5. Sikapnya yang Arogan

923 Words
Suasana cukup mengesankan, ini hari pertama dia datang ke sebuah pertemuan. Sheila melirik suaminya, pria itu cukup bangga mengajaknya kesini. Langkah kakinya menjadi terasa berat saat Rangga membawanya mendekat ke arah meja di mana sang presdir berada. Meski restoran itu penuh dengan tokoh-tokoh penting, gravitasi ruangan itu seolah tersedot sepenuhnya ke arah sudut tempat sang Presdir lumpuh duduk. Sheila merasa gugup, dalam pandangannya pria yang lumpuh itu meski tidak bergerak, namun aura otoritasnya memenuhi udara. Dengan mengenakan kemeja hitam custom-made yang lengannya digulung hingga siku, yang memperlihatkan jam tangan mekanik yang sangat mahal namun bersahaja, pria itu cukup tampan dan sangat berkelas. Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa meter, Renaldo sedikit memiringkan kepalanya. Dan disana, Sheila melihatnya. Saat Renaldo memberikan anggukan tipis sebagai sapaan formal, sebuah lesung pipi muncul di wajahnya yang tegas. Lesung itu memberikan kesan ramah sekaligus misterius, seolah ada sisi hangat yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar. "Tuan Hutomo," Rangga menyapa dengan nada yang sengaja dibuat santai namun seperti memancing. Ia menarik kursi untuk Sheila, memosisikan istrinya tepat di hadapan sang presdir. "Maaf membuat Anda menunggu. Istriku butuh waktu sedikit lebih lama untuk bersiap. Maklum, untuk tampil cantik butuh perawatan yang teliti." Renaldo tidak menanggapi bualan Rangga. Matanya tetap tertuju pada Sheila. Ia mengamati wanita itu dengan cara yang tidak pernah dilakukan Rangga—bukan sebagai istri, melainkan sebagai manusia. Renaldo menyadari jemari Sheila yang sedikit bergetar saat menyentuh serbet, dan bagaimana matanya terus menghindari kontak langsung. Ya, istri sang CEO ternyata gugup saat berhadapan dengannya. "Nyonya Aditama," suara Renaldo terdengar berat, serak, dan memiliki magnetisme yang membuat Sheila terpaksa mendongak. Bola matanya yang hitam membuat pesonanya tak bisa dihindarkan. Renaldo tersenyum. "Senang melihat Anda lagi. Merah muda bukan warna yang mudah untuk dipakai, tapi Anda membuatnya terlihat... sangat alami." Sheila tertegun. Itu adalah pujian pertama yang tidak terdengar seperti penilaian harga, tapi seperti sebuah penghargaan, ia merasa dihargai. "Terima kasih, Tuan Hutomo," jawabnya lirih. "Panggil dia Renaldo saja, Sheila," potong Rangga sambil tertawa hambar. Ia sengaja menuangkan wine dengan gerakan berlebihan. "Toh, dia sudah cukup lama 'beristirahat' dari dunia sosial karena kondisinya. Kita tidak perlu terlalu formal dengan pria yang lebih banyak menghabiskan waktu di kursi roda, bukan?" Hinaan itu begitu tajam dan kasar, membuat suasana di meja itu seketika mencekam. Sheila merasa dadanya sesak karena malu atas perilaku suaminya. Rangga ternyata begitu tega. Namun, sikap Renaldo tetap tenang. Ia justru tersenyum tipis—kali ini lesung pipinya terlihat lebih jelas—yang entah kenapa terasa seperti sebuah perlindungan bagi Sheila. "Kondisi fisikku ini mungkin terbatas, Rangga," Renaldo berucap dengan nada tenang yang mematikan. "Tapi mataku masih berfungsi dengan sangat baik. Aku bisa melihat mana berlian yang dirawat dengan kasih sayang, dan mana berlian yang hanya dijadikan tameng untuk menutupi ketakutan pemiliknya." Tatapan Renaldo beralih kembali ke