Chapter 6

914 Words
Sudah hampir 10 kali Widi mondar-mandir di hadapan ketiga cucunya. Dia masih bimbang memilih hukuman apa yang cocok untuk 3D bersaudara atas perbuatan mereka yang tega mencuri daster kesayangannya. "Oma istirahat Oma, jangan mondar-mandir terus. Ntar encoknya kambuh lho,"ucap Devan. Widi menoleh dan menatap Devan dengan tatapan elang yang tajam, membuat Devan tak lagi berani bersuara. "Masih mending encok daripada jantung Oma yang kumat,"jawab Widi ketus. "Aish Oma, jangan ngomong gitu. Kalo Oma mati ntar siapa yang ngasih kita jajan,"ucap Dimas yang langsung dihadiahi sikutan tangan dari sang adik. "Gila, lo do'ain Oma mati egeb!" "Suudzon lo, siapa juga yang do'ain Oma mati. Gue kan cuman ngingetin, iyakan Sa?" Dimas menyenggol Aksa yang berdiri di sampingnya. "Au ah gelap,"jawab Aksa cuek. Tak sia-sia Widi mondar-mandir, sebuah ide akhirnya terlintas. Dia tahu bagaimana membuat ketiga cucunya kapok akan perbuatan mereka. "Kalian tahu kan besok hari minggu?"tanya Widi pada ketiga cucunya. "Minggu. Lah besok hari minggu? kok gue baru inget sih,"ucap Devan. "Kelamaan ngejones sih lo Van. Jadi lupa kalo hari ini hari sabtu,"timpal Dimas. "Udahlah sesama jones jangan saling ngeledek,"celetuk Aksa. Widi tertawa kecil mendengar perdebatan ketiga cucunya. Meskipun tingkah laku mereka kadang menjengkelkan, tapi tanpa mereka rumah ini sepi. Andai saja Caca di rumah, pasti suasana akan terasa lebih ramai. Sayangnya malam ini dia menginap untuk mengerjakan tugas kuliahnya. "Udah deh, kok jadi ngeributin jones. Lagian Oma lebih suka kalian ngejones tahu,"ucap Widi. "Lah Oma kok malah seneng cucunya gak laku?"Devan mengerutkan keningnya heran, dimana-mana semua orang tua pasti khawatir jika anak atau cucunya tak laku. Kenapa neneknya ini malah bahagia mendengar kejonesan mereka. "Iya Oma kok jahat,"ucap Dimas menambahkan. "Ish malah di bilang jahat. Memangnya kalian berapa tahun sih, udah mikirin pacaran.Nilai fisika aja masih 3 udah mau mikirin cewek." Widi pun berjalan mendekati Devan dan Dimas. Dia menyentil telinga kedua cucunya sambil berkata, "Belajar dulu yang bener, baru cewek!" "Ih Oma sakit tahu telinga dede." Devan mengusap-usap telinga kirinya yang terkena sentilan. "Denger tuh apa kata Oma!"ucap Aksa puas, melihat kedua abangnya terkena sentilan pedas sang nenek. "Kaya sendirinya nggak,"ucap Dimas. "Enak aja, nilai Fisika gue gak pernah jeblok kali,"jawab Aksa tak terima. "Iya fisika gak jeblok, tapi bhs inggris kamu hancur sayang." Widi pun akhirnya menyentil cucu bungsunya itu dengan gemas. "Ah Oma, Asa kan orang indonesia bukan bule. Jadi gakpapa dong gabisa inggris juga." Aksa pun melakukan hal yang sama dengan Devan, mengusap-usap telinganya yang panas. "Serah ah serah, Oma pusing,"ucap Widi. "Ya ampun Oma pusing? istirahat gih Oma tiduran dulu di kamar." Dimas hendak menuntun Widi, namun dengan segera dia menepis tangan Dimas. "Enak saja. Oma belum jelasin hukuman kalian,"ucap Widi. "Yaaaah Omaa,"ucap Mereka serempak. *** Dari dulu hingga sekarang Widi memang tak pernah tanggung-tanggung memberi hukuman untuk para cucunya. Meskipun hukumannya terbilang sadis, tapi semua itu bertujuan agar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya. Seperti saat ini Devan, Dimas, dan Aksa terpaksa tak bisa menikmati hari minggu mereka karena Widi menyuruh mereka membersihkan gudang yang sudah