Di Kantor Polisi

1070 Words
Viona dan Clara baru saja tiba di rumah mereka. Mereka tiba di rumah, dengan wajah yang belum berubah. Viona dengan tangisan amarahnya, dan Clara dengan tangisan ketakutannya. “Masuk kamar kamu!” “Mah!” Clara memegang tangan Ibunya, kembali memohon agar Ibunya membantunya agar tidak dilaporkan ke pihak berwajib. “Mah jangan gini dong Mah! Aku ini kan Anak Mamah satu-satunya, masa Mamah tega ngebiarin aku masuk penjara? Mah tolong lakuin sesuatu, tolongin aku!” Viona menghempas tangan Clara. “Kamu nggak denger Mamah ngomong apa hah? MAMAH BILANG MASUK KAMAR!” Karena Ibunya tak mau menolongnya, membuat Clara menjadi kesal. “MAMAH JAHAT! MAMAH NGGAK PEDULI SAMA AKU! AKU BENCI SAMA MAMAH!” lalu dia berlari ke dalam kamarnya. Viona menatap kepergian Clara dengan tangisan kepedihan hati. Dia kemudian melemaskan tubuhnya di sofa. “Maafin Mamah Clara!” isak Viona. “Ini semua Mamah lakuin demi kebaikan kamu. Kamu udah ngelakuin perbuatan yang sangat jahat, dan Mamah nggak bisa nolongin kamu, supaya kamu sadar dengan hukuman yang akan kamu dapatkan, dan kamu nggak akan pernah berani untuk melakukan hal jahat itu lagi! Mamah mau kamu jadi Anak yang baik Clara!” “Haahhhh!” Clara menutup pintu, lalu duduk bersandar pada pintu kamarnya dan menangis dengan penuh ketakutan. “Ya Allah. Kenapa hidup aku jadi kayak gini? Seumur-umur, baru kali ini aku ngerasain ketakutan yang bener-bener takut banget gini!” isak Clara dalam hati. “Ya Allah. Aku nyesel banget! Aku nyesel banget udah ngejahatin Gerald sama Liora! Aku nyesel udah ngikutin kebencian hati aku, aku bener-bener nyesel Ya Allah. Aku nyesel!” Clara benar-benar merasa sangat menyesal, telah mengikuti kebencian hatinya untuk melakukan perbuatan jahat kepada Gerald dan Liora. Hal ini benar-benar membuat hidupnya mendadak hancur. Seluruh orang di negara ini, sekarang sudah membencinya, karena dia sudah melakukan perbuatan yang sangat jahat. Tak hanya itu, sebentar lagi dia juga akan mendekam di dalam penjara, karena orangtuanya Gerald dan Liora akan menuntut dia dan Devin. Sampai kemudian, Clara hanya mengingat Allah SWT. Dia lalu langsung mengambil air wudhu, setelah itu langsung melaksanakan shalat dhuha, untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Selesai shalat, Clara langsung berdoa, dan meminta agar masalah yang dia hadapi sekarang bisa selesai, dan hidupnya akan kembali tenang dan normal seperti sedia kala. “Ya Allah Ya Tuhanku, hamba benar-benar minta maaf Ya Allah. Maaf atas kesalahan yang telah hamba lakukan kepada kedua teman hamba. Maaf karena hamba sudah mendzolimi mereka. Maaf karena hamba sudah mengikuti kata hati hamba, yang sudah dibutakan oleh kebencian. Tolong maafkan hamba Ya Allah. Tolong maafkan hamba!” isak Clara dengan tangisan yang berderai. “Sekarang hamba benar-benar merasa sangat hancur, dan menderita sekali Ya Allah. Semua orang sekarang membenci hamba, bahkan Ibu hamba saja tidak mau membantu hamba. Tolong selamatkan hamba dari situasi masalah ini Ya Allah. Hamba tidak mau masuk penjara, masa depan hamba masih panjang. Tolong hamba Ya Allah. Hamba janji, hamba akan memperbaiki kesalahan hamba. Hamba tidak akan menebar kebencian lagi, apalagi sampe melakukan perbuatan zalim seperti ini lagi. Hamba janji Ya Allah. Tolong selamatkan hamba dari masalah ini, tolong! Aamiin Ya Rabbal Allamin.” Setelah berdoa dan meminta ampunan serta pertolongan kepada Allah SWT, Clara merebahkan dirinya di sejadah dengan keadaan masih menggunakan mukena. Setelah itu dia perlahan menghentikan tangisannya, dan mulai memejamkan matanya. Dia berharap, semua masalah ini akan segera selesai, saat dia sudah membuka kembali matanya nanti. *** Mobil Raffi dan Ridho baru saja tiba di area kantor Polisi. Mereka kebetulan tiba bersamaan di sana, untuk melaporkan Devin dan Clara. Keluarga mereka datang dengan lengkap. “Maya?” panggil Yulia. “Yulia?” balas Maya. “Kamu ngapain di sini?” tanya Yulia. “Aku sama keluarga aku, mau ngelaporin Devin sama Clara ke pihak kepolisian, karena mereka udah ngelakuin perbuatan jahat ke Anak aku Liora.” “Jadi, Liora ini Anak kamu?” “Jangan bilang, itu Gerald?” Maya menunjuk Gerald, yang masih menggunakan baju SMA. “Itu Liora?” Yulia pun menunjuk Liora, yang masih menggunakan seragam SMA. “Loh, Mamah udah kenal sama Mamahnya Gerald?” tanya Liora. “Jadi itu beneran Gerald, pacar kamu?” Liora terdiam sejenak, lalu menganggukan kepalanya dengan perlahan. “Gerald, ini Liora, pacar kamu?” tanya Yulia. “Iya Mah. Mamah udah kenal sama Mamahnya Liora?” “Jelas kenal dong. Mamahnya Liora ini, temen kuliah sekaligus temen satu kosan Mamah dulu. Nggak nyangka aku May, kamu tinggal di kota ini juga, udah berkeluarga juga.” Rupanya, Ibunya Gerald dan Liora adalah teman yang dekat saat mereka masih duduk di bangku perkuliahan dulu. Sekarang, mereka dipertemukan kembali dengan sudah memiliki keluarga masing-masing. “Berarti, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kalau gitu, ayo kita laporin masalah ini sama-sama!” ajak Raffi. “Iya, ayo Pak!” balas Ridho. Orangtua dan Kakaknya Gerald serta Liora kemudian langsung melangkah ke dalam kantor Polisi, sementara Liora, dia menahan tangan Gerald yang akan mengikuti orangtua mereka. “Gerald.” “Kenapa?” “Aku mau ngomong sama kamu!” “Ngomong apa?” “Di dalem mobil aja, ayo!” “Nggak mau! Di sini aja. Kamu apa-apaan sih? Ini kantor Polisi, kita baru aja kena masalah, mau kamu ngajak aku ngobrol berdua di mobil sih? Kalau nanti ada tuduhan yang aneh-aneh lagi gimana?” “Maaf aku lupa.” “Emang kamu mau ngomong apa? Ayo ngomong aja di sini!” Liora menghela napas panjang sejenak, sembari terdiam menatap Gerald. “Kok malah diem? Mau ngomong apa?” “A--” “Oh aku tahu.” Gerald mendadak memotong pembicaraan Liora. “Kamu pasti mau ngebujuk aku buat ngemaafin si Devin sama si Clara kan? Iya kan?” Liora terdiam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk membujuk Gerald agar mau memaafkan Devin dan Clara. “Tuh kan bener. Kamu itu kenapa sih? Masih aja belain mereka. Buka dong mata kamu! Buka pikiran kamu! Mereka itu bukan manusia, mereka itu iblis! Mereka udah ngezalimin kita sampe bikin kita hampir gila. Bisa-bisanya kamu masih ada pikiran buat ngemaafin mereka.” “Sayang.” ucap Liora dengan lembut, lalu mengenggam tangan kiri Gerald. “Aku mohon sama kamu, buka mata hati kamu! Devin sama Clara itu udah nebus kesalahan mereka dengan cara yang terhormat, jadi nggak ada salahnya buat kita ngasih kesempatan ke mereka supaya mereka bisa memperbaikin diri mereka. Aku mohon sayang! Ayo kita sama-sama bujuk orangtua kita, supaya mereka nggak ngelaporin Devin sama Clara ke Polisi! Aku mohon!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD