"Sttt..." Tana meringis sakit saat Elrama menarik potongan kecil kaca yang menyangkut di jari telunjuknya.
Mereka berada di meja makan. Elrama membantu mengobati luka di jari-jari Tana.
"Maafkan saya, pak. Nanti saya ganti semua barang-barang yang saya rusak tadi" Tana memberanikan diri berbicara di tengah keheningan.Elrama masih tetap diam tak menjawab.
"Saya tahu pasti harganya tidak murah, tapi nanti pasti saya ganti. Bapak bisa pot-"
"Bisa kamu diam" Elrama menyela ucapan Tana. Tana memilih diam. Perasaan bersalah semakin dalam merasuki dirinya.
"Mau kemana kamu tengah malam?" tanya Elrama
"Ke dapur. Saya haus, pak"
Hening kembali. Elrama fokus mengobati luka Tana sedangkan Tana sesekali meringis menahan perih.
Setelah selesai luka Tana diobati, Elrama pergi kedapur lalu kembali dengan membawa sebuah teko kecil dan gelas.
"Bawa ke kamar sebelum tidur kamu isi. Saya tidak mau kejadian seperti tadi terulang kembali. Gimana kamu bisa jaga Ibu saya jika menjaga diri kamu sendiri saja tidak becus" Tana menerimanya dengan tangan gemetar.
"Terimakasih, pak"
Tanpa bicara lagi Elrama berlalu dari sana meninggalkan Tana seorang diri.
*****
Pagi hari seperti biasa Tana menyiapkan sarapan. Tana sibuk mencincang bawang putih, dia berniat membuat nasi goreng andalannya yang tidak terlalu susah untuk dimasak. Jarinya masih terasa sakit jika digunakan.
Tana memasukan bawang yang sudah dia cincang ke dalam wajan setelah tercium bau harum dilanjut memasukan telur dan cincangan daging ayam yang sudah Tana bumbui sedikit dengan kecap dan minyak wijen. Setelahnya baru Tana masukan nasi dan bumbu-bumbu penyedap lainnya.
"Wah, harum sekali, sayang" terdengar suara Evelyn menghampiri Tana.
"Tana masak nasi goreng, Mi" ucap Tana
"Mami duduk dulu, nanti Tana siapkan" Evelyn menurut duduk di meja makan menunggu Tana menyiapkan sarapannya.
Tana menyiapkan tiga porsi nasi goreng untuk dirinya, Evelyn dan Elrama.
"Tangan kamu kenapa, sayang?" tanya Evelyn khawatir saat menerima piring nasi goreng matanya melihat jari tangan Tana diperban dan perban itu mengeluarkan darah lagi. Tana melihat perbannya yang berubah warna jadi merah, lukanya yang belum kering berdarah lagi.
"Pagi, Mi" sapa Elrama yang baru bergabung mencium sayang pipi Evelyn. Tapi Evelyn hiraukan fokus pada jari Tana yang berdarah.
"Aku enggak pa-pa, Mi" ucap Tana. Elrama melihat jari Tana yang kembali mengeluarkan darah segera beranjak mengambil kotak obat yang semalam ia gunakan.
"Duduk" perintah Elrama. Tana menurut duduk. Dengan telaten Elrama mengobati kembali jari Tana. Mengganti kembali perbannya dengan yang baru.
"Kenapa bisa begini?" tanya Evelyn lagi.
"Dia itu ceroboh, Mi. Aku jadi ragu dia bisa jaga Mami" ucapan Elrama membuat Tana semakin kecil hati, merasa bersalah.
"El, kamu ini ngomong apa"
"Maafin aku, Mi. Guci dan vas bunga milik Mami pecah gara-gara aku. Tapi, nanti pasti Tana ganti yang baru" ucap Tana merasa bersalah. Pasti barang-barang yang sudah dia rusak harganya tidak murah.
"Sayang, enggak usah pikirin barang-barang itu. Yang terpenting kamu selamat" Evelyn menarik tangan Tana yang sudah diobati dengan hati-hati. Mengelus telapak tangannya sayang.
"Sakit?" tanya Evelyn. Tana hanya menggeleng, tersenyum kecil melihat perhatian Evelyn.
"Nanti siang kamu enggak perlu masak kita pesan aja" ucap Evelyn.
"Iya, Mi"
*****
"Kapan ulang tahun kamu, sayang" tanya Evelyn. Sore hari Tana menemani Evelyn duduk santai di samping rumah dengan segelas teh dan beberapa cemilan.
"Bulan ini tanggal 25" jawab Tana.
"Wah kebetulan sekali. El juga bulan ini tanggal 25"
"Kita rayakan sama-sama, ya" Evelyn berucap senang.
"Aku belum pernah rayain ulangtahun, Mi"
Bagi Tana dulu perayaan ulangtahun tidaklah penting. Kehilangan Ayah di usia 6 tahun kemudian 4 tahun kemudian sang Ibu menyusul kepergian sang Ayah. Setelah itu keluarga yang ia punya hanyalah neneknya. Hidup berdua serba kekurangan. Setiap pulang sekolah Tana membantu menjaga warung milik tetangganya dengan upah yang tidak seberapa. Jangankan merayakan ulangtahun bisa makan sehari 3 kali saja ia sudah bersyukur.
"Tahun ini spesial untuk kamu. Kita rayakan sama-sama, ya?" Evelyn mengelus rambut Tana sayang.
Mata Tana berkaca-kaca menahan tangis. Semenjak ada Evelyn Tana bisa kembali merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Makasih, Mi" Tana tak bisa menahan tangis air matanya mengalir.
"Sama-sama, sayang" Evelyn menarik Tana kedalam pelukannya.
