"Gimana nanti malem jadi kan?" tanya Devan pada kedua adiknya. Mereka bertiga sedang berkumpul dibalkon kamar Dimas untuk merundingkan ajakan balapan dari rival mereka di sekolah.
"Kalo gue sih ayo-ayo aja. Lo gimana Sa?"tanya Dimas pada Aksa.
"Gue takut di marahin Oma."
"Yaelah nih bocah, kaya yang belom pernah balapan aja.Kemaren-kemaren kenapa lo gak takut hah?" tanya Devan.
"Tobat kak,gue takut mati."
"Mati itu takdir, kalo udah waktunya gak usah balapan juga mati lo."
"Lo do'ain gue mati?"tanya Aksa.
"Peumpamaan b**o!"
"Malah ngurusin mati si k*****t! jadi ikut kagak?"tanya Dimas mulai geram.
"Udahlah ngapain ikut balapan motor. Balap karung aja lo berdua kalah,apalagi motor."
"Lagian bukan gue sama Devan kali yang balapan." Dimas menunjukan senyuman licik ala tokoh antagonis di sinetron.
"Lah,terus siapa?"tanya Aksa.
"ELO!" jawab Devan dan Dimas serempak.
"Setan lo berdua! masa adek sendiri dijadiin tumbal." Aksa mulai tak terima.
"Tumbal apaan? lo pikir kita mau ngepet hah?" Devan melemparkan sendal jepit yang dia pakai tepat ke wajah Aksa.
"k*****t,sendal lo bau!"
"Lebay lo! baru juga 3 bulan gak dicuci."
"Anjrit jorok amat lo Devan." Dimas bergidik ngeri.
*****
“Motornya gak usah dinyalain, nanti Oma tahu!”perintah Devan pada Aksa dan Dimas. Karena balapan mereka bukan resmi jadi mereka menunggu malam untuk melaksanakan balapan tersebut.
“Berat anjir!”ujar Dimas ketika dia mencoba memutar motornya di garasi.
“Badan lo bogel sih, dorong motor aja gak bisa!”ungkap Aksa.
“Body shimming mulu lo!”
“Udah jangan berisik nanti Oma tahu,”ucap Devan memperingatkan.
Setelah bersusah payah mereka akhirnya bisa mengeluarkan motor tanpa suara.
“Dorong lagi sampe depan. Kalo hidupin disini masih kedengeran Oma,”perintah Devan.
“Dorong aja, dorong terooss!”ucap Dimas dengan sedikit keras, membuat Aksa yang disampingnya menginjak kaki Dimas sekuat tenaga.
“Berisik b**o!”
“Iya sorry gue keceplosan.”
“Kuy ah!”Devan menyalakan mesin motornya diikuti Dimas.
“Ayo.”
“Bentar, motor gue susah nyala!”ujar Aksa setelah motornya tak kunjung hidup. Selang beberapa menit motornya hidup. “Nah, nyala.”
“Yaudah ayo keburu malam.”
Baru beberapa meter motor mereka melaju, Aksa kembali berhenti. Dimas dan Devan yang sudah berada di depan menoleh ketika Aksa tertinggal.
“Kenapa lagi Sa?”tanya Devan.
“Bensinnya abis, gue lupa ngisi,”ungkap Aksa dengan cengiran kudanya.
Demi kemaslahatan bersama akhirnya Devan memutuskan untuk membelin bensin dan Aksa menunggu bersama Dimas.
“Mba bensinnya lima liter di bungkus ya,”ucap Devan pada salah satu petugas pom bensin.
“Gimana mas?”tanya petugas tersebut yang tidak terlalu mengerti dengan ucapan Devan.
“Bensinnya lima liter mba cantik. Jangan masukin ke motor saya, dibungkus aja.”
“Oh.”
“Botolnya mana?”
“Botol buat apa?”
“Buat bensinnya dong Kak, masa buat wadahin saya.”
“Si Mba ngelawak.”
“Emang Mba jini oh jini? Pake dimasukin kedalam botol.” Devan kemudian menyerahkan botol besar bekas air mineral yang di gantung di jok belakang.
“Nih Mba botolnya.”
“Kapasitas botolnya cuman buat dua liter Kak.”
“Yaudah secukupnya botol itu aja Mba,”ucap Devan. Untung saja suasana pom bensin sepi, jadi tidak ada yang meneriakinya karena terlalu lama berbincang-bincang dengan petugas Pom.
“Nih uangnya Mba,”ucap Devan. Dia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku jaketnya. “Kembaliannya buat Mba aja.”
“Lama banget sih lo, beli bensin doang,”protes Dimas ketika Devan datang.
“Resiko orang ganteng. Tadi petugas pom bensinnya minta foto dulu sama gue. Terus dia minta no hp gue, tapi kan karena gue setia sama Rein jadi gak gue kasih.”
“Seenaknya lo aja Kak,”ucap Aksa. Dia lalu menuangkan bensin tersebut kedalam tangki motornya.
“Lucu bensinnya warna biru kaya pepsi,”ucap Aksa.
“Gak usah banyak ngelenong, buruan udah malem!”ucap Dimas mengingatkan.
“Lagian gak bisa balapan pake so-soan nerima tantangan balap. Gue kan jadinya yang jadi korban,”jawab Aksa.
“Mohon bersabar, ini ujian,”timpal Devan.
***
Suara mesin motor bergemuruh di arena balapan, lebih tepatnya jalan raya yang sepi tak di pakai. Akhirnya dengan perjuangan Devan dan Dimas dalam membujuk, Aksa bersedia mengikuti balapan liar ini dengan berbagai persyaratan.
"Sa,lo siapkan?" tanya Dimas.
"Masih ingetkan balapan gimana?" tanya Devan.
"Ingetlah! tinggal cus ngeng cus ngeng kan." Aksa memainkan gas motornya.
"Berani juga kalian dateng kesini?" tanya Rendi yang datang bersama Alvin dan Diki.
"Banyak bacot lu!"
Semua bersiap di motor mereka masing-masing. Hanya 4 orang saja yang mengikuti balapan, Devan dan Dimas memilih jadi penonton yang manis saja.
Dalam hitungan ketiga balapan dimulai, semua motor melesat membelah jalanan termasuk Aksa. Meskipun sudah lama dia tidak balapan, kemampuannya masih patut diacungi 8 jempol.
"Halo Alvin jelek!” sapa Aksa saat motor mereka berdampingan.
"Apa lo?! Cih, ternyata abang lo banci semua!" ledek Alvin.
"Njir enak aja ngatain abang gue banci. Gue sunat juga lo ipin!" gerutu Aksa. Dia pun melajukan motornya lebih kencang lagi.
Akhirnya berkat pertolongan yang maha kuasa dan do'a teman-teman sekalian, Aksa berhasil memenangkan balapan. Dia menyentuh garis finish paling awal disusul Rendi.
Prok..prok...prok..
Penonton bertepuk tangan atas kemenangan Aksa.
"Duh thanks guys, gue jadi terharu." Aksa turun dari motornya lalu membungkukan badan pada penonton.
"Lebay banget!"cibir Alvin yang masih belum terima dengan kekalahannya.
"Bodo, lebay tapi gue menang. Nah lo? Belagu tapi medok. Cebok dulu sana sama emak," ledek Aksa.
"Apa lo bilang?"Alvin tersulut emosi. Diantara kedua temannya Alvin memang memiliki tempramen yang tinggi.
"Adek gue nyuruh lo cebok b**o! kagak denger hah?" tanya Devan.
"Oke, sesuai janji kita. Lo boleh minta apapun dari kita," ucap Rendi agar pertengkaran tak berkepanjangan.
"Minta apaan ya?" Aksa mengetuk-ngetuk dagunya.
"Minta duit?”tanya Diki.
"Aih, duit kita banyak bro. Tinggal digunting tuh dirumah," ucap Dimas.
"Motor?" tanya Rendi.
"Gak perlu. Motor kalian gak menarik," ucap Devan.
"Terus apaan? Bisa cepetan gak?! Gue mau balik," ucap Alvin.
"Lo kok rempong banget! Mantan emak-emak arisan lo ya?" tanya Devan.
"Diem lu gak usah banyak bacot!" bentak Alvin lagi.
"Slow bro slow!" ucap Diki.
"Oke, kita gak minta banyak kok. Cuman minta..." Aksa menggantungkan ucapannya.