bertahun-tahun tak terpakai. "Anjir ini gudang apa rumah hantu. Horor amat,"ucap Dimas saat memasuki gudang yang terletak di belakang rumah mereka bersama kedua saudaranya. Gudang yang sangat berantakan dan tak terurus harus mereka bersihkan dalam waktu sehari. "Ah masih horor muka kak Caca lagi marah menurut gue mah,"timpal Devan. "Suasana gak masalah cuy. Yang penting gak ada kecoa disini."Aksa mulai menyingkirkan barang-barang yang menghalanginya. Jika tahu semuanya akan seperti ini, dia menyesal telah mengikuti ide gila kakak-kakaknya untuk menghukum Rendi cs dengan daster Omanya. "Gue heran sama lo Sa, masa udah gede masih takut sama kecoa sih,"ucap Devan. "Menurut gue kecoa itu adalah makhluk paling menyeramkan sejagad ini kak. Bahkan mantan aja kalah serem sama kecoa." "Kaya yang pernah punya mantan aja,"celetuk Dimas namun tak di gubris oleh Aksa. Mereka pun akhirnya mulai membereskan gudang itu meskipun ogah-ogahan. Tak jarang mereka bersin-bersin karena debu yang menumpuk disana. Untung saja mereka tak mempunyai penyakit asma atau semacamnya, jika iya pasti mereka sudah pingsan. Disela-sela kegiatan mereka, sebuah ide jahil terbersit di otak Dimas. Dia menangkap kecoa yang tak sengaja lewat, setelah itu dia memasukan kecoa itu kedalam kaos Aksa dari arah belakang. "Kak lo gak usah main-main deh,"ucap Aksa yang mulai merasa sesuatu menggerayangi punggungnya. Dimas hanya diam menahan tawanya dari belakang Aksa. Dia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi terkejutnya Aksa. "Main-main apa somplak, orang gue abis buang sampah."Devan datang menghampiri sambil membawa 3 botol minum. Aksa pun menoleh,terlihat jelas raut wajahnya yang berubah mengkhawatirkan. "Oma, Asa di grepe-grepe kecoa!"teriak Aksa kencang. Dia membuka kaos luar dan dalam lalu melemparnya asal. Namun ternyata kecoa itu malah masuk kedalam kolornya,membuat Aksa loncat-loncat tak karuan. Bukannya membantu, Devan dan Dimas malah terlihat begitu bahagia dengan penderitaan adik bungsunya. "Oma, burung Asa di nodai!"teriak Aksa sambil melepas kolornya. Sontak Devan dan Dimas menutup kedua mata mereka. "Woy Sa! jangan telanjang disini. Geli gue lihatnya,"teriak Devan. "Buka sempak lo Sa. Ntar gue photo,"ucap Dimas yang masih tertawa bahagia meskipun matanya ditutup. “Eh anjir kecoanya gak mau pergi!”teriak Aksa ketika kecoa tsrsebut malah berlarian di pungungnya. “Buka baju lo Sa!”perintah Devan. Bukannya tidak mau membantu, hanya saja dia juga jijik melihat kecoa. “Pergi lo sana pergi!”Aksa memukul kecoa tersebut menggunakan kaos oblong yang sudah dia buka. Kini Aksa hanya menggunakan sempak dan kaos dalam. “Si Asa udah kaya tuyul njir!”ledek Dimas. Dia kemudian merogoh ponsel dari saku kolornya. “Harus di abadikan nih. Momen langka, gak boleh kelewat.” “Asa ngambek tau rasa lo!”ucap Devan memperingatkan. Karena dia tahu bagaimana Aksa jika sudah marah. “Gak usah photo-photo!”teriak Aksa ketika kamera ponsel Dimas mengarah padanya. “Elah Sa sekali aja, buat kenang-kenangan!” “Berani lo photo gue, nanti gue lempar tuh hp ke kolam renang!” “Lempar Sa lempar! Biar si Imas gak bisa teleponan sama si Vina!”teriak Devan agar suasana semakin panas. “Nggak, tuh gak gue photo!”Dimas menunjukan galery hpnya yang tak menampakan photo-photo Aksa. Setelah itu dia kembali memasukan ponselnya kedalam saku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD