari. Hampir sepuluh menit, cowok itu menunggu. Sang empu pemilik rumah tak jua kembali, satu kesimpulan, Chacha memang sengaja menghindari. Haikal tetap akan menunggu, sampai Chacha kembali, cowok itu menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam di belakangnya. Cukup lama, akhirnya sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Sampai muncul wajah seorang gadis ayu nun manis yang keluar dari dalam mobil tersebut. Gadis yang telah dinantikan. Chacha terlihat begitu lesu. Terlebih ketika kedua matanya menemukan sosok yang tak ingin ditemui. Gadis itu menghela nafas panjang. Bersikap seolah tak melihat keberadaan Haikal. Gadis itu melangkah seperti biasa, melewati cowok itu begitu saja. “Aah…” pekik gadis itu, tepat ketika Haikal mencengkeram lengannya. Menahan gadis itu untuk tidak melanjutkan langkahnya. “Lepas.” Serunya. Gadis itu meronta, berusaha melepaskan lenganya dari tangan Haikal. “Kenapa kamu tidak mau menungguku?” Tanya Haikal, akhirnya cowok itu pun berucap, setelah sebelumnya diam seribu bahasa, sambil melempar tatapan tajamnya pada Chacha. Membuat gadis itu sedikit takut. “Aku tidak mau merepotkan kamu lagi.” Ungkap Chacha datar. Sebagai mantan, gadis itu tak ingin menggantungkan hidupnya pada Haikal lagi. Sedikit pun gadis itu enggan untuk menatap wajah Haikal. Rasanya begitu muak. Sampai ingin kesepuluh jarinya mencakar wajah tampan Haikal dengan kuku panjangnya. “Lepas. Aku lelah. Aku mau istirahat.” Katanya, tak ada sedikitpun ekspresi yang ditunjukkan dalam kalimat yang diucapkan. Terdengar begitu datar. “Kenapa kamu berubah. Apa karena ada laki-laki lain yang sudah mengisi hatimu?” sindir Haikal. Mengingatkan Chacha kembali pada tuduhan Haikal beberapa waktu yang lalu. Gadis itu pun seketika mengangkat wajahnya, membalas tatapan elang di depannya. “Apa maksudmu? Masih belum puas, kamu menuduhku berselingkuh?” tukasnya, menjabarkan maksud ucapan Haikal. Seketika saja, tubuh Chacha terasa panas, ditambah lagi panas dari terik matahari, semua terasa seperti api yang membakar jiwanya. Haikal menaikkan sebelah bibirnya. Dengan senyum sinis menatap Chacha. “Aku tidak akan puas. Sampai kamu benar-benar mau mengakuinya.” Katanya dengan amarah yang sudah melingkupi seluruh jiwanya. Chacha mengepalkan kedua tangannya kuat. Mantan kekasihnya itu benar-benar tak percaya lagi padanya. Jiwanya meronta, ingin berteriak bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan oleh Haikal. Sungguh kecewa rasanya. Semakin perih luka hati yang masih segar diderita. “Terserah, kamu mau menuduhku apa. Pengakuanku tetap sama, aku tidak pernah melakukan apapun seperti yang kamu tuduhkan. Satu-satunya laki-laki yang ada di hatiku hanya kamu. Dan satu-satunya alasanku berubah adalah kamu, selamat karena kamu telah berhasil menghancurkan hatiku hingga habis tanpa sisa.” Ungkapnya lagi. “Lepas.” Pungkasnya dengan nada tenang, namun mengisyaratkan kekecewaan didalamnya. Pengakuan gadis itu terasa seperti palu yang berhasil memukul jantung Haikal. Meruntuhkan seluruh jiwa, hingga berakhir dengan luka. Merendam seluruh benci, memudarkan kecewa, hingga terlihat cinta kembali. Berkali-kali Haikal mencari letak kebohongan dari sorot mata yang terpancar. Berkali-kali pula cowok itu mengingat tuduhannya hingga perpisahan menjadi satu-satunya jalan keluar. Kenangan pahit yang sempat diucapnya, terasa menumpuk memenuhi d**a. Menghabiskan seluruh udara. Menyerap seluruh darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Sesak. Pun juga sesal. Silih berganti menghancurkan hatinya sendiri. Cengkarman tangannya dilengan Chacha seketika terlepas. Terkulai lemas, disamping tubuhnya. Haikal hanya bisa menatap nanar, gadis yang berjalan lemah menuju rumah. Sakit hatinya terasa berkali-kali lipat, dibandingkan dengan ketika gadis itu pergi meninggalkannya dengan segala tuduhan yang diberikan. Kini, gadis itu kembali pergi dengan segala kecewa karena sikapnya. Tak pernah percaya. Berpegang teguh pada fakta. Dan, bukan keyakinan. Satu hal yang baru saja disadari oleh Haikal. Cemburu telah membutakan seluruh mata hatinya. Chacha tak mampu lagi menahan seluruh sesak yang semakin menumpuk didalam d**a. Kakinya terasa begitu lemas. Rasanya tak akan sanggup ia mencapai rumah. Sekuat tenaga, gadis itu menahan cairan yang mulai menumpuk di pelupuk mata. Menjadikan dirinya terlihat tegar. Hingga sampai gadis itu didepan pintu. Tangannya terasa bergetar. Untuk sekedar mendorong pintu tersebut, rasanya sungguh tak sanggup. Chacha bernafas dengan lega. Akhirnya bisa masuk kedalam rumahnya. Dibalik pintu, yang belum tertutup sempurna. Gadis itu tak sanggup lagi menahan seluruh gejolak dalam hatinya. Tangisnya pun pecah. Air matanya jatuh bergelinang membasahi pipi. Menumpahkan segala luka yang terasa kuat menusuk d**a. Mungkin dengan keluarnya air mata, sedikit bisa membuat hatinya lega. Sedang, didepan pintu. Haikal masih berdiri, mendengarkan dengan seksama isakan tangis Chacha yang terdengar begitu menyayat hati. Tangannya terangkat untuk membuka pintu. Namun kemudian ditahannya. Mengambang diudara. Sesungguhnya ingin sekali Haikal menemani Chacha. Menyalurkan luka yang diderita gadis itu, membaginya, dan bersama melewatinya. Haikal terlalu berkeras hati. Diurungkan niatnya itu dan memilih untuk pergi. Mungkin saat itu akan lebih baik membiarkan Chacha sendiri. Lain waktu, Haikal berjanji akan kembali lagi dengan membawa senyum manis gadis itu secerah mentari. Mobil hitam yang dikendarai oleh Haikal itu akhirnya meninggalkan rumah Chacha. Bekali-kali cowok itu menghembuskan nafasnya, untuk sekedar mengurangi sesak. Pikirannya melambung tinggi, membayangkan sakit hati yang Chacha alami. Menyesal. Sudah berlaku kasar pada satu-satunya gadis pemilik hati. Haikal kembali menghembuskan nafasnya panjang. Kesibukannya memikirkan Chacha, membuatnya tak menyadari seseorang tengah menyeberang didepannya. “Aah…” lengkingan gadis itu seketika membuyarkan Haikal dari lamunanya. Cowok itu seketika melebarkan kedua matanya. Kakinya spontan menginjak rem dengan kuat. Hingga menimbulkan bunyi decitan menusuk telinga. “Ckiittt…” Haikal kembali menghela nafas lega. Tak sampai menabrak orang didepannya itu. Kepalanya tertunduk diatas setir kemudinya. “Sayang kamu tidak apa-apa?” kata seorang cowok pada wanita yang hampir menjadi korban. Cowok itu kemudian berjalan kearah mobil Haikal. Mengetuk dengan keras kaca berwarna gelap tersebut. “TOK TOK TOK.” “Bisa keluar sebentar.” Seru cowok itu dengan suara yang terlihat tegas, yang terlihat oleh Haikal dari pergerakan bibirnya. Pun Haikal segera melepas sabuk pengaman, dan menghampiri cowok tersebut. Cowok itu terlihat begitu marah, sampai tangannya menarik kuat kerah baju yang dikenakan Haikal. “Mas, bisa kan mengendarai mobilnya?” sindir cowok itu pada Haikal. “Maaf. Saya tidak sengaja.” Balas Haikal sopan, tanpa ada sedikit pun emosi yang tergambar di wajahnya. “Saya tau, kamu tidak sengaja. Kalau disengaja itu namanya pembunuhan!” tegasnya lagi. “Tapi kamu bisa kan lebih hati-hati lagi.” Pungkasnya, sambil menyentak dengan keras kerah baju Haikal. Setelah itu menghampiri gadis yang masih terlihat bengong. Paras cowok itu seperti tak asing lagi bagi Haikal. Rasanya seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana. Maka, Haikal pun menahan kedua manusia itu pergi. “Tunggu.” Seru Haikal. “Sepertinya kita pernah bertemu.” Ucapnya lembut. Haikal memperhatikan wajah cowok didepannya itu dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Sepertinya, aku juga pernah melihatmu.” Sahut sang gadis yang berada dalam rangkulan cowok itu. Gadis itu pun tampak berpikir keras, sambil menepuk pelan dagunya dengan telunjuk jari. “Aah…” seru gadis itu riang, mengangkat telunjuk yang digunakannya, membuat perhatian kedua cowok itu seketika tertuju padanya. “Kalau tidak salah, kamu Haikal kan?” tanyanya. Dahi Haikal seketika mengkerut, menampilkan beberapa garis lipatan disana. Menimbulkan satu pertanyaan dibenak Haikal. Dari mana dia tau namaku. Lirih Haikal dalam hati. “Kamu jangan sok kenal.” Tegur cowok itu pada gadis disampingnya. “Iya Yang, aku memang tidak kenal. Cuma aku tau, dia ini.” Tunjuk gadis itu pada Haikal. “Kekasihnya Chacha.” sambungnya. “Iya kan?” katanya meminta persetujuan dari Haikal. Cowok itu pun hanya melirih panjang. “Oh…” Baru mengerti. Senyum kikuk, bercampur bingung, seketika terbit diwajah tampan Haikal. “Kalau benar kamu memang pacarnya Chacha. Sorry, aku tidak ada maksud bersikap kasar seperti tadi. Aku Cuma tidak mau saja, calon istriku kenapa-napa.” Ungkapnya, dengan kedua mata tak lepas menatap wajah cantik dalam rangkulannya. Menciptakan rona merah dikedua pipi gadis itu. “Calon istri?” Tanya Haikal memastikan, takut salah mendengar, karena terakhir kali ia melihat. Cowok itu begitu mesra bergandengan tangan dengan Chacha. Dan, hal itu pun dimanfaatkan oleh Haikal untuk lebih memperjelas apa yang pernah dilihatnya. Meski ia tau Chacha tak pernah berbohong padanya. “Bukankah kamu sama Chacha…” tuduh Haikal. Cowok itu ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Jadi kita bertiga dulu itu bersahabat baik sejak SMA, dan sampai sekarang. Hanya saja beberapa tahun ini kita jarang sekali ngumpul bareng.” Potong cowok itu, dan seketika membuat jantung Haikal ingin mencelos ditempatnya. “Tapi aku pernah melihat kalian jalan berdua?” Tuduhnya lagi. “Dan, kado sama bunga itu.” tanyanya. Pasangan itu tampak bingung, dan saling melempar pandangan. Namun, detik selanjutnya, si gadis teringat sesuatu yang membuatnya menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Oh…” lirihnya. “Kado sama bunga itu dari kita. Sebenarnya itu bukan Hadiah, Cuma sepotong gaun supaya bisa dipakai Chacha buat jadi pagar ayu, pas kita nikah minggu depan.” Terang gadis itu dengan senyum yang terlihat begitu lebar. Entah perasaan apa lagi yang dirasakan oleh Haikal saat itu. Disisi lain cowok itu benar-benar merasa lega. Namun, juga kecewa pada dirinya sendiri. Bersikap egois, menyudahi hubungan cintanya begitu saja, tanpa mau mendengar alasan yang sesungguhnya. Haikal tersenyum bahagia, juga sedih. Dirasakannya bersama. “Oh iya. Ini undangan untuk kamu. Jangan lupa datang.” Kata cowok itu sambil menyerahkan sepucuk undangan pernikahan pada Haikal. “Pasti. Aku pasti datang.” Jawab Haikal yakin. *** Pagi itu, harusnya menjadi pagi terindah. Langit terlihat begitu cerah. Tak ada setitik pun awan mendung yang berani menampakkan diri. Hari itu akan menjadi hari yang menyenangkan bagi insan. Cuaca yang sangat bagus. Burung-burung terdengar saling berkicau ria. Menyanyikan lagu selamat pagi, sebagai ungkapan menyambut mentari. hari itu, akan menjadi hari yang paling menyenangkan. Tak akan ada hujan. Namun, semua itu tidak berlaku bagi wanita berparas ayu nun manis, yang kerap disapa dengan sebutan Chacha. Gadis itu justru merasakan badai besar tengah melanda hatinya. Memporak-porandakan seluruh jiwa. Membanjiri seluruh raga dengan air mata. Membekukan hati hingga tak bisa lagi merasakan cinta. Sepertinya tak akan ada lagi musim semi dalam hidupnya. Pagi itu, Chacha terbangun dengan wajah yang nyaris tak menyerupai wajah manusia. Kedua bola matanya tampak begitu merah. Dengan lingkaran hitam seperti panda. Kelopak matanya terlihat melepuh, sebab menangis sepanjang hari. Rambut panjangnya mencuat kemana-mana. Kacau, dan berantakan. Tanpa make-up wajah gadis itu terlihat begitu pucat. Lesu, tak bertenaga. Tak ada senyum secerah mentari. Pun juga semangat pagi. Datar. Tanpa ada ekspresi. Chacha melakukan sedikit peregangan, untuk mengurangi rasa kaku disetiap sendi, dan juga otot tubuhnya. Rasanya, sekujur tubuh gadis itu bagai remuk. Kembali menghela nafas panjang. Setelah itu bergegas membersihkan diri didalam kamar mandi. Gemericik air dingin yang membasahi tubuh Chacha dari ujung rambut, terasa begitu segar. Mendinginkan kembali sel-sel otak yang seakan ingin meledakkan. Gadis itu meraih botol shampoo dengan aroma buah stroberi kesukaan. Dituangkan ketelapak tangan, setelah itu diremasnya perlahan, menciptakan busa. Lima belas menit lamanya, Chacha keluar dari dalam kamar mandi tersebut dengan handuk yang masih melilit tubuh, pun juga rambut. Kelopak matanya tampak berkedip-kedip, memilih satu persatu baju seragam yang ingin dipakainya hari itu. Setelan blus berwarna putih tulang dengan aksen mutiara disepanjang kerahnya, dipadukan dengan rok span dengan panjang sedikit dibawah lutut, menjadi pilihannya hari itu. Selanjutnya, gadis itu sengaja mengaplikasikan make-up sedikit tebal untuk menutupi wajah pucatnya. Serta mengubah lipstick berwarna natural, dengan warna yang sedikit lebih terang. Sengaja gadis itu sedikit menambahkan volume dikedua alisnya, agar penampilannya terlihat lebih sempurna. Perfect. Gumamnya dalam hati, sambil menatap pantulan dirinya sendiri yang tampak terlihat lebih segar dan berani. Boleh saja diluar rumah gadis itu, menyembunyikan patah hatinya dibalik penampilan. Asalkan, tak sampai terlihat menyedihkan. Memaksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Agar tak terbiasa dengan wajah murung. Menghela nafas panjang. Chacha sudah bersiap memulai hari barunya. Dibawah sinar matahari, gadis itu membawa dirinya pergi. Melangkah, dengan harapan bisa menemukan hari yang lebih indah. Dibawah pohon yang rindang ditepi jalan. Gadis itu berkali-kali menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jika, lima menit lagi gadis itu tidak berangkat. Dipastikan ia akan terlambat. Tiba-tiba saja. Gadis itu dikejutkan dengan seorang kurir yang membawa setangkai bunga mawar putih, berhenti tepat didepannya. “Permisi, dengan mbak Ananda Oktavia?” Tanya kurir laki-laki itu. Dimata Chacha kurir itu terlihat begitu aneh. Wajahnya tertutup rapat oleh masker, juga kaca mata hitam yang menutupi mata. Serta, suaranya sengaja dibesar-besarkan, ketahuan kalau itu memang dibuat-buat. Kedua mata gadis itu menyipit. Menyelidik kurir aneh itu, dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Maaf mbak, apa benar anda yang bernama Ananda Oktavia.” Tanya kurir itu lagi, dan seketika membuyarkan Chacha dari lamunannya. “Eeh iya, dengan saya sendiri.” Jawab Chacha gugup. “Silahkan mbak.” Ucapnya sambil menyerahkan setangkai bunga tersebut. “Tolong tanda tangan disini.” Katanya lagi, sambil menunjukkan pada Chacha tanda terima yang harus ditanda tangani oleh gadis itu. Pun, gadis itu segera menanda tangani kertas tersebut. “Kalau boleh tau, ini kiriman bunga dari siapa ya mas. Perasaan saya tidak ada pesan bunga di toko ini.” Terang Chacha, mulai menyelidiki. “Kurang tau mbak. Tugas saya cuma mengantar barang sampai tujuan.” Tuturnya dan dibalas senyum ramah oleh Chacha. "Ya sudah. Kalau begitu terima kasih.” Balas Chacha. Kurir itu pun mengangguk, setelah itu mengamit permisi untuk bekerja kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD