Pasukan Tak Kasat Mata

1899 Words
Malam itu seperti biasa, Putra sedang berada di gubuk, dekat kandang bebeknya. Bersama tiga orang temannya. Bermodalkan satu gitar untuk mengusir hawa dingin dan kebosanan. Pukul 00.45 sekarang. Mereka masih terjaga. Bosan dengan petikan gitar, Putra menyarankan untuk melakukan hal yang cukup ekstrem. "Eh, bakar dupa, yuk." "Buat apa?" tanya Gandul, temannya. Gandul bukanlah nama asli remaja berkulit eksotis itu. Hanya sebuah julukan yang di ciptakan teman-temannya. Farhan. Adalah nama aslinya. "Kita coba panggil setan, yuk? Seperti yang di video viral itu." "Gila kamu! Kalau sungguh datang bagaimana?" "Makanya, di coba dulu. Ambil dupa di dapur sana. Di atas lemari." Farhan menuruti kemauan Putra. Sementara yang lain, masa bodoh. Jarak dari dapur ke gubuk hanya membutuhkan 25 langkah. Setelah dupa di tangan, Putra segera membakarnya. Menancapkannya di tanah. Mengentakkan kaki ke tanah. 3 kali. Lalu, Putra melihat sekeliling. Masih tetap sunyi. Tidak ada derikan hewan malam. "Ah, di bohongi konten! Enggak ada apa-apa," sahut Sandi— teman yang lain. "Aku buat kopi dulu saja. Biar enggak mengantuk," timpal Farhan. Putra kembali duduk. Bernyanyi mengikuti irama gitar yang di petik Sandi. Memandang ke arah semak-semak, di dekat kuburan. Sedikit jauh di depannya. Entah kenapa, sudut yang harusnya gelap, tiba-tiba terlihat terang sekali. Sehingga dia bisa melihat seseorang berdiri di sana. Tangannya merentang ke samping. Seperti memakai topi orang-orangan sawah. Di detik ini, hawa dingin sudah tak terasa lagi. Sempit. Sesak. Seolah-olah banyak orang di situ. Putra yang melihat sosok tersebut, mengerutkan mata. Mencoba menajamkan pandangan. "Eh, San.. Lihat orang itu enggak?" Sandi berhenti bermain gitar. Ikut melihatnya. "Iya.. Kenapa?" "Itu.. orang bukan, sih?" "Orang iseng kali." "Tapi, kok kita bisa lihat, ya? Di situ kan gelap sekali. Enggak ada lampu." "Ah, begitu saja kok kamu pikirkan." Putra masih merasa janggal. Yang dilihatnya, orang sungguhan atau bukan. Kalau orang, untuk apa dia berdiri di sana? Bergaya seperti orang-orangan sawah. Tengah malam. Di kebun orang lagi. Tidak masuk akal sekali. Apa mungkin hanya pohon? Karena minim cahaya, bisa saja Putra dan Sandi hanya salah melihat. Putra pun berniat mengambil ponsel, yang ada di belakangnya. Meraba-raba dengan tangan. Matanya tidak mau teralih-kan dari sosok tersebut. Takut saja, kalau dia menoleh nanti, sosok itu tiba-tiba hilang. Setelah ponsel ada di tangannya, ia membuka kunci. Bertujuan untuk menyalakan senter ponsel. Tetap. Matanya tertuju pada sosok tersebut. Belum sampai, ia menekan gambar senter, sosok tersebut berlari ke arah Putra. Sangat cepat. Hingga, hanya memerlukan 3 detik sampai di depan Putra. Lalu, menghilang tepat di depan wajahnya. "ANJING! Setan itu!" Saking terkejut bercampur gemetar, Putra mengumpat dengan suara lantang. "Apa setan?" tanya Sandi. "Yang kita lihat tadi! Setan itu!" "Kamu jangan buat aku takut!" "Sungguh!" "Sudah! Mungkin lagi apes saja!" Putra yang masih ketakutan, mencabut dupa dan menginjaknya sampai ujungnya mati. Dan kembali, duduk. Berharap keanehan itu, tidak terjadi lagi. "Eh, badanku kok tiba-tiba berat ya rasanya?" tanya Sandi. Meletakkan gitar. "Kamu juga? Aku dari tadi rasanya gerak itu berat sekali. Aku kira mau sakit." "Iya. Rasanya kok begini, ya. Beda sekali hawanya. Sesak." "Padahal ada angin, loh." "Mana? Enggak ada sama sekali." "Loh, itu pohonnya bergerak." Putra menunjuk pohon ramping yang tinggi, ada beberapa meter di samping kanan gubuk. Dia kembali mengernyit. Di saat melihat pohon lain tidak bergerak. Yang berarti benar kata Sandi. Tidak ada angin. Lantas, bagaimana pohonnya bisa bergerak? Terlebih, kain putih besar di pucuk pohonnya. Itu apa? "Itu—kain ya?" tanya Putra. "Iya, sepertinya kain." "Tapi, kok atasnya hitam panjang begitu? Seperti rambut. Bergerak loh. Angguk-angguk begitu." "Salah lihat mungkin. Di atas, kan gelap. Bisa saja cuma bayangan." "Bro, kalau masalah gelap.. Memang, gelap di situ. Dan enggak seharusnya kita bisa lihat, kan? Kamu perhatikan sekeliling. Pasti, kamu lihat ada sesuatu yang aneh." Sandi mengedarkan pandangan. "Iya, juga. Kok kelihatannya terang sekali, ya. Tadi, waktu aku datang gelap sekali loh di sini. Lampu juga ada di gubuk sama kandang saja. Terus dapur. Kok, ini semuanya terlihat terang? Bulan di balik awan pula." "Makanya, aneh. Tadi yang aku lihat itu pasti setan." "Kamu sih! Kenapa harus bakar dupa!" "Berarti kain putih itu— juga bukan kain kayaknya." Keduanya kembali melihat ke atas pohon. Kain putih itu semakin bergerak cepat. Seolah berayun. Kemudian melayang turun. DUAR! Kain putih yang entah sosok apa, menembus tanah dan menimbulkan bunyi ledakan. Tepat, di depan pintu dapur. Farhan yang masih membuat kopi, berjengit kaget. Lalu keluar. Bahkan satu temannya yang sedari tadi tidur, terbangun gara-gara suara tersebut. "Suara apa itu?!" tanya Farhan. "Kopinya sudah jadi?" "Barusan jadi." "Bawa kesini dulu. Nanti aku beritahu." Seceret kopi dan 1 gelas kosong, di bawa Farhan ke gubuk. Lalu, Putra mulai bercerita. "Wah, gila kamu! Aku sudah bilang, kan?! Enggak usah bakar dupa! Itu sama saja kamu menantang mereka!" "Wes, semoga saja, itu tadi yang terakhir," kata Putra. *Wes: Sudah. "Tapi, sepertinya aku lagi enggak enak badan. Jalan kesini dari dapur saja, rasanya berat banget kakiku," jelas Farhan. "Aduh, bagaimana ini.." tambah Sandi. "Den, badanmu rasanya berat enggak?" Putra bertanya pada Deni. Temannya yang baru bangun. "Iya, sama." Putra menghela nafas panjang. Menundukkan kepala. Berpikir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada teman-temannya? Karena ulah isengnya itu. Dalam hati pun, ia terus mengucapkan kata maaf pada mereka yang tak sengaja di undangnya. "Di! Kamu itu membuat jantungku copot saja!" seru Putra, ketika kepalanya kembali tegak. Adi—sepupu Putra yang sore tadi berpamitan keluar ke rumah temannya sudah datang. Matanya sayu. Tidak bisa berdiri tegak. Sempoyongan. Yah, kenakalan remaja. "Aku tidur dulu, ya mas Put. Nanti kalau bangun, aku temani." Adi kembali masuk. Sementara Putra dan teman-temannya, masih gugup. Takut kalau kejadian tadi terulang lagi. Benar saja. Kali ini, Deni yang di ganggu. Sejak tadi, ia mengibaskan tangannya di kepala bagian belakang. "Put, bakar obat nyamuk. Banyak banget nyamuknya. Berdengung terus di telingaku." "Mana? Enggak ada nyamuk." Dua teman lainnya, membenarkan kata-kata Putra. "Ini loh. Di belakang kepalaku. Terbang-terbang terus." Ketiganya kompak menengok. Melihat ke arah belakang Deni. Tangan tanpa lengan dan badan sedang bergerak ke kiri kanan. "DEN! KESINI!" Ke empat dari mereka turun dari gubuk. Menatap ke arah gubuk. Tangan tersebut sudah hilang. “Di! Kamu ini, dari tadi buat kaget terus, sih! Katanya tidur!" Kali ini, Farhan yang berseru. Melihat Adi berdiri di balik jendela dapur, yang hanya beberapa langkah dari mereka. Adi yang mengenakan kaus hitam, hanya menopangkan dagu. Tatapannya kosong. Putra dan yang lain pun kembali duduk. Kali ini, mereka sudah tidak nyaman. Sesekali melirik, menengok. Mungkin saja, ada pocong atau sebangsanya di dekat mereka. Namun, sudah hampir setengah jam, gangguan tidak terjadi lagi. 30 menit itu pula, Adi masih tetap dengan posisinya. Matanya tidak berkedip sama sekali selama itu. Farhan dan Putra yang menyadari keanehannya, saling berbisik. "Apa mungkin kesurupan dia?" tanya Farhan. "Di! Kamu jangan seperti itu! Kamu enggak tahu, kan? Apa yang baru sja kita alamin?! Kita baru saja di ganggu setan!" Penjelasan Putra tak membuat Adi bergeming. Dan, itu semakin membuat Putra yakin—jika, Adi kerasukan. Karena, tiap mendengar kata Setan Adi selalu berlari. Atau mengumpat tidak karuan. Adi penakut. Sangat. "Setelno syair lingsir wengi. Ping telu," kata Adi. *Putar syair lingsir wengi. 3 kali. Putra yang bingung dengan kata-kata Adi, menurut saja. Dia mencarinya lewat situs video berbagi. Dan, memutarnya sebanyak 3 kali. Setelah syair selesai Adi tertawa singkat. "Ya, sudah. Waktunya aku pulang." Pulang? Ke mana? Pikir Putra. Adi pun beranjak dari tempatnya. Suasana tampak berbeda. Angin malam lembut menyapa mereka. Sudah tidak terasa berat atau sesak. "Loh.. Hawanya sudah beda, ya?" tanya Farhan. Sementara Putra masih terhenyak. Berlari masuk. Pergi ke kamar Adi. Dan, kembali tertegun. Melihat Adi terbangun, karena Putra membuka pintu dengan kencang. "Ada apa, Mas?" "Kamu—Kok cepat sekali ganti bajunya? Bukannya tadi pakai kaus hitam, ya?" "Mana ada? Aku dari tadi pakai kaus putih ini.” Putra tergelak takut. "Kamu.. Barusan dari belakang, kan?" "Enggak. Aku baru bangun begini. Kenapa memang?" Putra terbelalak. Masih mematung. "Mas.. Ada apa, sih? Jangan membuatku takut, ah!” "Sek-Sek.. Bentar. Panggil yang lain dulu. Suruh mereka masuk." *Sek : Tunggu. Sementara Adi memanggil yang lain, Putra membuka mesin pencarian di ponsel. Tentang syair lingsir wengi. Begitu terkejutnya dia. Ternyata Syair Lingsir Wengi yang di ciptakan oleh Sunan Kalijaga itu adalah penolak bala. Sosok yang menyerupai Adi tersebut, berniat untuk menolong mereka. Putra dan teman-temannya tidak sadar. Jika, mereka tidak di ganggu oleh makhluk-makhluk itu. Melainkan Putra dan yang lain mengganggu kediaman mereka. Yang berarti Putra dan ketiga temannya, baru saja keluar dari dunia mereka. Jika saja, Sosok Adi tadi tidak datang, bisa saja mereka terjebak selamanya di situ. Dan, di masukkan ke daftar orang hilang. Setelah penjelasan singkat itu, mereka tampak bersyukur. Masih di selamatkan oleh Sosok Adi. Juga Allah. Tapi, mereka tidak berani kembali ke gubuk. Ya, untuk malam ini saja. Mereka biarkan bebek-bebek itu di luar tanpa ada penjaga. Percaya saja pada Allah. Tidak akan ada pencuri masuk. ** Pukul 03.15 sekarang. Adi mengelus perutnya. "Aku lapar banget. Ada makanan enggak, Mas Put?" "Enggak ada. Habis kita makan tadi." "Terus makan apa aku? Lapar banget." Farhan yang juga merasa lapar, membuat usulan untuk memasak mi instan. "Terus kita ke belakang lagi ini?" tanya Putra. "Ke belakang bersama saja. Biar enggak takut." Putra yang baru saja merasakan lapar, akhirnya menyetujui usulan itu. Sedangkan, dua temannya memilih untuk tidur di dalam. Ketiganya kembali ke dapur. Sementara Adi memasak, Putra dan Farhan sedang asyik bernyanyi, dan bermain gitar. Duduk di ranjang bambu sudut dapur. Mengusir rasa takut mereka. Saat Putra menunduk, ia melihat bayangan mondar-mandir di depannya. Tidak hanya satu. Banyak. Banyak sekali. Putra berdeham takut. Sementara, Farhan masih terus memainkan gitar. Bayangan itu masih saja berseliweran. Seolah-olah tempat ini adalah pasar umum. Merasa jengkel, Putra membentak. "Jangan cuma berisik di situ! Sini kalau berani!" Ucapan menantang yang sangat salah sekali. Angin berembus kencang tiba-tiba. Jendela terbuka karenanya. DUM! DUM! DUM! Langkah kaki yang terdengar sangat berat, seperti seekor godzila di film. Mendekati Putra dan Farhan. Berhenti tepat di depan Putra. Sosok itu kemudian berdeham. Suaranya seperti monster. Berat. Dan, mengerikan. Putra dan Farhan yang sudah gemetar—tak mampu melihatnya. Namun, sosok tersebut masih terlihat jelas di mata putra. Tinggi. Besar. Hitam. Berbulu. Sosok itulah yang di sebut Genderuwo. "Pu-put.. Kunci A itu gimana, ya?" Farhan yang lihai bermain gitar mendadak menjadi bodoh dalam sekejap. Basa-basi yang mencoba untuk mengusir rasa takutnya. "Ma-maaf.. Maaf.. Kamu boleh pergi. Maaf, aku enggak ada maksud buat menantang, kok," kata Putra. Di detik selanjutnya, sosok itu menghilang. Adi sudah selesai membuat mi. Ketiganya pun makan. Putra masih gemetar. Terlihat dari tangannya ketika mengangkat sendok. Baru saja, sendok mau di masukkan ke mulut, tiba-tiba saja terlempar ke lantai. Sementara tangan Putra masih tetap pada posisinya. Farhan dan Adi menatap Putra yang tertegun. Tahu betul, jika sendok terlempar dengan sendirinya. Tanpa banyak kata lagi, ketiganya makan dengan perasaan takut. Tidak lagi menggunakan sendok. Putra makan mi dengan tangannya. Tak lama setelah itu, Ibu Putra datang. "Dua temanmu tidur di dalam, le. Kamu di gubuk saja, ya. Jangan di tinggal bebeknya." Ultimatum sang ibu, tidak bisa di ganggu gugat. Berani melanggar, maka seharian penuh akan mendengarkan ocehan Ibu tanpa henti. "Terus itu kenapa jendelanya di buka semua? Tutup sekarang." Piring Putra baru saja kosong. Dia lanjut mencuci tangan. Dan, menutup dua jendela. Giliran jendela terakhir, ia mengurungkan niatnya. Kembali duduk bersama Farhan dan Adi, yang tahu kenapa Putra tidak menutup jendela yang berada beberapa langkah di depan mereka. Sosok rambut gimbal tanpa baju, sedang memeluk pohon pepaya. Menatap mereka hingga suara adzan terdengar. Sosok itu menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD