“Seram juga, ya rumahmu, Ndi?” kata Panji, yang mengusap-usap lengannya.
“Masih kalah seram sama rumah nenekku.”
“Ih, ada apa di sana, Ndi?”
“Gado-gado, Pan.”
“Maksudnya?”
“Ya, kamu mau bertemu siapa? Genderuwo? Kuntilanak? Pocong? Jin? Anak jin?”
“Tunggu-tunggu. Itu rumah apa penangkaran setan, Ndi?”
“Sialan, kamu Pan.”
“Habisnya banyak sekali.”
“Hehe. Iya, memang banyak.”
“Cerita-cerita. Mumpung bos belum datang.”
“Kalau di rumah Nenek—pengalamannya adikku, sih.”
Sekitar pukul 21.00. Langit sudah sangat gelap. Bertambah gelap lagi, di sebelah rumah tidak ada penerangan sama sekali. Putra dan Farhan sedang bermain catur, di ruang tengah. Jendela kayu dengan teralis besi di buka oleh Putra. Terlihat halaman samping, yang langsung terarah ke kebun belakang.
“SKAKMAT!” pekik Putra. Sambil tertawa riang.
Sementara Farhan, merutuk tidak jelas.
“Kok kalah terus sih, aku.”
“Haha. Otakmu tidak cerdas.”
“Sialan.”
Terdengar derum motor 4 tak kemudian. Putra dan Farhan segera berdiri. Menengok ke arah jendela. Terlihat sebuah motor berwarna hitam, melaju pelan ke arah kebun belakang. Putra dan Farhan mengernyit. Saling pandang.
“Siapa yang datang?” tanya Farhan.
“Mana aku tahu. Orang gelap.”
Satu.
Dua.
Tiga.
Kedua teman Putra, yang ada di gubuk berteriak kencang. Dan, berlari masuk. Putra dan Farhan turut panik.
“Hei, ada apa? Siapa yang datang?” tanya Putra, sesaat kedua temannya masuk. Dengan napas tersengal.
“Kalian juga lihat motor tadi?” tanya Sandi.
Putra dan Farhan mengangguk.
“Enggak ada orangnya!”
“Hah? Yang serius kamu?!” kata Putra.
“Enggak mungkin, kami teriak seperti ini, kan?”
“Terus kemana sekarang motornya?”
“Enggak tahu. Tadi jalan terus ke arah kuburan.”
“What? Kamu enggak lagi mengarang novel, kan?” tanya Panji.
“Kalau enggak percaya, aku ajak ke rumah Nenekku, mau?”
“Hehe. Terima kasih ajakannya.”
Di detik selanjutnya, Pria dengan tubuh gemuk terlihat menaiki tangga. Panji segera menggeser kursinya. Kembali ke meja.
“Pagi semua,” sapa pria itu.
“Pagi, Pak,” jawab Panji dan Andi kompak.
“Andi.. Kami ke ruangan saya sebentar, ya?”
“Oh, baik, Pak.”
Pria itu masuk ke ruangannya terlebih dahulu. Kemudian, Andi menyusul.
“Ada apa, Pak?” tanya Andi, setelah di dalam ruangan.
“Duduk dulu,” kata Ferdi—pimpinan Andi.
Andi segera duduk, di depan meja Ferdi.
“Hari ini, kamu pergi ke rumah Pak Deri, ya?”
“Pak Dery, yang mengajukan pinjaman kemarin, Pak?”
“Iya. Kamu lihat rumahnya. Dan, dokumentasikan. Untuk persyaratan peminjaman.”
“Siap, Pak.”
“Nanti saya temani.”
“Iya, Pak.”
Andi adalah seorang penilai jaminan di bank tersebut. Di mana tugasnya adalah mengukur luas tanah rumah, yang sertifikatnya akan di jadikan jaminan pada bank. Juga mendokumentasikan rumah tersebut.
30 menit kemudian, Ferdi keluar dari ruangannya.
“Andi, kita berangkat sekarang.”
“Siap, Pak.”
Andi bergegas membereskan barangnya. Menggendong tas di punggung. Dan, turun.
“Hati-hati, ya?” kata Pak Ferdi pada 4 pekerjanya di lantai atas. “Saya sedang keluar. Jadi, nanti kalau ada yang menelepon dari ruangan saya—itu bukan saya.”
Bukan tidak ada alasan, Ferdi mengatakan hal itu. Semuanya karena beberapa hari ini, di lantai 2, sering mendapatkan gangguan dari penghuni asli gedung itu. 1 wanita. Dan, 3 pria itu terkekeh. Kemudian Ferdi turun. Mereka berkumpul.
“Pak Ferdi bicaranya buat aku merinding saja,” kata pekerja wanita.
“Iya. Mana tadi si Andi cerita horor lagi,” sahut Panji.
KRING. KRING. KRING.
Suara telepon kabel di meja Panji berdering kemudian. Mereka kompak melongok, melihat layar kecil berwarna hijau, yang ada di telepon. Tertulis, jika panggilan tersebut berasal dari ruangan Ferdi. Mereka saling pandang. Sebelum akhirnya, semburat berlari turun.
**
30 menit kemudian, Andi dan Ferdi juga sopir bernama Jodi—tiba di lokasi. Rumah yang sangat besar. Dengan kebun yang luas di sampingnya. Kebun yang bisa di katakan seperti hutan belantara. Tidak pernah di bersihkan oleh sang pemilik. Tanaman menjalar, merambati tembok rumah. Juga membentuk sebuah pintu, yang seolah akan masuk ke dunia lain.
Sang pemilik rumah menyapa mereka.
“Silakan masuk,” kata Dery—pemilik rumah.
“Biar Andi memotret kebun Anda terlebih dahulu,” kata Ferdi.
“Oh, baiklah.”
Andi yang sejak awal sudah memiliki perasaan tak enak pun, mengajak Jodi untuk menemaninya. Keduanya pun berjalan masuk. Hampir seperti di hutan, ketika masuk ke dalam kebun Dery. Pohon-pohon yang tinggi. Semak belukar yang di biarkan begitu saja. Andi mengedarkan pandangan. Sambil menyiapkan kamera poket nya.
“Wah.. Tempatnya agak mengerikan, ya Mas Andi?” tanya Jodi.
“Karena itu—aku mengajakmu tadi.”
Di detik selanjutnya, pandangan Andi terfokus pada satu pohon. Di mana ada yang berwarna merah, bertengger di salah satu ranting besar, yang tumbuh ke samping. Andi yang dasarnya menyukai hewan pun, tersenyum kecil.
“Wah.. Ini pasti burung langka,” pikirnya dalam hati.
Bulu merahnya menjuntai agak panjang. Andi sangat yakin, jika itu adalah burung bayan. Andi melangkah lebih mendekat. Dengan mengerutkan mata. Menajamkan pandangan. Begitu jaraknya hampir dekat dengab pohon itu—Andi menghentikan langkah. Tercengang dengan sesuatu berwarna yang di lihatnya. Bukan burung ternyata. Melainkan, kepala merah dengan jenggot panjangnya, yang juga merah tengah melotot ke arah Andi.
Wajahnya seperti panglima perang di China zaman dulu. Andi menelan ludah gugup.
“Ma-Mas Jodi.. Kita pindah kesana, ya,” ajak Andi pada Jodi, yang berdiri tepat di bawah kepala itu.
Andi dan Jodi bergeser pada tempat yang setidaknya sedikit memiliki cahaya. Karena saking rimbunnya pohon, cahaya mentari pun susah menembusnya. Saat Andi melangkah, melewati akar pohon besar, yang merambat di tanah—tiba-tiba saja atmosfir terasa berbeda. Sesak. Penuh. Seolah banyak orang di kebun itu. Saling berhimpitan. Andi merasa mual. Tengkuknya terasa berat. Kepalanya pusing.
Andi tahu betul, jika ia akan kerasukan. Andi pun segera mengambil gambar seadanya. Dan, mengajak Jodi keluar dari kebun.
**
Saat ini, Andi dan Jodi ada di dalam mobil. Tengah menunggu Ferdi, yang masih mengobrol dengan Dery. Di situ, Andi menceritakan semua kejadian pada Jodi.
“Wah, serius kamu, Mas?” tanya Jodi, yang ternganga. Tak percaya.
Andi mengangguk pasti.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Kalau aku bilang waktu di sana, jelas kamu akan lari. Aku kan takut sendiri. Hehe.”
“Ya Enggak mungkin aku lari, Mas. Paling pingsan.”
Andi tertawa mendengarnya.
“Tapi, Mas Andi memang bisa melihat hal semacam itu, ya?”
“Ya, bisa di katakan begitu.”
“Kalau aku sih, kadang cuma dengar suaranya saja. Atau sekelebat bayangan. Amit-amit, Mas. Jangan sampai aku bisa melihat mereka.”
“Hehe. Tapi, kejadian tadi membuatku ingat waktu masa kuliah dulu.”
“Kejadian mistis juga, Mas?”
Andi mengangguk.
**
Sebagai pemuda kampus—Andi cukup aktif dalam mengikuti kegiatan. Seperti sekarang. Ia sedang mengikuti acara kemah di gunung bersama dengan para junior kampusnya.
Selain pencinta hewan—Andi memang suka mendaki. Juga suka tidur. Bisa seharian penuh ia tidur, jika tak ada kegiatan.
Singkat cerita, saat selesai membangun tenda—Andi dan senior yang lain berjalan-jalan di sekitar. Lalu, melihat ada sebuah mata air dengan air terjun yang indah. Tergoda dengan suara air mengalir, yang seakan segar itu—Andi buru-buru melepas bajunya. Lompat ke dalam air. Lantas, mendekati air terjun. Dan, duduk bersilang kaki di bawahnya. Membiarkan derasnya air dari atas, mengguyur tubuhnya. Andi melambaikan pada beberapa temannya, yang memanggil Andi dengan gerakan tangannya.
“ANDI! JANGAN DI SITU! BAHAYA,” teriak Melia—teman seangkatan Andi.
Bukan diabaikan oleh Andi, tapi ia tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Saking derasnya air terjun itu. Dirasa cukup menikmati air terjun itu—Andi berdiri. Lalu, bergeser ke samping. Dan,
BUM!
Bongkahan batu besar meluncur dari atas. Tepat, di tempat Andi duduk tadi. Andi dan beberapa teman, juga pendaki lain—sangat-sangat terkejut dengan kejadian itu. Jika saja, Andi tidak merasa cukup tadi, bisa berbeda akhir ceritanya.
“Sudah di panggil dari tadi, malah melambaikan tangan!” ketus Melia.
“Aku enggak dengar sama sekali tadi,” kata Andi, yang tengah memakai kausnya kembali.
“Kami sudah lihat batu itu mau jatuh. Makanya, kami teriak-teriak. Agar kamu pindah dari tempat itu.”
“Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan aku,” desah Andi, yang sedikit ketakutan.
Selanjutnya, mereka kembali ke tenda. Membuat suatu acara. Jalan-jalan malam. Di mana nanti ada sebuah misi, yang para junior harus menyelesaikannya. Mencari semua kain yang sudah di ikat di ranting pohon, oleh para senior sebelumnya.
Para warga desa sudah memberi peringatan pada mereka, jika tak boleh pergi ke tempat paling atas. Karena, di situ adalah tempat berkumpulnya para makhluk hutan.
Dan, bukan ingin di abaikan oleh para junior. Tapi, beberapa dari mereka tersesat. Tak sengaja, pergi ke tempat yang di larang oleh para warga desa. Tugas Andi dan Melia menjemput mereka.
Beruntungnya, tidak ada apa-apa saat keduanya tiba di sana. Mereka pun berjalan turun. Dengan senter sebagai penerang nya. Tak lama setelah itu, Melia tiba-tiba menangis sesenggukan. Merangkul lengan Andi.
“Melia, kamu kenapa?”
Melia tak menjawab. Terus menangis. Dengan menundukkan kepala. Mengeratkan cengkeramannya di lengan Andi.
“Melia! Kamu kenapa, sih?!”
“Mereka.. Menyuruhku..”
“Mereka siapa? Menyuruh apa?”
“Mereka.. Menyuruhku..”
“Iya. Mereka menyuruh apa? Melia, jangan bersikap begini. Para junior sudah ketakutan.”
“MEREKA MENYURUHKU UNTUK MENDORONGMU KE JURANG! AKU TIDAK MAU!”
Andi terhenyak mendengarnya. Melia terus menangis. Sehingga Andi merangkul bahunya. Dan, mempercepat langkahnya. Setibanya di tenda, keributan pun terjadi. Jasmine—salah satu junior mengalami kerasukan. Dia menjerit tidak karuan. Meronta-ronta. Para senior laki-laki memegangi tangan dan kaki Jasmine. Namun, kekuatan gadis bertubuh kurus itu tak main-main. Ia hampir melemparkan mereka yang memegangi kaki dan tangannya.
“Melia, kamu sudah enggak apa-apa?” tanya Andi.
Melia mengangguk.
“Kamu duduk di sini saja, ya? Jangan mendekat. Paham?”
Melia kembali mengangguk. Mengusap air matanya.
“Jaga Melia dulu,” pinta Andi pada beberapa junior yang di jemput nya tadi.
Andi segera mendekat pada Jasmine.
“Kenapa dia?” tanya Andi.
“Kerasukan. Waktu kamu dan Melia berangkat tadi.”
“Terus, bagaimana ini?”
“Rio sama Niko sudah turun, memanggil warga desa.”
Sementara Jasmine masih saja menjerit. Suaranya kadang terdengar berat. Kadang melengking. Kadang seperti anak kecil.
“Ndi, bantu aku memegang kakinya! Aku enggak kuat,” kata Reyhan—teman Andi.
Andi segera berjongkok. Dan, memegang kakinya, yang terus meronta-ronta. Andi segera terbelalak. Merasakan kekuatan kakinya, yang tidak main-main. Bahkan punggungnya terangkat lurus, meski kedua tangannya di pegang oleh 2 pemuda dengan tubuh besar.
Jasmine terus menjerit. Di detik selanjutnya, ia diam. Menatap Andi. Bola mata yang sebelumnya normal—kini menghitam.
“Astagfirullah!” pekik Andi.
Setelah itu, beberapa warga desa, yang memang sudah terbiasa dengan hal semacam ini datang dengan santai.
“Kalian pasti pergi ke atas?” tanya salah satu warga, yang menghisap tembakau, terbungkus kertas putih.
Andi dan yang lain hanya saling pandang.
“Sudah di bilang, jangan pergi ke atas. Yah, begini jadinya.”
“Tadi beberapa teman kami tersesat, Pak. Ternyata, mereka ada di atas. Kami enggak sengaja,” jelas Andi.
“Sengaja atau enggak sengaja—mereka tetap tidak suka.”
“Terus bagaimana ini, Pak?”
Pak Sani—nama warga yang bicara dengan Andi tadi, tiba-tiba diam. Mulutnya komat-kamit membaca sesuatu. Kemudian,
“Kowe sopo?” tanya Pak Sani, pada makhluk yang merasuki Jasmine.
*Kamu siapa.
“Aku seneng mbak iki.”
*Aku suka dengan kakak ini.
“Aku pengen melu karo mbak iki.”
*Aku ingin ikut dengan kakak ini.
Selanjutnya, suara Jasmine terdengar seperti anak kecil. Berbicara tanpa henti. Pak Sani mendesah panjang.
“Temanmu ini di rasuki sama anak kecil.”
“Anak kecil, Pak? Kekuatannya bisa seperti ini?” tanya Andi.
Pak Sani menatap Andi.
“10 anak kecil.”
**
“Heh? 10 Mas?” tanya Jodi, tak percaya.
“Iya. 10 anak kecil. Bola matanya jadi hitam. Haaah, pokoknya mengerikan banget.”
“Terus, Mas? Apa bisa di usir?”
“Alhamdulillah, bisa. Meskipun sedikit sulit.”
“Makanya, Mas.. Aku enggak suka yang namanya mendaki. Enak ke pantai.”
“Tapi, pantai sama saja. Semua tempat itu, pasti ada penghuninya selain kita.”
“Iya, benar juga, Mas. Makanya banyak yang tenggelam, ya di pantai.”
“Itu sudah takdir mereka memang. Banyak juga, kan? Pendaki yang meninggal. Pendaki yang menghilang. Selain sudah takdir mereka, itu juga pasti ulah penghuni gunung. Karena itu, kemana pun kita pergi—kita harus permisi dulu.”