Sheila, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Dalam diamnya, Renaldo seolah sedang berkomunikasi dengan Sheila, memberitahunya bahwa ia tahu segalanya—tentang kontrak itu, tentang kesepian itu, dan tentang kekecewaan yang Sheila pendam. "Anda tampak sangat lelah, Nyonya," sambung Renaldo, suaranya melembut, hanya ditujukan untuk Sheila. "Pernikahan besar pasti sangat menguras energi, bukan?" Sheila merasakan sebuah perasaan aneh membuncah di hatinya. Kehangatan yang tidak seharusnya ada. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja diberi jendela kecil untuk melihat dunia luar oleh musuh suaminya sendiri. "Aku ... Aku baik-baik saja," dusta Sheila, meski matanya berkata sebaliknya. Rangga menyaksikan semuanya, hatinya tergerak untuk mengganggu. Ia merasa diabaikan, lalu menggebrak meja dengan pelan namun penuh penekanan. "Cukup omong kosongnya. Mari kita bahas bisnis, Renaldo. Aku ingin tahu seberapa jauh perusahaanmu bisa bertahan setelah aku mengambil alih proyek di pelabuhan." Rangga tersenyum sinis, disambut senyuman yang tenang dari Renaldo untuk Rangga yang angkuh. Pertemuan itu pun berlanjut dengan debat bisnis yang panas, namun di bawah meja, Sheila bisa merasakan tatapan Renaldo yang masih sesekali mencuri pandang ke arahnya. Renaldo sendiri tidak sedang mengamati gaunnya, ia mengamati diri dibalik senyum dan diamnya. Dan di saat itulah, Sheila menyadari bahwa bahaya sesungguhnya bukan berasal dari kebencian Rangga, melainkan dari perhatian lembut sang musuh yang diam-diam mulai merayap masuk ke dalam hatinya. ** Satu minggu setelah pertemuan yang penuh ketegangan di De Laaz, Renaldo Hutomo mulai menggerakkan bidak caturnya dengan presisi seorang grandmaster. Ia tahu bahwa meruntuhkan pria seperti Rangga tidak bisa dilakukan dengan otot, melainkan dengan menghancurkan satu-satunya hal yang paling dipuja CEO semacam Rangga, yaitu sebuah citra kesempurnaan. Renaldo duduk di ruang kerjanya yang remang-remang, hanya diterangi cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham Aditama Corp. Di depannya, tersaji laporan rahasia mengenai gaya hidup mewah Rangga yang dibiayai dari dana talangan investor. “Kelemahan Rangga terletak pada sikap arogannya yang keterlaluan,” gumam Renaldo. Ia menyentuh lesung pipinya, sebuah kebiasaan saat ia sedang merencanakan sesuatu yang besar. “Dia pikir dia bisa membeli dunia, tapi dia lupa bahwa dunia ini hanya memuja pemenang yang tenang dan tidak bermasalah.” Ia teringat istri Rangga yang selalu gugup saat menatapnya. Senyumnya mengembang dan mengingat segala kegugupan dan canggungnya yang manis. Baginya, wanita itu benar-benar sangat mempesona meski masih muda. ** Sheila duduk dengan menyesal teh hangatnya. Ia merasa lega saat Rangga tidak ada di rumah. Ia tidak bisa menghubungi keluarganya di rumah. Selama menikah, keluarganya tidak pernah datang apalagi diijinkan datang. Rangga benar-benar telah mengatur semuanya dengan baik dan terencana. Ia duduk melamun, memikirkan dirinya yang tak bisa pergi keluar barang sebentar. Rangga telah memberinya sebuah pengawasan yang cukup ketat dan ia benar-benar terisolir. Jemarinya ia pandangi, cincin berlian di jari manisnya tak bisa membuatnya bahagia. Air matanya menetes. Ia seperti telah kehilangan semuanya semenjak menikah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD