Sahabat Tak Kasat Mata

2562 Words

"RINDI! Ah, kamu! Jantungku mau copot rasanya!" "Hehe. Maaf. Kenapa kamu berdiri di depan pintu seperti ini?" "Dari tadi, aku cariin kamu. Lagi apa kamu di situ? Kok, aku bau menyan?" "Bau menyan bagaimana, Mas? Ngaco kamu. Ini bau parfum baruku!" "Oh. Ya, Maaf. Haha." "Kamu sudah makan?" "Belum, Rin." "Ya sudah, kamu mandi dulu. Biar aku buatkan makan." "Iya, Rin. Eh, tapi Diko mana?" "Ada di kamar." "Heh? Enggak ada di kamar, Rin." "Ada, Mas. Lagi lihat TV." Andi segera membuka pintu kamarnya lagi Dan, benar saja—Diko ada di kasur atas. Menonton TV. Ia pun mendesah panjang. "Ada apa denganku, akhir-akhir ini," katanya dalam hati. "Cepat mandi, Mas." "Iya, Rin." Andi mengambil handuk di kamar. Lalu, pergi ke kamar mandi. Membuka kemeja. Dan, melepas celananya. Kemudian, me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD