Chapter Ten

1421 Words
Naya memperhatikan Bening lebih banyak diam dari tadi. Sampai akhirnya, mereka makan. Iya, kali ini Naya mau traktir Bening nih, katanya. Dia dapat uang jajan lebih dari ayahnya. "Kenapa Ning? Awas loe kesambet? Gue tinggal lu" ujar Naya "Ih, ya enggak lah Nay. Gitu banget sih" "Ya, kali aja. Mau makan di mana?" Tanya Naya "Di foodcourt aja lah yuk Nay" ajak Bening menyeret Naya. "Tumben Ning, enggak di KFC? Kan loe paling suka sama ayam dan sejenisnya. Juga burger, segala macam minuman KFC?" Tanya Naya heran. Baru kali ini dia melihat Bening begini. Tapi sekilas, ketika Naya menoleh kembali ke belakang, ada Banyu di sana ternyata. Di pojok dinding bersama Celine. Dia tidak mungkin salah mengenali orang. Pasti deh, karena itu pikir Naya. Bening itu sebenarnya perasa banget, sensitif tapi dia mencoba seperti tidak tahu apa-apa. Padahal, dia terluka. Walau dia ceria ya, setiap orang memiliki karakter tapi namanya perasaan kan susah untuk dibohongi. "Gue tahu kenapa loe gak mau makan di sana" tebak Naya ketika mereka sudah sampai di foodcourt, dan memilih duduk di mana. Setelah mendapatkan tempat yang pas, mereka duduk. "Kenapa emang?" Tanya Bening. "Karena ada Banyu kotor di sana" ujar Naya tidak ada beban. "Ish, enggak Nay bukan itu kok" "Alah, loe enggak usah ngeles Ning, gue tahu siapa elu. Udahlah. Kan dari awal gue bilang, jangan terlalu berharap. Gue sayang sama loe. Tapi, kalau cuma karena dia gue harus selalu ingetin loe, kaya nya gak penting sih Ning. Menurut gue" ujar Naya "Enggak usah bahas itu lah Nay" Bening berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Yang biasa bahas dia sampai gue enek, itu sih loe ya" ujar Naya Bening terdiam mengerucutkan bibir, kesal banget Naya selalu mengulang apa yang dia lakukan. Ih, kan sebel ya batinnya. "Loe pesen apa? Udah sore Ning, gue lapar banget. Tadi enggak bawa bekal lagi" keluh Naya "Apa aja, bakso aja deh" ujar Bening "Oke deh. Gue pesen dulu ya" kata Naya berlalu. *** Tidak berapa lama, pesanan mereka datang. Bening dan Naya yang memang sudah lapar dari awal tidak bisa menahan lagi. "Ini sih enak banget. Endul tahu " ujar Bening, "kalau gini sih, mending makan di sini aja. Terjangkau juga, hampir sama kaya makan di pinggir jalan. Beda sepuluh rebo doang nih" kata Bening Naya yang mendengar ucapan Bening hanya mencibir, "iyalah, enak juga kok. Kan loe aja yang jarang mau makan di sini. Maunya KFC mulu" "Mu-na adwaa ya" ujar Bening sambil makan, hingga dia tidak jelas berbicara. Naya yang sebal pun memukul kecil tangan Bening. "Aww, sakit Nay" kata nya. "Enggak usah lebay loe. Pelan doang gue mukulnya. Kebiasaan sih loe, makan sambil ngomong. Makan dulu Ning!!! Berantakan ucapan loe" katanya. "Ia, sorry deh. Tapi beneran sakit ini" kata Bening mengelus tangan kanannya yang memang agak memerah, dan Naya baru melihat itu sekarang. "Kenapa tangan loe?" Tanya Naya "Heheheh, enggak apa-apa kok" pikiran Naya sudah mulai menuju ke arah Banyu, memang seorang Banyu lemah - lembut tapi kan, hanya untuk Celine. Bukan Bening. Mereka jelas berbeda, "kenapa?" Tanya Naya tegas. "Itu, an-u anu ..." " Jangan anu-anu deh Ning, pikiran gue jelek nih" judes sekali Naya membalas ucapan Bening. "Itu, semalam coba masak menu baru. Dapat resep, tapi agak gagal. Malah kena minya dikit. Udah dikasih minyak urut ini, jadi merah aja berbekas dia" ujar Bening menjelaskan. Bening tahu, Naya nanti tidak akan percaya kalau kena pisau, kegores, atau kejedot atau terpukul oleh centong nasi yang di lempar bibik di rumahnya. Tetap aja, Naya adalah orang yang teliti. Jadi, memasak adalah alasan yang tepat selain dia memang hobi memasak, Bening juga ceroboh. "Oh, masak buat si Banyu kotor lagi?" Kan, Naya mulai sarkas. "Enggak kok, masih percobaan" ujar Bening "Iya, tapi ujung-ujungnya buat dia kan?" Tebakan Naya yang sangat tepat sasaran sekali. Bening hanya menyengir tanpa dosa sebab Naya selalu bisa menebaknya. Padahal, bukan sepenuhnya kena minyak. Memang kemarin dia memasak, kena minyak. Tapi, kan pas Banyu datang membentaknya memegang tangannya agak kuat, sampai meremas tangannya yang terkena minyak itu. Tapi, Bening yang sudah mulai takut Banyu marah mencoba tersenyum menahan rasa sakitnya, sampai dia memberi Banyu penawaran. Dan, setelah pulang itu tangan memerah. Dia menangis dong, minta bantuan si bibik yang mengolesi minyak dan memberi alkohol juga biar enggak semakin parah. Tapi, tadi waktu ke sekolah dia membuka kapas yang ditempelkan, biar tidak ada yang curiga. Tapi, Naya melihat juga. "Udah Nay, balik yuk?" Ajak Bening "Ayo," kata Naya neng-iyakan kembali. Tidak disangka dan diduga, mereka berdua bertemu dengan pasangan yang paling fenomenal se-abad ini. "Bening" sapa Celine. Sapaan itu seperti mau bagi Bening, dia yang tidak mau bertemu malah dipertemukan. Tanpa Bening, Naya dan Banyu sadari bahwa pertemuan mereka juga sudah disetting oleh Celine. Yang memang sengaja, agar Banyu sepertinya berbicara dengan Bening. Dia tahu, Bening juga menyukai Banyu, jadi memang sengaja. Kalau Bening bertingkah aneh, seperti acap kali dia melakukannya pasti Banyu risih dan memarahinya apalagi Banyu melihat mereka pulang sekolah tapi tidak pulang ke rumah, bahkan masih memakai seragam sekolah. Double kill dong. "Eh, kamu, mas Banyu. Ngapain di sini?" Tanya Bening cuek. Celine yang heran karena Bening tidak se-excited biasanya pun mengernyit. "Iya, kami. Siapa pun kan boleh ke sini Ning." Ujar Celine halus dan pelan. 'dasar si mulut beracun batin Bening' lain Bening lain Naya. Naya sudah bisa membaca ke arah mana pikiran Banyu dan Celine tentang mereka. Lagaknya Celine kebaca sih, 'dasar, iblis' batin Naya. "Kalian kok, belum pulang?" Tanya Celine "udah jam tiga lewat lho, masa enggak dicariin?" Celine berpura-pura melihat jam di tangannya. "Oh, kita main" jawab Bening membuat Banyu mengernyit, "jam segini? Kalian kan sebentar lagi ujian, dan tidak lama lagi lho itu" tambah Banyu. "Ya, terus kenapa? Ini kan juga waktu kita libur les dan senggang kita bisa main dong. Sebelum Minggu depan udah sibuk" Naya menimpali karena gemes banget sama Celine, pengen cakar maksudnya. "Iya sih, tapi anak sekarang agak berbeda ya. Kita dulu enggak begitu ya beb?" Meminta persetujuan Banyu, "kita dulu jarang banget gini. Kalau main, setelah selesai kerja kelompok aja kan ya? Enak banget sih, anak sekarang" katanya mencoba memanasi. "Lha, itu urusan tante, bukan kita. Kita mah bebas, ada waktu les, sekolah, belajar, bermain. Apalagi ujian. Kita enggak mau masa muda diganggu gugat, apalagi masih muda udah berpenampilan kaya tante-tante. Bedak setebal dempul" ujar Naya sarkas. Jujur, Celine memerah mendengar itu, dia marah dan kesal bukan main. Tapi mencoba menahan image-nya di depan Banyu. "Kamu, ...." Tunjuk Banyu. "Kenapa. Emang iya kan? Kita enggak beda jauh kok umurnya. Delapan belas tahun, sama dua puluh tiga tahun, itu cuma beda lima tahun doang. Ops, salah dia masih dua puluh dua sih. Tapi, kelihatan banget lebih tua dari Tante Rere" ejek Naya tidak mau kalah. "Bening!!" Bentak Banyu, "Enggak usah marahin Bening, pengecut. Loe beraninya sama Bening doang. Loe bisa marahin gue. Tapi, enggak usah Bening. Mana di tempat umum lagi, sengaja ya loe?" Kembali Naya menunjuk Banyu "oh, atau jangan-jangan cewek muka dua loe itu sengaja? Biar loe marahin Bening buat Bening malu, kaya yang udah-udah. Enggak usah ngurusin hidup Bening, dia enggak ganggu loe kalau di luar. Jadi enggak perlu sok nasehati karena seharusnya loe gak merasa terganggu dengan itu kecuali, loe punya rasa sama dia." Telak Naya mengucapkan itu di hadapan Banyu dan menunjuk Celine bermuka dua. "Ayo Ning, biarin aja. Bodo amat sama mereka!" Ajak Naya. Bening tidak enak sebenarnya kepada Banyu, apalagi dia melihat Celine memerah, malu dan marah. Dia tahu itu. Walau dia tidak suka Celine tapi mempermalukan orang di depan umum dia tidak bisa. Walau dia mempermalukan dirinya atau orang mengatakan dia aneh, it's okay asal tidak dia yang begitu kepada orang lain. "Kamu kayanya kelewatan deh Nay" ujar Bening pelan, dia takut menyinggung Naya. "Apanya? Memang sesekali harus begitu sih mereka dibuat. Jangan kira gue enggak tahu, akal-akalan nya si Celine iblis itu" sungut Naya. "Iya, tapi jangan gitu banget ya. Kasian sih mas Banyu. Dia kan enggak tahu" melas Bening. Inilah kelemahan Naya, kalau kelemahan Bening tidak tega melihat Banyu menderita maka kelemahan Naya adalah tidak bisa membuat Bening bersedih. Jangan sampai. "Ya udah, loe juga makanya jangan lembek banget. Gitu aja sih. Entar loe sendiri yang di injak-injak Ning. Loe buta banget sih. Makan cinta enggak kenyang deh perasaan" kesal Naya. "Iya, maaf" "Oke gue maafin" Kalau sudah begitu maka Naya akan luluh. Sama seperti adiknya meminta maaf padanya. Bakalan luluh dia. Kebetulan, Bening hanya anak tunggal, otomatis dia juga sayang Bening banget dong. Dia punya Kaka lelaki, Adit namanya dan adik masih SMP Randy namanya. Jadi, dia cukup bisa mengayomi Bening sebenarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD