7. Pria Pekerja Keras

2027 Words
Hidup itu adalah sebuah perjuangan, di mana dengan bekerja keras maka hasil yang didapat akan mencukupi atau bahkan memuaskan. Beban kerja memang tidak dapat dihindari, apalagi kalau tidak bekerja maka tidak akan ada orang yang memberi makan karena hanya kita sendiri lah yang harus berusaha untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Bagi orang kaya mungkin akan sangat mudah mendapatkan uang, berbeda dengan orang yang pada dasarnya berasal dari keluarga tak mampu. Ia harus bekerja keras demi mendapatkan pundi-pundi rupiah yang di mana uangnya nanti digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari. Tak ada waktu untuk berfoya-foya, jangankan menghabiskan uang, uang yang cukup saja sepertinya sangat sulit didapat. Kehamilan Eliza yang semakin membesar membuat Farhat harus bekerja lebih keras lagi karena biaya persalinan istrinya tak bisa dikatakan murah. Meski setiap hari ia terus menabung, tetapi tabungannya itu ternyata tidak cukup membayar biaya persalinan sang istri yang sudah ia prediksi jauh-jauh hari. Farhat harus menyiapkan uang lebih untuk berjaga-jaga kalau kemungkinan yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Bukan mendoakan hal yang buruk terjadi, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga agar jika memang hal itu terjadi maka tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Meskipun berat meninggalkan Eliza yang sudah hamil tua di rumah sendirian, tetapi demi kebaikan istrinya sendiri maka Farhat harus tega. "Sayang, aku berangkat dulu, ya. Kamu yakin nggak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Farhat sekali lagi saat ia akan pamit berangkat kerja. "Yakin, udah sana Mas berangkat aja. Cari uang yang banyak buat kebahagiaanku sama si baby." Eliza mengusap lembut perut besarnya. Farhat menunduk hingga wajahnya sejajar dengan perut besar Eliza, pria itu mencium lembut perut Eliza kemudian mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Eliza tersenyum, wanita itu mengusap lembut rambut lebat suaminya. "Ayah berangkat kerja dulu ya, Nak. Kamu jaga ibu baik-baik, jangan nyusahin ibu ya, Nak." Farhat berbisik lirih di perut Eliza seakan ia benar-benar tengah berinteraksi dengan sang calon bayi. "Kamu lucu, Mas. Harusnya kamu bilang gitu ke aku, aku yang harus jaga anak kita baik-baik. Bukannya sebaliknya," ujar Eliza. "Mas khawatir juga sama kamu, nanti kalau ada apa-apa kamu hubungi Mas ya. Mas berangkat, Sayang." Sebelum pergi, Farhat mencium pipi Eliza sekilas. Hari ini Farhat tidak pergi ke pasar karena ia bersama dengan Andi dan juga Bang Doko akan bekerja sebagai tukang bangunan. Di mana mereka nanti akan membantu mengaduk semen dan juga membantu pekerjaan lain yang ada di sini. Upahnya juga lumayan dan akan dibayarkan perhari membuat ketiga pria pekerja keras itu jelas saja tidak akan menolak jalan rezeki yang telah diberi oleh Tuhan. Farhat tidak perlu naik kendaraan umum seperti angkot karena lokasi tak jauh dari rumah kontrakannya, ia bisa langsung berangkat dengan berjalan kaki. Tadi ia mendapat kabar SMS dari Andi dan juga Bang Doko kalau kedua pria itu sudah berada di lokasi kerja mereka. Tanpa menunggu waktu lama lagi akhirnya ia sampai juga di lokasi, di sana sudah ramai berkumpul para pekerja lainnya yang tengah minum kopi sebelum mereka mulai bekerja. Farhat langsung menuju tenda yang terbuat dari terpal di mana itu adalah tempat beristirahat mereka. "Baru sampai lo, Fahrat?" Andi langsung menyapa Farhat. "Iya, agak telat nih soalnya tadi harus bantu-bantu istri gue dulu," ujar Farhat. "Ah nggak apa-apa, lagian belum mulai juga. Gue juga waktu di posisi lo juga sama, kayak gitu juga." Andi menepuk bahu Farhat sekilas. Gedung yang akan mereka bangun cukup tinggi, ada manager bangunan yang akan memandu sekaligus membayar upah mereka. Gedung ini sepertinya akan dibangun untuk sebuah perusahaan, mungkin bisa saja cabang perusahaan yang sudah lama berdiri dan ingin membuat cabang yang baru. Entahlah, Farhat sama sekali tidak mengerti karena tugasnya hanyalah bekerja sebagai buruh di tempat ini yang mengharap upah setelah pekerjaan hariannya selesai. "Kalian bertiga, sini sebentar!" Sang manager yang memandu jalannya pembangunan ini memanggil Farhat, Andi dan Bang Doko. "Iya, ada apa, Pak?" tanya Bang Doko setelah ketiganya berada di hadapan manager bernama Pak Dendi itu. "Kalian nanti kerja di bagian atas gedung ya, di sana masih banyak batu bata yang harus disusun. Gantian sama yang lainnya, soal gaji nanti bisa diatur. Gaji lebih besar dari hari-hari sebelumnya, gimana?" Mendengar penawaran cukup menggiurkan sekaligus sedikit berbahaya itu membuat ketiga pria itu saling pandang. "Sebentar ya, Pak." Bang Doko menarik Farhat dan Andi agar ikut dengannya karena ia ingin berbicara enam mata bersama dua partnernya itu. "Gue rasa pekerjaan itu terlalu berbahaya, kayaknya kita nggak usah nerima aja deh. Mending kita kerja di bawah aja, biar gaji nggak sebesar yang kerja di atas tapi kita semua aman." Bang Doko langsung mengemukakan pendapatnya. "Tapi sayang loh kalo kita tolak, Bang. Apalagi kita tahu kalau kita nih sama-sama lagi butuh duit, terutama gue. Istri gue bentar lagi lahiran, gue harus ngumpulin uang banyak buat biaya persalinan." Farhat tak menyetujui pendapat dari Bang Doko, menurutnya kapan lagi ia bisa mendapatkan uang tambahan di pekerjaan ini. "Gue tahu itu, Far. Tapi apa lo nggak mikir? Gedung ini tuh tinggi banget. Kalau ada satu di antara kita yang jatuh, nggak akan selamat!" "Bener apa yang Bang Doko bilang, kita nggak bisa gegabah nerima pekerjaan ini. Resikonya tinggi, walau emang kita butuh uang tapi keselamatan itu yang terpenting. Emangnya lo mau kenapa-kenapa? Lo mau nggak bisa lihat anak lo lahir?" Kali ini Andi yang buka suara. "Asal kita hati-hati pasti hal-hal yang nggak diinginkan itu pasti nggak akan terjadi," ucap Farhat. "Kalo gue, nggak bisa deh. Gue nggak mau relain nyawa gue demi uang, lo gimana, Ndi?" tanya Bang Doko pada Andi. "Gue juga nggak bisa." Andi menggelengkan kepalanya. "Oke, kalo kalian nggak mau biar gue aja yang nerima. Upahnya nanti lumayan buat tambah-tambah keperluan sehari-hari sekaligus tabungan biaya persalinan istri gue." Mendengar Farhat yang keras kepala membuat Bang Doko dan Andi menatap ke arah itu tak percaya. "Serius lo?" Farhat hanya mengangguk. "Jangan nekat, ah! Nyawa lo cuma satu!" Agaknya kedua temannya itu masih ingin mempengaruhi Farhat agar tak menerima pekerjaan yang mereka pikir sangat berbahaya itu. "Hidup itu memang harus nekat, Bang. Kalo nggak nekat, kita nggak akan tahu kelanjutannya seperti apa. Lagian kalo bukan gue yang berjuang, siapa lagi?" tanya Farhat. "Serah lo deh, Far. Gue doain moga lo baik-baik aja di atas sana, semangat!" Bang Doko menepuk bahu Farhat sekilas. "Makasih, Bang!" "Yoi." Farhat menghampiri Pak Dendi tadi dan mengatakan kalau ia sendiri yang akan bekerja di atas, sedangkan kedua temannya tadi yang juga ditawari tidak mau karena lebih nyaman bekerja di bawah saja. "Ya sudah, kamu bisa langsung naik ke atas. Hati-hati, jangan sampai ambisi kamu bekerja dapat menyakitimu sendiri." Farhat mengangguk mendengar perkataan dari Pak Dendi, ia langsung berpamitan agar bisa segera memulai pekerjaannya di atas gedung. Bermodal nekat yang besar, Farhat naik ke atas tangga. Satu demi satu tangga ia pijak, hingga akhirnya ia tiba juga di tempatnya bekerja. Di sana sudah ada beberapa kuli bangunan sepertinya, mereka menyapa Farhat seadanya kemudian kembali melanjutkan pekerjaan. Ada salah seorang rekan yang berbaik hati memberitahu Farhat mengenai pekerjaan yang akan Farhat lakukan. "Farhat, lo aku masang bata di sana ya," ujar salah seorang kuli bangunan seperti Farhat yang bernama Tagor. "Di sana, Bang?" tanya Farhat. "Iya, kenapa? Lo takut? Ah kalo takut kenapa tadi mau aja diminta kerja di sini," ujar Tagor. "E-enggak takut kok, Bang." Farhat mengelak, ia tidak boleh terlihat takut. Meskipun kenyataannya ia cukup merasa takut karena tempat yang akan ia dan Tagor pasang cukup ekstrem. "Ayo sekarang aja kalo gitu, biar cepat kelar juga kerjaan kita." Tagor berdiri, ia langsung keluar dari tempat tembok bata yang sudah dipasang oleh pekerja lainnya. "Hei! Ngapain lo masih di situ? Katanya tadi mau ikut!" ujar Tagor dengan suara keras. "A-ah iya, Bang!" Farhat langsung menghampiri Tagor, ia harus berani karena semua ini demi Eliza dan juga calon anaknya nanti. Bersama Tagor, Farhat memasang satu demi satu bata hingga menjadi tembok bata yang cukup tinggi. Hingga ketika pekerjaan hampir selesai, tiba-tiba saja tangga kayu khusus pekerja bangunan yang Farhat naiki tiba-tiba goyang hingga membuat Farhat hampir terjatuh kalau saja ia tidak memegang sebuah pegangan kayu itu. Semua yang ada di bawah Farhat langsung merasa khawatir ketika melihat Farhat yang tengah mempertahankan dirinya dengan berpegangan. "Astaga, Farhat! Pegangan yang kuat!" teriak Tagor ikut panik. Keringat bercucuran di pelipis Farhat, tangannya sudah keram sekali karena terlalu lama bekerja ditambah ia yang harus menahan berat tubuhnya agar tidak terjatuh. "Semuanya! Ayo bantu Farhat, ambil tangga!" teriak Tagor meminta pada pekerja lainnya membantu. "O-oke, Bang!" Yang lain berdiri di samping Tagor, memperhatikan Farhat sedangkan sisanya mencari tangga. "Lo harus bertahan! Sebentar lagi mereka bawain tangga buat lo!" Farhat hanya mengangguk, ia tidak bisa berucap karena terlalu takut. Beberapa pekerja sudah mendapatkan tangga, mereka langsung memasang tangga itu di lantai bawah Farhat agar Farhat lebih mudah nantinya. "Sudah ada tangga di bawah, lo jangan cemas. Lepas tangan lo perlahan-lahan terus turun lewat tangga itu!" Farhat mengangguk, perlahan-lahan ia melepaskan satu tangannya dari pegangan itu kemudian menuruni anak tangga dengan berpegang pada tangga. Orang-orang di bawah Farhat memegangi tangga kayu untuk Farhat turun dengan kuat. "T-terima kasih udah pada bantu gue," ujar Farhat dengan napas ngos-ngosan. "Sama-sama, lo nggak apa-apa?" tanya salah satu pekerja. "Nggak, gue nggak apa-apa. Cuma tangan gue agak kebas aja," jawab Farhat. "Kalo gitu lo istirahat dulu aja di bawah, ayo gue anterin." Farhat mengangguk hingga salah satu pekerja itu mengantarnya turun sedangkan yang lain kembali melanjutkan pekerjaannya. "Farhat, lo nggak apa-apa!?" Bang Doko dan Andi langsung menghampiri Farhat setelah pria itu sudah di bawah. "Gue nggak apa-apa, kok." Farhat menepuk-nepuk lengannya pelan yang terasa kebas. "Lo sih, udah kita bilang juga mendingan kerja di bawah, lebih aman. Tapi lo nekat, sampai mau jatuh kayak gini. Masih baik nasib lo mujur, masih dikasih umur yang panjang sama Tuhan." Bang Doko menyenggol lengan Andi ketika pria itu mengatakan itu. "Nggak usah ribut, Farhat hampir aja kehilangan nyawanya. Bukannya nenangin dia, lo malah bikin dia tambah panik," tegur Bang Doko. "Sorry, Bang, kata-kata gue emang suka begini. Aslinya gue ngomong gini juga karena khawatir sama lo, Farhat. Jangan lagi deh lo bikin kita semua jantungan, udah kerja aja yang aman-aman aja asal halal. Nggak usah berlagak nyari duit lebih banyak dengan gaya kayak gini." Sudah ditegur oleh Bang Doko, kata-kata Andi masih saja nyelekit. "Ayo, lo duduk aja sama gue. Nggak usah dengerin kata-kata si Andi, bikin seneb yang denger aja." Tanpa tahu kalau kondisi kedua tangan Farhat sedang tidak baik-baik saja, Bang Doko menarik salah satu lengan Farhat. "Aghh!" "Lo kenapa?" tanya Bang Doko segera melepaskan lengan Farhat. "Tangan gue sakit, Bang," jawab Farhat. "Oh sorry, ayo lo duduk sekarang." Farhat mengangguk, ia mengikuti Bang Doko hingga tiba di tenda tempat beristirahat. "Minum dulu." Bang Doko menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Farhat. "Makasih, Bang." "Hmm." "Farhat, gimana keadaan kamu? Tidak cidera 'kan?" tanya sang manager yang tak lain Pak Dendi. "Nggak, Pak. Kedua lengan saya cuma sakit aja, dibawa istirahat sebentar pasti sembuh. Saya usahakan saya bisa tetap kerja kok, Pak," jawab Farhat. "Saya tidak mungkin mengambil resiko tetap mengizinkan kamu bekerja di saat kamu sedang terluka, lebih baik kamu pulang lebih awal untuk beristirahat." "S-saya masih kuat kok, Pak. Jangan minta saya berhenti bekerja, saya masih butuh uang." "Saya tidak memecat kamu, Farhat. Saya ingin kamu beristirahat sampai sembuh, kamu boleh kembali bekerja saat sembuh nanti." Pak Dendi mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya yang tak lain adalah sebuah amplop. "Oh iya, ini untuk kamu. Anggap saja ini adalah ganti rugi karena kamu yang cidera." "Saya sama sekali nggak luka parah, Pak. Nggak perlu memberi saya uang karena saya sama sekali belum bekerja banyak hari ini." Meskipun Farhat membutuhkan uang, tetapi Farhat tidak mau menerima uang secara cuma-cuma. "Udah sih, ambil aja, Far. Gue kalo jadi lo pasti tanpa nolak udah gue terima itu uang," timpal Andi membuat Pak Dendi tersenyum. "Terima saja, semua pekerja di sini kalau ada yang cedera pasti akan saya perlakukan seperti ini." Akhirnya, Farhat menerima juga uang pemberian Pak Dendi. "Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya izin pulang." "Iya, istirahat yang banyak agar cepat pulih. Kalau perlu kamu bisa periksa ke dokter, takutnya ada cidera di dalam tulang." Farhat mengangguk, ia berpamitan sebentar pada teman-temannya barulah memutuskan pulang. Ternyata atasannya begitu baik memberikan uang ini padanya, Farhat sangat beruntung. Semoga saja ia bisa cepat pulih agar bisa kembali bekerja lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD