MATAHARI, polusi debu, jam makan siang dan macet. Perpaduan luarbiasa. Ku lihat layar ponsel, tertulis tiga puluh derajat terasa tiga puluh lima derajat celcius untuk perkiraan suhu siang ini. Sumbu tata surya di galaksi bima sakti hari ini sedang eksis berjaya. Panasnya ngalah-ngalahin memergok gebetan yang ketahuan jalan sama cewek yang lebih bening dan ternyata sahabat sendiri.
Aku memijat betis yang tertutupi celana kain. Entah harus bersyukur atau menyumpah mengingat jumlah kalori yang terbakar setengah hari--untuk mengunjungi toko dan rumah makan yang sedang mencari karyawan.
Hasil yang kuterima sia-sia. Tempat pertama yang kusambangi yaitu rumah makan. Shif kerja yang ditawarkan membuatku mundur teratur. Tiga belas jam kerja dengan bayaran under satu digit rupiah. Tidak mungkin kudedikasikan hidupku untuk penganut sistem kerja rodi ini! Pekerja kantoran yang bekerja delapan jam dalam ruangan ber AC saja bisa mendapatkan penghasilan di atas satu digit. Masa pekerjaan yang melibatkan tenaga fisik dan pikiran, tidak?
Kedua, toko parfum. Dan lagi-lagi tidak deal, alasan satu ini lebih pada keselamatan bekerja. Aku bermasalah dengan sensitifitas indera penciuman, tidak tahan dengan aroma-aroma yang menyengat, terlebih mereka menjual parfum dengan wewangian sejenis dengan aroma minyak wangi ‘malaikat subuh’. Berbincang beberapa menit di dalam sana saja sudah membuat kepala pusing tujuh keliling dan perut mual. Bagaimana jika harus duduk seharian di toko? Bisa-bisa pingsan di tempat!
Selain itu, aku juga tidak sreg dengan gaji yang ditawarkan. Bayangkan, gaji bulanan hanya cukup untuk ongkos pulang-pergi dari rumah ke tempat kerja. Apa bedanya dengan pengangguran? Sama-sama memerlukan sumbangsih tambahan untuk kelangsungan hidup, bedanya lebih bergaya karena setiap hari aku bisa mengatakan ‘berangkat kerja’ pada tetangga yang senang nyinyir, Hah. Tenagaku benar-benar sudah habis ditambah perut lapar. Siang ini sudah cukup. Aku ingin pulang!
Aku membuka aplikasi ojol dan memesannya. Tapi sekali lagi aku harus bersabar. Tiga kali kupesan ojol untuk mengangkutku pulang, sebanyak itupula mereka membatalkannya. Apa sebegitu beratnya aku dengan masalahku hingga ojolpun menolak?
Bersama latar halte tepi jalan raya dan segala kebisingannya membawa badanku terbungkuk. Berpangku pada lutut kemudian menatapi sepatu yang sudah terkelupas. Solnya menipis hampir berlubang. Begini sekali nasibku. Air mengucur begitu saja, entah darimana asalnya. Apakah sebab keringat yang mengenai mata hingga terasa perih dan begitu mengenai bibir rasanya asin ataukah airmata yang sedang mengasihani diri sendiri.
“Mbak, kalo nangis jangan disini” tegur seseorang dengan sepatu kulit hitam. Kepalaku mendongak ke arah sumber suara yang sekarang berada di depanku.
“Kamu ternyata?” dia tertawa.
Tawanya itu membawa ingatan ke beberapa hari lalu. Hari dimana aku terlihat berantakan dan menyedihkan. Aku menyesal terlambat menyadari penampilan hari itu--baru tahu ketika sudah pulang dan mendapati pantulan diri di depan kaca rumah. Dan kejadian itu harus terjadi sekali lagi sekarang. Rambut lepek, pakaian kumal, bau keringat dan wajah yang minyakan. Sudahlah, aku tidak peduli lagi bagaimana penilaian laki-laki ini terhadapku.
“Hai” sapaku lemah di sisa tenaga yang kumiliki.
Dia pindah duduk ke sampingku. “Ngapain disini?” tanya Farhan.
“Ngitung motor ama mobil lewat” sahutku seadanya.
“Enggak sekalian truk ama pickup gitu?” balasnya. Mataku beralih ke wajahnya dengan senyum gagal tertahan.
Apa sih? Bikin diabetes aja, deh. Senyumnya manis banget dan tanpa malu batinku menjerit SUBHANALLAH!
Entah karena tenagaku sedang berada di mode sekarat seperti ini hingga tarikan bibirku melengkung dengan sendirinya, “Itu lelucon?” sahutku tak mau mengakui jokesnya yang menghibur.
“Nggak lucu, ya?” tanyanya sekali lagi.
Kepalaku menggeleng. “Harus ku akui, kali ini sedikit lucu” tanganku menunjukkan tangan seujung jari untuk kadar kelucuannya.
“Thanks, buat pujiannya” ujarnya bangga.
Farhan melirik ke pergelangan tangannya yang terikat gelang jam hitam, “Sedikit imbalan karena udah bikin aku seneng. Mau lunch bareng? Kalo kamu gak ada acara tentu saja” ajaknya.
‘Terima, gak? Terima, gak?’ begitu isi pikiranku.
Saat isi kepala masih mempertimbangkan, lain hal dengan isi perut yang sudah membuat keputusan. Di waktu yang tidak tepat dia memberikan sinyal kedua. Berbeda dengan sinyal pertama yang hanya membuat lambung terasa perih, kali ini sinyalnya lebih beringas dengan mengeluarkan bunyi yang akan membuat siapa saja tertawa.
Yah, itu adalah reaksi yang wajar. Tapi hebatnya Farhan tidak memberikan reaksi seperti tersenyum apalagi tawa yang mengejek. Dia bersikap seolah tidak mendengar apapun! Apa ini? Ternyata dia sopan juga. Satu poin untuknya dariku.
“Kamu tahu tempat makan enak paling deket gak di daerah sini? Soalnya aku orang baru” tanyanya padaku yang belum mengonfirmasi ajakannya tadi.
Aku mengangguk, “Tau” sahutku, meliriknya hati-hati. Masih ada sisa-sisa kemerahan di wajahku.
“Ya, udah. Kamu tunjukin jalannya” pintanya kemudian berjalan menuju motornya.
Hei, aku belum menyetujuinya!
Meski begitu kakiku memberikan reaksi lebih dulu dan duduk di belakangnya. Sepertinya selain bermasalah pada karir dan percintaan ternyata saraf motorik dan olfaktorikku juga mulai terganggu. Di jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum yang terasa maskulin dan menyengat di hidungku, setipe dengan image miliknya. Dan anehnya, aku menyukai aroma ini.
Bahu Farhan kutepuk dua kali--memberitahunya untuk berhenti tepat di depan tenda makan pinggiran jalan. Farhan menurut, dia menepikan motornya ke area parkir kemudian menyusulku yang sudah berdiri di depan baliho besar bertuliskan ‘Bebek Sinjay’.
Gerakan cepat dari mataku--mencuri pandang ke samping kiri, berhasil mengetahui reaksi apa yang diberikannya pada tempat ini. Satu poin tambahan lagi untuknya yang biasa saja tanpa tatapan jijik apalagi merendahkan.
“Ayo, masuk!” ajaknya, tangannya tersampir di bahuku. Sesaat badanku menegang akibat sentuhan dadakannya. Apa sikapnya ini normal untuk seorang yang baru kenal?
“Kamu gapapa tempatnya panas, gini?” aku sedikit berteriak. Banyak pengunjung membuatku harus mengeluarkan tenaga ekstra.
“Gak masalah. Semoga rasa masakannya worth it, ya” sahutnya yang terlihat antusias menunggu makan siang atau karena kelaparan.
Setelah duduk berhadapan, dari seberang meja aku mulai menyadari bahwa penampilan Farhan hari ini terlihat sangat tampan (dan hot). Dia memakai kemeja katun polos berwarna hijau mint. Satu kancing atas dibiarkannya terbuka, memperlihatkan tulang selangkanya terekspos bebas. Ditambah sekarang dia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku begitu makan siang kami diantarkan. Pantas saja perhatian beberapa pengunjung tertuju padanya.
“Kamu gak makan?” tanyanya. Aku menggeleng, sengaja membiarkannya lebih dulu makan dan menunggu bagaimana reaksinya saat mencicipi rasa menu masakan hasil rekomendasiku.
“Gimana? Kamu suka?” tanyaku harap-harap cemas begitu mendapati perubahan wajahnya yang sulit kuartikan.
Dia mengangguk kemudian tersenyum, membuatku lega. “Iya, aku suka” ujarnya menatapku lamat-lamat tanpa berkedip.
Ganti, sekarang aku yang kelabakan karena salah tingkah. “Makan-makan” alihku seolah tak terpengaruh.
Bahaya! Feromonnya bukan main.
Selama makan Farhan tidak mengajakku bicara sama sekali. Kami sama-sama sibuk pada makanan masing-masing. Atau mungkin dia paham, aku sangat kelaparan. Usai menungguku makan dengan sabar, dia akhirnya membuka suara.
“Kamu habis darimana? Boleh tahu berkas apa yang kamu bawa?” tunjuknya pada handbag transparan yang ku taruh di kursi sebelah.
“Habis interview kerja” jawabku enteng.
“Oh, ya? Dimana?” tanyanya tertarik.
“Rumah makan sama toko parfum” sahutku.
“Wih, keren! Ngincer posisi apa?”
Aku mengibaskan tangan beberapa kali di depan wajahku, bermaksud agar Farhan tidak menaruh ekspektasi tinggi. “Karyawan biasa. Dan keduanya batal” jelasku.
“Batal gimana maksudnya? Tempatnya tutup? Atau kamu salah jadwal?”
“Nggak sreg aja sama jam kerja dan gajinya” ungkapku jujur.
Dia mengangguk. “Kamu jurusan apa kalo boleh tau?” tanyanya penasaran.
“Administrasi bisnis” sahutku seadanya.
“Interesting! Boleh lihat cv kamu?”
“Sure!” sahutku tanpa ragu menyerahkan handbag beserta isinya.
Aku kembali menyesap teh es sembari mengamati raut wajahnya yang sedang membaca cv-ku. Sesekali kulihat kedua alisnya mengerut, hampir menyatu. Kadang kepalanya juga mengangguk-angguk takjub. Begitu selesai, dia mengembalikan cv ke tempatnya dan menutup handbag milikku.
“Sebenarnya pengalaman yang kamu punya udah cukup bagus” komentarnya pertama, terdengar menyenangkan di telingaku namun mawas menunggu kelanjutkannya.
“Tapi, kalo boleh saran, ada beberapa hal yang harus kamu perbaiki. Kayak misalnya deskripsi diri sendiri milik kamu, harusnya dituliskan secara objektif bukan tulisan-tulisan pendapat yang sifatnya subjektif” terangnya lugas, sedikit menyentilku.
Ucapannya barusan bukan menyebutku seorang yang tidak objektif, kan?
“Sudah berapa banyak surat lamaran yang kamu antar?” tanyanya sekali lagi.
“Entah. Mungkin udah sepuluh lebih” sahutku jujur.
“Dan belum ada yang tembus?” tebaknya tepat sasaran, meninju sisi sensitif perasaanku. Kepalaku menggeleng lesu.
“Gapapa. It's okey kok, Keen. Kita perbaiki sama-sama, ya” Farhan berujar lembut. Mataku mengerjap.
Hah? Gimana-gimana?
“Akhir pekan ini kamu ada acara?” tanyanya aktif.
Acara apaan? Rencana rebahan sepanjang hari sih, iya!
“Gimana kalo nanti kita ketemu di dermaga? Nanti aku bantuin perbaiki cv kamu” usulnya impulsif.
Spontan kepalaku mengangguk. “Boleh-boleh!” sahutku semangat, dia tersenyum lagi. Seneng deh liat cowok ganteng gini banyak senyum.
Selain belajar, bisa sekalian cuci mata juga, gak sih? Menyelam sambil minum air ini namanya!
Rejeki anak sholehah emang gak kemana! Uhuy!
***