*****
Malam hari ketika semua orang sudah tertidur Tana duduk sendiri di dapur dengan semangkuk mie yang masih mengepul mengeluarkan asap.Ingatannya kembali pada percakapannya dengan Evelyn tadi siang. Sungguh Tana merasa bersyukur bertemu dengan Evelyn. Wanita sangat baik yang sudi menganggap dirinya seperti anak sendiri.
Baru beberapa hari saja tinggal di rumah ini, Tana sudah merasakan kenyamanan. Terbiasa hidup sendiri Tana takut hidupnya akan ketergantungan dengan keluarga ini. Tana harus ingat, seperti yang Elrama katakan bahwa ia disini hanya 6 bulan.
"Malam-malam makan mie" ucap Elrama tiba-tiba datang mengambil air dalam kulkas. Tana yang sedang melamun tersentak kaget.
"Eh..."
"Jangan terlalu sering melamun apalagi tengah malam seperti ini" ucap Elrama menatap Tana.
"Bapak mau mie" Tana malah menawarkan mienya yang sudah melar pada Elrama karena lelaki itu terus-terus saja menatap mie miliknya.
"Boleh" Elrama memang merasa lapar. Tadi sore ia hanya makan sedikit. Makanan yang ia beli di restoran langganannya itu sekarang terasa berbeda. Elrama malah membandingkan makanan itu dengan makanan yang biasa Tana masak. Makanan yang Tana masak sederhana tapi selalu pas untuk lidahnya.
"Tiga bungkus" Tana tak akan kaget mengingat tubuh besar Elrama pasti porsi makannya juga besar.
"Mau pakai telur dan sayuran?" tanya Tana.
Tana berdiri mengambil stok mie lalu berjalan ke kompor mulai menyiapkan air untuk rebusan mie.
"Terserah kamu, Tanayu. Tapi, saya lebih suka ditambah beberapa biji cabai dengan kuah yang sedikit" ucap Elrama yang Tana angguki patuh.
Elrama duduk di kursi meja makan dapur memperhatikan Tana yang serius membuat mie untuknya. Sambil menunggu air mendidih Tana memotong-motong sayuran dan beberapa butir bakso. Setelah air mendidih Tana masukan 3 bungkus mie saat mie setengah matang baru Tana masukan bakso dan sayuran. Untuk telur sudah Tana masak di awal setengah matang dan sudah ia sisihkan ke wadah lain.
Tana tersentak kaget saat tiba-tiba Elrama menyentuh rambutnya mengumpulkan helaian rambut Tana dalam genggaman tangan besar Elrama. Elrama mencepol rambut Tana tanpa bantuan ikat ataupun jepit rambut. Tana sempat membeku beberapa saat apalagi ketika tak sengaja telapak tangan Elrama menyentuh belakang leher Tana.
"Saya tidak mau ada rambut kamu di makanan saya" ucap Elrama kembali duduk. Tana akui rambutnya memang sedikit menganggu. Ingin ia ikat tapi tangannya sudah kotor dengan bumbu mie.
"Terimakasih, pak" ucap Tana kembali melanjutkan masaknya. Setelah matang mie di angkat dan dimasukan ke dalam mangkuk yang telah Tana siapkan. Tak lupa Tana tambahkan juga telur setengah matang 2 butir.
"Silakan dimakan, pak" Tana menghidangkan mie tersebut pada Elrama.
"Ambil mangkuk lagi" perintah Elrama yang langsung Tana turuti. Menyerahkan sebuah mangkuk bersih pada Elrama.
Elrama membagi seperempat mie miliknya dan satu telur setengah matangnya ke mangkuk yang tadi Rere ambil lalu diberikan kembali pada Rere.
"Makan yang ini saja. Punya kamu sudah dingin" ucap Elrama
"Tidak perlu, Pak. Yang ini belum sempat saya makan, sayang kalo harus dibuang" ucap Tana menolak.
"Itu cuma sebungkus mie instan Tana. Buang saja rasanya pasti sudah tidak enak" ucap Elrama yang dibalas gelengan oleh Tana.
"Maaf, pak. Walaupun ini cuma mie instan tapi saya sangat menghargai makanan. Banyak diluar sana yang bahkan membeli sebungkus mie instan saja masih kesusahan" Tana memang sedikit emosional jika itu tentang makanan.Kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil lalu kemudian diasuh oleh Neneknya. Neneknya yang bekerja keras mencari uang untuk makan dan biaya Tana sekolah. Saat Neneknya sudah meninggal dan Tana tinggal sendiri terkadang ia hanya mampu makan satu kali sehari itupun hanya dengan mie instan. Maka dari itu Tana sangat menghargai setiap makanan yang kini ia dapat.
"Oke. Tapi yang ini kamu makan juga" mereka akhirnya makan dalam diam.
"Tentang perayaan ulangtahun itu saya lebih suka jika kita rayakan di rumah saja. Nanti saya akan undang beberapa teman dekat saya kamu juga bisa undang teman atau keluarga kamu" ucap Elrama. Tadi saat makan malam Evelyn sudah menyinggung perihal perayaan ulang tahunnya. Elrama sebenarnya tak butuh perayaan itu tapi Evelyn memaksa, ketika Evelyn mengatakan bahwa tanggal ulangtahun Tana sama dengannya dan ini pertama kali untuk Tana merayakan ulangtahun akhirnya Elrama mengalah.
"Saya sudah tidak punya keluarga, Pak. Teman dekat juga tidak ada" Tana berkata jujur. Ada beberapa Paman dan Bibinya di kampung tapi mereka tidak dekat. Teman pun Tana tidak punya karena terlalu sibuk bekerja, Tana tidak biasa membuang-buang waktunya dengan bermain-main.
Elrama hanya mengangguk paham. Sekilas ia pernah mendengar dari Evelyn bahwa Tana adalah yatim piatu.