Chapter 8

790 Words
                                                                                       *** Suasana ramai pasti selalu terasa saat menjelang pagi. Devan yang selalu sibuk mencari pakaiannya, Dimas yang selalu bangun terlambat, dan sibungsu Aksa yang selalu marah-marah karena terlalu lama menunggu kakak-kakaknya. Hari ini pun tak beda dari hari-hari biasanya. Mereka selalu ribut dengan kegiatan masing-masing,di tambah bi Inem yang pulang kampung sejak tiga hari yang lalu membuat Widi harus ekstra sabar menghadapi cucu-cucunya. "Oma, sempak Devan masa basah semua!"teriak Devan dari kamar saat dia melihat tak ada satu pun celana dalamnya di lemari. Dengan sigap Widi menghampiri kamar cucunya, meski dia pun sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. Meskipun ada gadis di rumah, tak sedikitpun pekerjaan Widi terbantu. Caca si gadis cantik berambut coklat itu, sangat susah bangun pagi. Dia akan bangun jika matanya sudah bosan memejam. Kadang Widi heran, sifat Caca sangat bertolak belakang dengan parasnya. "Ada apa Devan? Oma lagi ngepel nih,"tanya Widi saat menghampiri cucunya. "Oma, masa hari ini Devan gak pake sempak. Lihat di lemari gak ada sempak satupun."Devan menunjuk lemari tempat penyimpanan celana dalamnya. Widi menepuk jidatnya, dia lupa bahwa celana dalam Devan semuanya baru dia cuci semalam. Kegiatannya di kantor membantu sang suami membuat dia kewalahan ditinggal bi Inem. "Iya Oma lupa, sempak kamu baru Oma cuci semalam. Kamu pakai punya Dimas aja ya?" "Ih nggak Oma, sempak Dimas bau." Devan menggelengkan kepalanya. Selama ini dia paling tidak mau memakai barang-barang Dimas  karena adiknya itu jorok. Pernah Devan memakai kaos Dimas yang ternyata belum di cuci selama sebulan. "Terus kamu mau pakai punya siapa?punya Caca?masa iya, punya Caca kan kecil." "Ih Oma aneh-aneh aja deh, masa Devan pakai punya kak Caca. Kasian tahu jagoan Devan, punya kak Caca kan sempit." Widi mengacak-acak gelungan rambutnya frustasi. Pagi-pagi seperti ini dia sudah pusing hanya karena celana dalam. "Yaudah kamu mau pakai punya siapa?punya Opa, atau punya Asa?" "Nah, punya Asa aja Oma,"jawab Devan. "Yaudah Oma ambilin dulu." Widi pun pergi menuju kamar si bungsu. Saat memasuki kamar, tercium jelas aroma maskulin yang sangat identik dengan Aksa. Meskipun pria, tapi Aksa ini paling rapi dan bersih diantara saudara-saudaranya. "Wah cucu Oma yang satu ini udah wangi,"ucap Widi yang masih berdiri di ambang pintu. Aksa yang sedang merapikan rambutnya pun menoleh. "Eh Oma, ngapain pagi-pagi ke kamar Asa?" "Oma mau pinjem sempak kamu,"jawab Widi. Sontak Aksa menutup mulutnya tak percaya. Untuk apa sang Oma meminjam pakaian dalam pria. "Oma pakaian dalam Oma kan branded semua, kok mau pakai punya Asa?" "Ish kamu, siapa bilang buat Oma. Itu Devan, sempaknya basah semua jadi Oma pinjem punya kamu ya." "Oh buat kak Devan, kirain buat Oma. Asa lega deh dengernya, yaudah ambil aja Oma disana." Aksa menunjuk sebuah kotak yang berada persis di samping lemari pakaiannya. "Oh ya Oma, kasih yang jelek aja ya sempaknya. Kak Devan jarang ngembaliin soalnya,"ucap Aksa memperingati. Widi hanya menganggukan kepala mendengar perkataan sang cucu sambil menahan senyum. Setelah mendapatkan apa yang di cari Widi pun kembali menuju kamar Devan. "Nih sempaknya."Widi menyerahkan celana dalam yang dia pegang pada Devan. "Yah kok jelek sih Oma,"ucap Devan saat melihat celana dalam yang di berikan sang Oma sudah kusam. "Kata Asa kamu jarang ngembaliin barangnya, jadi kasih yang jelek aja,"jawab Widi enteng. "Ish dasar bocah!" "Yaudah Oma mau lihat dulu Dimas, dia pasti belum bangun." Widi pun pergi menuju kamar Dimas yang terletak paling ujung disana, persis di samping kamar Aksa. Tepat seperti dugaaanya, kamar Dimas masih gelap. Dia pun menyalakan lampu kamar, terlihat Dimas masih bergelut di balik selimut. "Dimas bangun sayang, udah pagi." Widi menarik selimut yang menutupi tubuh Dimas. "Apaan sih Vin, jangan tarik-tarik dong sayang,"ucap Dimas dengan mata yang terpejam. "Ini Oma Dimas, ayo bangun!"ucap Widi sedikit kencang,namun tetap saja Dimas tak membuka matanya. "Iya Vina sayang, Dimas cium nih."Dimas bangun dengan mata terpejam, dia memonyongkan bibirnya pada sang omah Widi pun mengambil segelas air yang ada di atas nakas dan menyiramkannya pada Dimas. "Astaga maling! mana maling?" Dimas terperanjat dan langsung berdiri dari kasurnya. "Maling palamu gundul! ayo mandi, ini udah setengah tujuh,"ucap Widi. Dimas pun mengelap wajahnya yang basah karena siraman air tadi. "Ah Oma, padahal kan Dimas lagi mimpi indah." "Gak ada mimpi-mimpian! ayo sana mandi atau Oma siram pakai air panas,"ancam Widi, membuat Dimas ngeri. "Ih Oma kok kaya emak tiri sih." Belum sempat Widi menjawab ucapan sang cucu, ponselnya berbunyi. "Asalamu'alaikum, oh Mas udah nyampe? yaudah aku kebawah,"ucap Widi pada seseorang di telpon. Setelah itu dia kembali menutup telponnya. "Siapa Oma?"tanya Dimas penasaran. "Opa kamu udah pulang, ayo sana mandi. Mau disunat lagi kamu?" "Astajim Opa! iya-iya Oma Dimas mandi." Dimas pun berlari menuju kamar mandi. Sikap Opanya yang tegas membuat cucu-cucunya segan dan tak berani melawan,apalagi Dimas. Widi pun bergegas menghampiri sang suami yang sudah menunggu di depan rumah. Cekrek... Widi membuka knop pintu depan, namun dia begitu terkejut melihat seorang gadis yang di bawa suaminya. "Si...siapa dia mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD